Kisah ABG

Kisah ABG
Perayaan Part 3: Hampir Pingsan


__ADS_3

Pada akhirnya acara dimulai terlambat dua puluh menit, Arifin datang dengan penampilan tidak rapih dan ditertawai beberapa rekannya.


"SELAMAT DATANG DALAM PERAYAAN ULANG TAHUN YAYASAN 'BANGSA BIMAARA' YANG KE-25!!"


Tepuk tangan meriah menggema menyambut ucapan yang terlontar dari arah panggung, satu murid laki-laki dan satu murid perempuan berdiri dengan gagah memulai acara sebagai pemandu.


Yayasan ini telah berhasil membangun beberapa sekolah dari TK sampai tingkat SMA dan dua universitas swasta yang sudah ter-akreditasi A, sudah tersebar di berbagai ibu kota dan berpusat di kota Jakarta. Sekolah Dharma Bakti yang kini dijadikan sebagai tuan rumah dalam perayaan, mengusung tema 'Siswa Berkreatifitas Generasi Bangsa Maju'. Akan banyak kegiatan dari siswa sekolah ini maupun luar sekolah yang memberi pertunjukan mengisi kemeriahan, dan salah satunya yang paling ditunggu-tunggu adalah yang satu ini.


Kllung,,,kkllungg,,kklunngggg!!


Yulan mengangkat tangan tinggi-tinggi pertanda pertunjukkan telah selesai, lalu menunduk hormat serentak bersama anggota lainnya. Semua orang bertepuk tangan ria bersiul memuji pertunjukan yang indah ini, ada yang sampai menangis terharu karena suara irama angklung yang merdu mengalun indah di udara.


Tapi,,,,..


"Will! Wajah Yulan pucat banget!" ucap Neva cemas.


Yulan di atas panggung berusaha menahan rasa sakit di daerah dadanya, dengan senyuman andalannya ia tetap berdiri kokoh menunggu gilirannya menuruni tangga panggung.


"Will, mau kemana?" Neva ikut berlari keluar dari bangkunya mengejar Will yang sudah panik.


Suasana menjadi tegang, keringat membasahi wajah Yulan dan pengelihatannya mulai mengabur, tangannya mengepal menggemgam gaunnya. "Nggak! Jangan pingsan di sini, aku harus kuat menahanya! Yulan, tahan!"


Hap!


"Yulan."


Yang dipanggil membuka matanya dan melihat sorot mata lelaki ini begitu cemas sedang menopang tubuhnya yang hampir pingsan. "Will," sahut Yulan suara lirihnya.


"Kami bersamamu!"


"Ne-neva," ternyata sahabatnya juga ada.


Neva menggemgam tangan Yulan yang berkeringat dingin, gemgaman serta elusan rambut yang dilakukan Will membuat rasa nyeri sakitnya berkurang.


Yulan menyamdarkan kepalanya, badannya melayang dalam gendongan Willangga.


Sementara kejadian tadi sudah dihalang oleh tutup tirai, si pembawa acara dengan sigap meberi arahan selanjutnya. Endru langsung mengambil tindakan cepat memerintahkan agar tirai segera ditutup.


Tubuh Yulan dibaringkan di atas brankar UKS memberi Yulan ruang udara, memasang selang oksigen.


"Silahkan kalian keluar dulu, biar saya yang mengurus Yulan " ujar dokter yang memang terkhusus ditugaskan di UKS ini.


"Tapi Dokter, aku ingin di si-"


"Tolong kerja samanya! Yulan tidak akan langsung membaik kalau pun ada kamu." ujar dokter tadi sarkas.


"Baiklah," ucap Will berat hati. Sebelum benar-benar pergi, ia menyempatkan memberi kecupan di kening Yulan. "Aku keluar dulu," tersenyum lembut.


"Terima kasih," Yulan berkata lirih.


Neva mengacungkan kedua jempolnya memberi semangat untuk Yulan.


"Willangga!"


Seperti mendengar suara panggilan itu, Willangga berbalik memandang sedih pada tubuh Yulan.

__ADS_1


"Ayo, Will!" terpaksa Will mengikuti jalan Neva keluar pintu ruang UKS.


"Apa dia pacar Yulan? Semoga tidak!" monolog dokter muda itu dalam hati.


🌹🌹🌹


Endru, Andreas, Bembi, Dani, Rio, dan Neva menatap sendu ke arah Will yang sedang gusar, mereka hanya diam menunduk.


"Ehm, teman-teman, kita berdoa bareng yuk, untuk Yulan." ungkap Endru.


"Hah," Willangga menari napas dalam-dalam. Kemudian ia mengulurkan tangan dan disusul oleh tangan Dani, Andreas, Bembi dan Rio yang menjadi menumpuk bersatu. "Ayo, Endu, Neva! Kalian berdua mau'kan bergabung dalam persahabatan kami?"


"Oh, mau nau!" ucap Neva antusias langsung menyatukan uluran tangannya.


Disusul dengan senyuman Endru yang ikut mengulurkan tangannya.


"Kita berdoa dalam hati sambil menyatukan tangan, yah!" ucap Willangga.


Yulan dalam mimpinya mendengar bisikan doa-doa untuk dirinya, tersenyum cerah lalu berjalan ke arah tubuhnya yang terbaring.


"Amin!"


"Aminn!"


"SAHABAT SELAMANYA!" ujar Willangga.


"SAHABAT,,SAHABAT,,SAHABAT!!" yang lainnya membalas serentak.


"Ey! Endru lo nangis?" tanya Neva yang melihat Endru mengusap wajahnya.


"Gue terharu!" balas Endu menetralkan perasaannya. "Gue, ahk. Gue punya sahabat sekarang! Yah, gue nggak sendirian lagi. Uhng, he he he."


"Jangan panggil Kak lagi, cukup Endru saja. Biar kita lebih akrab." ucap Endru tulus.


"Ehem, ehem! Lo lucu banget sih, Ndru!" Neva tertawa lucu.


"Gebetan sendiri diledekin!" celetuk Willangga.


"Ha,,iya kah?" Bembi menyahut.


"Doakan ya, segera jadi p-a-c-a-r!" Endru percaya diri.


"Aminn!" sahut mereka serempak.


"Appan woii!!" Neva merona malu.


Suasananya berubah menjadi ceria dan bersisik, gurauan Bembi dan kelemotan Andreas serta tidak lupa mereka saling tertawa mereda sementara kesedihan.


Di ruang sudut sana, ada seseorang yang menatap benci ke arah mereka. Mengepalkan tangan menyaksikan keakraban itu, berdecih jijik mengumpati mereka.


"Lo nggak ngelakuin sesuatu untuk mereka, Nggri?" tanya Ratu menanas-manasi.


"Diam dulu!"


Nyali Ratu menciut melihat aura Inggrisa yang tidak enak, memilih bungkam dari pada terkena amukan dari wanita licik satu ini.

__ADS_1


"Sebentar lagi," gumam Inggrisa senyum licik.


"Ratu, lo menyingkir dulu. Jangan ikutin gue dulu." tanpa mendengarkan jawaban Ratu, Inggrisa pergi begitu saja.


"Songong banget nih cewek," Ratu mengumpat.


Sementara Inggrisa terus berjalan menuju belakang panggung untuk menemui Chatryn yang sedang sibuk.


"Ikut gue."


"Tunggu bentar, Kak. Lagi sibuk ini!"


"Ikut!"


"Maaf, Kak Ingg-"


"Lo jangan ikut campur!" Inggrisa menunjuk-nunjuk Jhena.


"Tapi-"


"Udah Jhena, nggakpapa. Lo tungguin bentar ya," ucap Chatryn menenangkan Jhena.


"Iya," Jhena mengalah.


Chatryn tersenyum lalu meninggalkan Jhena sendirian di ruang tunggu.


"Semoga tidak terjadi apa-apa." Jhena menggumam.


Inggrisa menyeret Chatryn ke dalam toilet dan membisilan sesuatu yang harus dilakukan Chatryn nanti. Dengan berat hati, Chatryn harus menerimanya.


Sementara di luar gerbang sekolah, Yulan sudah dibawa pulang oleh dokter yang ada di ruang UKS mengendarai mobil hitam. Saat dipastilan tadi, Endru bilang dokter itu tidak ada terdaftar dalam nama petugas UKS sekolah mereka.


"Mungkin itu dokter khusus untuk Yulan kali!" ujar Dani berpendapat.


"Bisa jadi." Endru membenarkan.


"Gue gagal ngambil obat itu, nggak ada obat apa pun dalam tas Yulan tadi. Ahk, ck. Atau,,nggak tahu juga!" ujar Neva bingung sendiri.


"Eh, Ndru. Bentar lagi giliran lo kata sambutan bukan?" tanya Willangga mengingatkan.


"Iya. Eh, gue pamit duluan ya!"


"Ok!" jawab mereka.


"Tunggu!"


Endru menghentikan langkahnya, tersenyum melihat orang yang memanggilnya.


"Udah. Sanna,,sanna!"


"Neva, Neva, ck! Nggak ada kata-kata semangat buat gue, gitu?"


"Kagak ada. Hus, hus, hus!"


Endru terkekeh melihat tingkah serampangan Neva.

__ADS_1


Sebenarnya Neva ingin memberikan sepatah dua patah kata semangan untuk Endru, tapi malu karena ada teman-temannya. Jadilah ia ditertawai Bembi dan yang lainnya habis-habisan.


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡


__ADS_2