Kisah ABG

Kisah ABG
Olimpiade Part 4


__ADS_3

Saat yang lain sedang fokus menyaksikan olimpiade babak ke dua, diam-diam Neva menarik diri dari kursi penonton. Ia selalu waspada agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkannya.


BUKK


"Ah, maaf, Dek." Lelaki berseragam petugas gedung itu menunduk merasa bersalah telah menabrak Neva.


"Um, nggak apa-apa. Silahlan dilanjut pekerjalannya lagi," balas Neva.


Tanpa banyak bicara lagi, lelaki itu langsung pergi begitu saja sambil membawa alat bersihnya.


Tapii ada yang aneh.


"NEVAAA!" ah sial. Baru saja mau mengikuti orang itu, tapi ada aja yang menanggunya.


"Apaa," hardiknya kesal.


Endru berjalan menghampiri Neva, ia selalu tersenyum manis menikmati pemandangan wajah galak Neva.


"Lo ngapain di sini?" tanya Endru menelisik.


"Ck," Neva berdecak kesal.


Tetapi ia tidak punya waktu lagi, dengan sigap Neva menarik tangan Endru kasar.


"Mau ngapain lari-larian gini, sih. Lepasin tangan Gue, sakit tahu," Endru mendumel.


"Ikut Gue sekarang!" tidak peduli omelan Endru, ia masih menarik Endru.


Endru menurut saja bagai kucing kepads tuannya.


"Awas Neva!" Endru memberi peringatan agar Neva tidak menabrak ember yang berada di tengah lorong menghalangi langkah mereka.

__ADS_1


Jarak mereka sangat dekat, tangan Endru mendekap pundak Neva dari belakang. Badan tinggi Endru menempel ke badan Neva dan jarak wajah mereka sangat dekat. Tatapan mereka saling terpaku satu sama lain, ada yang berdetak di antara mereka. Tetapi masih saja mencoba menutupinya.


"Huff, untung saja," Neva mengelus dada merasa lega. Menghindar dari rangkulan Endru, memberi jarak dan membuang muka karena malu.


Semenit berlalu, mereka masih sama-sama menetralkan detak jantung masing-masing


"Lagian, ngapai ember pel ada di sini. Ada-ada aja," tangan Endru menyingkirkan ember ke pinggir tembok.


Neva melirik nama pintu ruangan tang berada di depan mereka saat ini, membaca papan nama yang tergantung di daun pintu. Memperhatikan dengan seksama suasana dan keadaan lorong gedung ini.


"Serem banget di sini. Pergi yuk," ujar Endeu. Matanya menatap horor setiap. sudut lorong, bulu kuduknya merinding sendiri.


"Lo takut?" bisik Neva mengejek.


"Nggak lah," kilah Endru cengengesan menutupi ketakutannya. "Tapi ngapai juga kita di sini, nanti kita disangka yang amrh-aneh lagi."


"Hallah, cemen." Neva berjalan lebih dulu kemudian disusul Endru. "Gaya Lo di sekolah,, uuuu! Sok banget. Ternyata aslinya mah cemen." hardik Neva mengejek.


Ting


Mereka berdua menghentikan langkah kaki setelah mendengar nada ponsel dari saku Endru.


"Kalian di mana? AC aula tempat kita tiba-tiba mati, cepat lakukan sesuatu. Yulan hampir kehilangan konsentrasi tadi karena cahaya lampu panggung yang sangat tajam menyorot wajah Yulan. Cepat lakukan sesuatu."


"Ke ruang operator, kita balik sekarang ke ruangan itu!"


"Baiklah. Ayo Neva," jawab Endru tak kalah panik.


Mereka berbalik ke belakang setelah membaca pesan singkat dari Bian.


"ENDRU, PINTUNYA DIKUNCI!" pekik Neva panik. Tangannya terus mencoba membuka pintu.

__ADS_1


Tidak ada pilihan lagi selain mendobrak pintu, nanti tinggal bayar kerugiannya saja.


Tubuhnya yang kuat berhasil mendobrak pintunya yang terkunci, tidak ada satu orang pun di dalam.


"Apa yang Lo tahu tentang beginian?" tanya Endru bingung sendiri. Menggaruk kepalanya yang tak gatal, pusing melihat peralatan kabel yang tidak tahu apa nama-namanya.


"Nggak tahu juga," jawab Neva lirih. Tanganya asik meraba benda ini tidak menentu.


"Halo Will! Lo tahu khfsdfhjjkjgdsryjkkxxayjlmn. Gimana cara memperbaikinya?"


"Denger instruksi gue baik-baik."


Endru menyungkirkan badan Neva ke samping, biar dia yang ambil alih semuanya. Sedikit bermanfaat atau sedikit cari perhatian kepada Neva.


Dengan telaten, Endru mengikuti satu-persatu apa yang dikatakan Will dari seberang sana. Matanya dengan jeli melihat nama-nama kabel yang disebutkan Will, kemudian menyatukan kabel demi kabel yang terputus.


Lampu warna hijau menandakan bahwa usaha mereka tidak sia-sia, semua berhasil diperbaiki. AC kembali menyala, lampu sorot berhasil dikurangi cahayanya.


Bahkan ada satu yang tidak disadari Endru dan Neva sejak tadi, tapi untunglah Will menyadarinya. Sekarang mereka telah keluar ruangan dan menuju ruang cctv sekaligus menemui petugas keanan gedung untuk menyelesaikan persoalan ini.


..........


Hampir saja konsentrasi Yulan terganngu.


Sewaktu soal ke dua tadi, tiba-tiba AC mati yang akhirnya membuat seluruh orang di ruangan ini kepanasan. Dan entah kenapa. Setiap lampu panggung menyorot wajah Yulan yang ingin menjawab pertanyaan, cahaya lampu terlihat lebih silau dan menganggu pandangan Yulan. Untung saja Yulan masih dapat mengontrol pikirannya. Memejamkan mata kemudian menjawab pertanyaan, dan semua jawabannya benar.


Soal pertanyaan babak ke dua sebanyak 15 soal, dan Yulan berhasil menjawab tujuh soal dengan benar. Di babak ini, tim. grub B berhsil unggul dan tentunya masuk ke babak 2 besar.


Tim A dari Sma Kartika harus menelan kekalahan dan hanya mendapat peringkat juara 3.


Nantikan perlawanan tim B dan tim C.

__ADS_1


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡


__ADS_2