
"Rio, gue ada tebakan. Lo jawab ya," ucap Bembi sambil memainkan memutar pulpennya diapit jarinya.
"Tebakan! Okehh, gue ladenin!" jawab Rio antusias. Memperbaiki posisi duduknya tegap sedari tadi malas berpangku dagu di atas meja.
"Bukan cuma Rio donag. Kalau ente-ente pada tahu jawabanya, dijawab ya. Ini dengerin. Hewan apa yang paling kecil, jawab hayoo!" ucap Bembi nyengir.
"Ikan teri," Rio menjawab.
"Salah!"
"Tungir," jawab Sofan tertawa lepas.
Semua bingung...
"Aku nggak tahu bahasa indonesianya apa. Kalau di kampungku namanya tungir, kecil warna merah, bikin gatal," ucap Sofan menjelaskan.
"Salah, salahh!" Bembi berdecak.
"Kuman, kutu," Andreas menjawab. Sedari tadi tangannya mengemgam kado hadiah untuk Jhena.
"Bukan juga," ucap Rio.
"Curiga nih gue," Will mengetuk keningnya berpikir.
"Jawabannyaaa, cacing! Anjing, cacingan. Kucing, cacingan. Kuda cac-"
"Tapi kutu kagak cacingan, Bembii!!" seru Rio emosi mendengar jawaban tebakan Bembi.
"Emang lo pernah belah badan kutu?" tanya Bembi.
"Nggak. Tapi sejak kapan hewan se kecil kutu ada cacingnya. Paling bener jawaban si Andreas, kutu," ujar Rio berlogika.
Suasana ruang kelas jadi ribut lagi, menyoraki tebakan Bembi yang menurut mereka kurang seru.
"Daniel dan Jhena belum datang ya," gumam Willangga lirih.
"Sekarang gue yang pumya tebakan!" Rio bersemangat.
"Baiklah, diterima," ucap Bembi menerima tantangan.
"Ehkehh,,ehekehm!!" Rio sudah tertawa ngakak sebelum memberikan tebakannya, membuat yang lain menatap curiga padanya.
"Sebuah benda yang terdiri dari enam huruf, huruf depannya K, huruf belakangnya L. Jawaaabb!"
"Kok gue traveling ya," ujar Will mengerutkan kening mencoba menabak jawabannya. Tetapi ujung netranya tidak berhenti memperhatikan pintu kelas menunggu ke dua orang yang belum muncul juga.
"Eettt,,ettt! Jangan berpikir yang lain dulu. Okehh!!" ucap Rio.
"Bukan itu ya jawabannya," Sofan pasrah.
"Apa pikiran kita sama, Fan. Jawabanntaa-Um, ituu," ungkapnya ragu. Andreas tersenyum menggaruk kepaalanya yang tidak gatal.
"Ahahaha!" Rio tertawa ngakak.
"Kasih klu yang lain lah," Bembi sudah hampir menyerah sepertinya.
"Nih nih! Benda itu bisa ditemukan di mana-mana, di rumah lo Will, di rumah lo juga Andre, di rumah gue apa lagi. Bentuknya ada yang panjang juga, warna putih ada kuning ada. Uhhh!" Rio menjelaskan terkekeh geli melihat ekspresi teman-temannya yang kebingungan berpikir keras mencari jawabannya.
"K-kon! Ck,,nggak mungkin. K-kip! Kipas, kan belakangnya huruf L. Ohh,,gue tahuu! Kental! Itu jawabannya!" seru Bembi heboh.
"Kental itu bukan benda. Manna sih," Rio berdecak lagi.
"Santan itu, santan," Will menyahut.
"Ahahaha! Pada bingung yaaa,,uyyy!" Rio bersiul-siul.
Di saat semua masih tertawa menjawab tebakan yang dari tadi salah, pemandangan dari pintu kelas membuat perhatian mereka teralih. Terlihat Daniel datang sedang memapah Jhena berjalan.
__ADS_1
"Jhena, kamu kenapa?" Andreas panik berjalan mrnghampiri Jhena dan Andreas. Rio, Will, Sofan, dan tiga teman lainnya menyingkir memberi jalan. Karena mereka tadi memang berkumpul mengerumuni meja Jhena dan Bembi.
"Jhen, pacar lo datang. Lepasin gue," ucap Dani tidak enak hati melihat air muka Andreas yang menatap cemburu padanya.
"Dan-"
"Eh, Andreas. I-ini biar gue jelasin ya. Tadi gue nggak sengaja nolongin Jhena yang hampir jatuh waktu masang spanduk kampus. Gue refleks gitu aja," Daniel bicara yang sebenarnya.
Dengan berat hati melepaskan rangkulan Jhena, Andreas menerimanya dengan raut wajah tidak terbaca.
"Terima kasih," jawab Andreas datar. Membantu Jhena memapahnya berjalan.
Daniel menarik napasnya menetralkan degup jantungnya. Duduk lemas di samping Willangga yang juga menatap sejuta tanya padanya.
"Ikut gue keluar." Will menarik tangan Daniel berbicara di luar kelas saja.
"Jelasin," Willangga memberi penekanan suaranya.
"Will, gue nggak bermaksud buat Andreas cemburu atau apalah. Gue nolongin Jhena waktu dia mau jatuh pas masangin spanduk kampus yang mau berkunjung ke sini. Gue murni menolong dia, kakinya terkilir, jadi gue bantu dia jalan."
"Tapi lo nggak bisa bohongin gue. Lo masih punya perasaan sama Jhena'kan? Tatapan lo ke dia tadi itu, gue peka sama lo. Lo memang murni nolongin dia, tapi lo juga menikmati moment saat berdekatan dengan Jhena."
Daniel terdiam mengacak rambutnya kasar, hatinya mencolos membenarkan ucapan Willangga barusan. Tidak bohong, jantungnya masih bergetar menandang Jhena jarak dekat. Tadi mereka sempat saling bersitatap, perasaan itu masih ada ternyata.
"Lupain Jhena, dia milik Andreas sekarang. Hari ini mereka merayakan hari jadi sebulan, Andreas juga membuat kado untuk merayakannya. Semoga lo cepat sadar," ucap Willangga memperingati.
Sementara di ruangan osis, Chatryn tampak tidak bersemangat mengerjakan tugasnya. Tumpukan brosur kampus masih tidak rapi di depannya, moodnya hancur tak sengaja menyaksikan adegan yang menyakiti perasaannya.
"Chatryn." Neva muncul dari balik pintu ruangan osis, berjalan menghampirinya dan langsung membantu merapilan tumpukan brosur kampus.
"Lo ngapain ke sini?" tanyanya suara lemas.
"Bantuin lo lah," jawabnya sibuk menumpuk brosus menyamakan warna brosur.
"Oh," sahutnya singkat. Dengan entengnya memberikan semua brosur yang masih belum tertumpuk ke hadapan Neva.
"O-o-o! Jangan ngelunjak lo neng. Ini tugas lo, gue hanya bantuin," ucap Neva jengkel.
Cepat-cepat membereskan tugas Chatryn, "Kepo nih." Kemudian memberilannya pada salah satu cowok berpakain almamater biru yang baru saja menghampiri mereka.
"Bang, ini brosurnya udah rapi. Udah selesaikan, kami pergi dulu. Bayy!!"
"Eh, Nevaa!" pekik Chatryn. Badannya seperti melayang karena Neva menariknya keluar begitu saja.
Sementara si cowok tadi menatap bingung pada ke dua cewek itu.
"Neva, gue takut tahu. Gue nggak biasa cabut dari tugas," Chatryn panik. Neva mengajaknya makan di kantin ujung yang biasanya dihuni anak kelas X.
"Tenang aja. Adik kelas nggak kenal lo sebagai pengurus osis. Nikmati aja, percaya sama gue."
"Iya, deh. Gue juga bosan disana," ucapnya.
"Cerita ada apa." Mengaduk minuman yang dipesannya.
Tadi,,,,,,...
Chatryn dan Jhena mendapatkan tugas menempelkan spanduk kampus yang akan berkunjung ke sekolah mereka hari ini, paku dinding di panggung aula sudah siap. Chatryn berjumpa dalam perjalan mencari tangga untuk menggapai dinding, minta bantuan cowok itu untuk membawa tangganya. Daniel ogah-ogahan melakulannya, suara Chatryn berdengung di telinganya. Dengan malas membawa tangga yang lumayan berat dan Chatryn membantunya mengangkat sanbil mengucapkan kata-kata semangat. Namun Daniel tidak peduli tidak membalasnya tidak menanggapinya, ibarat suara cewek itu adalah radio rusak.
Chatryn sudah manaiki satu anak tangga, namun kakinya bergetar-getar. Daniel meledekinya untuk turun saja.
Daniel tidak mungkin yang naik, badannya tinggi mampu mengapai ujung spanduk yang harus dipegang agar tidak turun memperlambat proses kerja. Jhena berhasil naik. Paku dindingnya patah, Chatryn melepaskan kaki tangga untuk mengambil paku tidak jauh dari jarak mereka.
"Aaaahkk!" kaki Jhena tergelincir, sigap Daniel menangkap tubuh Jhena. Wajah mereka sangat dekat, belum lagi Daniel tidak berhenti menatap Jhena beberapa saat.
Paku yang di tangan Chatryn berhamburan, ia menyembunyikan rasa cemburunya. Tersenyum manis saat Daniel membawa Jhena keluar dari aula dengan memapah kaki Jhena yang katanya sedikit ngilu.
Hatinya hancur, Daniel sengaja apa tidak? Ini sudah ke dua kalinya mereka seperti itu, perasaanya mengatakan ada sesuatu di antara Dani dan Jhena? Yang jelas hatinya sakit. Air matanya menetes, berlari meninggalkan aula bersembunyi di dalam ruang osis.
__ADS_1
"Lo jangan berpikir macem-macem dulu ya. Kan, Jhena pacaran sama Andreas," ucap Neva.
"Tapi gue rasa, salah satu dari mereka ada yang saling suka."
"Ung, gue kurang paham juga."
"Apa Daniel yang suka sama Jhena, Jhena yang suka Danuel. Ck, hahh!", racaunya memikirkan apa isi hatinya.
Neva merogoh ponselnta di saku rok, menghubungi Willngga menanyakan Jhena ada di mana.
Menemui Jhena di ruang UKS, memperjelas semua. Neva tidak ingin ada kesalah pahaman di antara teman-temannya. Dengan memaksa Chatryn, yang penting semuanya mau saling jujur.
Di ruang UKS.
Dengan hati-hati tangan Andreas memijat kaki Jhena, menekan rasa cemburunya demi memperbaiki hubungannya dengan Jhena.
"Ndre, jangan diam aja. Ngomong dong," pinta Jhena meringis kakinya masih ngilu.
Andreas masih diam, tetapi tangannya masih memijat.
"Aku-"
"Maaf, Jhen,"
"Hah?"
Andreas menghentikan pijatannya karema dirasa sudah cukup.
"Aku bukan lelaki yang bisa jagain kamu, aku selalu terlambat menolongmu, aku juga bukan lelaki yang bisa kamu andalkan, aku-"
"Ndre, jangan ngomong gitu." Mengemgam tangan dingin Andreas. "Aku yang udah buat hubungan kita jadi sedikit renggang," ucapnya gugup.
"Maksudnya?"
Jhena meraih kotak kado yang diberikan Andreas padanya, ada sepasang gantungan HP yang sangat cantik di dalamnya. Hatinya menghangat mendapat perlakuan manis seperti ini, rasa bersalah telah menghianati perasaan tulus Andreas membuatnya sadar bahwa ia harus jujur sekarang.
"Aku mau jujur sama kamu." Jhena mengatur jantungnya, menarik napasnya dalam-dalam. "Bukan kamu yang salah tapi aku. Aku sengaja menciptakan jarak pada hubungan kita, karena aku tidak sepenuhnya menerima perasaanmu. Bukan kamu yang aku suka sebenarnya, tapi-" menghentikan kalimatnya. Ragu-ragu.
"Aku siap mendengarnya, bicaralah."
"Da-daniel," suaranya putus-putus.
Mencengkram celananya sampai kusut, hatinya terhumus pisau yang tajam. Tersenyum ironi mendengar pengakuan Jhena.
"Andreas, a-aku-"
"Jhena, terima kasih atas kejujuranmu." melepaskan gemgaman tangan Jhena. "Izinkan aku pergi mencoba menerima semuanya, aku ingin sendiri dulu. Aku duluan." Andreas melangkah menjauh.
"Andreas!" panggilnya lirih. Kakinya masih sakit, tidak mungkin mengejarnya.
Menatap nanar benda lucu ini, harusnya di tangan Andreas ada satu, satu untuknya. Sekarang, ke dua-duanya miliknya. Tapi ini tidak ada artinya, gantungan ini takdirnya sepasang.
Neva dan Chatryn terpaku dengan perasaanya masing-masing.
"Chatryn, lo harus mampu menerimanya. Gue permisi." Andreas melewati Chatryn dan Neva yang masih mematung di dekat pintu.
Jhena tercengang ada Chatryn di sini.
"Chatryn, aku mau ngomong. Tunggu, aauhh!"
Nekat turun dari ranjang, Neva berlari menghentikan aksi Jhena.
Berderai air mata Chatryn pergi, dadanya sesak. Ternyata perasasnya tidak salah, sahabat baiknya sendiri telah menghianatinya. Pikirannya kacau.
"Jhen, udah! Ayo gue bantu berdiri, kaki lo masih sakit," bujuk Neva.
"Aku merasa bersalah pada Andreas dan Chatryn, Neva. Aku nggak mau jauh dari Chatryn, dia teman terbaikku. Aku juga nggak mau putus dari Andreas, dia laki-laki pertama yang mencintai aku dengan tulus. Aku akan berusaha melupakan Danuel, aku akan berusaha menerima Andreas," ungkapnya menangis.
__ADS_1
"Tenanglah. Kita akan cari solusinya bersama-sama." Neva tersenyum lembut menenangkan Jhena yang masih menangis.
ššš