Kisah ABG

Kisah ABG
Priska Dan Septer


__ADS_3

Priska masih fokus membaca tumpukan berkas siswa yang menumpuk di mejanya, keningnya mengerut tak kala melihat ada berkas siswa yang masih belum lengkap. Setelah beberapa lama ia mulai merapikan berkas dan menyimpannya ke dalam lemari, Priska cukup lelah hari ini.


Sekarang waktunya memeriksa daftar siswa kelas X yang ikut kemah Pramuka nanti, menarik napas dalam-dalam memberi semangat pada diri sendiri.


Tok,,,tokk,,tokk!


"Masuk," sahutnya membalas ketukan pintu.


"Bu Priska belum pulang?" tanya Septer. Dia tadi sedang dalam perjalanan menuju parkir untuk pulang. Melihat ruangan BK masih terbuka, ia berniat mengajak Priska untuk pulang bersama.


"Masih banyak kerjaan," jawabnya singkat. Tangannya masih sibuk membuka buku, tanpa menoleh ke pada orang yang menghampirinya ini.


Septer memilih duduk di sofa tamu berjarak di depan meja Priska, nanti dipikir mereka sedang berbuat macam-macam.


"Sudah jamnya pulang, besok dilanjut lagi."


"Tidak, Pak. Anda kalau mau pulang, ya pulang saja," jawabnya cuek.


"Bu Priska kita pulang! Titah Septer tegas. Dengan paksa menarik semua pekerjaan yang ada di tangan Priska, menyusun barang di meja. Priska protes, tetapi tidak dipedulikannya.


Memaksa wanita ini masuk duduk di depan, lalu ia menyusul masuk dari pintu sebelah. "Saya sudah berjanji untuk menjaga ibu dan anak-anak selama Pak Putra tidak ada di sini. Menurutlah sedikit," ujarnya dingin.


Priska tidak membalas ucapan Septer. Teringat dengan anak-anaknya, ia menghubungi pekerja di rumahnya.


Tidak bisa menyembunyikan rasa paniknya, Neva belum pulang.


"Temanglah, Bu. Priska sedang bersama teman-temannya, mereka sedang bermain di rumah Andreas," ucapnya bohong. Ia harus menutupi sedang di mana Neva dan geng berada.


"Tapi-"

__ADS_1


Tersenyum lembut ke samping menenangkan wanita ini. "Tunggu saja dia, nanti pasti pulang dengan selamat.",


"Semoga. Perasaanku cemas sekali, semoga semua baik-baik saja," ujarnya berpikir positif.


"Apa sudah menemui Paramitha?" tanya Septer mengalihkan pembicaraan.


"Belum. Tapi saya sudah mendapat nomor ponselnya, tinggal menelepon saja. Semoga dia masih ingat denganku," ungkapnya berharap.


"Kenapa tidak langsung saja dihubungi?"


"Hari ini baru Paramita keluar dari rumah sakit. Semuanya harus diatur sebaik mungkin, agar Pak Arifin tidak tahu rencana kita."


"Baiklah. Hubungi saya jika perlu bantuan "


Tidak ada obrolan lagi Bu Priska memandang jalan dari kaca jendela, tiba-tiba...


"PAK SEPTER!! AWAS TRUKK!!"


Mobil mereka menghantam pohon besar. Priska terpelanting ke depan, judatnya terbentur. Septer tidak ada yang luka. Septer berhasil nenghindari truk yang sepertinya sengaja ingin mencelakai mereka. Dan menabrakan mobil ke pohon besar, agar tidak membahayakan pengendara lainya.


"A-auhh," erangan Priska membuat Septer tersadar dari keterkejutannya.


Priska memegabg keningnya yang berdarah serta ada sedikit goresan di pipinya.


"Ibu Priska!" Septer cemas.


Para warga datang menyelamatkan mereka, Septer menolak dibawa ke rumah sakit, memilih untuk berteduh di post satpam berdekatan dengan lokasi kejadian.. Merampas peralatan obat dari tangan salah satu warga, mengusap luka Priska dengan hati-hati. "Tinggalkan kami," pintanya sopan pada orang yang mengantarkan obat tersebut.


"Tenangkan dirimu, Bu. Kita selanat sekarang."

__ADS_1


"Truk itu, Pak," racau Priska suara bergetar. Truk itu masih melintas di ingatannya.


Membuka membaca pesan dari ponselnya, ia menggeram. "Truk itu sengaja ingin mencelakai kita,"


"Siapa yang merencakannya? Apa maksudnya?" tanyanya.


"Valensis mengirim pesan. Nomor plat truk tersebut adalah plat yang sama dengan kecelakaan Paramita. Apa maksudnya? Septer belum mengerti


Kepalanya semakin berdenyut memikirkan semua ini. "Pak Arifin,"


Septer tercengang. "Dari mana ibu tahu?"


"Tolong rahasiakan ini. Sebebarnya Arifin yang sudah merencakan kecelakaan Paramitha, saya sempat mencaritahunya. Arifin menyewa truk yang akan menabrak mobil istrinya. Sayangnya gagal. Paramitha selamat walaupun sempat koma dan sekarang sudah sembuh, dan keberadaan truk tersebut hilang tanpa jejak. Bukti yang yang kumpulkan tiba-tiba musnah, aku dihipnotis seseorang untuk memberikan bukti itu padanya," ucapnya menceritakan.


"Jahat sekali dia. Bu, lebih baik bawa anak-anak ke tempat yang aman, saya takut mereka kena imbasnya. Sekarang posisi ibu sudah tidak aman, Arifin mengincarmu,"


"Kami sudah mempersiapkan skenarionya. Bian malam ini berangkat ke luar kota, itu penyiar utusan dari menejer radio tempat dia bekerja. Gio, dia menginap beberapa malam di asrama sekolahnya. Agar ke duanya tidak terseret masalah ini. Neva, dia adalah umpan yang harus kita pakai. Endru sangat mencintai Neva, dan dia juga bagian besar yang harus kita gunakan untuk melawan Arifin."


"Priska," Septer ingin menolak rencana ini.


"Tolong, Pak. Jangan ini sampai bocor, saya percaya sama bapak," Priska menghiba.


Tersenyum mengangguk, apa pun ia lakukan demi perempuan yang disayanginya ini.


Priska tertidur, sepertinya karena kelelahan dan obat pereda sakit yang diminumnya.


"Priska, izinkan aku untuk jadi bahu sandaranmu. Tempat berkeluh kesahmu, teman ceritamu. Jadi pelindungmu. Aku mencintaimu," gumamnya dalam hati.


Menggendong Priska masuk ke dalam mobilnya yang sudah datang menjemput, menikmati wajah Priska yang terlekap. Untuk seusia mereka, Priska terlihat masih cantik.

__ADS_1


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡


__ADS_2