
Pak Brama mengelus dadanya merasa senang dan lega karena tuduhan yang diberatkan padanya tidak terbukti, ia sangat beruntung mempunyai murid sebaik mereka. Tadi ia sudah sempat masuk sel tahan lapas sementara siang tadi diseret paksa dari rumah, tangisan istri dan anaknya memberatkan kakinya untuk masuk ke dalam mobil polisi. Tak disangka dewi keberuntungan berpihak padanya sore ini, orang tua Will dan Pak Septer datang membawa anak-anak memberikan bukti yang melepaskan dirinya dari tahanan.
Will dengan kemampuan IT yang dimilikinya memberikan saksi keterangan pemalsuan foto beserta postingan di internet yang mengakui foto tersebut memang sudah diedit. Pihak kepolisian memutuskan melepaskan Pak Brama dan akan mencari siapa pemilik akun 'D_Tr0Y' yang mengakui kejahatannya.
Sebenarnya pihak kepolisian minta bantuan pada Will, namun tetap ada peraturan tertulis resminya. Will tidak jadi ikut dalam pencarian, ia berdalih kemampuannya belum sedalam itu untuk peretasan data. Will tidak mau ikut campur untuk itu, papihnya mengecamnya melalui tatapan mata.
Mereka semua sedang makan malam di rumah makan terdekat, tidak berganti seragam sekolah lagian besok juga mereka memakai seragam batik tiap hari Rabunya. Jangan lupakan Chatryn tadi memaksa Endru memboncengnya untuk ikut bergabung bersama mereka.
Lagi dan lagi Will dengan tidak tahu malunya menunjukan keromantisannya di hadapan orang tua, sepiring berdua. Yulan malu, Will tidak menggubrisnya.
"Eh Bembi, kamu tahu tidak bedanya orang pacaran sama jomblo?" tanya Pak Valensis. Will di tempat duduknya sudah merasa tidak enak, celutukan papinya ini.
"Beda la, Om! Kalau pacaran malam mingguan keluar, jomlo malam mingguannya rebahan!" jawab Bembi ketawa ngakak.
"Tetottt,,salahh!" sahut Papi Valensis memukul sendok pada gelas minumnya.
"Apa dong, Om?" Rio ikut penasaran.
"Kalau orang pacaran, sepiring makan berdua. Kalau jomlo, dua piring makan sendirian! Seperti kamu itu, makannya udah dua piring." jawab Papi Valensis tertawa menyindir Bembi.
Semua terbahak tetpingkal-pingkal, Bembi paling kuat tidak tersinggung sama sekali. Will justru bangga diri, Yulan tersenyum malu-malu.
"Papi juga masih jomllo," Will mencibir papinya.
"Wesss!! Kode minta mami baru itu!" Rio menyahut.
"Ahkk!" papi pura-pura tampang sedih. "Papi ini nasib percintaannya menyedihkan! Ditolak cintanya sama bu Priska-" melirik Pak Septer, Pak Septer buang muka malu sudah ketahuan. "TAPI TENANG SAJA, PAPI AKAN TERUS BERJUANG TERUS MERAYU AKAN MENDAPATKAN HATI BU PRISKA. SETUJUUU!!" seru Papi mengebu-gebu.
"SETUJU!"
"LANJUTKAN!"
"Idihh," gumam Pa Septer cemburu.
"Bersaing dengan Pak Septer," Pa Brama terkekeh.
"Endru, lo nggak sekalian sepiring berdua sama Neva?" celetuk Andreas.
"Waw,,ternyata ada pasangan lain di sini. Papi kepoo!!" justru Papi yang heboh.
"Aaaaa, Nev!" Endru tanpa ragu-ragu menyodorkan sendok ke mulut Neva. Semuanya jadi heboh.
Neva gelagapan! "Nggak,,enggak!" Neva menggeleng menutip mulutnya. "Masih punya tangan gue, nggak ngebucin kayak si Will itu!"
"Yaaaaa!" ujar beberapa dari mereka. Endru langsung memakan sendiri nasi yang diambilnya tadi, "Fiks, gue jomlo. Padahal ada do'i di samping." ucapan itu langsung mendapat teriakan cie cie.
"Shuapp akku ajja aabanggg!!" Bembi berucap dengan nada menggelikan.
"OGAHH!" Endru menolak ngeri.
"Itu Chatryn nasinya masih banyak!" Andreas lagi-lagi sambil mengarah pada Chatryn yang memang belum menyentuh makanannya.
Sebenarnya bukan tidak menikmati suassna ini. Chatryn merasa tidak enak dengan tatapan Daniel yang menatapnya tidak suka. "O-oh, iya gue makan kok," cepat-cepat Chatryn mulai makan.
"Dan, lo suap tuh Chatryn biar dia mau makan. Oooooo! Anak orang loh ini," sahut Will menggoda Daniel.
"Suap,,suap! Emangnya dia petugas bansos disuap segala, dia juga punya tangan kayak Neva," ujar Daniel sedikit menekan suaranya.
"Sadis ya, Bung!" Rio melihat Chatryn kasihan.
Chatryn sedikit sakit hati, tapi tak apalah. Ia tersenyum saja melanjutkan makanannya.
Tinggg!
"Eh, ada notifikasi di hp gue." Andreas melepas sendoknya merogoh ponselnya.
Rio ikutan kepo, bergeser sedikit mengintip layar ponsel Andreas.
"MAENN,,MAENNN! WALPEPER LO FOTO SI JHENA!" pekik Rio heboh.
Sontak semua menghentilan makannya, melihat Andreas tatapan ingin tahu.
"Uhukk,,uhhukk,,uhukk!" Daniel tersedak.
Endru menyodorkan air minum, menepuk-nepuk punggungnya.
"He," Andreas terkekeh. "I-iya," jawabnya gugup.
"Sudah sedekat apa kamu dengan Jhena?" tanya Pak Brama.
"Um. Masih pendekatan saja, Pak." Andreas malu-malu.
"Semoga yang terbaik buat kalian semua!" ujar Pak Brama tulus.
"Kok wajah Daniel tiba-tiba aneh gitu waktu bahas Jhena? Ah, jangan berpikih aneh-aneh Chatryn!" gumamnya dalam hati.
__ADS_1
🌹🌹🌹
"Will! Kamu nggak usah ikut turun, nanti-"
"Aku ikut, aku yang ngomong sama orang tua kamu."
Yulan ragu takut Will dimarahi lagi seperti sebelumnya.
"Semoga tidak terjadi apa-apa, ayo turun!" Will membuka pintu membantu Yulan turun dari mobil.
Tinggalah, Daniel yang tetap memasang wajah datar karena Chatrun duduk di sampingnya, dipaksa temannya. Bembi makan-makan, perutnya karet. Sementara Neva sudah dibonceng Endru di belang mengikuti mobil mereka. Motor Andreas dan Rio juga.
Will tetap memasang wajah tersenyum, padahal dalam hatinya takut kalau itu terulang lagi. Namun ia dengan rasa tanggung jawab mengantar Yulan sampai ke depan pintu rumah.
"Pa-pah!" Yulan terkejut. Papahnya sudah kembali dari urusan luar kota, dia kira mamahnya yang akan membuka pintu. Will menggemgam telapak tangan Yulan yang sudah berkeringat.
Yang dipanggil papah menatap tajam ke arah tangan Will dan Yulan.
"Selamat mal-"
"Lepaskan tangan putri saya!" Arwan marah.
Will mengulurkan tangan Yulan ke depan Pak Arwan. "Saya mengantar Yulan dengan selamat. Saya mengucapkan terima kasih karena telah mengizinkan Yulan untuk saya bawa keluar setelah pulang sekolah," Will menuntun Yulan berdiri di samping papahnya. "Saya minta maaf kalau kami pulangnya terlalu lama, Om." Will bergeser di posisinya tadi, tersenyum menghormati Pak Arwan. Ia sudah sedikit mulai terbiasa berhadapan dengan beliau.
"Yulan masuk sekarang!"
"Pah," ia takut.
"Masuk, papah bilang masuk!"
Will tersenyum ke arah Yulan, menyurunya segera masuk.
"Will, aku masuk dulu," Yulan hampir menangis.
Sepeninggalan Yulan, Pak Arwan melihat bengis Will.
Bukkk!
Will tidak melawan pukulan di perutnya, tangan tua ini juga tidak terlalu sakit.
"SAYA SUDAH BILANG, JAUHI ANAK SAYA!"
"Saya sangat mencintai Yulan, Om."
"TIDAK ADA CINTA CINTA! BERAPA KALI SAYA HARUS MENGULANG KATA-KATA SAYA, JAUHI ANAK SAYA!"
"SAYA TIDAK MENYUKAIMU DEKAT DENGAN YULAN, ITU CUKUP JELAS SAYA RASA!"
"Bukan itu!" Will menggeleng. "sakitnya Yulan, iya'kan, Om?" mengusap air matanya.
Pak Anwar terpaku.
"SEKARANG, PERGI,,PERGI! PERGI!!" sekuat tenaga Pak Anwar mendorong tubuh Will.
Will menahan badannya, tenaga beliau tidak seberapa. Sekarang ia mengerti di balik sikap papah Yulan, ia paham setiap orang tua menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Tetapi perasaannya sangat besar.
"AKU MENCINTAI YULAN, AKU MENERIMA SEMUA YANG ADA PADA YULAN. OM TOLONG PERCAYA SAYA!"
"Ahkkk!!"
Untung Daniel dan Endru menangkap badan Will yang hampir jatuh.
"PERGI KAU,,PERGI! YULAN TIDAK SEMBUH KARENA CINTA DARIMU, PERGI SEKARANGG!" Pak Anwar mengamuk.
"Will, sebaiknya kita pulang." Daniel dan Endru menyeret Will keluar dari pekarangan rumah Yulan.
"SAYA MENCINTAI YULANN!" Will berteriak, badannya menghilang di balik gerbang rumah.
"AHHK!"
Will memukul-mukul body mobilnya.
"TUHAN!! SEMBUHKAN YULAN, BIAR AKU AJA YANG MENGALAMI PENYAKITNYA YULAN! AHKKK!!"
Buk,,bukk!
"WILL JANGAN MENYAKITI DIRI LO SENDIRI!" Daniel menahan tangan Will agar tidak memukul mobil.
"Lo jangan ngomong sembarangan," Endru menahan badan Will. "Lo harus tetap semangat, agar Yulan juga semangat menghadapi semua ini. Lo bilang lo cinta-kan sama Yulan? Lo denger gue! Yulan lagi sakit. Yang lo harus lakuiin, lo temani dia, lo dukung, lo harus jadi obat penawar rasa sakit , lo minta sama Tuhan supaya Yulan sembuh, lo tetap harus berada di sisinya. Bukan menyalahkan atau menukar takdir, itu bukan hak lo." nasihat Endru.
Will termangu, benar juga!
Sementara di dalam rumah Yulan, semuanya panik.
Pak Anwar datang ke dalam kamar Yulan dan langsung merampas gelang yang ada di tangan Yulan mencampakkannya begitu saja.
__ADS_1
"Yulan jangan berhubungan dengan Willangga lagi!"
"PAPAH JANGAN SEPERTI INI PADA YULAN!" mamah menangis.
"Pa-papah, a-aku mencintai Will. Ahk-"
"YYYULANN! BANGUNN SSAYANGG!!"
Tangis suami istri itu terdengar pilu di pertengahan malam.
🌹🌹🌹
"Nih jaket lo, makasih ya," Neva tersenyum manis.
"Bawa pulang sekalian bawa tidur, gue tambah senang." Endru tersenyum menggoda.
"Uuunggg!" cubitan mesra mendarat di lengan Endru.
"Kok nggak terasa ya?"
"Kurang kuat! Unggg, rasakan!"
Endru mengusap lembut bekas cubitan Neva. "Tapi menang nggak sakit kok. Apa karena ini cubitan dari perempuan yang gue suk-" tiba-tiba wajahnya tertutup jaket yang disengajakan Neva. "Ahahaha!" suara kekehan manis itu tenggelam dalam jaket kulitnya. "Ahkk, bernapas!" jaketnya sudah berada di kepala motor.
"Pulang sana!" usir Neva tapi cemberut.
"Nggak disuruh mampir dulu, orang-orang biasanya gitu loh. Mampir yuuk, gituu."
"Gue nggak tuh," Neva mendengus sewot juga. Ahk, campur aduk.
"Neva,,Neva! Kamu cantik banget kalau merengut gitu, gue suka." Endru merayu, tapi ucapannya fakta. Fakta di pengelihatannya!
"Gombal busuk!" Neva tapi merona.
"Iya, benner!" Endru sok serius. "Manyun cantik, cemberut cantik, senyum cantik, mengamok juga cantik, bertumbuk cantik. Apa lagi-" Endru menyentuh ujung rambut Neva yang masih terkuncir rapi, "Kalau lo mau gerai rambut indah lo itu, pasti makin cantik. Suer gue!" Endru tersenum lembut.
"Lepas, ih!" Neva mundur menyingkirkan tangan Endru. Jantungnya berdegup kencang tidak karuan bertalu-talu, wajah Endru dekat napasnya hangat membuatnya salah tingkah.
"Uhmm!" Endru juga sama, ini hati berdesir. "Lo kalau entah kapan mau gerai rambut, cukup depan gue ya. Jangan depan cowok lain apa lagi depan teman-teman."
"Ha?" Neva mencerna ucaoan Endru.
"Nev-" menyentuh lengan Neva lembut. "Gue serius," mereka saling tatap. "Apa pun yang terjadi nanti, tolong tetap percaya sama perasasn gue," mengusap wajah Neva dengan ibu jarinya. "Kita sama-sama udah tahu'kan, semua nggak semudah seperti hubungan orang lain. Tolong tunggu sampai waktunya yang tepat, cukup kita saling menjaga perasaan ini."
"Endru," Neva mengikuti arah pandang Endru. Papahnya mengintip dari cela-cela pintu utama, tatapan papahnya dingin sekali.
Bukk! Papahnya membanting pintu.
Endru sudah siap dengan motornya.
"Gue pulang dulu, tidur yang nyenyak malam ini." senyum Endru dari balik helem.
"Hati-hati!"
"Jangan namgis!"
"Enggak," Neva mengelak.
Endru mengelus pucuk kepala Neva sayang. "Gue pulang!"
Neva menatap sendu kepergian Endru.
👇👇👇
Suka pasangan mana:
Endru❤Neva,
Willangga❤Yulan,
Daniel❤Chatryn,
Andreas❤Jhena,
Papi Valensis❤Bu Priska?
Pak Septer❤Bu Priska?
atau
Rio❤Bembi! Uuppss!
"Gue shambit juga lo, Thor!" Bembi mengamuk.
"Gue juga ogah sama lo Bem, madih normal nih pedang!" Rio mengkesal.
__ADS_1
........