
Siang ini pulang sekolah; Neva, Willangga, Dani, Bembi, Rio, dan Andreas mampir ke rumah makan tidak jauh dari lokasi sekolah. Makan siang bersama dan mengobrol layaknya seperti kebiasaan anak sekolah. Endru tidak bisa ikut, ada urusan penting katanya. Yulan, sudah pulang dari tadi.
"Neva, lo kan deket banget sama Yulan. Dia ada cerita sesuatu nggak?" tanya Will serius.
"Um," Neva mengunyah es batu dalam mulutnya, membuat Bembi merasa ngilu sendiri. "Nggak ada, tuh. Harusnya lo yang lebih paham sama dia, kan lo gebetannya!"
Mendengau ucapan Neva, semua temannya ribut menggoda Willangga. Akan tetapi aksi mereka tidak bertahan lama, reaksi Willangga berbeda dari biasanya.
"Ada apa, Will?" tanya Dani peka terhadap sahabatnya ini. Suasana yang tadinya ribut, berubah jadi hening.
"Gue rasa, ada yang disembunyikan Yulan dari kita. Akhir-akhir ini wajahnya sering pucat," ungkap Willangga ironi.
"Sebenarnya dia sakit, tapi nggak tahu sakitnya apa. Dia seing minum obat diam-diam di ruang loker atau di tempat sendiri gitu," ujar Neva mengutarakan apa yang diperhatikkannya selama ini.
Semuanya diam, termenung memikirkan ucapan Neva barusan. Willangga berpangku tangan menatap sendu pada mangkok mie ayam di depannya, hampir saja air matanya tumpah sebelum Dani merangkul bahunya akrab.
"Jangan berpikir terlalu jauh, kita belum tahu Yulan sakitnya seperti apa," Dani menghibur Willangga.
"Maaf, Will." ujar Neva merasa bersalah. Kabar yang diberilannya ini memang membuat mereka semua ikut sedih.
"Mungkin Yulan nggak mau lihat kita ikutan sedih, makanya dia nggak ngasih tahu tentang sakit yang dialaminya," ucap Bembi dengan suara kemayunya.
"Kita cari tahu sendiri aja, gimana?" Andreas ikut memberi usul.
Mereka semua menoleh ketika seorang kaku seperti Andreas angkat bicara, biasanya anak ini sebagai pendengar yang baik dalam pertemanan mereka.
"Ahk," Andreas cengok. "I-ini Yulan adalah sahabat kita, jadi sudah selayaknya kita peduli kalau salah satu teman kita mengalami kesedihan."
"Benar itu!" Rio tidak mau kalah bersuara.
"Neva, boleh minta tolong?" tanya Willangga berharap.
"Boleh," balasnya antusias. Sepertinya ada misi baru lagi, dia suka itu.
"Lo ambil satu kapsul obat yang diminum Yulan, tapi jangan sampai dia tahu. Kita akan cari tahu obat apa itu sebenarnya. Bisa'kan?"
"Bisa!"
š¹š¹š¹
Sudah jam delapan malam papahnya belum pulang juga, satu jam sudah menunggu di ruang tamu untuk meminta uang jajan tambahan besok ke sekolah. Neva mulai cemas takut terjadi sesuatu pada papahnya, nomor pribadi papahnya juga tidak aktif, nomor umum papahnya tidak ada yang menerima panggilannya. Berjalan seperti setrika mondar-mandir mengelilingi sofa ruang tamu, adiknya Gio mengantuk lalu ke dalam kamarnya untuk tidur. Abang Biannya menyiar malam.
Tinn!!
__ADS_1
Mendengar suara klakson mobil dari depan, ia berlari secepat kilat membuka gerbang rumah menyambut papahnya pulang.
"Neva yang bawa tasnya, kan papah udah capek." rayuan maut yang biasa jurus andalannya.
Rayuan selanjutnya adalah, membantu melepaskan jas dan sepatu, menyiapkan air mandi untuk papahnya, lalu mengantar makan malam bersikeras menyuapi papahnya. Pak Putra tersenyum lucu sudah mengerti maksud putrinya ini.
Mendengarkan candaan Neva, lelah Pak Putra menguap seketika. Melahap suapan demi suapan dengan hikmat, menikmati senyuman Neva yang menyerupai senyuman mendiang istrinya.
"Papah menangis?" Neva terkejut melihat papahnya tiba-tiba menangis. Memindahkan piring yang masih berisi ke pangkuan, menyeka air mata papahnya ibu jarinya mengusap lembut air mata itu.
"Papah hanya merindukan mamahmu," ujar Putra memalingkan wajah malu.
Neva tersenyum sekilas, pria ini sangat menjaga wibawa di depan anak-anaknya. "Kalau terus menangis, makanan ini Nggak akan masuk ke dalam mulut papah lagi. Mau?" ancamnya tidak serius.
"Iya, papah nggak nangis lagi." Putra merubah wajahnta tersenyum lagi.
Suapan itu terus berlangsung, sambil bercanda ringan dan hasilnya Neva akan mendapat apa yang dimintanya tadi.
Ting.
"Ponsel kamu bunyi, Nev!"
"Iya, Pah. Aku buka dulu boleh?"
Neva memangku piring makan papahnya, membaca pesan masuk dari Endru. Neva tersenyum sendiri membaca pesan itu, sebatas sapa malam ringan membuatnya sedikit tersipu.
Tak terlepas dari pandangan Putra.
"Ada siapa itu, sampai tersenyum segala." Putra menggoda Neva.
"OH, SAMPAI LUPA ADA PAPAH YANG MASIH HARUS MAKAN!" pekik Neva hampir saja melupakan tugasnya. "Itu pesan dari Endru."
Deg.
"Kamu masih berhubungan dengan anak itu?"
Neva terkesiap, suara papahnya tiba-tiba datar sekali. "Iy-iya, Pah. Makan lagi ya, Pah. Ini suapan terakhir." bujuk Neva tidak enak hati.
"Papah sudah kenyang."
Hampir menangis, gerakan tangan mengangkat sendok melayang di udara. Menatap takut papahnya. "Tapi, Pah."
"Papah tidur dulu, sudah mengantuk."
__ADS_1
"Iya, Neva keluar dulu. Selamat beristirahat, Papah."
Berjalan keluar dengan pikiran yang berkecamuk, mengapa papahnya tiba-tiba dingin sekali saat mendengar nama Endru yang mengirim pesan tadi? Apa papahnya mengenal siapa Endru? Tapi'kan mereka baru bertemu satu kali di rumah sakit kemarin, mana mungkin hanya satu kali pertemuan langsung memberi efek tidak suka pada papahnya. Kalau pun begitu, apa alasannya?
Pintu kamar tertutup sempurna.
"Jika anda tidak melarang putri anda berhubungan dengan anak saya, maka saya akan menghancurkan karier anda!"
**Mengingat ancaman dari seseorang itu lagi, isakan pilu itu keluar dari tubuh renta Pak Putra. Tidak mungkin ia sejahat itu melarang percintaan putrinya, atau pergaulan Neva lagi. Pasti Neva akan membencinya lagi seperti waktu ia mengngekang Neva dari teman geng motornya. Dalam pengawasannya selama ini melalui adiknya Priska, kini Neva sudah mampu beradaptasi dengan cepat di sekolah itu berkat pertemanannya dengan Endru.
Ancaman itu? Gaji dosen di universitas tempat ia mengajar adalah untuk membiayai kebutuhan mereka, termasuk biaya kehidupan Andika di luar negeri. Lagi pula, ia sudah sangat nyaman dengan profesinya.
"Tidak Putra! Kau jangan egois, apa pun akan aku lakulan demi kebahagian anakku."
š¹š¹š¹
Epolog Bab:
Chatryn ketakutan tubuhnya gemetar, tiba-tiba jalannya dihalangi oleh Inggrisa. Sungguh, ia tidak ingin mempunyai urusan apa pun yang berhubungan dengan Inggrisa atau Endru lagi. Kejadian tadi saat dipermalukan di depan semua teman satu kelasnya, cukup memberinya efek jera berhati-hati berbuat sesuatu.
"Gue nggak mau berurusan sama orang seperti kalian lagi, Kak. Permi--Ahk! Lepas, Kak Inggri!" ringis Chatryn kesakitan cekalan tangan Inggri melukai siku tangannya.
"Lo harus bantuin gue memisahkan hubungan Endru dan Neva. Lo juga membenci mereka bukan?" bisik inggri nada mengancam.
"Kalau pun gue benci mereka, tapi gue nggan mau repot balas dendam."
"Owhh!" Inggrisa semakin mengeratkan cekalanbya, sekuat mungkin Chatryn menahan ringisannya. "Gue bisa aja bongkar semuaa kejahatan bokap lo ke publik. Humm?"
"A-apa?"
"Gue nggak akan bongkar semua itu, asalkan lo mau kerja sama ngancurin Neva."
"Bagus! Lo harus turuti semua rencana gue."
Chatryn berada dalam bahaya!
ššš
TERIMA KASIH UNTUK TEMAN SEMUA YANG SUDAH MEMBERI LIKE DAN COMENTAR UNTUK KARYA KU INI.
JUJUR, AKU NGGAK TAU APA YANG BIKIN KALIAN TERTARIK MEMBACA CERITA INI. KARENA PERASAANKU SENDIRI, CERITA KU SEPERTI SINETRON ANAK SEKOLAHAN YANG DI TV TV.
SEMOGA KALIAN SEHAT SELALU PARA READERS YANG BAIK**!!
__ADS_1