
"OII,,YULAAAANNN!!" teriak Neva antusias menghampiri Yulan yang baru saja turun dari mobilnya.
Yulan terlihat lebih segar memakai gaun seragam untuk penampilan angklungnya, gaun putih dan kunciran rambut dihiasi mahkota mungil di rambutnya.
Tiiinnn!
Neva dan Yulan serentak melambai pada mobil yang mengantar Yulan melaju keluar lokasi sekolah.
"Oh ya, lo nggak mau ke kamar mandi gitu?"
"Eh," Yuan bingung.
"Nggak, gini loh. Kan lo nanti duduknya di bangku depan, nggak enak aja lihatnya jalan sendiri kalau misalnya pengen kamar mandi."
"Owh. Ya sudah, ayok."
Tanpa curiga Yulan menuruti perkataan Neva.
"Sini, aku pegangin tasnya. lo masuk aja."
Yulan memberikan tas selempangnya pada Neva dan langsung memasuki bilik toilet.
Memburu waktu, tangan Neva membuka tas mencari-cari sesuatu di dalamnya.
"Obatnya kok nggak ada!" monolognya dalam hati.
Suara gesekan besi itu menghentikan aksinya tepat Yulan membuka pintu bilik toilet, cepat-cepat ia merapikan menutup tas itu kembali.
"Sudah selesai, ya?" tanyanya dengan suara setenang mungkin.
"Iya," jawab Yulan singkat.
Dengan perasaan jengkel Neva menggandeng tangan Yulan, masih berpikir mengapa obat yang biasa dibawa Neva tidak ada di dalam tasnya.
Setelah sampai di ruang kesenian, Neva meninggalkan Yulan beralasan ingin membantu murid yang lainnya di bawah. Yulan mengangguk menasuki ruangan kesenian.
__ADS_1
Ruangannya sudah sepi, dan sepertinya mereka sudah membawa angklung-angklung ke aula, lemari ini sudah kosong tapii--
"Apa ini?" tangannya meraih sebuah kotak berwarna biru dari dalam laci lemari, meneliti setiap sisi kotak takut ini barang mencurigakan.
"Ah, aman. Lebih baik aku buka aja? kotaknya," ucapnya penasaran.
Duduk di atas kursi yang tersedia dan mulai membuka penutup kotak. "Kotak lagi!" ternyata masih ada penutup kotak yang dilihatnya. "Ada lagi!" kali ini penutup kotak itu berwarna hijau dan ia harus membuka bungkus kado yang menyelimuti kotak di dalamnya. "Apaan, sih!" gerutunya masih menemukan lagi kotak yang ukurannya semakin mengecil. "Ck, ada lagii!!" lirihnya tidak kuat mrnahan kesal, ada kotak lagi kali ini dibungkus plastik. Dengan geram ia merobek plastik dan, "Astaga! Pakai dibungkus koran segala." koran itu sudah tercecer di atas meja. Emosinya semakin bangkit tak kala ia harus merobek kertas kalander yang masih menutupi kotak itu. "Sabar,,sabar!!" mengelus dadanya, jarinya hati-hati membuka kotak yang ukurannya semakin mengecil itu. Hampir saja ia membanting kotak yang sudah terbuka dari bungkusnya, matanya terbelalak melihat kotak teh celup terpampang nyata di depannya "Ahahaha! Kurang kerjaan aja deh," tawanya menggelitik menyangka isi kotaknya adalah teh celup. Seketika matanya berbinar menemukan suatu benda yang sangat cantik di dalam kotak tersebut, gantungan kunci berbentuk angklung ada ukiran namanya. Yulan tersenyum bahagia, ternyata hadiah ini untuknya, ia sangat menyukai hadiah mungil ini dan berniat akan memasangkan dengan tas sekolahnya. Kemudian ia membuka lipatan kertas yang terselip di dalam, membacanya- "Semoga suka dengan hadiahnya, dan semoga penampilanmu berhasil! Willangga."
Sementara di dalam ruang CCTV Willangga tersenyum bahagia melihat reaksi pujaan hatinya menerima hadiah darinya.
š¹š¹š¹
Di ruang kepala sekolah sedang terjadi ketegangan, bagaimana mungkin Pak Arifin belum tiba sampai saat ini? Petinggi yayasan yang lain sudah datang dan sedang berkumpul di ruang osis menunggu acara dimulai.
"Bagaimana, apa papahmu sudah mengangkat teleponnya, Endru?" tanya Pak Brama cemas.
"Belum, Pak." padahal ponsel yang ditangannya tidak menyala.
"Pak Brama! Mana Pak Arifinnya? Papah aku udah nyariin dari tadi!" suara Inggri tiba-tiba muncul dari pintu ruangannya.
"Oh. Maaf," sahutnya biasa saja.
"Biar saya yang menemui Pak Aristo," ujar Pak Brama.
Semua hening sepeninggalan Pak Kepala Sekolah.
"Ngapain masih di sini?" tanya Endru sinis pada Inggrisa.
"Loh, emang enggak boleh?"
"Yang tidak berurusan sama sekali."
Akhirnya Inggrisa kekuar dengan wajah malu, tadi di hadapan temannya sekarang di hadapan guru-guru.
Inggrisa tidak terima dengan perlakuan Endru padanya, sepertinya ia harus bergerak cepat mekakukan rencana liciknya.
__ADS_1
"Chatryn!"
Yang dipanggil terkejut ketakutan melihat Inggrisa berdiri menatap tajam dirinya.
"Ada apa, Kak?" jawabnya lirih.
Inggrisa bersorak girang dalam hati, nyatanya tatapan intimidasinya membuat ia ditakuti beberapa orang, dan inilah korban selanjutnya. Berjalan mendekati Chatryn dan membisikkan sesuatu yang membuat tubuh Chatryn menegang ketakutan. Inggrisa tersenyum jahat menikmati korbannya kalah telak.
"Tapi kau juga tidak punya bukti yang kuat untuk menuduh ayahku," ujar Chatryn membela ayahnya.
Badan tinggi Inggrisa sangat kontras dengan tubuh Chatryn yang terbilang mungil, menarik anak rambut Chatryn sedikit kasar. "Uhm, tinggal gue minta bukti rekaman itu sama bokap. Gampang!"
Chatryn percaya begitu saja! Ia panik dan berpikir sempit, tampa pertimbangan ia berpikir dan berkata "Baiklah, apa rencanamu?"
Bagus! Pekik Inggrisa dalam hati.
"Ingat, jangan sampai gagal!" ucapnya menjauh dari wajah Chatryn.
Inggrisa meninggalkan Chatryn yang masih mematung di tempatnya. Sebenarnya ia ingin menolak melakukannya, ia juga tidak sejahat dan senekat itu. Tetapi demi melindungi ayahnya, apa pun ia akan lakukan.
š¹š¹š¹
Arifin murka di dalam rumah mewahnya, mengumpati anaknya Endru dengan perkataan tidak pantas. Semua mobil dan motor di dalam garasi sudah kempes, dari CCTV rumahnya terlihat Endru yang melakukan semuanya. Endru benar-benar telah berani melawannya. Terpaksa ia berangkat lebih lama dari waktu yang sudah dijadwalkan sebelumnya, apa kata mereka nanti kalau ia datang terlambat?
Dengan terpaksa ia menaiki taksi online.
"Halo Pak Brama! Sebentar lagi saya sampai, ini sedang dalam perjalanan. Ada macet parah di dalam perjalan tadi, saya memutuskan naik taksi online."
"Tolong lakukan apa saja untuk menahan Pak Aristo, ajak beliau mengobrol atau apalah."
Skakmat!!
Arifin menerima karma instan, benar saja sekarang terjadi kemacetan panjang di depan sana.
ššš
__ADS_1