Kisah ABG

Kisah ABG
Akhir Hidup Arifin


__ADS_3

Di atas awan hitam bertabur bintang menyelumuti samudera, malam yang cerah melancarkan setiap aktivitas pekerja malam bersyukur tidak hujan seperti beberapa malam yang lalu. Berbanding terbalik dengan keadaan sepasang paru baya dan beberapa orang yang sedang duduk menunggu di depan ruangan di mana ada satu nama tercinta berbaring memperjuangkan hidup.


Kejadian siang tadi mampu menjungkir balikkan kehidupan Paramitha, ada dua hal besar mengacaukan perasaannya dan hatinya saat ini. Putranya sedang kritis hampir kehilangan nyawa bersama suami yang sekarang dibencinya, tapi Tuhan masih memberikan ia untuk menguatkan hati harapan hidup untuk Endru. Dan lelaki yang di sampingnya ini ternyata ayah kandung putranya juga tidak kalah sedihnya, setelah ia mulai memgingat kepingan masa lalu.


"Selamatkan anakku! Ini harusnya pertama kali aku akan meneluk putraku, tapi dalam keadaan baik-baik saja, bukan seperti ini. Apa ini karma yang harus kuterima karena dulu aku sempat menolaknya? Aku tidak ingin mengalami pertemuan pertama sekaligus pertemuan terakhir, bangunkan dia agar mengenaliku sebagai ayahnya,"ucap Michael menyesal terisak menatap nanar pintu kaca ruangan. Maukah Tuhan mengabulkan doanya?


Arman memandang iba pada lelaki yang duduk di sebelahnya ini, ia paham rasanya sama seperti dirinya. Arman pun tidak diberi kesempetan mengenal ibunya bahkan mengingat wajah semasa hidup pun tidak, tetapi dengan tega orang yang sama merampas hidup ibunya. Om ini jauh ingin bertemu demgan putra yang sudah sangat dirindukan selama bertahun, namun saat pertama kali justru Endru menutup diri dengan cara semengenaskan ini upah orang itu. "O-om. Kalau mau marah, marah sama Arman saja. Itu Arifin adalah papahku," ucapnya menyerah pasrah. Wajahnya tertunduk menghadap lantai.


Michael menoleh. Ia baru sadar ada lelaki lain yang menjadi putra Paramitha juga, mengesah kasar merangkul yang menyebut diri namanya Arman. "Tidak ada alasan apa pun untuk menghakimimu, sekali pun kamu anaknya. Arman, nama yang bagus. Gabungan antara Arifin dan Manti, saya ingat betul dulu waktu SMA ibumu sangat memuja lelaki itu, namun perasaan cinta itu justru membuat Manti gelap mata memgikuti semua keinginan Arifin. Hah," ungkapnya mendesah mengulang kilasan masa lalu itu lagi.


Arman terpaku, ia baru mengetahui fakta ini. Rasa benci itu memuncak pada papahnya, rasa rindu itu selalu untuk ibunya.


Pintu ruang perawatan Endru terbuka, semua berdiri menunggu penjelasan dari dokter. Kemungkinan, Endru sempat mengamankan diri di dalam kursinya sebelum terjun ke dalam jurang, tampak bagian tubuh pinggang ke atas tidak ada lebam di organ dalam, hanya luka terdapat di wajah serta tangannya, dan geger otak ringan yang berhasil diatasi. Mukzizat yang luar biasa! Kabar buruknya, ke dua kakinya mengalami patah tulang. Kemungkinan pulih itu sangat cepat mengingat kondisi tubuhnya tidak mengalami kerusakan. Apakah Endru mengalami cacat yang kronis? Harus diperiksa lebih lanjut. Dokter menjelaskan dengan nada pilu.


Mitha terduduk lemas dirangkulan Arman, Michael tidak mampu berucap apa-apa lagi. Ada sedikit rasa lega di hatinya, Endru masih akan hidup, Tuhan mendengar doanya memberi ia waktu untuk memperbaiki semua hubungan rumit ini.


Memohon agar bisa masuk ke dalam, Mitha dan Michael memakai baju khusus menjenguk tubuh Endru. Arman menunggu di luar bersama dua polisi yang berjaga. Setelah sedikit menjelaskan cerita dari mulutnya, polisi itu pamit pergi melanjutkan pemeriksaan kasus besok hari.


Tadi Neva, keluarganya beserta teman-temannya sempat juga ada di sini, sudah pulang membawa Neva. Mengingat pacar Ebdru itu, Arman harus minta maaf pada gadis itu, harus!


Tidak beberapa lama satu pelayan dari rumah dayang menghampiri Arman, membawa baju ganti dan makan malam.

__ADS_1


"Bi, tunggu mamah di sini dulu ya. Arman ke kamar mandi ganti baju dulu," pamit Arman tersenyum ramah. Mendapat jawaban anggukan, ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit.


Bukan ke toilet. Melanjutkan langkah ke tempat ruangan Arifin dirawat, papahnya juga masih dalam keadaan bernyawa saat dievakusi dari mobil. Namun kata dokter, kondisinya sangat parah banyak kehabisan darah banyak luka di tubuh luar dan dalam. Harusnya dalam kondisi separah ini si pasien pasti tidak mampu bertahan lama, tetapi sepertinya Arifin masih ingin hidup sampai menopak mati. Ini bagus juga!


Lorong gelap sunyi tanpa suara, sepertinya tidak ada yang berjaga. Masuk hati-hati mendekati brankar Arifin, tersenyum licik menatap jijik lelaki ini.


Pengamanan ruangan ini sangat rendah, buktinya cctv tidak ada di sini, hanya toilet dan beberapa kursi plastik untuk penjenguk. Benar-benar sangat layak untuk orang sejahat ini.


"Apa labar kau, Arifin?" bertanya pada Arifin yang tidak ada balasan. Bersedekap tangan mendekati wajah pucat, masker oksigen dan perban melilit keningnya serta ada benda menyelimuti lehernya. "Ah, kana bisa jawab orangnya lagi sekarat," lanjutnya tersenyum sinis. "Tuhan baik banget ya, belum mau mengambil nyawamu. Oh atau jangan-jangan kau yang belum siap mati! Tidak apa, itu justru kesempatanku untuk membantu malaikat maut. Sekali pun membunuhmu itu dosa, aku tidak takut neraka. Karena aku adalah keturunanmu, sifat psikopatmu pasti menular padaku. Iya tidak?"


Tetap tidak ada respon dari tubuh Arifin, mata tertutup rapat telinga tidak memcerna ucapannya.


Memundurkan badannya, meraih sesuatu dari kantung jaket dalam. Dua jenis jarum suntik sudah siap dengan cairan kimia racikannya, sudah disiapkannya tadi pagi. "Cairan warna biru ini akan memaksa otakmu terbangun agar kau merasakan segala obat dan rasa sakit dari luka-lukamu tanpa membuka mata bahkan untuk menjerit mulutmu seolah kaku terkena lem. Kau siap?" ucapnya seraya menyentil ujung suntik beberapa kali. Menyucuk ujung jarum pada pergelangan kiri Arifin.


Setelahnya menyimpan ke dalam saku jaketnya.


"Ini cairan yang ke dua, kau akan msrasakan sakit yang sangat luar biasa di dalam tubuhmu berkali-kali lipat. Cairan ini akan membuat sarafmu mati satu-per satu dalam keadaan kau merasakan sakitnya, seru sekali," ujarnya seraya melakukan hal yang sama pada jarum suntik pertama tadi. Warna cairan ini bening persis seperti air, bercampur setetes saja pada cairan infus ini, sekejap mata akan bereaksi pada tubuh Arifin. Ujung jarum menembus infus.


"Selamat menikmati!!" ucapnya menyeringai jahat.


Meninggalkan ruang rawat Arifin mengendap keluar melewati lorong rumah sakit. Membersihkan sisa cairan pada jarum suntik dengan air mengalir dalam kamar mandi, menghapus jejak kejahatannya. Lab yang diberikan papahnya sudah memakan tuannya sendiri. Percobaan cairan kimia ini juga bukan sepenuhnya dari idenya melainkan dari papahnya yang terobsesi membunuh Mitha mamah sambungnya.

__ADS_1


"Lama sekali ke toiletnya, Man," sapa mamah Mitha padanya.


"Oh, tadi sambil, umm."


"Iya, Mamah paham sekarang. Tadi mamah pikir kamu menjenguk papah kamu?" tanya Mitha menatap lekat pada Arman.


Mampus, ia menegang. Mamahnya ini sangat peka pada anak-anaknya, bagaimana kalau ia ketahuan berbohong? "Enggak. Arman sudah tidak menganggap dia lagi sekali pun nanti dia mati," jawabnya.


Mitha dan Michael saling pandang, tercengang mendengar ucapan Arman.


"Tidak boleh begitu, Nak," bujuk Mitha halus.


Arman tidak ingin memperjelas psrasaannya, nanti mamahnya menangis lagi, ia dan Endru dididik baik selama ini.


Memeluk tubuh kurus mamahnya penuh sayang. "Jangan pikirin ucapan Arman tadi, ya Mah. Endru bagaimana di dalam?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Belum sadar, tidak boleh berlama-lama di dalam," jawab Mitha lirih.


Melepas pelukan, Arman meraih pergelangan Michael dan menumpukkan ke atas telapak tangan Mitha. "Aku dan Endru ingin mamah dan Om Michael menikah."


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡

__ADS_1


__ADS_2