
Suara denting monitor denyut jantung menemani ruang sepi Endru tertidur, tangan gadis itu terus menggemgam tangan Endru yang tidak tertusuk infus mengecupnya sesekali memainkan ruas jarinya, mengelus menempelkan di pipinya mengaduh pada cowok ini. Sudah beberapa hari lamanya ia tertidur dan Neva setiap harinya tidak absen menjenguk setelah pulang sekolah. Mengajak Endru bercerita tentang kesegariannya dan saat mereka bersama, tidak ada respon sama sekali tetap Neva melanjutkan ceritanya. Tubuh cowok ini semakin menyusut, tetap tampan di mata Neva.
"Bangun dong, nggak bosan tidur terus? Atau kamu memang sengaja, suka denger ceritaku? Kalau kamu bangun, bahkan nyamyi pun kuusahakan deh walaupun suaraku jelek," ucapnya tersenyum kecut kehabisan kata-kata bingung mau bilang apa lagi. Menarik napas dalam-dalam, jarinya membelai pipi Endru dengan hati-hati. "Luka di wajahmu udah kering, perban di tanganmu udah bisa dilepas," lanjutnya lagi. "Kamu janji waktu itu sama aku, datang membawa cinta memelukku dalam keadaan baik-baik saja. Nyatanya apa? Kecelakaan itu myaris merenggut nyawamu. Aku percaya dengan semua ucapanmu malam itu sangat percaya, menunggu dan terus berharap kamu menepati janji. Pembohong!" ucapnya sudah menahan isakan.
Setelah menguasai dirinya, mengatur deru napas melanjutkan ungkapannya.
"Kamu mau denger nggak, rekaman telepon kita yang kenarin malam itu. Aku putar ya," ujarnya seraya membuka ponselnya mendekatkan ke telinga Endru memuatar rekaman.
Menghapus air matanya percuma, toh Endru tidak mau bangun juga. Ahkk, dia cengeng lagi.
Semua menunggu Endru. Keluarganya, teman-temannya, Neva juga.
Lama larut dalam lamunannya, suara pintu terbuka mengalihkan perhatiannya. Tante Mitha datang bersama Om Michael senyum hangat menyapa 'cqlon menantu' Neva, memaksa gadis ini menyantap makan siangnya bahkan sampai harus digertak tatapan dingin Michael.
Hubungan Mitha dan Michael sudah semakin membaik seiring seringnya pertemuan intens menjaga anak buah hati mereka, itu berita bagus untuk Endru saat ia bangun nanti mendapati ke dua orang tuanya sudah utuh lagi. Adi Putra sudah melamar Mitha untuk Michael kemarin malam, pernikahan akan dilaksanakan setelah Endru keluar dari rumah sakit.
"Tante, kenyang," rengek Neva mengelus perutnya.
"Baiklah, tidak habis pun tidak apa. Yang penting kamu sudah makan," ujar Mitha seraya membereskan kotak makanan memasukkannya kembali ke dalam paper bag.
"Kapan hasilnya keluar, Tante? tanya Meva.
Mitha menghela napas lelah, menekan rasa sesak di dadanya. Keterangan dokter tadi pagi mengiris perasaannya, apa orang lain akan menerima anaknya nanti?
"Tante mau bertanya kembali padamu, apa kamu tulus mencintai Endru?" menatap harap Neva.
Dengan yakin mengangguk tersenyum kecil memberi jawaban.
Terdiam sebentar, seorang ibu punya firasat baik pada gadis yang di hadapannya ini. Namun tetap saja rasa berah hati harus mrnyampaikan kabar buruk dari dokter tadi pagi.
"Tante," lirih Neva memanggil membuyarkan lamunan Mitha. Perasaannya cemas memperhatikan reaksi tante ini, apa lagi yang harus ia hadapi lagi?
Michael sudah menyelesaikan kegiatannya di kamar mandi, duduk ikut bergabung di sofa tunggu ruangan pasien.
"Kemungkinan Endru lumpuh ke dua kakinya. Itu memang bisa diobati, tapi,,tapi," Mitha nenggantungkan ucapannya menghela napas lagi.
__ADS_1
"Pengobatannya butuh bertahun-tahun karena tulang kaki diperbaiki satu per satu, tidak mungkin sekali gus dua-duanya dioperasi. Itu membutuhkan waktu yang panjang untuk dapat berjalan lagi, dan pengobatan itu bukan di negara ini, melainkan di luar negeri," ungkapnya.
Luar negeri? Penyembuhan itu juga pasti sangat lama, pisah berpusah. Neva meremang mendengarnya, meremas rok batiknya bertanya pada diri sendiri siap atau tidak. "Tante. jika itu memang yang terbaik buat Endru, aku siap menerimanya."
"Kamu siap?" Michael ikut menimpali.
"Neva tidak ada hak untuk menahannya, lagian kita semua mau Endru sembuh'Kan? Jika itu jalan satu-satunya, kenapa tidak?" ungkapnya bijaksana berbesar hati. "Tapi izinkan aku dan teman-teman menunggunya sadar dulu, boleh Om, Tante?"
Mitha mengusap air matanya, tersenyum lega. "Apa mereka masih mau bert-"
"Masih,,Endru tetap sahabat kami dalam keadaan apa pun," Neva memotong ucapan Mitha.
Orang tua Endru tersenyum bahagia.
"Endru membutuhkan rangsangan untuk sadar agar ia mau bangun. Kata dokter, pasien dalam keadaan seperti Endru masih bisa mendengar sekitarnya, hanya tubuhnya saja yang mati rasa. Mungkin dengan kehadiran kalian, dia bisa mendengar kerinduan teman-temannya." Michael menggebu-gebu.
"Makasih, Om dan Tante!" Segera memberi kabar pada yang lain melalui grup agar segera datang ke rumah sakit.
"Astaga, sampai lupa." Mitha teringat sesuatu merogoh isi tasnya.
"Ini pasangan dari kalung itu," serunya antusias.
Melepas kalungnya menerima dari Mitha, memandang ke dua kalung ini dengan mata berkaca-kaca. Kagum dengan kalung yang menjuntai di hadapannya, mainan setengah bentuk hati itu berputar-putar di udara seolah memcari pasangannya.
"Dekatkan mainan kalungnya."
Tangan gemetar mendekatkan kalung untuk menyempurnakan bentuk hati menjadi utuh. Seperti magnet saling tarik menarik, akhirnya kalung itu menyatu sempurna. Baik Neva mau pun Michael tercengang melihat perubahan wujud kalung ini, seketika warna bentuk hati menjadi lebih berkilau lagi dari warna perak yang asli, mainan kalungnya semakin bertambah berat, menggeser ke arah jendela bahkan cahaya matahari itu memantul dari kalungnya. Beberapa detik berikutnya lebih mengejutkan lagi, di balik mainan arah belakang, ada seperti sebuah permata warna bening terkubur di dalam mainan yang tembus pandang, ini begitu hebat.
"Cantik banget. Neva nggak menyangka dengan kalung pemberian Endru ini," puji Neva berdecak kagum.
"Sekarang waktunya giliranmu menyimpan kalung itu sampai Endru melamarmu. Ini adalah batu permata yang tersembunyi sangat mahal nilainya, khusus dibuat untuk perempuan pilihan keluarga, yaitu kamu Neva Rahayu," ungkap Mitha lembut.
Neva terpaku dengan ungkapan itu. Menyimpan sampai Endru melamarnya? Itu berarti kalung ini adalah sejenis jaminan dari keluarga Endru. Jika kalung ini sampai ke tangan orang jahat, pasti mereka menjualnya, harga permata bukan sejuta puluh juta. Sama saja dia menjaga harta karun, ini sangat sulit. Ada dua hal yang ia tangkap dari sini, menjaga kalung itu dan menunggu Endru datang melamarnya. Tidak gampang! Apakah ia bisa percaya Endru datang lagi?
Michael mengusap pucuk kepapa Neva, ia tahu gadis itu merasakan kekawatiran, tidak mudah mengemban tugas ini.
__ADS_1
"Neva, kamu bisa memberi kalung ini pada papahmu, biar dia yang menyimpannya sementara kalau kau takut hilang. Dan untuk Emdru, kami semua yakin akan cinta kalian. Endru pasti sembuh!" ucapnya memberi tekat.
Berpikir lagi, semoga Tuhan merestui pilihannya. Meraih kalung itu mengamatinya lagi kemudian menyimpannya ke dalam kotak kecil yang tersedia di atas meja.
Jika pun dia kemvali dalam keadaan tidak punya kaki, Neva siap menerimanya. Hanya masalah waktu saja, berapa lama ia akan menunggu pengobatan itu dan di luar negeti pula.
š¹š¹š¹
Will datang dengan rombongannya memberi salam pada orang tua Endru, berkumpul di sebelah kanan Endru.
"Kita doa bareng-bareng yok!" ajak Neva diangguki semuanya.
Saling menumpukkan tangan di sisi kiri sisi kanan ranjang, memejamkan mata berdoa dalam hati masing-masibg.
Setelahnya mereka satu per satu mengucapkan sepatah dua patah kata untuk memberi semangat.
"Kak, cepat sembuh ya. Aku masih butuh semangat dari kaka untuk kuat di osis, masih butuh nasihat kaka." Jhena mengingat semua kenangan saat ia bersama Endru saat menguatkannya untuk melangkah menjadi ketus seperti sekarang ini. Banyak kebaikan dari cowok ini untuknya.
"Endru, bentar lagi bagi rapor sekolah terus libur. Kita liburan bersama-sama ya, tapi cepat sadar jangan tidur terus," cecocos Bembi dengan gayanya.
Setiap mereka memberi dukungan untuk temannya yang sedang sakit, menyerahkan buah tangan berupa parsel buah pada Mitha dan Michael.
"Bangun sayang, semua merindukanmu," bisik Mitha mengecup kening Endru.
Semua tercengang dengan berbagai macam perasaan, satu tetes air mata lolos mengalir di wajah Endru.
Semoga ini adalah perkembangan yang baik.
ššš
O
T
W
__ADS_1
...