
Benar-benar perubahan yang luar biasa pemirsa!!
Patutlah Neva mencatat sejarah untuk dirinya sendiri setelah beberapa bulan lamanya ia bersekolah di sini, patut diacungi jempol.
Ya, walaupun belum semenakjubkan harapannya, tetapi ini saja sudah cukup.
Dengan santai tanpa hambatan seperti hari kemarin, Neva masuk menerobos antrian panjang di dalam kantin. Kenapa bisa begitu? Tentu saja berita saat Neva dan Endru yang menjadi saksi atas perjuangan sekolah mereka dalam olimpiade itu tersebar luar ke telinga semua murid, sebagian dari murid mulai menerima keberadaan Neva.
Neva patut berbangga diri! Ini hal yang yang membuat namanya terkenal di sekolah, bukan kaleng-kaleng memang.
"Ah,, segerrrr!!!" ucap Neva setelah menyeruput habis es tehnya. Masih sempat ia mengunyah es batu, kebiasaan yang tidak dapat diubahnya.
Sedangkan Yulan masih menikmati bekal makan siangnya, tidak ada berbicara sebelum makanannya habis.
"HAI NEVA, BOLEH GABUNG??" tanya laki-laki yang tidak tahu siapa rimbanya. Menyebalkan, lelaki ini langsung duduk di sebelah Neva.
"Ck," Neva membuang muka.
"Nama Gue, Iandika." dengan percaya diri yang tinggi, lelaki yang mengaku namanya Ian ini mengulurkan tangan ke arah Neva.
Neva tidak menerima ularan tangan itu, ia masih asik memainkan sedotan es tehnya.
Krikk.
Kriik.
Krikk.
Sudah bermenit tetapi tak ada balasan dari gadis di sampingnya ini, akhirnya Ian malu sendiri.
"Nama Lo Neva," ucap Ian setelah membaca name take di seragam Neva.
Neva tidak bergeming, masih asik mengemut es batu yang hampir habis.
Krek,,, Krekkk,, krekk!! suara dari mulut Neva membuat Ian merasa ngilu. Sombong sekali gadis ini tidak mau berkenalan dengannya.
Sangkin emosinya,, sampai tiba tiba....!!!
__ADS_1
BRRRAKKKK!!!
semua mahluk di dalam kantin menoleh ke meja mereka, Yulan hampir saja terserang jantung, Neva terbatuk karena es batu lolos begitu saja ke tenggorokannya, meja mereka berjoket karena pukulan keras dari tangan Ian.
"WOII, DARI TADI GUE NGAJAK LO KENALAN, LO DIAMIN GUE. LO KIRA GUE BETTON APA?? SONGONG BANGET LO JADI CEWEK, SO CANTIK LO!!" seru Ian berapi-api.
Neva tidak membalas rentetan perkataan yang tidak penting menurutnya. Dengan gerakan slowmotion, ia mengambil es batu yang berukuran lumayan besar dari dalam gelasnya. Dan terjadilah,
"TELENN NIH ES BATU,, TELLENNN!! UMMMMM,, RASAKANNN!!"
"AAAAAA,, UMMM.. DINGINN G*B*K!!"
racau Ian setengah bernapas.
Baru saja terjadi penyumpalan mulut dengan es batu yang dingin kepada Ian, tangan Neva menbekap mulut lelaki itu dengan kencang.
"Hahhhh!!! Hahhhh!!!"
Ian sesak nafas, es batu itu sudah terjatuh ke lantai dan membasahi seragam Ian. Neva bersedekap dada santai, tersenyum miring melihat tingkah anak ini.
Semua mata tertuju pada adegan itu, menunggu adegan apa yang terjadi berikutnya. Ian juga dikenal dengan sebutan 'tangan kasar' kepada siapa saja. Bahkan guru pernah dipukulnya, dan itu menjadi catatan buruk untuk Ian.
"AAAA!!"
Eeeeeeee!!
Semua mata tercengang menyaksikan adegan selanjutnya. Endru datang tepat waktu menopang tubuh Neva yang akan terjatuh ke belakang karena didorong Ian.
Bagai adegan di tv-tv posisi mereka sekarang.. Ohh romantisnya, murid perempuan merintih-rintih di dalam hati. Pangeran sekolah menolong seorang murid perempuan.
"Lepasin Guee!! Malu dilihat banyak ooorrang!!" tukas Neva berbisik.
"Ehh, iya," jawab Endru tersenyum sumringah. Akhirnya ia melepas dekapannya.
Kembali ke adegan menegangkan!!
Endru mendekat ke arah Ian, menatap tajam lelaki yang sudah berani menggangu pujaannya.
__ADS_1
"Nama Lo, Ian Kan?" bisik Endru menyeramkan. Tangannya sudah menarik dasi Ian, membuat lawannya ini tersulut. "Jangan ganggu orang lain termasuk perempuan lagi. Kalo Lo berani lagi!! Lo paham kan apa yang akan Gue lakukan buat Loo?? Humm!!"
"Uhhukkk!! Uhhukk!!" Ian terbatuk karena hampir tercekik.
Ian merasa malu sekarang. Bukan karena serangan Endru, tapi serangan Neva dan es batunya. Baru kali ini ada orang yang berani padanya, perempuan lagi.
"Cih. Dasar mental patungan!" ejek Ian sarkas.
Mendengar ucapan itu semakin membuat Endru tambah naik darah, bahkan se isi kantin merasa geram sendiri.
"AUHHH!!" itu rintahan Ian, karena Endru menendang tulang kering Ian.
"LO PIKIR GUE TAKUT SAMA LO!! OKK. LO JUAL GUE BELI!!' seru Ian emosi.
Keadaan kantin mulai riuh, bahkan murid dari kantin yang lain pun ikut masuk memadati kantin. Ada yang sudah ketakutan terutama ibu kantin, ada yang justru semakin berdesakan ke depan sampai duduk di atas meja kantin. Tetapi tidak ada yang mau merekamanya, aktivitas ponsel sangat ketat di sekolah itu.
Di samping Endru, Neva mulai ketakutan melihat situasi seperti sekarang ini. Tidak bisa dihindari lagi, masalah baru akan dihadapinya nanti. Entah itu apa, yang jelas ia terpaksa menerimanya.
Namun sebelum pukulan Ian hendak mengenai wajah Endru, tangannya hanya melayang di udara.
TEETTTTTTT!!! suara bel masuk menghentikan semuanya.
"Huuuuuuu!!!" seru mereka semua.
"Ahh, tanggung banget sih."
"Mencapai ******* bro,,."
"Bel penganggu! Kapan lagi kita melihat adegan seperti tadi secara langsung di depan mata kepala sendiri."
"Kita tunggu aja part duanya."
"Syukur deh, nggak jadi berantam."
Itulah bisikan dari mereka sambil berhamburan keluar kantin.
Di depan steling kaca, ibu kantin mulai bernafas lega. Kantinya tidak jadi hancur.. Eh tapii,, ..
__ADS_1
"ANAK-ANAK! BAYAR DULU MAKANAN KALIANN!!"
ššš