
Hap!
Willangga berhasil menangkap lemparan bola basket yang diberikan Endru, lalu memainkannya sebentar. Gol! Will menghentikan permaiinya membiarkan bola itu terpantul sendiri. Will berjalan menghampiri Endru yang duduk termenung.
"Cuy!" panggil Will menepuk pundak Endru.
Endru mendongak memberi ruang untuk Will duduk di sampingnya.
"Kapan lo bersedia menggantikkan posisi gue di ketua osis?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Udah nggak minat lagi," jawab Will santai tanpa beban. Kemudian tangannya meraoh botol minum yang tersedia di depannya.
Endru menatap lurus ke depan memikirkan sesuatu sambil memeluk lututnya, rasa bersalahnya masih tersisa kepada orang yang di sampingnya ini.
"Gue minta maaf soal yang kemarin. Seandainya gue mengalah waktu itu, pastu gue nggak akan terjebak di situasi ini," ungkap Endru sendu.
Will melihat manik Endru, tidak ada kebohongan di dalam sana. Endru yang sekarang sedang duduk bersamanya adalah Endru yang berbeda, wajahnya terlihat seperti orang yang menghadapi badai besar.
Puk,, puk,, puk.. Will merangkul pundak Endru lalu menepuknya. "Gue udah lupain itu, santai aja!" ucap Will tulus.
Will menampilkan senyum pongahnya untuk meyakinkan Endru.
"Makasih, ya." ucap Endru tersenyum sumringah.
Untuk sejenak mereka berdua saling merangkul dan tertawa pertanda mereka sudah berteman mulai saat ini. Tidak ada kata terlambat untuk memulai minta maaf, selagi kita masih diberi kesempatan untuk memperbaikinya. Lagian Will juga sudah melupakan masalah itu.
__ADS_1
"Lo bisa bantu gue nggak? agar secepatnya jabatan gue dicopot," ungkap Endru.
"Oiiiii! Nanti juga jabatan lo selesai, kan lo udah mau tamat?" tanya Will bingung.
"Ck, Iya gue tahu. Tapi gue mau cepat keluar dari osis, bosan gue. Pak Brama bilang, ketua osis diganti bulan Februari tahun depan."
"Sekarang bulan, Oktober, November, Desember, Januari, Februari. Tinggal lima bulan lagi, lo nggak sabar nunggu lima bulan lagi?" tanya Will merasa aneh sambil menghitung bulannya dengan jari.
"GUE MAU SEKARANG, BULAN INI HARUS KELUAR DARI OSIS!" seru Endru berapi-api "Biar beban gue berkurang satu."
"Tinggal ngomong sama kepsek."
"Sepertinya sejagat raya sekolah ini udah tahu deh, gue dipertahankan karena nama bokap gue, bukan karena gue cocok jadi ketos. Itu artinya, gue selesai jabatannya di waktu mau tamat sekolah, bukan karena masa jabatan habis. Kalau pun gue ngomong sama kepsek, nggak ngaruh juga. PAHAM?"
"Bantuin gue buat skandal!"
"APAAA!'
BUK!
"Auhhh. Kok lo mukul siku gue?"
"Ekspresinya biasa aja, nggak usah heboh gitu," Endru menatap malas temannya ini.
"Habisnya, permintaan lo ngajak gelut," Will merengut.
__ADS_1
"Yaudah. Sekarang beri gue saran, skandal apa yang harus gue lakukan. Mau nama gue jelek, nggak apa deh, yang penting gue keluar dari osis."
"Gue denger dari Yulan, osis mau mempersiapkan penyelenggaraaan ulang tahun yayasan yang diadakan bulan depan di sekolah ini'kan?"
"Iya. Kalo tentang Yulan aja, cepat banget tuh otak," Endru mendumel.
"He he. Iya dong, pujaan hati gue!!" Will mulai songong.
"Gue nggak Peduli! Sekarang, apa maksud dari ucapan lo tadi?"
"Selama persiapan itu, lo nggak usah datang. Intinya, lo nggak usah peduli sama penyelenggaraan itu."
Endru mengangguk semangat, tak sia-sia ia bertanya pada manusia yang satu ini.
Mereka berdua terlihat lebih akrab dari hari sebelumnya. Lapangan basket yang sepi adalah saksi dari mulainya persahabatan mereka.
ššš
Hay semua.. Terima kasih kepada kalian yang sudah mampir membaca ceritaku. Makasih juga, yang udah ngasih like dan hadiah untuk cerita ku.
Sebenarnya aku nggak tahu, ceritaku ini selera kalian apa enggak. Aku di sini sedang mencoba menuangkan imajinasiku saja.
Jika suatu saat nanti cerita ini udah banyak. pembacanya, itu adalah bonus terbesar yang aku raih. Semoga aku bisa nulis cerira ini sampai tamat dan memuaskan kalian.
Terima kasih.
__ADS_1