Kisah ABG

Kisah ABG
Tindakan Inggrisa


__ADS_3

Viral!!


Vidio aksi nekat siswa murid SMA terjun dari balkon sebuah restoran terkenal di ibu kota, permasalahan asmara diduga pemicu utamanya. Sekarang kondisi siswa perempuan tersebut dalam keadaan kritis di rumah sakit xxx.


"Gilaa,,gilaa! Nggak nyangka gue si Inggrisa senekat ini demi dapetin cinta Endru lagi."


"Bodoh banget sih. Padahal gue bersedia loh jadi pengganti Endru di hatinya."


"Sayang banget kalo si Inggri mati, masih muda cantik lagi."


Bbrrakk!!


Sekuat tenaga Endru menendang pintu kelas mendengar ocehan dari teman-temannya, membuatnya temannya terjangkit melangkah mundur melihat wajah murka cowok ini.


Setiap siapa yang datang akan memandang aneh padanya, melewatinya begitu saja dan ada juga yang tak peduli. Inilah Michael Alvendru, dengan segala sifat pendiamnya di ruang kelasnya. Tidak mempunyai banyak teman akrab, tidak suka ikut peserta mewakili kelas, tidak terlalu mencondongkan diri. Sebenarnya itulah yang dilakukannya. Namun teman satu angkatannya selalu menganggapnya sebagai orang yang patut dijauhi karena posisi dari orang tuanya, bahkan sering kali menyinggung-nyinggung karena peran papahnyalah makanya ia bisa terselematkan di sekolah. Padahal ia pun tidak menginginkannya, ia sebisa mungkin menjauhi fasilitas peraturan yang dilonggarkan sekolah.


Melangkah lebar keluar dari kelas turun menemui Neva, mereka harus bicara pagi ini juga.


Menyelonong masuk langsung menarik tangan Neva begitu saja, satu kelas memberi ruang untuk lewat.


"Maaf," ucapnya merasa bersalah.


Neva memijit pergelangan tangannya yang sudah dilepaskan Endru. "Kenapa bisa sampai seperti itu?" tanyanya tanpa basa-basi.


Endru menatap.dalam-dalam wajah Neva, harus mampu memberikan pengertian yang sebenarnya pada Neva.


Awalnya Endru, mamah Paramitha dan Inggrisa makan siang seperti biasa di restoran itu. Ke dua wanita beda generasi itu yang saling mengobrol tertawa riang, sedangkan Endru memilih diam tidak ikut campur obrolan mereka, hanya fokus menikmati makannya. Mamahnya meminjamkan ponsel Endrun untuk berfoto bersama, Inggrisa yang memegang ponsel itu. Bodohnya Endru tidak memeriksa ponselnya setelah berpindah di tangannya, dipikirannya hanya ingin cepat pulang. Itu saja.


Setelah acara makan siang, Inggrisa mengajak mereka naik ke balkon restoran. Endru sempat menolak untuk ikut, mamahnya selalu memaksanya. Keadaan balkon memang sedang sepi pengunjung, bahkan hanya mereka ber tiga yang ada di situ. Tiba-tiba Inggrisa sambil menangis menyinggung masalah pacarannya waktu masih belum diputuskan Endru, mamahnya memberi nasehat panjang-panjang dan mengharapkan mereka ber dua agar bisa kembali berpacaran lagi. Endru marah, mengakui keberadaan Nevalah yang paling dicintainya. Mamahnya tidak menerima sargahan Endru, bahkan ingin segera memutuskan hubungannya dengan perempuan itu. Endru semakin murka ingin pergi meninggalkan balkon, namun tindakan Inggrisa membuatnya terkejut mengurungkan niatnya untuk pergi.


Cewek itu merekam aksi bunuh dirinya melompat dari balkon dan meracaukan kalimat yang membuat mamahmya berteriak frustasi.


"KALAU KAMU NGGAK MAU BALIKAN SAMA AKU, AKU AKAN JATUHIN TUBUHKU DARI BALKON INI. LEBIH BAIK AKU MATI ENDRUU!"


"Ja-jangan lakukan itu, Inggrisa. Kita bisa bicarakan itu baik-baik. Ayo pegang tangan tante," ucap Mitha menangis.


"INGGRI, MENJAUH DARI SITU! NANTI KAMU JATUH, JANGAN NEKATT!" teriaknya mencoba membujuk.


"BIARKAN AKU MATI ENDRU, BIAR SEMUA ORANG TAHU AKU CINTA MATI SAMA KAMU. CINTA DAN MATIKU ADALAH KAMU ENDRU. KALAU KAMU MUTUSIN AKU, LEBIH BAIK AKU MATI. KALAU KAMU MAU JADI PACAR AKU LAGI, AKU AKAN MENYINGKIR DARI SINI."


"Endru,,,bawa Inggrisa kemari, Nak."


Pengunjung restoran berdatangan mengerumuni mereka, meneriaki Inggrisa dan berseru untuk Endru agar mau membujuk cewek itu. Endru masih tidak bergeming, pikirannya kacau. Ia tidak ingin berhububgan apa pun dengan Inggrisa, wajah Neva menguasai hatinya. Tetapi mendengar desakan dari orang di sekitarnya, suara tangisan mamahnya, teriakan Inggrisa. Membuat kepalanya pusing, nyawanya terbang entah ke mana, pikirannya kosong. Tanpa sadar mulutnya berucap "Iya, kita pacaran lagi."

__ADS_1


"AAHHKK!!"


Brukk!!


Bukannya menjauh dari balkon, Inggrisa justru menjatuhkan dirinya, bersana ponsel yang retak. Di rumah sakit Inggrisa kata dokter kritis, semua orang menuduh dan menyerang Endru. Perjanjian damai antara ke dua belah pihak memutuskan, setelah Inggrisa sembuh nanti mereka akan melangsungkan pertunangan. Orang tuanya takut perihal ini dibawa sampai ke jalur hukum.


Endru kalah dengan kekuatannya sendiri, orang tuanya lagi-lagi tidak pernah memihak padanya. Pulang dengan rasa kecewa.


"I-itu intinya kamu-kamu akan bersama dia lagi," Neva berucap mulutnya bergetar. Membuang pandang mengusap sudut matanya yang sudah berair, dadanya seperti ditusuk sesuatu.


Ggrrepp..


Endru memeluk Neva erat-erat seolah tidak ingin cewek ini menjauh, menyeka air mata itu dengan lembut. Menenggelamkan wajah Neva dalam dekapannya. "Neva dengar, aku berjanji akan menyelesaikan semua ini. Aku terpaksa menerima permintaanya agar Inggri tidak nekat," bisiknya sendu.


Neva menggeleng. "Ndru, kamu harus kembali padanya. Dia sangat mencintaimu, keluargamu juga menerima hubungan kalian'kan-" mengusap air matanya. "Kalian sudah lebih awal bersama dari pada hubungan kita. Mari mengalah demi kebaikan semua orang, itu mungkin saran yang terbaik saat ini. Kalau kita memang ditakdirkan bersama, pasti kita akan bertemu lagi," tuturnya dengan berat hati.


"Dengan mengorbankan perasaan kita? Yang belum tentu benar," tanyanya lirih.


Neva menarik napas panjang mengendalikan emosinya. "Setidaknya kau membuktikan ucapnmu yang mau menerimanya lagi. Masalah itu benar atau tidak, semua akan terungkap dengan sendirinya. Lebih baik kita tidak bersama dulu, aku mau nenangin pikiranku dulu. Permisi," ucapnya final. Dengan langkah berat ia meninggalkan Endru yang mematung di tempatnya.


"NEVA! AKU BERJANJI AKAN MEMBAWAMU KEMBALI UNTUK CINTA KITA!" teriakan Endru berhembus dengan angin pagi di balkon gedung sekolah.


Neva tidak berbalik, berjalan menyusuri tangga penghubung menutup mulutnya mulai terisak.


Endru memilih air hujan menguyur tubuhnya, berdiri tegap di atas balkon memandang nanar taman sekolah dari belakang gedung sekolah. Tidak.peduli dengan pengumuman lonceng masuk dari bawah, tidak peduli dengan beberapa siswa yang memperhatikannya. Ia mengerang kesakitannya, memperjuangkan keinginannya ternyata sangat sulit.


"Endru!"


Itu suara Willangga.


Willangga dan Daniel datang membawa payung untuk Endru, gelengan Endru menolak payung. Percuma tubuhnya juga sudah basah.


"Kita akan basah bersama."


Willangga membuang payung sembarang arah, mereka ber tiga kini basah kuyup. Merangkul Endru dengan hangat, sudut bibir cowok ini melengkung haru ia hampir lupa masih memiliki sahabat-sahabatnya.


"Lo percaya nggak sama kita?" bisik Willangga bertanya.


"Apa?" Endru bingung.


"Ayok bolos," ajak Will.


"Tapi kalian'kan mau ulangan hari ini," tolak Endru.

__ADS_1


"Santai aja, masih ada remedial. Kita refresing dulu sekali-sekali, nikmati keseruannya. Ayok ikut kami." Will, Daniel dan Endru berjalan meninggalkan lokasi sekolah dengan berbagai macam jurus.


🌹🌹🌹


Di ruangannya Priska sedang termenung, jarinya berhenti menulis memikirkan sesuatu. Apakah semua rencananya gagal? Posisinya terjebak sekarang, kabar dari sebarang tempat AdiPutra berada sangat mengejutkannya.


Bagaimana bisa Michael tiba-tiba sudah berada dalam rumah sakit jiwa? Lelaki itu bahkan tidak mengenal AdiPutra lagi, kenangan persahabatan mereka hilang dalam ingatan Michael. Apa Arifin ada di bqlik semua ini?


Sementara Priska sendiri pun sudah gagal membuat Paramitha kembali bersekutu padanya, perempuan itu sudah termakan oleh tindakan Inggrisa. Padahal harapannya hampir tercapai saat ia berhasil mengirim paket misterius bersi barang kenangan Paramitha dan Michael sewaktu pacaran dulu, sudah hampir bercerai juga. Namun sekarang? Paramitha juga tidak mengingatnya lagi sebagai seorang sahabat. Pernah beberapa kali Priska muncul tiba-tiba di hadapan Paramitha, wanita itu tidak menegurnya bahkan tidak menoleh padanya sama sekali.


Kepalanya terasa pusing. Membuka gorden jendela ruangan, sudut matanya melihat ada tiga orang murid laki-laki berjalan mengendap-ngendap. Ia membiarkannya saja, ia mengenali mereka. Menutup gorden udaranya mulai terasa dingin.


Suara getaran meraih ponsel dari atas meja, membuka membaca pesan. Septer ingin bertemu berbicara di dalam ruangan karate. Mengambil map berkas menutupi akal bulusnya, ya kedua orang ini sudah resmi menjalin hubungan.


"Pak Septer, ada apa?" Priska datang dengan wajah tidak bersemangat.


Septer, lelaki ini memang sudah paru baya, tetapi ketampanan dan tubuh yang gagah tidak menampakkan umurnya. Sampai sekarang ia masih jadi guru favorit di sekolah.Tersenyum manis memberilan ruang untuk wanitanya duduk.


"Bapak tidak mengajar?"


"Tidak. Kau lihat di luar hujan, saya hanya memberi teori saja."


"Oh," sahutnya pendek.


"Kita tidak bisa lama-lama ber duaan seperti ini. Priska, hanya ada satu cara untuk mengalahkan Arifin. Kita harus memanfaatkannya baik-baik," ucapnya serius.


"Apa itu?" Priska mulai antusias kembali. Sorot matanya memancarkan harapan yang sangat dalam.


Septer diam sejenak, jujur ia agak ragu mengatakannya. "Kita harus menarik orang yang selama ini mendukung Arifin, Pak Aristo adalah orang yang paling kuat mendukung Arifin."


"Tapi bapak dengar sendiri, Endru dan Inggrisa bisa saja bertungan demi menyelamatkan nama baik mereka. Postingan itu sudah menjelaskan semuanta," ujar Priska terdengar pesimis.


"Kamu bisa memanfaatkan rekayasa data nilai Inggrisa, gunakan itu untuk mengancam. Kamu bisa membongjar data pemalsuan sekolah untuk menekan Pak Aristo. Itulah alasannya Adi Putra menyuruh kamu untuk merebut posisi ini, kamu harus bisa memanfaatkan jabatanmu di sini. Banyak data sekolah yang kau simpan, kau harus menyebarkan tentang semua keburukan Inggrisa juga keburukan sekolah."


"Itu sama saja penghianat namanya," ucap Priska meragu.


"Tidak juga. Kamu hanya mengambil kesempatan untuk menyelamatkan dirimu, kebahagiaan putrimu. Dan kalau kamu berhasil memperdaya mereka, guru-guru di sekolah akan berterima kasih padamu, beban berat yang kita tanggung selama mengajar di sini akan berkurang tanpa tekanan dari pak Ariston mau pun pak Arifin. Aku akan membantumu," Septer berujar meyakinkan Priska.


"Baiklah, kita lakukan perlahan-lahan, jangan terburu-buru seperti rencana kita yang sudah-sudah," jawab Priska.


Septer mengelus punggung tangan Priska. "Kembalilah ke ruanganmu."


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡

__ADS_1


Terima kasih ya yang sudah memberi dukungan untuk ceritaku...Semoga kalian kita semua sehat selalu,


__ADS_2