
Chatryn terburu-buru membereskan alat tulis ke dalam tas tanpa mengganti seragam olah raganya, padahal teman yang lain sudah beranjak ke toilet mengganti seragam olahraga. Mereka baru selesai mata pelajaran PJOK dilanjut jam istirahat.
"Eh, Neva! Palsu! Ayok ikut gue," Chatryn mengajak ke dua temannya yang baru saja masuk kelas.
"Palsu, palsu. Nama gue itu Aslika, bukan palsu," Asli protes tangannya sibuk menyimpan seragamnya.
"Panggilan sayang gue ke lo, sebagai sebangku yang paling sayang sama lo. Buruann!" ajak Chatryn tak sabaran.
Neva menurut saja, ia mengikuti ke dua temannya tanpa banyak tanya. Sesekali menggeleng melihat ke dua sebangku ini heboh. Ternyata mereka mau menemui Ratu, itu artinya ia juga pasti bertemu dengan Endru dan Inggrisa.
"Kok bisa sih, anak kelas tiga kita dapet lift khusus segala. Padahal tangga darurat ada," tanya Asli mengungkapkan isi pikirannya.
"Di kelas tiga, ada anak-anak dari orang terpenting di yayasan ini. Jadi, wajarlah," jawabnya berlogika.
Itulah sepenggal obrolan mereka selama dalam lift. Neva sebenarnya juga pernah bertanya dalam benaknya, ia sendiri tidak menemukan jawaban yang memuaskan.
Lorong kelas tiga lumayan sepi, hanya ada beberapa murid yang memilih duduk di kursi panjang sambil bermain ponsel.
Endru tidak ada di kelas, sedang bersama Daniel di bawah.
Inilah ruang kelas yang ditujunya, menerobis masuk tanpa permisi. Targetnya ada di dalam, Ratu dan kawan-kawannya, sedang duduk bercengkrama di bangkunya. Semua mata langsung memandang penasaran melihat keberanian adik kelas datang dengan tidak sopan seperti ini.
Chatryn langsung duduk santai tanpa merasa segan di atas meja Ratu memandang dengan sorot sengit, Ratu masih belum mencerna situasi ini.
Sementara Neva bertatap tajam dengan Inggrisa. Aslika mulai panik tidak enak hati, ia merasa was-was. Murid yang masih tinggal di dalam kelas, saling berbisik satu sama lain.
"Apa maksud anda memposting foto gue dengan Daniel di sosmed andah-" Chatryn melipat tangan memandang lurus ke depan membelakangi Ratu yang duduk di atas kursi "Caption lo itu menfitnah orang lain: Cewek genit yang tidak tahu malu perebut pacar orang, sedang ciunan di jalanan sepi. Menjijikan!" ujar Chatryn menghapal betul status yang ditulis Ratu, "Lo cemburu, gue sama Daniel berdua-dua jalan bareng. IRI ANDAA!" Chatryn menekan kata 'Iri anda' mempropokasi Ratu.
Ratu lagi-lagi tersulut emosi, ia berdiri dengan sorot memincing dan-
BBRAKKK!!
"Eyy!" Chatryn tersentak dan turun dari atas meja.
Ruang kelas sudah semakin ramai. Neva menikmatinya saja, Aslika gemetaran.
"MAU SOK JAGO LO DI KELAS GUE!" bentak Ratu memukul meja dengan tangannya.
"Wawww!! Hanya segitu pukulan mejamu?" tanyanya menyeringai.
"AKU SUKA KERIBUTAN!!"
"HAJAR CHATRYN!"
"LAWAN! JANGAN KASIH AMPUN!"
"Gue tim Chatryn!!" seru murid lain yang mendukung Chatryn.
"Gie dukung Ratu!" sahut yang satu.
Kelas makin riuh, bahkan ada yang rela naik berdiri di atas meja, mengintip dari jendela.
BUK, BRAKK!!
"Ngeri, Coyy!" bisik siswa yang lain.
Chatryn menendang meja sampai terbalik, buku yang di atas meja berserakan di lantai. Suara hantaman meja membuat semuanya ketar-ketir.
Ratu mundur menghindari tubuhnya dari serangan meja, wajahnya pucat pasi.
"Ratu, lo mau dipermalukan ke dua kalinya? Tahan emosilo. Ayok keluar sekarang," Inggrisa mengajak Ratu keluar.
"MAU KEMANA LO!" seru Chatryn melompat meja yang sudah tersungkur di lantai, menghampri Chatryn dengan senyun devilnya, menghadang jalan Ratu.
__ADS_1
"Minggir sana!" pekik Ratu menahan emosi.
"LO-" Chatryn menunjuk-nunjuk Inggrisa, "Nggak usah ikut campur. Lo diem di situ. NGGAK ADA YANG BOLEH RATU, KARENA-" Chatryn mendekatkan mulutnya ke telinga Ratu, "SUDAH FITNAH GUE TANPA TAHU YANG TERJADI SEBENARNYA!" teriak Chatryn di telinga Ratu.
"GUE BISA BUDEG GARA-GARA LO!" Ratu mundur membentur meja yang di belakangnya. "MEMANG LO CIUNAN SAMA DANIEL, DARI FOTO ITU KELIHATAN," Ratu melawan.
Berkacak pinggang Chatryn berdiri di samping Ratu. "Lo mau tahu nggak apa yang kami lakuin di jalanan itu? Lo harus menahan cemburu. Daniel ngasih gue jaketnya karena gue kedinginan. Jaketnya wangi bangettt! Kami pulang sama, di dalam mobil Daniel kecapean terus ketiduran di bahu gue. Dari dekat wajah Daniel ganteng banget," Chatyn memanas-manasi Ratu.
"Mampus lo! Mana ada Daniel tidur di bahu gue, kenna lo,"
Mencengkram roknya Ratu benar-benar cemburu. Dia sendiri belum pernah sedekat itu dengan Daniel. Wajahnya mengeras, Chatryn tersenyum menang.
"LO! KELUAR SEKARANG JUGA!"
"Ada yang cemburu nih yeee," Chatryn mengejek.
"KELUAR LO!"
"Nggak mau! Wajah cemburu lo buat gue tambah makin semangat buat ngeledek lo! Ahahaha! Ada yang cemburu, cemburu!!" Chatryn mengejek sambil bertepuk tangan.
"LO KELUAR!" nada suaranya menggema.
Ratu mendorong-dorong tubuh Chatryn sampai ke depan pintu kelas, diikuti Neva dan Aslika keluar.
"JANGAN PERNAH LO DATANG LAGI KE KELAS TIGA!"
"IDIH,,SIAPA LO NGATUR GUE."
"BUBAR SEMUAA!" Inggrisa membubarkan masa.
"Kirain mau bergulat,"
"Kurang seruu!"
Bisik siswa berpencar dari ketumunan.
"Lemah," ucap Inggrisa menibggalkan Ratu.
š¹š¹š¹
Sudah hampir lima belas menit Endru dan Neva duduk bersama namun tidak ada pembicaraan, mereka sama-sama larut memikirkan sesuatu. Daun Cherry berguguran ditiup angin tidak mengganggu mereka, Endru hanya menatap ke depan pandangan menerawang.
"Hah," helaan napas Neva membuyarkan lamunan Endru.
"Mau pulang aja," ujarnya. Sebelum sempat berdiri, Endru menarik tangannya.
"Duduk dulu," Endru melepaskan tangannya. Neva menurut.
"Gue harus bagaimana? Semuanya menyulitkan," Endru berucap lirih.
Neva menunduk, ia pun bingung sekarang.
"Papaku yang sudah menjebak papamu. Bukti mengarah pada papah, tapi baik gue maupun kita sulit melawannya."
Neva mengusap air matanya yang hampir jatuh. "Lalu? Gue juga nggak tahu, gue bingung mau marah atau-" namun sayang, Neva akhirnya menangis juga. Dadanya sesak melihat papahnya dibawa ke kantor polisi tadi malam. "Gue benci sama Pak Arifin, tapi lo anaknya. Gue mau menuntut pun itu susah, gue gak bisa datangin langsung sama beliau."
"Pukul gue kalau itu bisa meredakan emosi lo, anggap gue adalah Pak Arifin. Pukul gue! Marahi gue! Lampiasin semuanya" Endru mendesak.
Neva menelungkapkan wajah frustasi, kenyataan ini membuatnya dilema. "Nggak!" Neva menangis. Bukannya memukul, ia berhambur ke dalam pelukan Endru. "Bukan lo yang salah, tapi kita. Kita saling menaruh hati di keadaan yang salah,"
Endru melepas pelukan menghapus air mata di pipi Neva, "Kita tidak salah, kita hanya perlu waktu untuk mengerti keadaan kita. Biarkan gue yang bersusaha" ucapnya penuh maksud.
Neva mengemgam tangan yang mengusap air matanya, bola matanya berputar membaca isi hati Endru. "Apa maksudmu?"
__ADS_1
Tersenyum manis, "Jangan kemana-mana. Intinya percaya sama aku," ujarnya pelan namun terdengar tegas.
"Endru,"
"Aku cinta kamu, Neva!"
Neva terdiam. Dalam hal terdesak seperti ini akhirnya Endru mrnyatalan cinta padanya.
"Aku tidak tahan terlalu lama menunggu waktu. Maaf kalau aku menyatakan perasaanku di keadaan seperti ini, aku takut kehilanganmu."
Perasaan Neva tidak karuan, ada rasa tidak enak dalam hatinya. "A-aku-"
"Ssstt," Endru menyentuh jari telunjuknya di bibir Neva. "Aku tahu jawabanmu, kamu juga punya perasaan yang sama," ucapnya tersenyum yakin.
"Kamu?" Neva gugup sedikit melupakan kerisauannya. "I-iya, aku juga suka kamu," ucapnya menunduk malu.
Endru tersenyum kecil, akhirnya lega juga.
"Papaku memang bulan tandingan kita, tapi papaku juga bukan harus menang. Jika kita yakin dengan cinta kita, maka kita juga yakin cinta itu juga memenangkan segalanya. Ayok kita berjuang bersama-sama!"
"Aku takut, Ndru. Jika kita tetap bersama, maka papa kamu akan melakukan segala cara untuk memisahkan kita, sekarang papaku, besok siapa lagi? Aku takut papaku akan membawa aku pindah atau pergi jauh darimu. Aku takut tidak bisa melawan semuanya," ujar Neva mengatakan kerisauannya.
"Kalau papaku melakukan itu, aku juga akan melakulan sekuat tenaga melawan papah."
"Jangan, itu orang tuamu."
"Bukan! dia bukan ayahku,"
"Ha?"
"Neva, ada sesuatu hal besar yang belum bisa kuceritakan."
"Aku tidak memaksa."
Endru sekali lagi tersenyum senang, mencium tangan Neva. Mengajaknya pulang bersama.
Mereka tidak tahu ada yang ikut menangis di sana, Bu Priska mengusap.air matanya. Meraih ponsel menghubungi seseorang.
"Mas, aku tidak tahan melihat Neva dan Endru begini. Kapan semuanya teruangkap?"
"Priska sabarlah, mas sedang dalam perjalanan ke negara X. Doakan semuanya berjalan dengan baik, agar mas pulang membawa bersama orang itu. Hanya ayah kandung Endru yang mampu melawan Arifin."
"Mas begitu yakin dia masih berada di situ?"
"Yakin sekali. Valensis sudah memberikan data-datanya dengan lengkap, doakan saja."
"Makasih, Mas. Aku dan Mas Rafli tidak salah memberikan hak asuh Neva pada kalian, Mas Rafli pasti bahagia di atas sana. Dia tidak salah memiliki sahabat seperti mas."
"Priska, jagalah anak-anak kita. Lakukan tugasmu di sana. Mas sudah menitipkan kanu untuk bersama Septer, pergilah temui Paramitha. Mas tidak punya banyak waktu, mas tutup dulu ya."
Sambungan tertutup, Priska sedikit lega.
Jangan anak-anak sampai tahu, ini hanyalah sebuah akal. Penangkapan itu tidak nyata, mereka hanya polisi gadungan. Valensis sudah membuat akun perusahasn bayangan atas nama Arifin, tentunya Will belum mengetahui itu.
Dengan pertimbangan yang berat, rencana itu harus tetap dilakukan.
Putra sudah terbang ke negara X menemui orang yang menjadi saksi kunci masa lalu mereka, ayah kandung Endru bernama Michael. putra, Rafli dan ayah kandung Endru adalah sahabat baik dulunya. Tetapi mereka berpisah dari ayah kandung Endru karena lelaki itu memilih melarikan diri dari masalah.
Rafli dan Michael sudah pernah berjanji sejak mereka masih muda untuk menjodohkan putra putri mereka. Sayangnya Rafli tidak bertahan hidup, bahkan ia menyerahkan putrinya pada sahabatnya sekaligus sudah menjadi kakak iparnya.
Paramitha istri Arifin. Wanita itu terlalu lenah tidak berani melawan suaminya, tugas Priska harus meyakinkan perempuan itu untuk bergabung bersama mereka.
ššš
__ADS_1