
Beginilah risiko jika sekolah di swasta elit yang begitu diagungkan berbagai pihak, banyak tuntutan yang terkadang tidak masuk akal di otak. Memang sih, sebanding juga dengan bayaran yang dikeluarkan untuk bersekolah di situ, tetapi ia juga ingin bebas sedikit saja. Bebas dari PR maksudnya.
Udan otak nggak pintar-pintar amat, apa lagi ini hitung-menghitung harta orang lain. Bolehkah ia tidak mengerjakan soal ini? Tapi, ini adalah PR yang diberikan satu minggu yang lalu. Sekarang ia hanya mengharpkan ada sinar cahaya yang menembus kepalanya dan membantu ia mengerjakannya.
Neva bersandar malas di kursi belajarnya, memijit pelipisnya terasa agak pusing. Sudah beberapa kali ia menghitung jumlah yang harusnya sama, tetapi justru perbedaan jumlah yang ia dapatkan. Entah di kolom mana ia melakukan kesalahan, ia sudah malas mencarinya.
Jam sudah menunjukan pukul 20:30, tetapi pekerjaannya belum selesai juga. Neva keluar kamar menuruni tangga dan berjalan ke dapur untuk mengambil minum melepas dahaga.
Rumah ini terasa sepi. Abangnya Andika baru saja berangkat ke luar negri menjalani kuliahnya, abangnya Bian sedang siaran malam di tempat abangnya bekerja, Gio sudah di kamar.
Neva berjalan ke arah kamar papahnya yang berada di bawaha tangga, memastikan sudah pulang atau belum.
Lampu kamar papahnya sudah menyala, itu artinya sudah di dalam kamar.
Tok,,,,tok,,,, tok
"Pah, boleh Neva masuk?"
"MASUKLAH!" sahut suara dari dalam.
__ADS_1
Neva masuk dan melihat papahnya duduk lemah di atas kasur, wajah tua itu terlihat kelelahan, bahkan pakain kerja masih menempel di tubuhnya.
"Papah sudah makan?' tanya Neva lembut. Tangannya mulai memijati kaki papahnya.
Putra tersenyum lembut melihat perubahan putrinya yang semakin hari semakin lebih baik. "Belum," jawabnya halus.
"APA, BELUM! OK, TUNGGU SEBENTAR DI SINI PAPAH. BIAR NEVA BAWAKAN MAKAN MALAM UNTUK PAPAH." setelah mengucapkan itu, Neva langsung berlari ke luar kamar.
Putra hampir saja terserang jantung mendengar teriakan Neva, tumben sekali putrinya ini berinisiatip sendiri.
Neva berjalan terburu-buru menuju dapur, menyalakan lampu utama ruangan
Neva panik! Berlari ke dalam kamar dan mengambil ponselnya. Tangannya mulai betselencar mencari masakan yang bisa di masak dalam waktu singkat, pencarian googlenya berhasil.
CARA MEMASAK TELUR DADAR
"Addduhhh, minyaknya kebanyakan!" untuk mengatasinya, Neva menuangkan minyak goreng yang sudah ada di dalam wajan ke dalam cangkir gelas.
TEKKK, sangat mudah kalau urusan menyalakan kompor gas. Goyang ke kanan goyang ke kiri, menempelkan wajan ke api yang menyala.
__ADS_1
"Minyak gorengnya udah panas belum ya??" tanya reva ragu-ragu. 'Tunggu minyak hingga mulai panas' salah satu proses yang tertulis di layar ponselnya. Ia kebingungan sendiri bagaimana cara mengetahui, minyaknya sudah panas atau belum. Entah apa yang ada di dalam pikiran anak ini, dengan gamblangnya ia mencelupkan jari telunjuknya ke dalam wajan. Dan terjadilahhh...
"AAAUHHHHHH,,,PHHUUUANASSS!!!!"
š¹š¹š¹
Di malam yang sama Endru sedang berdebat sengit dengan papahnya.
Emosinya meluap, dinding itu menjadi sasaran amukannya. Endru tidak peduli darah yang mewarnai buku jarinya, ia tidal merasakan sakit akan lukanya.
"PAPAH TAHU SIAPA GADIS YANG SEDANG KAU DEKATI ITU. GADIS ITU TIDAK PANTAS BUAT KAMU, ENDRU. PAPAH TIDAK AKAN SUDI KAU BERPACARAN DENGAN ANAK BERANDALAN SEPERTI ITU. CIH!!" pak Arifin berucap dengan lantang. Endru membenci perkataan papahnya.
"KITA DARI KELUARGA TERPANDANG. PAPAH YANG MALU BILA KAMU SAMPAI BERPACARAN DENGAN WANITA YANG TIDAK JELAS MASA DEPANNYA, DAN KAMU SUDAH BERANI MENENTANG PAPAH SETELAH DEKAT DENGAN WANITA ITU."
"KAU SUDAH DIPASANGKAN DENGAN INGGRI, DIA YANG PANTAS BUAT KAMU. CARILAH PASANGANMU YANG SEPADAN, JANGAN PUTUSKAN HUBUNGANMU DENGAN INGGRI. JIKA KELUARGA INGGRI SAMPAI TAHU KELAKUAN KAMU, TERIMA AKIBATNYA." wajah mengejek papahnya ingin membuat Endru melayangkan tinjunya, tapi ia masih bisa menahannya.
Banyak hinaah dan cacian dari papahnya tentang Neva, otaknya tidak kuat untuk mengiangat semua itu.
Rintangan pertama sudah seberat ini, padahal jadian saja belum.
__ADS_1
ššš