
Kuis babak pertama telah usai, dan sekarang saat ini mereka sedang beristirahat 15 menit untuk mempersiapkan babak kedua. Untuk hasil skor babak pertama diungguli oleh regu tim A, lalu di posisi ke dua adalah regu Tim B, posisi ke tiga adalah regu tim D, sedangkan untuk tim C harus mengalami kekalahan dan tidak lanjut untuk babak ke dua.
Endru datang dari apotek tepat waktu dan langsung memberikannya pada Yulan untuk diminum, rasa gatal perlahan mulai menghilang tetapi bekasnya belum.
"Ibu akan memberitahukan ini kepada panitia olimpiade, agar Yulan diizinkan ganti seragam sekolah. Tidak baik seragam ini dipakai lagi, bekas gatalnya masih tertinggal di bajumu Yulan. Kalian tunggu sebentar, yah." ucap Bu Winda lalu keluar dari ruangan.
"Hah," Yulan menghela napas lelahnya.
"Yulan," Neva merangkul pundak Yulan dan mengusap punggungnya "Lo tenang aja, semua aka baik-baik aja, kok."
"Kenapa ini bisa terjadi sih? Aku nggak merasa punya musuh di mana-mana, sampai ada yang sengaja masukin ulat bulu ke toilet itu."
"Kita nggak tahu siapa aja musuh kita sebenarnya. Bisa jadi orang terdekat, bahkan orang yang bukan Lo kenal pun juga bisa jadi musuh tidak terduga kita. Dan kenapa ada yang jebak Lo, mungkin dia iri sama Lo."
Neva dan Yulan masih asik mengobrol, sementara ke dua tim Yulan masih sibuk mempelajari soal untuk babak ke dua nanti.
Bu Winda sudah datang dan membawa kantong kresek berisi seragam ganti untuk Yulan, nenurut saja untuk ikut ke dalam toilet segera ganti baju.
Neva melangkah menghampiri Bian yang sedang bermain ponsel di tempat duduk ujung ruangan.
"Bang," untuk kali ini Neva memanggil abangnya dengan lirih, seperti ada sesuatu.
__ADS_1
Bian menghentikan permainan ponselnya, memasukkanya ke dalam saku. "Ada apa? Kok wajah Lo kusam tak bersemangat gitu?' tanya Bian juga dengan suara lembut.
"Lo udah tahu siapa yang ngunci Yulan di toilet dan naro ulat bulu di situ?" Bian sudah menduga arah pembicaraan mereka.
"Udah, Bang."
"Siapa?"
"Bima, bang." jawab Neva lemas.
"I-itu temen satu sekolah Lo yang dulu kan?" tanya Bian menggeram.
"OH, ASTAGA!!" pekik Bian. "Abang baru engeh ternyata. Sma Kartika ada di grup A, sekolah itu pesaing berat sekolah Lo."
"Nggak mungkin," ucap Neva lirih. Ia menutup wajahnya dengan ke dua telapak tangannya kemudian menundukkan wajahnya. "Aku tahu banget gimana sekolah itu. Kalau pun mereka bisa ikut, nggak bakalan masuk babak se besar ini. Sma Kartika nggak mungkin sanggup kalau sampe sejauh ini."
"Apa maksudnya?" Bian kebingungan dibuat adiknya ini.
SMA KARTIKA bukanlah sekolah yang ter akreditasi tigggi untuk mengikuti olimpiade seperti ini, sekolah itu masih jauh untuk memenuhi syarat kategori yang dituliskan panitia.
Istilah kasarnya sekolah itu adalah sekolah "buangan", itu gelar yang diberikan orang-orang. Contohnya lihat pada diri Neva yang bobroknya minta ampun, bayangkan saja sendiri.
__ADS_1
"Pengaruh orang dalam kali." celetuk Bian asal, setelah mendengarkan penjelasan dari Neva.
Neva masih bergeming memikirkan ini semua. Dari hasil curi dengar teleponan Bima tadi, ia sudah tahu ada yang berhianat dari sekolahnya yang sekarang. Tapi siapa? Ia juga masih kurang memahaminya.
Tentu saja Bima tidak mau mengaku siapa yang menyuruhnya untuk melakukan itu, mana ada maling yang mau mengaku. Justru dirinyalah yang tersudut tadi, pertengkaran pertama mereka untuk pertama kali. Dan ini soal 'Sekolah'.
Bima mengangatainya sombong karena sudah berpaling persahabatan, sudah tidak peduli dengan Sma Kartika lagi, sudah jadi anak 'sok' ini itu. Intunya Bima menuduh Neva yang tidak masuk akal.
Neva tidak mau kalah dalam pertengkaran mereka tadi, ia masih punya pembelaan diri. Tentu saja ia sudah mendukung sekolahnya sekarang, toh juga Neva memang ber sekolah di situ sekarang. Bukannya tidak mau bergabung bersama geng mereka lagi, tapi ia harus mencari waktu untuk bisa datang dan mempersiapkan alasan yang ampuh untuk meluluhkan hati papahnya.
"Oi. Jangan terlalu memendam masalah sendirian terus. Cerita sama abang, apa yang janggal dipikiran Lo sekarang."
"Banyak banget yang Gue pikirin, sampai bingung mau ceritaiinya dari mana," Ujar Neva.
Mereka tidak memperpanjang obrolannya, mengingat ruangan ini sudah ramai kembali.
Yulan sudah siap dengan pakain dinas kuning dan traning hitam, itu memang yang diberikan dari panitia. Bu Winda juga sudah kembali memberi pengarahan untuk tim Geografi. Endru audah menyelesailan tugasnya sebagai jaga pintu toilet untuk Yulan tadi.
Semua sudah siap dengan posisi masing-masing menghadapi babak ke dua.
ššš
__ADS_1