Kisah ABG

Kisah ABG
Kekalahan?


__ADS_3

Bisakah ia marah pada hujan saat ini? Meneriaki hujan yang menutupi air matanya? Tentu, seberapa hebat pun dia, dia tidak akan bisa mengalahkan hujan. Dia hanya sendiri, tetapi hujannya keroyokan. Endru meninju udara yang justru sakitnya berbalik padanya, mungkin'kah udara juga menartawai dirinya sekarang?


Sama seperti malangnya nasib yang selalu datang padanya. Berkali-kali ia mencoba menghalangi niat papahnya, maka papahnya pun berkali lipat menentangnya menggunakan kekuasaannya. Sudah berusaha sekuat tenaga ia menolak perjodohan pertunangan itu batal, tetap saja papahnya berhasil menghancurkannya.


"Sekarang kamu pilih! Melanjutkan pertunanganmu dengan Inggrisa atau membatalkan, tetapi kamu harus melihat penderitaan mamahmu yang sudah saya suntik dengan racun ini." Endru mencengkram rambutnya yang tersiram air hujan. Rasa sesak di dadanya membuat ia sulit bernapas, jiwa dan raganya seolah terpisah.


Ya. Setelah kedatangannya yang ingin menolak pertunangan itu, dengan tega Arifin menyuntikkan sesuatu yang menbuat ingatan mamahnya semakin ngaur. Imajinasi mamahnya kacau, sekarang pun mamahnya sudah seperti orang linglung mudah lupa dan suka bingung. Endru pun tidak tahu dari mana ide gila itu berasal, tidak habis pikir begitu teganya seorang suami membunuh istrinya dengan perlahan.


Apa lagi semenjak Endru membahas bahwa Arifin bukanlah ayah kandung yang patut dihormatinya, lelaki itu justru semakin semena-mena padanya dan mamahnya.


Baik Endru dan mamahnya, sudah berada di bawah kekuasaan papahnya. Membawa mamahmya keluar dari rumah? Itu tidak hal mudah, papahnya punya banyak ancaman agar mereka tetap bertahan terkurung di rumah itu. Dan satu hal yang baru diketahuinya, di mana Arifin menyimpan surat wasiat yang asli?


"Jangan sakiti mamahku. Baiklah aku akan melanjutkan pertunangan itu."


"Hancurkan bukti kelakuan Inggrisa itu, jangan ada yang tersisa."


Berjalan sempoyongan tak tentu arah, ingatan pertengkaran itu yang akan menjungkir balikkkan hidupnya.


Belum lagi papahnya tidak mau mengakui tentang penculikan Neva, papahnya bersikeras mengatakan memang dia tidak tahu menahu siapa penculik itu, dia tidak pernah berpikir bahkan berniat menculik Neva.


Ahk, semuanya membingungkan, membuat hidupnya kalut.


Siapa sebenarnya yang menculik Neva?


Apa usahanya membatalkan perjodohan itu sia-sia? Barang bukti yang mampu membungkam Inggrisa sudah hancur di tangannya, Endru tidak punya kekuatan lagi untuk menolak.


Bagaimana caranya ia harus bertahan hidup di rumah itu?


Sabar dulu saja demi mencari surat wasiat yang asli? Apa ia mampu? Pasti papahnya tidak sembarangan menyimpan berkas harta warisan itu'kan? Itu sulit!!


Lalu hubungannya bersama Neva bagaimana? Demi apa pun Endru sangat teramat sangat mencintai gadis itu.


Ttinnnn,,,tinnn!!


Klakson mobil membuyarkan lamunannya, mengusap air hujan di wajahnya yang menghalanhi pandangannya.


"Naik, Kak!" seru Yulan menurunkan jendela mobil.


Tanpa banyak bicara, membuka pintu penumpang duduk bersandar lunglai dengan basah kuyup.


"Kenapa nggak nungguin kami menjemput? Malah main hujan seperti anak kecil saja," rutuk Chatryn mengomel dari bangku pengemudi.


"Chatryn," Yulan memperingati.


"Maaf kalau mobil lo jadi kotor," sahut Endru nada bersalah dari belakang.


"Bukan permasalahan mobil, Kak. Masa iya mau jenguk pacar ke rumah sakit dengan basah begini? Itu lebih merepotkan tidak enak dilihat orang, jadi pusat perhatian. Dan jenguk orang sakit kotor-kotoran. Bukannya menjenguk justru ikut sakit," cerocos Chatryn masih sibuk menyetir.


"Gue kabur dari rumah. Nggak mungkin gue keluar bawa kendaraan, ketahuan nanti. Angkutan umum sepi kalau hujan begini."


Yulan dan Chatryn saling pandang. Mereka ber dua tidak berani bertanya dulu, mengapa harus pakai kabur dari rumah. Wajah lesu itu sepertinya sedang tidak ingin diajak bicara untuk diwawancarai.


"Kak, ada butik di depan sana. Kita berhenti dulu, kakak beli baju lalu numpang mandi di sana. Pake uang gue dulu, kalau mau bayar ya bayar, jika nggak bayar, ya tidak apa-apa," tawar Chatryn.


Setelah beberapa menit menimbang-nimbang, akhirnya ia pun menurut mengganti pakaiannya membeli baru.


Di rumah sakit.


Willangga dan yang lainnya duduk tentram di kursi tunggu tanpa keributan dan harus menjaga keheningan, itu syarat dari pihak rumah sakit agar mereka masih bisa berlama-lama di sini.

__ADS_1


"Andreas, lo dufuk di samping gue." Will menggeser bokongnya di kursi kosong.


Menurut, Andreas beranjak dari samping Rio dan Bembi, duduk di samping Willangga.


"Apa ada yang mencurigakan dari Jhena?" tanyanya mebgintrogasi setengah bervolume.


Anfreas menoleh sekilas lalu memandang menerawang. "Sepertinya," jawabnya.


"Dia menghindari tatapan gue saat mengajaknya bicara. Dalam perjalanan pulang dia hanya diam. Padahal biasanya, paling tidak dia ngajak gue keliling bentar kalau dia ada masalah. Sampai rumahnya dia langsung masuk gitu aja, biasanya dia teriak manggil orang rumahnya. Gue sempet lihat dia banting pintu kamarnya."


"Ya, namanya juga orang lagi marah," Daniel menimpali.


"Gue kenal Jhena. Dia kalau marah atau pun lagi capek urusan osis, dia nggak pernah memilih diam. Jhena lebih suka ngelampiasin dengan ngajak gue keliling naik motor, atau ngajak makan di tempat favoritnya."


"Hafal, ya," sewot Daniel menyahut lagi.


"Gue pacarnya. Gue harus paham kebiasann-kebiasaan cewek gue, termasuk Jhena, cinta pertama gue," ungkap Andreas menekankan kepemilikannya.


"Cih," Daniel berdecih.


"Dan, ini lagi serius. Simpan dulu kecemburuan lo," ujar Willangga memperingati.


"Terus, ada kejanggalan yang lain, nggak?"


lanjutnya bertanya pada Andreas.


"Kalau dari kesimpulan yang gue duga, sepertinya dia menyimpan sesuatu dari kita. Jhena menutupi ketakutakannya dengan cara dia memilih diam dan marah. Tadi gue jumpet mau berangkat bersama ke sini, dia tidak mau keluar, Jhena tidak mau mengangkat telepon dari gue," ujar Andreas menatap lekat Willangga.


Willangga menjentikkan jari. "Jhena pasti tahu di mana Neva sebelum kejadian penculikan itu. Apa alasannya dia tidak mau jujur, itu yang harus kita selidiki."


Tidak beberapa lama kemudian, Yulan datang bersama Endru dan Chatryn.


"Gimana keadaan Neva?" Endru memberondong Willangga memdesaknya.


"Duduk dulu." Bembi menuntun Endru duduk bersama mereka. Yulan dan Chatryn duduk di kursi tunggu berhadapan dengan mereka.


"Kita semua juga nggak tahu detilnya gimana, Bu Priskka dan Bang Bian hanya menyuruh menunggu kalau memang kita tetap mau nunggu, pulang kalau mau pulang. Huff," Bembi menjawab lesu.


"Bang Bian udah pulang dari luar kota?"


"Udah," Bembi mengangguk.


Endru menatap lama ke arah pintu, mengesah napasnya panjang, ingin sekali ikut masuk ke dalam. Hatinya ngilu mendengar kabar dari Daniel, Neva ditemukan dalam keadaan tidak sadar di rerumputan pinggir jalan dengan banyak lula di wajahnya. Bagai dihantam batu perasaanya cemas tidak karuan. Apa pun akan dia lakukan untuk datang ke rumah sakit sekali pun sudah dilarang keras oleh papahnya agar tidak menemui lagi Neva mau pun teman-temannya, Endru nekat melompat dinding tinggi belakang rumahnya menerobos hujan tanpa membawa ponsel, hanya ada uang kertas yang sudah basah di sakunya. Sekarang ia sudah berada di sini. Tetapi ia justru tidak diizinkan masuk untuk mengetahui kondisi Neva, apa yang harus dilakulannya?


"Neva masih belum sadar, dia sempat kritis," sahut Willangga mengerti maksud pikiran Endru.


"Bantuin gue, gimana caranya gue bisa masuk malam ini juga ke dalam ruangan Neva. Bang Bian marah sama gue di telepon tadi, gue gagal jagain adiknya. Abang itu juga sebenarnya sudah melarangku bertemu dengan Neva bahkan menyuruh kami agar putus saja. Gue harus bagaimana menghadapinya," ujarnya parau mengusap wajahnya.


"Kita semua akan bantuin lo, kok," Will tersenyum tulus. "Kita semua yakin Neva pasti bisa melawan sakitnya, dia perempuan yang kuat perempuan berani perempuan keren. Kita harus yakin itu!" lanjutnya.


"Teman-temen, kita doa untuk Neva, yuk!" Rio berdiri mengajak membentuk melingkar.


Seperti kebiasaan mereka, menyatukan menumpuk tangan, memejamkan mata berdoa dalam hati masing-masing.


"Amin!" Willangga menutup doa.


Serempak semua mengucap menyampaikan doa.


Endru terdiam bingung memikirkan bagaimana caranya mengungkapkan permasalahan yang dihadapinya, kalimat yang ingin diucapkan tercekal dalam tenggorokannya.

__ADS_1


Will menyadari tatapan gusar Endru, temanya ini bukanlah orang yamg mudah bercerita jika tidak dipancing terlebih dahulu.


"Lo ada masalah lain? Cerita, kami ada untuk lo."


"Gue harus-"


Ucapan Endru terpotong, suara pintu ruangan Neva terbuka.


Mereka berhamburan mengeremuni Bu Priska.


"Bu, Neva-"


"Kalian pulang sekarang!" Priska berucap tegas memotong ucapan Yulan.


"Pulang!" tegasnya lagi. "Dan kamu Endru, jauhi Neva mulai sekarang! Jangan pernah temui dia lagi, ingat itu. Kalau sampai papahmu terbukti dialah dalang penculikan ini, saya tidak akan tinggal diam. Saya akan melakukan segala cara untuk menuntut keadilan bagi Neva, termasuk memenjarakan papahmu!" Priska menatap tajam pada Endru.


"Bu, izinkan aku bertemun Neva untuk terakhir kalinya." suaranya tambah parau.


"Tidak! Pergi dari sini sekarang!"


Willangga merangkul Endru berjalan. Memutuskan pulang dengan sejuta perasaan sedih.


"Andreas, Chatryn atau lo Dan, siapa pun lah di antara kalian ber tiga, desak Jhena agar mau jujur pada kita. Gue yakin, Jhena tahu siapa penculik itu."


"Gue yang akan bujuk," Daniel maju ke depan Will.


"Lo-"


"Maaf, Ndre. Gue akan memancing dia untuk bicara. Gue punya cara sendiri, gue yakin itu berhasil."


Andreas pasrah.


"Yahh!" Chatryn merengut.


"Endru, lo yang nyetir mobil Chatryn, ya. Biar gue yang boncengin Chatryn pulang."


Endru mengangguk tersenyum kecil.


Chatryn berbunga-bunga hatinya.


"Astagaaa, gue lupaa!" pekik Bembi tiba-tiba.


Bembi merogoh sesuatu dari saku celananya, menyerahkannya pada Will.


"Tadi gue nggak sengaja melihat ini di sekitar lokasi tempat Neva, kalug."


"Ini bisa sebagai.petunjuk untuk mencari tahu siapa dalang sebenarnya," Will menyeringai sinis.


Epilog:


Priska duduk termenung menggemgam tangan putrinya, memciumnya mengecupnya.


Luka memar organ dalamnya lumayan parah, wajahnya memar membengkak karena sempat terkena air. Telapak kaki kirinya terkilir, persendian tangan kanannya bergesr. Sempat dilakukan operasi kecil untuk memperbaiki tulangnya.


"Aunty, sudah jangan menangis terus," bujuk Bian untuk ke sekian kalinya.


"Apa papahmu belum ada kabar?" tanya Priska suaranya serak.


"Belum," jawabnya melemah.

__ADS_1


Priska dan Bian terdiam. Sudah beberapa hari Putra tidak memberi kabar pada mereka, Priska sudah menceritakan semuanya pada Bian. Itulah sebanya Bian memutuskan untuk pulang dari tugasnya, apa lagi setelah mendengar kabar Neva diculik. Setelah menginjakkan kaki di bandara, dirinya dan teman-teman Neva langsung meluncur mencari Neva. Dan pencarian mereka berhenti tidak sengaja melihat ada tubuh tergelatak di pinggir jalan dan langsung menolongnya. Siapa sangka, tubuh itu adalah Neva yang hampir kehabisan napas.


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡


__ADS_2