Kisah ABG

Kisah ABG
Gagal


__ADS_3

Untuk penampilan besok, Yulan mengisi dalam kegiatan permainan angklung dari anak kesenian, dimana Yulan ditunjuk sebagai konduktor angklung yang membawakan lagu 'Lagu Wajib Belajar' dan 'Mars Sekolah Dharma Bakti: Pemimpi'.


Setelah menyusun angklung dengan nomor sesuai nadanya menggantungkan dan menutup lemari, keluar ruangan menuju taman belakang aula sekolah. Rindangnya pohon chery menyapuh seluruh kepenatan keringat memberi rasa sejuk pada tubuhnya, meminum air mineral yang selalu dibawanya mengembeliikannya ke dalam tas.


Terlalu larut dalam lamunannya samoai tidak menyadari ada seseorang yang sedang berdiri di belakangnya, Willangga tersenyum cerah telah menemukan di mana Yulan setelah mencari kesudut gedung sekolah.


Mata Yulan terbelalak dihampiri balon berbentuk hati melayang tepat di depan wajahnya, jemarinya meraih balon dan tersenyum cerah melihat siapa orang yang duduk tanpa oermisi di sampingnya.


"Suka?" tanya Willangga cemas.


"Hu'um," sahut Yulan mengangguk. Balon itu sudah menelusup ke dalam pelukannya.


Willangga merapatkan jarak, menatap seksama wajah pucat Yulan senyuman mengembang di bibir wanita ini. Ingin sekali ia menyelipkan anak rambut yang terbang ditiup angin menutupi sebagian wajah indah ini, tetapi rasa segan sopan santunnya masih berada di dalam otaknya. "Kalau suka, nanti aku beliin balon yang sama persis seperti yang kamu peluk itu berkilo-kilo banyaknya," ujar Will melantur. Kehabisan kata ia kalau sudah bersama dengan Yulan.


"Ck, kamu itu. Mana ada balon timbangannya sekilo," jawab Yulan berdecak kesal.


"Iya yah, hehe!" ucapnya cengok. Willangga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ehm, Will. Sepertinya--" memikirkan sesuatu di mana tadi ia melihat balon ini tergantung di dinding aula. Atau jangan-jangan!! "Balon ini kamu dapat dari mana?" tanyanya mulai cemas.


"Eh, itu! Um, ehehe!" Willangga kelabakan.


Mata Yulan memincing menduga-duga "Kamu ngambil dari hiasan aula. Iya kan?"


"Hahaha. Nanti kamu diomelin sama seksi dekorasinya baru tahu rasa," ujar Yulan menutup mulutnya tertawa.


Gerakan gesit Will merebut balon dari dekapan Yulan "Ya udah, sini kembalikan balonya. Biar dipulangin kagi!"


"Nggak mau!" Yulan mengeratkan balon dipelukannya, menghindar dari cekalan Will yang ingin merebut balon itu kembali.

__ADS_1


DUARR


"AHAHAHA! BALONNYA UDAH PEC--Yulan?" wajah Will cemas melihat perubahan air muka Yulan perkara suara balon pecah.


"Tahan Yulan, tahan! Jangan tunjukkan rasa sakitmu di depan Willangga. Tuhan kumohon kurangi rasa sakit di dadaku, ungh!"


"KENA TIPUU!!" Tuhan mengabulkan doa Yulan. "Aku hanya terkejut tadi, balonnya udah pecah." Yulan tersenyum pongah.


"Serius kamu nggak apa-apa?" tanya Will belum yakin.


"Iya lo!" matanya terpaku pada secarik kertas yang muncul dari dalam balon berada di dekat sepatunya. "Apa ini?" ucapnya penasaran.


I LOVE YOU


"Ini kamu yang nulis?"


"Iy-eh bukan. Mungkin kertas itu udah ada di dalam balonnya"


"YULANN!!" panggilan itu mengalihkan perhatian mereka.


"Bu Winda," Yulan dan Will menunduk hormat.


"Yulan, ayo temani ibu foto copy kertas susunan acara."


"Ahk, iya Bu. Aku susun tas dulu bentar." Yulan menyusun tas dan tidak lupa juga menyelipkan kertas kecil tadi ke dalam laci kecil tasnya. "Aku simpan aja kertasnya, Will, aku suka tulisannya."


Will tercengang mendengar ucapan Yulan yang menyukai tulisan di kertas itu, apa artinya? Will masih belum memahami mengapa semiaterius itu pendekatannya dengan Yulan. "Kuharap kita menjadi pacaran seutuhnya, Lan." monolognya sendiri bayangan Yulan menjauh menghilang di balik gedung.


🌹🌹🌹

__ADS_1


Priska berkeliling memeriksa seluruh siswa, sebagai guru yang baik beliau harus melakukan itu. Kursi-kursi sudah tersusun rapih, beserta sofa untuk petinggi yayasan sudah lengkap dengan mejanya, panggung aula dan berbagai alat sound sistem sudah siap pakai. Di lapangan, layar lebar sudah berdiri kokoh tersambung sampai ke dalam aula, kursi-kursi untuk murid sudah tersusun rapih sesuai nama sekolah masing-masing. Setelah memastilan semua sudah selesai, ia meninggalkan lapangan menghampiri siswa yang berkerumun di depan ruang kelas Neva keponakannya.


"TADI GUE DENGER SENDIRI, LO DI DALAM KELAS SAMA KAK ENDRU!!" ujar Chatryn mengamuk.


Neva justru tersemenyum mengejek. "Mana? Lo lihat sendiri kan, hanya ada gue di dalam kelas nggak ada siapa-siapa."


Wajah Chatryn pias, semua mata mencemooh memandangnya. Tadi jelas-jelas dia mendengar Neva berduaan di dalam kelas bersama Endru, tapi mengapa jadi seperti ini? Mana Endrunya, sudah masuk memeriksa ke dalam kelas hasilnya nihil. Endru bersembunyi di mana?


"ADA APA INI?" suara tegas Bu Priska membuat mulut ribut mereka diam.


"Chatryn bilang, Neva sedang berduaan dengan Kak Endru dalam kelas kami, ternyata nggak ada Kak Endru di dalam," jawab salah satu murid yang berkerumun.


"NEVA, MENDING SEKARANG LO JUJUR AJA DEH, TADI LO BERDUAAN SAMA KAK ENDRU KELAS KAN?" Chatryn berteriak.


"LO NYOLOT YAH JADI ORANG! GUE SENDIRIAN DALAM KELAS!" jawab Neva sengit.


"SUDAH, SUDAH!!" APA KALIAN BERDUA TIDAK PUNYA ETIKA BERDEBAT DI DEPAN SEMUA ORANG? ITU ENDRU DAN DANIEL SUDAH DATANG." Bu Priska melerai pertengkaran ke dua muridnya ini. Murid lainnya mulai ikut berkerumun menonton perdebatan ini.


"Tadi aku lagi di taman belakang sekolah jalan-jalan sama Dani. Iya nggak, Dan?" Endru memberi keterangan.


"Iya, Bu!" Daniel nengangguk meyakinkan.


Chatryn nemerah malu, semua siswa lagi-lagi menyoraki dirinya. Berlari


meniggalkan kerumunan siswa, tidak tahan dipermalukan lagi seperti ini lagi.


"BUBAR SEMUA, LANJUTKAN KEGIATAN KALIAN! NEVA, PULANGKAN KUNCI KELAS KALIAN KEPADA KETUA KELAS, JANGAN ADA SATU PUN DARI KALIAN YANG MASUK KE DALAM KELAS LAGI." setelah mengucapkan itu, Priska berlalu pergi.


Sementara Endru tersenyum puas. Untung saja Will dengan cepat memberitahukan melalui pesan singkat bahwa Chatryn telah memergoki perbuatan mereka, kemudian keluar secepat kilat dari pintu ruangan saat Chatryn dengan bodohnya pergi mengumpulkan teman satu kelasnya.

__ADS_1


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡


__ADS_2