
"Lo serius pulang bareng kita?" Will memutar arah pandangnya ke belakang di mana Endru sudah duduk manis di bangku penumpang. Mendapat jawaban mengangguk, segera ia menaikkan pedal memaju mobil kecepatan rata-rata.
"Orang yang ngikutin lo gimana?"
"Mereka masih tidur. Obat itu bertahan sekitar dua jam-an," jawab Endru santai.
"Papahnya nanti marah," sahut Yulan dari depan.
"Itu resiko gue," Endru berucap tanpa beban.
Hening beberapa saat. Yulan mulai mengantuk bersandar nyaman pada kursi memejamkan matanya, mungkin efek obat yang diminumnya tadi baru bereaksi sekarang. Will menghentikan mobilnya sebentar, mengambil selimut yang memang selalu tersedia di dalam mobilnya, menyelimuti tubuh kekasihnya dengan sopan dan lembut.
"Will. Makasih ya, kalian ber dua udah bantuin gue untuk masuk ke ruangan Neva."
"Yo'i!" ucapnya mengangkat jempol.
"Eh, Will. Itu hp lo kedip-kedip!"
Seketika Will menginjak rem, mobil berhenti mendadak, bahkan Yulan sampai terbangun.
Membuka ponselnya, perasaanya panik luar biasa.
"Ini sinyal alaram dari jam tangan Daniel. Daniel sedang dalam bahaya!" pekiknya cemas melihat layar ponsel khususnya masih berkedip. Jarinya menyentuh gambar tanda panah dan tampilan layar berganti menjadi sebuah animasi peta denah petunjuk, garis hijau itulah letak di mana Daniel sekarang. Sesuatu berbentuk pipih namun berfungsi sebagai alat penyadap telah disisipkan ke dalam jam tangan Daniel, benda itu juga berguna untuk merekam apa saja yang sedang terjadi di sekitar si pemilik tubuh yang memakai benda itu.
"Siall! Kok pake macet segala sih!" rutuknya memukul setir mobil, suara klakson mobil bersahuran dari luar.
"Will, aku tahu jalan ini. Lebih baik kita mundur dan putar balik, kita motong jalan."
"Iya, Lan. Ndru, di belakang aman nggak?"
"Mundur pelan sampai di depan gang swalayan yang udah kita lewati, lalu kita masuk ke gang itu."
Sedikit melanggar memang, tapi mereka nuat melakukannya dan berhasil lolos dari macatnya jalan. Menancap gas menuju Daniel yang sedang dalam bahaya.
Pandangan pertama membuat jantung mereka teriris. Daniel berjongkok memeluk tubuh Chatryn yang menangis, motor Daniel masih dalam kondisi utuh baik-baik saja. Tapi dari tangisan Chatryn, mereka tahu ada yang sudah mereka lewatkan.
"Maaf, kami terlambat!" Will panik berlari menghampiri Daniel.
Daniel menunduk dengan tatapan kosong.
"Chatryn, kamu kenapa?" Yulan tercengang mendapatkan keadaan Chatryn yang sudah lusuh berbalut jaket Daniel.
"Kalian kenapa?" tanya Will semakin meninggi.
Daniel membuka matanya, barulah ia sadar teman-tekannya sudah datang. Menghela napas panjang ia mebantu Chatryn duduk.
"Lan, bawa Chatryn ke dalam mobil." Will menoleh ke samping. Yulan menurut membantu berdiri menapah Chatryn berjalan masuk ke dalam mobil.
Keluar lagi memberikan alkohol untuk Daniel.
"Surat yang dari Jhena itu-" memberi jeda pada ucapannya gugup untuk berbicara. Endru menegang sempurna, pikirannya sudah mulai tidak tenang. Willangga sudah menceritakan semuanya, kejadian Neva dan surat yang disimpan Jhena. Surat itu satu-satunya bukti kuat untuk melawan kuasa papahnya, meski pun ia belum tahu isi surat itu.
"Dan." Will mengusap lengan Daniel.
"Surat itu dirampas sama orang-orang berpakain hitam, mereka mengancam akan me*******a Chatryn di depan gue, kalau gue nggak menyerahkan surat itu. Jadi-"
Buk!
__ADS_1
Belum sempat menyelesailan ucapannya, satu pukulan dari Emdru memdarat di pipinya.
"APA-APAN LO, NDRU!" Daniel terlejut seramgan tiba-tiba Endru membuatnya emosi.
"Kenapa lo serahin surat itu? Lo tahu surat itu pilihan terakhir untuk nyelamatin hidup gue!" Endru berteriak keras pada Daniel.
"DAN KARENA SURAT ITU JUGA MASA DEPAN CHATRYN HANCUR, IYA? LO EGOIS BANGET, NDRU. BAJ-"
"Dan, jangan lakukan itu." Will menahan sekuat tenaga badan Daniel yang hendak menyerang Endru.
"TAPI LO HARUSNYA PUTAR OTAK UNTUK MENCEGAH KEDUANYA AGAR TIDAK TERJADI'KAN?" Endru berseru emosinya tidak stabil membuat ucapanyabermakna kasar.
"Coba lo ada di posisi tadi? Lo juga akan melakukan hal yang sama, lo pasti lebih memilih menyelamatkan orang yang lo sayangi dari apa pun itu."
Will semakin mengeratkan pelukannya. Daniel terus berusaha meraih Endru yang sudah mundur.
"Lo egois hanya mikirin dori lo sendiri! Gimana gue mampu satu melawan tiga orang, semua membuat gue mendesak. Paham lo!" lanjut Daniel menggebu.
Endru mematung di tempatnya, mengepalkan tangan. Harapan terakhirnya juga sudah diambil entah siapa, ia bingung sekarang.
"SIALL!!" teriaknya pada langit menendang udara sekencang mungkin.
"Ndru, lo harus tahu isi surat itu, ya! Bokap lo si Arifin telah berhasil menyimpan rahasianya, dia yang angkuh itu adalah PEMBUNUH ayah kandung Neva!" ujar Daniel mampu membungkam Will dan Endru.
"JANGAN ASAL NGOMONG LO!" hardik Endru.
Yulan berdiri bergetar memandang pertengkaran dan ungkapan Daniel. Ayah kandung siapa?
"Cih, lo pasti nggak percaya." melepas rangkulan Willangga, mengusap wajahnya yang memar. "Gue ingat banget isi surat itu. Intinya yang mau gue bilang sama lo, bahwa bokap lo adalah pembunuh yang telah lancang merampas hidup orang lain, hidup dari ayah kandung pacar lo sendiri. Gak nyangka'kan lo," ujarnya menahan rasa sakit di tubuhnya.
Daniel tersenyum kecut. "Sekarang lo harus pikirin gimana caranya mempertahankan hubungan lo sama Neva, kalau keluarganya sampai tahu semua ini. Oh. Bokap lo yang membunuh, nyokap lo membantu menyimpan rahasia ini. Kejahatan yang sempurna, dan takdir semesta yang melebarkan luka." setelah mengucapkan itu, Daniel meninggalkan Endru menyusul Chatryn.
"Tinggalin gue. Tolong ambil tas gue dari dalam mobil lo, gue pulang sendiri."
"Enggak, Ndru," tolak Will.
"Tolong! Gue butuh sendiri," pintanya memohon.
Dengan terpakss Will meninggalkan Endru dalam kesedihannya.
š¹š¹š¹
Berkilo meter langkahnya tidak merasa lelah. Bukan tenaganya yang lelah, tapi batinnya. Terus berjalan menatap datar orang-orang yang memandang aneh padanya.
Keringat membanjiri tubuhnya, sengatnya matahari tidak dirasakannya mengingat kenyataan yang sulit ia percaya.
Berada di titik dilema, keputusan yang sulit untuknya.
Bagai kehilangan nyawa, Endru tidak berkutik ketika pukulan melayang pada tubuhnya. Tidak peduli makian papahnya, ia sudah menanggung kesalahan karena kabur dari pengawasan papahnya bahkan ketahuan menemui Neva.
Diseret paksa oleh orang papahnya, masuk ke dalam kamarnya menguncinya dari luar.
Menghampiri mamahnya yang sudah beberapa hari dirawatnya sendiri di dalam kamarnya, mengecup pipi mamahnya sayang.
"Hah, kau pulang," erang mamahnya terbangun dari tidurnya.
"Sudah makan siang, Mah?"
__ADS_1
"Makan?" tatapannya kosong.
"Belum," Mitha tersenyum kecil.
Belum? Endru memperhatikan nakas, bekas makanan mamahnya tidak ada. Menghitung butir obat, sudah berkurang sesuai dengan jadwal. Berarti mamahnya sudah minum obat juga.
Mungkin bibi sudah memberi mamahnya makan, pikirnya.
"Basah."
Apanya yang basah? Endru membantu mamahnya duduk bersandar pada sandaran tempat tidur. Mengibaskan selimut, benar saja!
"Astaga! Mamah kencing celana," ucapnya menghela napas berat.
"Makan, mamah mau makan."
"Mamah udah makan!"
"Belum."
"Mamah tenang ya," bujuk Endru berusaha selembut mungkin. Mamahnya akan marah jika permintaanya tidak dituruti.
Mencari makanan yang tersedia di dalam kamarnya, mana mungkin ia ke dapur mebgambil makanan pintu kamarnya dikunci.
"Ini, Mah." menyodorkan satu bungkus roti pada mamahnya.
Mamahnya hanya diam memandang kosong pada roti di tangannya, tatapannya teralih melihat pria remaja berseragam sekolah ini. Tiba-tiba ada yang mengganjal di hatinya, sekelibat bayangan itu membuat ingatannya kembali.
"Endru," panggilnya lirih.
"Mamah ingat aku," gumam Endru menangis.
Saling berpelukan melepas rindu, roti itu terjatuh masih di atas tempat tidur.
"Kepala mamah sakit, sayang. Mamah takut papahmu datang lagi dan menyuntikkan obat apa itu, mamah nggak tahu. Yang jelas obat itu membuat mamah seperti orang linglung," adu mamahnya menangis dalam pelukan Endru.
Endru diam tenggelam dalam hangatnya pelukan mamahnya, rasa lapar dan sakit hatinya menguap begitu mamahnya bisa mengingatnya. Obat yang dimunum mamahnya hanya bertahan beberapa saat saja, ini adalah obat yang dibacanya dari internet.
Menyuapi putranya dengan sayang, Mitha merasa bersalah telah melupakan siapa nama pria remaja yang memeluknya saat tidur.
Bergantian. Endru membantu mamahnya berganti pakain. Dia tidak malu sedikit pun, ini mamahnya dunianya, tidak ada hasrat yang aneh-aneh.
Tubuh kurus wajah pucat itu tertidur nyaman setelah sprai diganti. Endru sangat menyayangi mamahnya
Teringat dengan kata-kata Daniel tadi, ia harus menyelamatkan mamahnya dulu. Papahnya akan semakin nekat menyakiti mamahnya dengan beribu macam cara, selama dia tidak menuruti perintah papahnya untuk menjauhi Neva dan bertunangan dengan Inggrisa.
Untuk masalah benar atau tidaknya dengan isi surat itu, hanya bisa pasrah menunggu semuanya terbukti. Bukannya tidak mau mencari kebenarannya, hanya saja pergerakannya selalu dipantau sangat ketat, ini sangat sulit.
Pada akhirnya dia ikut tertidur dalam keadaan lapar.
ššš
Terima kasih sudah mampir mendukung ceritaku, jangan lupa datang lagi besok.
KE KOTA SEMARANG NAIK MOTOR,
SALAM SAYANG DARI AUTHOR.
__ADS_1