Kisah ABG

Kisah ABG
Masalah Pak Brama


__ADS_3

"TUTUP SEMUA GERBANG SEKOLAH! PERKETAT KEAMANAN JANGAN SAMPAI WARTAWAN MASUK GEDUNG SEKOLAH!"


Pekik pak wakil kepala sekolah memerintahkan satpam sekolah, berlari cepat memasuki kantor guru.


"Di mana Pak Brama sekarang?" tanya pak wakil kepala sekolah dengan napas ngosngosan.


"Tidak hadir," jawab guru yang lainnya.


Semua guru nampak gusar, muka mereka cemas semua. Masih terkejut dengan kabar yang tersebar di televisi tadi malam, antara percaya tidak percaya.


"Pak Eporus, apa anda percaya tentang berita ini?" tanya pak wakil kepala sekolah.


Guru yang dipanggil mengangkat kepala "Tidak, Pak Yus!" jawabnya yakin. Bukan karena mereka cukup akrab makanya membela, tetapi siapa yang percaya berita tiba-tiba ini.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Wartawan sudah ramai di luar gerbang, Pak Brama justru tidak hadir untuk memberi keterangan. Anak-anak bisa terganggu kalau seperti ini," ujar Pak Yus gelisah.


"Lebih baik kita belajar seperti biasa, biar guru yang lainnya yang mengurus masalah di sini," usul Pak Septer.


"Baiklah! Cepat lakukan piket kalian masing-masing!" titah Pak Yus. Dan satu per satu guru-guru meninggalkan kantor guru untuk memulai pembelajaran.


Tidak berselang lama Bu Priska menyusul masuk menemui guru yang mssih tinggal di kantor guru. "Semua gerbang sudah di tutup, tetapi wartawan itu masih belum pulang sebelum mereka dapat keterangan dari pihak sekolah." tuturnya menjelaskan keadaan di luar gerbang.


DIDUGA KEPALA SEKOLAH SMA DHARMA BAKTI BRAMA TUNGGAL S.PD MELAKUKAN PELECEHAN SEKSUAL KEPADA SALAH SATU MURID SEKOLAHNYA.


Judul berita itu tertera di layar ponsrl mereka, ada foto beliau setengah telanjang yang sedang berciuman dengan siswa perempuan yang masih berseragam sekolah, namun wajah perempuan tersebut tidak jelas karena tertutupi oleh tangan besar beliau.


"Hanya satu foto saja tapi sudah gempar," tukas Bu Priska sinis. Jarinya masih menari di atas layar membaca komentar netizen, sesekali wajahnya terlihat menyeramkan saat membaca komentar yang memojokan.


Pak Yus mengintip dari celah jendela melihat situadi di luar, wartawan masih berdebat dengan satpam sekolah, keributan mengganggu pikirannya. Napasnya mulai tersengal, beliau juga termasuk guru yang paling tua di sini. Dan baru kali ini terjadi permasalah yang cukup besar, sekolah ini adalah separuh hidupnya, ia sangat menyangkan peristiwa ini.


"Pak Epo, sebaiknya ajak Beliau untuk beristirahat di ruangannya. Nanti jantungnya kumat lagi, kita yang repot," Pak Septer berbisik di telinga temannya ini.


Pak Eporus mendengus kesal, "Bapak saja, aku malas dekat-dekat dengan tua bangka itu."


"Ajaklah," Pak Septer terkikih geli.


"Tidak mau. Entah kapan dia pensiun dari sekolah ini. Kerjanya hanya diam duduk memerintah sok merasa paling tahu tapi tidak pernah bertindak, tidak berguna. Lihat itu hanya termenung melihat jendela," omel Pak Epo.


"Ya kan, sudah tua, makanya jadi seperti itu. Kita berdoa sajalah semoga si tua itu cepat pensiun dari sekolah ini," ujar Pak Septer.


Bu Priska menghela napas, tanpa aba-aba ia menghampiri Pak Yus dan mengajaknya untuk keruangan beliau. "Tunggu di sini," ujarnya kepada ke dua temannya ini sebelum meninggalkan ruang kantor guru.


Tidak sampai lima belas menit Bu Priska sudah kembali bergabung bersama ke dua temannya. Mereka bertiga mulai berbicata serius bertukar pendapat untuk membantu mengatasi prrmasalahan ini.


"Tadi saya sudah menghubungi Pak Brama, banyak wartawan mengelilingi rumah Beliau."


"Pantas tidak bisa datang ke sekolah," Pak Septer menyahut ucapan Bu Priska.


"Apa menurut kalian ini terlalu janggal? Berita itu viral tadi malam, dan pagi-pagi sekali wartawan sudah menghampiri sekolah kita dan juga rumah Pak Brama. Maksudku, ini seperti terburu-buru seperti ada oknum yang membuat berita ini jadi cepat tersebar. Padahalkan Pak Brama tidak sering tampil di muka umum bersinggungan dengan wartawan." Pak Eporus memberi tanggapan.


Bu Priska menutup ponselnya, "Ini perbuatan Pak Arifin!"


"Tapi tidak menjelekkan nama sekolahnya juga, membuat skandal berciuman dengan salan satu siswa sekolah ini." sangkal Pak Septer belum yakin.


"Dia orang yang nekat bukan? Jadi itu masih masuk akal," tukas Pak Eporus.


🌹🌹🌹


"Bakar sekarang!"


Asap membumbung tinggi ke langit membuat para wartawan bernapas tersendat, dan akhirnya mereka memutuskan meninggalkan lokasi sekolah.


"Berhasil! Nggak sia-sia gue ngasih ide buat ngusir tuh orang-orang," ucap Bembi bangga. Memang ini ide darinya, membakar sampah yang mereka pungut dari beberapa kelas.


"Ya udah, kita ke kantin sekarang." Ajak Rio karena tugas mereka selesai.


"SIRAMMMM!!"

__ADS_1


Byurrrr!! Wartawan di gerbang selatan sudah basah kuyup tersiram hujan lokal dari arah rooptof sekolah, suara mereka mendumel lalu meninggalkan sekolah.


"MAMPUS LO, BASAH DAH TUHH!" seru Will tertawa puas.


"Pak Satpamnya juga ikutan basah," Daniel menimpali.


"Wehhh, mereka pergi!" Neva ikut terbahak. Dia baru saja selesai mematikan pompa air yang mereka gunakan untuk menyiram tadi.


Mereka ber tiga saling tos misi mereka berhasil. Turun ke bawah menuju kantin menemui teman yang lain sudah menunggu di sana.


Di kantin cukup ramai, bergosip siapa kira-kira murid perempuan yang diberitakan dengan kepala sekolah mereka.


Endru dari tadi merasa risih mendapat lirikan 'aneh' dari beberapa siswa, terutama siswa yang satu tingkatnya, sepertinya mereka sedikit paham dengan situasi permasalahan yang sekarang.


"Udah gue duga pasti bakalan ada kejadian aneh setelah pemutusan jabatan si Endru dari ketos."


"Bapaknya nggak rela kali tuh, anaknya lengser dari jabatan penting di sekolah ini. Padahal anak ya sendiri yang pengen."


"Ngeri cuyy, gangguin anak orang dalam."


"Bapaknya nggak bisa memperalat anaknya di sekolah ini."


Endru menggeram mendengar bisik-bisik terangga teman satu tingkatnya, sepertinya ke tiga cowok ini ingin membuat emosi dan mempermalukannya.


"Kak Endru, kita keluar aja yok?" suara halus Yulan meredakan emosinya.


Endru tidak banya bicara, menarik tangan Yulan di susul Andreas keluar dari kantin belum makan.


Chatryn bertindak sengaja menumpahkan kuah bakso yang dibawanya ke meja ke tiga cowok yang menggosipi Endru tadi. "Upsss! Oh, tumpah yah. Sorry ya, sengaja!" ucap Chatryn tanpa merasa bersalah. Tanpa menunggu respon dari lawannya, ia berlari menerobos kerumunan siswa yang mengantri.


Chatryn berlari tidak hati-hati menyusul Endru yang sudah menjauh, kakinya menyenggol batu dan badannya hampir tumbang tapi-


"Kok nggak sakit!"


"Buka mato lo!"


Whhattt! Chatryn berdegup kencang, di-dia tidak jatuh ke tanah, tapi jatuh ke pelukan "Dan-daniel," lirihnya menikmati mata Dani yang menatpnya wajah mereka berdekatan, tangan Daniel terasa hangat saat menahan badannya.


"Maka-Eh, Dan, Endru dan yang lainnya udah ke lapangan, nggak di kantin lagi."


Seruan Chatryn dianggap angin lalu, Daniel berbalik tidak jadi ke kantin. Melewati Chatryn begitu saja, sedangkan Chatryn masih terpaku di tempatnya, tidak peduli tatapan siswa yang melihat aksi mereka tadi.


"Sabar kawan! Cinta itu butuh perjuangan," ujar Neva cengir.


Ihs, dia dingin banget," Chatryn merenggut manja.


"Itu tantangan buat lo. Eh tapi, dia sigap juga ya, nolongin lo yang hampir jatuh karna tersandung batu. Bertetima kasih lo sama tu batu," seloroh Neva cekikikan.


"A Neva, kaki gue juga sakit tahu,"


"Hallah! Jalan sendiri ayokk!"


Tanpa mereka sadari, ada yang menatap benci dari sudut sana. Juga, Jhena yang tidak sengaja melihatnya. "Rio benar, Chatryn menyukai Daniel," gumamnya lirih.


"Jadi saingan gue si Chatryn itu!" Ratu naik pitam.


"Kita punya mangsa baru," ujar teman yang sebelah kiri.


"Eh,,jangan. Kalian bersaing secara sehat aja," ujar teman sebelah kanan.


"Chatryn mah kecil, masa itu aja lo bggak bisa singkirin si, Tu!" teman yang kiri memanas-mansi.


"Tapi Chatryn udah bergabung sama Will dang gengnya itu. Lo tahu kan segimana persahabatan mereka? Sulit buat ngedekatin wilayah mereka," ungkap Ratu masih ragu.


"Minta bantuan sama Inggrisa!" teman yang kiri memberi usul.


Ratu masih berpikir. "Apa kita harus berurusan sama orang songong itu? Gue capek dijadikan budak terus,"

__ADS_1


Memang Inggrisa telah memusuhi mereka karena Ratu gagal menjebak Chatryn untuk jadi kambing hitam waktu hari perayaan itu. Ratu menjadi lampiasan Inggrisa karena rencanya gagal, hinaan Inggrisa masih terngiang ditelinga Ratu.


"Demi menyingkirkan saingan!" teman yang kiri masih mengompori.


"Baiklah, kita gabung lagi sama Inggri!" Ratu memutuskan.


🌹🌹🌹


"Aihh, ngebucin terussd!" Bembi protes.


"Dunia serasa milik berdua, yang lainnya mah ngontrak!" Rio menimpali.


"Jomblo, iri!" celetuk Andreas skakmat.


Will tidak peduli, tangannya masih asik menyuapi Yulan bekal makanan. Sebenarnya Yulan sudah menolak malu dilihat temannya, tapi Will tetap memaksa. Bahkan Will dengan telaten membantu Yulan minum obat, dengan santai Will meminum air yang sama dari botol air minum Yulan.


"Will, ituu,"


"Nggak nular kok, tenang aja."


"Yulan sudah selesai makan. Alangkah baiknya kita langsung berdiskusi ke inti masalahnya sajaa," Daniel juga sudah mulai jengah.


"Ok!" Will menutup bekal milik Yulan.


Sekarang mereka sedang berada di dalam ruang LAB MIPA, agar perbincangan mereka tidak terdengar orang lain. Willangga mengeluarkan ipad yang sudah disembunyikannya diam-diam tadi pagi di salah satu laci meja, menyalakan dan membuka foto yang sedang mereka bahas.


Memperhatikannya lamat-lamat meneliti seluruh sudut foto, ada yang aneh!


"Foto itu terlihat seperti foto asli," Neva memberi pendapat.


"Lo salah, Nev. Ini editan, foto ini bukan foto asli. Pasti yang mengerjakannya punya skill komputer yang bagus, makanya kita bisa tertipu dengan foto ini." jari Will menyentuh layar dengan gesit membaca yang hanya dimengerti olehnya.


"Ini alamamat IDnya!" pekik Will antusias.


"Dan ini foto orangnya!" Will menunjukkan layar ipadnya.


Semuanya masih belum mengerti, bingung dengan hasil pencarian Will. Justru Endru yang masih tak memberi respon, dia mengenal orang itu.


"Dia bekerja di perusahasn papah gue."


ujar Endru takut.


"Lo kenal orang ini?" tanya Daniel menatap sinis Endru. "Artinya ini perbuatan papah lo!" tuduh Daniel memasang wajah bengis mengepalkan tangannya.


Endru diam siap menerima apa pun yang akan terjadi manti, ini juga salahnya'kan?


"Dan, jangan!" tangan Chatryn bergetar sekuat tenaga menahan ayunan tangan Dani yang hendak melayangkan tinju ke arah wajah Endtu. Sementara Neva sudah mengajak Endru mundur sedikit.


"Auhhh!" lagi-lagi Chatryn menerima sakit yang sama, Dani membuang tangan Chatyn kassr.


Will bertindak menenangkan Daniel. "Bro, yang salah itu papahnya Endru. Meskipun dia anak beliau, tapi lo lihat sendiri dia aja diusir dari rumah. Ya kan? Kalian tinggal satu kos," ucap Will mencova memberi akal logikanya.


"Tapi masalah ini berawal dari dia!" Dani menunjuk-nunjuk Endru. "Dia yang mundur dari jabatan osisnya. Kepapa sekolah yang kena imbasnya, bea siswa Jhena ditarik, Pak Septer harus menghabislan yang untuk mengganti bea siswa itu. SEMUA GARA-GARA DIA!" pekik Daniel sarkas.


Krrekkk!!


Semua menoleh melihat pintu ruangan tiba-tiba terbuka, jantung mereka hampir keluar melihat siapa yang datang.


"Bu Priska!" ucap mereka tercengang.


Bu Priska berjalam anggun menghampiri murid-muridnya, tersenyum melihat keterkejutan mereka.


"Jika Endru adalah awal dari semua ini, maka dia jugalah kunci dari masalah ini."


"Apa maksudnya?" tanya Endru.


"Temui papahmu, sekaligus papahnya Inggrisa!"

__ADS_1


Deg.


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡


__ADS_2