Kisah ABG

Kisah ABG
Rumah Sakit


__ADS_3

Tubuh Yulan terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, alat-alat penunjang hidup melilit di tubuhnya, monitor EKG berdenting menenani suara detiknya jam, wajahnya pucat seperti mayat bahkan sudah membengkak di beberapa bagian tubuhnya, ruangan harus tetap stetil dan bersih, para dokter sedang berusaha di dalam sana membelah memberi sayatan di bagian dadanya, memberikan jantung baru yang sehat dan kemudian menjahitnya perlahan menutup jantung. Setelah selesai melakukan transpantasi jantung, para dokter membersihkan alat dan membersihkan tangan, membungkus jantung rusak dengan plastik khusus.


Lampu ruang operasi sudah padam.


Pak Anwar duduk gelisah berlinang air mata, Nyonya Anwar terus mengucapkan doa-doa di bibirnya memohon keselamatan putrinya. Sementara Will? Ia menunduk di ujung lorong ruangan operasi, wajahnya babak belur ulah Pak Anwar yang melarangnya ikut menunggu Yulan di depan ruang operasi.


"Om, saya mohon izinkan saya tetap berada di sini. Saya ingin menenani Yulan menunggunya operasi," ucap Will memohon. Ia sudah seperti seorang peminta-minta yang membutuhkan belas kasihan, berlutut di kaki beliau dan terus memohon.


Bukk!


Ujung sepatu Pak Anwar mendarat di kening Will. "PERGI KAU! KEDATANGANMU TIDAK ADA PENGARUHNYA UNTUK PUTRI SAYA, TIDAK!" pekik Pak Anwar tanpa bersalah.


Will tidak melawan, ia mencoba bangkit berdiri tidak mempedulilan rasa sakit di pelipisnya. Rasa khawatir untuk.Yulan lebih mendominasi perasaannya, ini belum ada apa-apanya dari pada pisau yang menyayat dada Yulan di dalam sana.


Baru saja ia melangkah menuju pintu ruangan, dengan kasar Pak Anwar menghalangi jalan Will dan menamparnya sangat kuat. Umpatan kasar keluar dari mulut beliau, sementara istrinya duduk diam menangis sudah tidak bisa menahan tingkah suaminya.


Lalu menyeret tubuh Will menjauh dari lorong ruang operasi.


"Anak papi," Pak Valen menepuk pundak Will lalu membawa ke dalam pelukannya.


"Menangislah! Bahu papi akan selalu siap menampung air matamu samoai banjir," ujarnya sedikit bercanda. Padahal ia setengah mati menahan isakannya, sakit sekili melihat keadaan putra kesayangannya seperti ini. Ia ikut merasa hancur, ada dendam melihat luka di wajah Will.


Willangga tidak menggubris ucapan papinya, ia bersandar nyaman dalam pelukan papinya.


"Yulan?"


"Dia, operasinya berjalan lancar." Valensis ikut tersenyum melihat Will tersenyum lega.


"Ayo ke sana sekarang," ajaknya.


Will menggeleng lalu melepas pelukan papinya, mengusap air matanya tersenyum cerah pada papinya.


"Makasih, Pi. Berkat Papi yang menghubungi dokter itu untuk ke sini, Yulan tidak operasi di luar negri lagi."


Valensis menghela napas, ia memahami keresahan putranya. Apa pun ia lakukan untuk kebahagiaan Will, termasuk tanpa sepengetahuan orang tua Yulan, meberi surat permohonan dokter Yulan untuk melakukan operasinya di sini. Ia tahu, Will tidak bisa terpisah dari Yulan kekasihnya.


"Tapi luka ini?" Valensis mengusap bekas tamparan di pipi Will.


"Nggak kenapa-kenapa, Pi."


Di depan ruang operasi, ke dua orang tua Yulan mengucap syukur keberhasilan operasi putri mereka, mengikuti perawat yang membawa brankar Yulan memindahkan ke ruang transisi. Itu pun belum ada orang lain selain petugas yang boleh ikut masuk, pemantauan kondisi fisik Yulan harus diperhatikan dengan ketat.


"Saya hanya ingin mengatakan sesuatu pada anda, Tuan Anwar. Ada seseorang yang memberikan surat permohoban untuk datang ke negara ini dan melakukan operasi Yulan, beliau rela membayar saya mahal asalkan saya menyetujui permohonananya," ujar dokter bule bahasa inggris yang kental.


Pak Anwar terdiam, ini alasannya operasi putrinya dilakukan dan dipercepat. "Siapa orang itu, Dok?" tanyanya penasaran.


Dokter bule tersebut melepas kaca mata tebalnya, menghele napas lelah. Sebenarnya ini rahasia di antara dirinya dan orang itu. Tetapi setelah mendengar kisah percintaan pasiennya dan putra dari orang itu, ia memutuskan untuk memberitahunya saja, semoga saja Pak Anwar membuka matanya melihat pengorbanan orang itu.


"Dokter, siapa orang itu? Kami ingin bertemu langsung," desak Nyonya Anwar.


"Tuan Valensis!"


🌹🌹🌹


"Aduh Asli! Gue beaok ajalah piket nyapunya, buru-buru mau ke rumah sakit. Ok,,okehh!" Neva membuang sapunya begitu saja. Berlari menyusul Chatryn yang sudah menghilang di balik pintu kelas.


"NEVAA!! LO ITU YAAAA!!" teriak Asli merutuki Neva.

__ADS_1


Di ruang kelas XI IPA 3, sedang terjadi kericuhan yang menggemparkan satu ruangan.


Di les mata pelajaran terakhir guru tidak masuk. Hanya memberikan tugas mandiri, dan alhasil terjadilah ribut-ribut.


Salah satu teman satu kelas tidak senfaja melihat buku catatan Andreas yang terjatuh, nama Jhena terukir indah di sampul belakang buku. "Andreas ternyata suka sama Jhena!" teriakannya membuat heboh satu ruangan.


Yang tadinya serius menyalin tulisan dari papan tulis, ikut nimbrung di meja Andreas. Bahkan siswa yang bertugas menulis di papan tulis meninggalkan buku paket di meja guru, ikut bergabung di meja Andreas.


Tentu satu kelas heboh! Andreas si anak pemalu!! Jatuh cinta! Sama Jhena pula! Hebat! Tidak sangka saja!


"TEMBAK,,TEMBAK,,TEMBAKK!" seru mereka antusias.


Tanpa ada yang menyadari wajah Daniel, ia justru memilih pergi pura-pura izin ke toilet. Harapannya sudah kandas, ini semua karena kesalahannya. Sekarang, ia harus mengiklaskan Jhena untuk Andreas temannya sendiri.


Yang satu memetik bunga di pot teras kelas, yang satu menarik Jhena duduk di samping Andreas.


"Andreas, tembak si Jhena pake bunga ini!" memberikan paksa ke gemgaman Andreas sekuntum bunga yang dipetiknya tadi.


"Oii, bukan gitu!!" Bembi sudah ikut-ikutan.


Mengajak Andreas berdiri. "Tembak sekarang!!"


Jhena memerah malu, ia tidak menyangka akan seperti ini. Andreas? Ia justru merasa berdebar-debar, kondisi ini justru membuatnya tambah berani. Ia! Harus jujur sekarang juga, ditolak atau ditetima? Itu urusan belakang, itulah prinsipnya.


Dengan tekat yang bulat, bibirnya mulai bersuara, "Jhena," panggilnya suara rendah.


Semuanya tiba-tiba hening, menatap lekat calon pasangan ini.


Jhena tidak berani menoleh, ia tetap diam dan ekor matanya melirik tubuh Daniel tidak ada di kelas lagi. "Apa yang harus aku jawab?" gumanya dalam hati.


Bel pulang berbunyi, tetapi kelas itu tidak kunjung bubar.


"Aku suka sama kamu," ungkapnya.


"TETRIMA,,TERIMAA!!" sekelas berseru heboh.


Jhena masih tidak menjawab, ia mulai bimbang.


"Jhena, aku serius! Aku ingin kamu jadi pacarku," ujar Andreas serius.


Netranya memperhatikan sekelilingnya. Daniel sudah kembali ke kelas, wajah cowok itu terlihat berantakan. Ternyata Chatryn dan Neva juga sudah ada di kelas mereka, Chatryn sudah ikut heboh bersama temannya.


"Jhena," mata Andreas menghiba. Ia mulai ketakutan cintanya ditolak, ia sekain mengeratkan gemgamannya takut Jhena pergi.


"I-iya, aku mau jadi pacar kamu."


Jawaban itu membuat semuanya bertepuk tangan bahagia. Andreas kegirangan tersenyum bahagia, mengecup tangan Jhena berkali-kali.


Daniel menarik tangan Chatryn keluar dari kelas.


"Chatryn, aku mengalah. Kejarlah cinta Daniel untukmu. Daniel tidak pernah melihat perasaanku padanya," ucapnya dalam hati.


Kisah Daniel dan Jhena ini berakhir dengan ke egoisan mereka tidak mau jujur satu sama lain, rahasia ini akan tersimpan dan berharap mendapatkan kebahagian bersama pilihannya masing-masing. Tanpa mereka sadari, Andreas dan Chatryn adalah korban ke egoisan mereka?


🌹🌹🌹


"Kamu boleh melihatnya."

__ADS_1


Ucapan Pak Anwar memberikan izin Will melihat Yulan dari jendela ruangan.


Jarinya mengusap permukaan kaca seolah mengusap wajah Yulan, bergumam kecil berkomunikasi dengan Yulan. Ingin menerobos memeluknta, itu tidak mungkin.


"Will,"


"Neva," berbalik tersenyum kecil melihat teman-temannya sudah datang.


Neva berjalan menghampiri Will dan memberilan buket bunga yang dititip Will tadi. "Ini bunganya."


Will menghirup aroma bunga mawar merah itu, menyelipkan sepucuk surat dalam plastik pembungkus bunga. "Makasih."


Pak Anwar dan istrinya sedang makan siang di kantin rumah sakit, setengah mati istrinya mengajak suaminya. Teman Yulan butuh ruang untuk mendukung putrinya, wajah suaminya terlalu sangar membuat anak-anak itu segan.


Pak Valensis sudah pulang.


Neva sebagai sahabat dekat Yulan yang pertama kali maju melihat Yulan dari jendela. Tidak terasa air matanya jatuh, mengenang pertemanan mereka membuat rasa sayangnya semakin dalam. Permintasn maaf terus terucap, merasa bersalah karena tidak becus menjaga sahabatnya yang sedang sakit. Semakin dalam rasa bersalahnya merutuki kebodohannya, badannya bergetar. Jika Yulan sudah bangun. Ia berjanji untuk lebih peduli lagi dengan Yulan, menjaga Yulan.


Yulan adalah sahabat terbaik yang pernah ditemuinya.


Endru, Daniel, Will, Rio, Andreas, Chatryn dan Jhena ikut berkumpul bersama Neva.


Saling berpelukan menguatkan satu sama lain, berdoa bersama untuk kesembuhan Yulan. Semuanya menangis, semuanya berharap Yulan kembali bersama mereka.


Salah satu perawat jaga datang, Will menitipkan bunga itu. Perawat meletakkan bunga mawar di samping kepala Yulan.


'Cepat sembuh anak manis, ini bunga dari pacarmu."


Setelah suasana sedikit mencair. Nyonya Anwar datang membawa makanan dan mengajak mereka makan di lorong rumah sakit yang agak jauh dari ruangan Yulan, Pak Anwar yang menjaga di sana.


Ditengah aktivitas makan, Endru memgajak Neva untuk keluar sebentar. Sontak saja sorakan cie-cie meneriaki mereka. Oh iya. Andreas tidak canggung menunjukkan ke posesifannya pada Jhena, Jhena terima saja. Daniel terus manyun, Chatryn yang tidak tahu apa-apa berusaha menarik perhatian Daniel. Bembi dan Rio menjadi dalang pengejek-ngejakan, Will menikmati moment ini.


"Ini ruangan siapa?" tanya Neva. Ia merasa aneh saja, bukannya keluar seperti yang dibilangnya tadi, justru ke sini. Ruang rawat, sepertinya privasi sekali, lorongnya sepi.


"Nggak ada yang jaga di depan pintu, nggak seperti biassnya," ujar Endru kebingungan.


Neva tidak berani bertanya, ia ikut saja dulu. Tangan Endru tidak melepaskannya dari tadi.


"Sapa calon ibu martua kamu,"


"Ha?" Neva belum mencerna.


"Ck. Ah, itu mamahku," ujar Endru sakah tingkah.


Tubuh wanita paru baya terbujur kaku, tubuh itu sangat kurus tetapi terlihat bersih dan masih cantik. Neva mengemgam tangan yang tidak di infus, menciumnya hormat.


"Selamat siang Tante, saya Neva temannya Endru," tentu tidak ada sahutan. "Tante cepat bangun ya, Endru kangen banget sama Tante-" Neva duduk di kursi, jarinya mengusap sayang telapak tangan wanita itu. "Endru bilang, dia nggak bisa hidup tanpa mamahnya, nggak bisa apa-apa tanpa mamahnya. Endru sayang banget sama Tante!-"


Endru tersenyum bahagia mendengar coletah Neva, berkomunikasi dengan mamahnya. Tidak salah ia jatuh cinta pada cewek ini!


Tttiitt,,,tittt,,Ttit!!


Mamahnya mengeluarkan air mata.


Sedetik kemudian mamahnya kejang-kejang.


Endru dan Neva panik, layar monitor detak jantung tiba-tuba berdenting kuat. Dokter siaga langsung mengambil tindakan, Neva menangis ketakutan di pelukan Endru.

__ADS_1


"TUAN ENDRU, INI MUKZIZAT! MAMAH ANDA SUDAH BANGUN DARI KOMANYA!"


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡


__ADS_2