
Suasana ruang kelas ribut teriak sana sini sedang melakukan kegiatan kebersihan kelas, penghujung semester hari terakhir sekolah sebelum nanti libur selama tiga minggu. Ada yang sedang pel lantai ada yang sedang lap jendela, sebelumya sudah mengangkat kursi ke atas meja dan menyapu bersih lantai. Sebagian lagi sibuk membersihkan bunga tiap kelas ada tersedia di pinggir pembatas balkon, yang tidak bertugas di lapangan mengabil kegiatan.
Jhena menyeka tetes keringat dari pelipis menggunakan punggung tangan seraya mengambil napas dalam-dalam memulihkan tenaganya, mengusap jari-jarinya memerah mengangkat tali ember dipakai untuk pel lantai. "Semanga Jhena!" serunya menyemangati diri sendiri. Menarik napas lagi tangannya mengangkat ember bekas kaleng cat bersi air setengah ember.
Tahan! Letakkan dulu!! Huuff, berat juga ini!! Rutuknya dalam hati. Kamar mandi kelas dua ada di ujung lorong, sementara ruang kepasnya pun juga di ujung. Melewati empat kelas dulu agar sampai ke ruang kelasnya. Setelah berhenti beberapa saat ia kehabisan tenaga, mengangkat lagi menggemgam tali ember.
"Semangat ketua!" seru Aslika dari depan kelasnya seraya mengepalkan tangan di udara.
Jhena tersenyum tipis, setelahnya kembali berjalan lagi.
Dengan napas ngos-ngosan akhirnya sampai juga di depan kelasnya. Si petugas pel lantai sudah meraih ember menyeret ke dalam tanpa ucapan terima kasih.
Memutuskan duduk di bangku panjang meperhatikan jarinya yang memerah, meniup berharap mengurangi rasa perih pada permukaan kulitnya.
"Nih."
Eh, terkesiap mendengar suara cowok tiba-tiba datang menghampirinya. Mendongak, ia terpaku ada Andreas sedang mengulurkan sesuatu padanya. "A-apa?" tanya masih bingung. Cowok ini berdiri di hadapannya.
"Gue lihat lo dari tadi gerak ngangkat air, udah ini ke tiga iali lo putar balik. Lo nggak punya mulut buat minta tolong sama murid cowok? Atau lo sengaja cari perhatian buar dibilang rqjin? Iya?!"
Ucapan Andreas membuat Jhena tercengang, tuduhan ini membuat hatinya mencolos. Tangannya menggeser obat salap yang diberikan Andreas, ia menolak. "Aku nggak sepicik yang kanu bilang tadi, jangan asal bicara seenaknya. Kalian asik banget main di kelas sebelah, malu teriak manggil kalian untuk minta tolong. Paham!" jawabnya ketus.
Andreas salah bicara, membuat cewek ini jadi marah padanya. Tanpa banyak bicara ia menarik lengan Jhena membawa ke tangga lorong kelas, tidak menggubris perlawan cewek itu ia menaksa duduk di atas anak tangga. Untung sepi.
"Apa-apan sih, main tarik sembarangan!" hardik Jhena menepis cekalan Andreas.
Masih tidak mau bicara, ia justru menarik pergelangan tangan cewek ini lagi secara paksa kemudian mengoleskan jari Jhena dengan salap yang dibawanya tadi gerakan hati-hati.
"Huhhh," tarik napas rasa dingin terasa pada kulit yang memar seraya memejamkan mata merasakan sensasi lega reaksi dari salap.
"Mak-Astaga main pergi lagi. Ahk, menyebalkan," ujar Jhena kesal. Andrras tanpa bersuara main turun segala setelah membalut lukanya. Sebenarnya apa maksud dari tindakannya tadi? Baru saja mendengar ucapan menuduh ia seenaknya dan junur Jhena sakit hati. Tapi semenit lemudian Andreas juga mengobati tangannya, dan jujur ia sangat tersentuh menganggapnya sebuah perhatian dan rasa sakit hati tadi menguap entah kemana.
Andreas sekejap mampu membuat hatinya sakit, setelahnya juga mampu membuatnya menghangat.
Berjalan kembali ke depan kelasnya ingin melanjutkan tugasnya, tetapi ia menatap heran sudah ada yang menggantikannya. "Loh, kok jadi kamu. Mari sini, aku yang ganti airnya," ucapnya merasa bersalah pada temannya ini.
"Enggak usah, tangan lo sampe merah-merah gitu. Eh betewe, Andreas masih aja baik banget sama lo, dia rela kena hukum sama Bu Winda demi ngambil salap di UKS, terus dia gantiin lo kebersihan di ruang osis supaya lo nggak kena omel satu kelas karena jarang ikut kegiatan kelas kita, dan juga si Andreas rela hati banget nampilin mukanya di kantin demi membujuk gue buat gantin lo tugas angkat air ini. Uhh, makin kagum gue sama mantan lo itu. Buat guecaja ya, si Andreasnya!" cerocos temannya ini menggeliat membuat mata ngeri sendiri seraya memainkan mata pada Jhena.
Buk!
"Jhenaa! Untung airnya nggak nyiprat ke lantai!" Jhena tidak peduli omelan temannya, tidak merasa bersalah karena sudah menendang ember bersi air kotor. Tidak sampai terbalik juga, tendangannya tidak sekencang itu.
Melongos pergi.
š¹š¹š¹
"Jhiaa! Pelototin terus, nggak putus tuh leher!" ucap Rio duduk di atas rumput lapangan sebepah Andreas.
Andreas menurunkan pandanganya dari atas arah lorong kelas dua tepatnya pada cewek yang sedang berjalan tertahih mengangkat ember sepertinya itu berat sekali, menoleh ke samping ada Rio sudah duduk santai sembarangan meneguk botol minum miliknya.
"Ndre, kalau gue beri satu nasihat, lo kau denger nggak?"
__ADS_1
"Enggak deh, thanks sebelumnya."
Buk! Tinjuan ringan mendarat di lengan Andres, "Gue serius, nggak bercanda gue."
"Hah!"
Rio meletakkan botol minum di pangkuan Andreas seraya mulai menatap serius pada temannya ini. "Kalian udah putus, tapi lo diam-diam masih sering perhatian sama dia. Lo masih suka ya sama dia?" tanya Rio.
"Sok tahu," jawabnya ketus.
"Eh, Ndre. Situ ya, dari mana lo tadi tiba-tiba udah duduk berteduh di sini tidak ikut main voli sama kita-kita, lo habis kebersihan gantikan Jhena di ruang osis, iya nggak? Lo rela lera supaya Jhena bisa ikut ngambil tugas di kelas kita," ujarnya seraya terkekeh menggoda Andreas.
"Hung," sesingkat itu.
Mengikuti arah pandang Andreas, terlihat dari sini bahwa Jhena sedang berhenti kemudian menurunkan ember memegang jari-jarinya agak lama. Saling pandang, Andreas sudah berlari meninggalkan Rio.
"Mau ngapain dia ke UKS?" tanya Rio pada udara matanya memincing, Andreas menuju ruang UKS.
Andreas tanpa permisi menerobos masuk ke ruang UKS, Bu Winda hampir oleng saja tercengang si murid main masuk saja.
"Pokoknya ibu tidak mau ada negoisasi, kamu harus saya hukum telah sembarangan masuk. Apa tidak lihat ada ibu berdiri di depan pintu tadi? Andreas, kamu ibu hukum, kumpuul semua obat-obat ini ke dalam box itu susun sesuai nama-namanya. Paham!"
"Paham, Bu. Tapi izinkan aku ke kelas dulu, ada yang mau Andreas ambil. Boleh ya, Bu! Janji, nggak kabur dari hukuman."
"Ibu tunggu di sini."
Secepat kilat ia berlari menuju kantin utama dan langsung menarik Halimah menyeret ke luar kantin, orang-orang meneriaki perbuatan Andreas tetapi ia tidak peduli.
"Ogah. Sekali-kali biar dia ada kerja campur tangan di kelas kita, jangan mangkur terus karena osisnya itu."
"Hal."
Luluh permohonan Andreas, Halimah tersenyum tipis mengangguk.
š¹š¹š¹
Bodoh!! Kenapa lo emosi sampai mengucapkan lontaran yang menyakiti hati Jhena? Ahkk, mulut ini juga gengsi mau minta maaf duluan. Andreas mengacak rambutnya merutuki dirinya merasa bersalah.
"Andreas, kerja yang benar! Megang rambut, bisa-bisa obat itu terkontaminasi kuman," omel Bu Winda.
Tersadar dari lamunannya, ia berjalan ke arah wastafel kembali mencuci tangan, memberaihkan tangan menyeka wajah kusamnya. Ia tidak salah lihat'kan? Mengucek matanya sekali lagi memastikan, ada Jhena sudah duduk di atas karpet sedang menghitung obat-obatan, Bu Winda tidak ada dan pasti sudah keluar.
"Ndre, sini duduk. Kita kerjain bareng-bareng," ajak Jhena tersenyum merekah.
Andreas terpaku melihat senyum indah itu, terhipnotis ia melangkah duduk di sebelah Jhena.
Kejadian itu mengalir begitu saja.
Andreas tidak menolak tindakan Jhena yang mengemgam tangan sedang mengajarkan cara menyusun obat, dengan lembut penuh kesabaran Jhena memberi arahan. Mereka ber dua saling belerja sama menyatukan setiap jenis obat menyusun ke dalam kotak, setelahnya mereka sama-sama menghitung perkiraan ada yang terlewat atau tidak. Obat-obatan ini akan dikembalikan ke apotek di mana obat ini dipesan, tidak baik meninggalkan di UKS tanpa ada orang yang harus mengawasi dan menjaga ruangan ini. Setelahnya mereka ber dua melepas alat-alat yang masih terpasang demi menjaga keamanan listrik, membuka sprai brankar lalu mengganti gordem tebal di jendela.
Tanpa mereka sadari ada Chatryn dan Fajar meronta kegirangan menyaksilan ke dua sejoli itu, tersenyum bahagia akhirnya Jhena dan Andreas sudah baikan lagi.
__ADS_1
"Aku juga memaafkanmu, Jhen. Aku sudah percaya kamu sudah mulai move on dari Daniel, segera kita berbaikan juga," gumam Chatryn dalam hati.
Berjalan bersampungan Jhena duduk di kursi panjang teras ruang ekskul musik, lorong ruang serba-serbi sekolah sudah sangat sepi bahkan aula dan ruang musik sudah ditutup, menunggu Andreas datang dari kantin.
"Jhen." Jhena melenguh merasakan dinginnya botol minan ditempel pada pipinya.
Andreas tersenyum kecil, duduk seraya membula tutup botol. Bunyi desiran soda mengepul dari minuman, memberikan pada Jhena. Dengan sekali teguk minuman soda itu tandas setengah, rasanya haus sekali. Andreas tetap santai menikmati minuman miliknya seraya memainkan sedotan di bibirnya.
"Maaf, Jhen," ucap Andreas lirih memulai percakapan.
"Ha?" Jhena cengok, menoleh bingung pada Andreas.
"Gue udah menyinggung perasaan lo soal ucapan gue tadi, gue minta maaf banget," ungkapnya merasa bersalah.
Mengesah panjang, Jhena menatap lembut Andreas. "Aku yang harusnya minta maaf udah membuat kamu repot, aku juga berterima kasih banyak sama kamu."
"Jhen-"
"Ndre, boleh aku bertanya?" Jujur ini adalah pertanyaan yang sangat sulit untuk dilontarkan, perasaannya tiba-tiba gugup tak karuan.
"Kenapa? Kok sampai gugup begitu?"
"Ka-kamu kenapa rela melakukan semua itu? Jangan menyangkal terus, aku mohon. Apa alasannya, jawab jujur Andreas," ungkapnya satu tarikan napas.
Diam sejenak tangannya mencengkram botol minum, mengesah berat ia harus bicara jujur. "Gue masih peduli sama lo," ungkapnya.
"Peduli?"
"Iya."
'A-ada alasan lain lagi?"
"Alasan apa? Tidak ada satu pun alasan untuk membuat kita berindak peduli pada sesama kita," jawab Andreas.
Tidak, bukan ini jawaban yang diinginkannya. Hanya peduli? Itu seperti sifat Kak Endru padanya. Jangan bilang Andreas sudah-sudah,,,. Jhena menahan denyutan di hatinya.
"Jhen, lo kenapa lagi?" cemas wajah pucat Jhena.
Berhasil menguasai diri, sebaiknya ini diselesaikan hari ini juga. "Andreas, aku mau kita balikan," ucapnya tegas.
Andreas terpaku beberapa saat.
"Maaf, Jhen. Pacaran kita tidak berlanjut lagi, kita cukup menjadi sahabat saja."
"Sa-sahabat, kenapa? Maaf kalau selama ini aku tidak menyadari perasaan tulus kamu, Ndre, sudah mengacuhkanmu, menganggap itu hanya cinta biasa saja. Tapi sekarang aku mengaku menyesal, aku cinta sama kamu!"
"Jhena, memgertilah. Kita sama-sama belum kuat untuk semua ini, ada perasaan yang belum siap dalam diri kita. Kamu masih tahap melupakan perasaan kamu pada Daniel, dan aku masih mencoba menutupi luka itu. Jhena, tidak baik memulai hubungan dalam keadaan tertekan seperti ini. Beri waktu pada hatimu untuk sepenuhnya melupakannya dan sudah bersiap memulai, dan aku pun sama meski pun pada perempuan yang sama. Berpacaranlah saat sudah benar-benar jatuh cinta, bukan karena sebatas tertarik saja. Kamu terlalu menggebu. Aku sudah salah terlalu cepat menyatakan cinta, padahal belum mengetahui apa itu cinta dan apa itu meniliki pacar seutuhnya. Sehingga aku terlalu terluka mengetahui fakta sebebarnya. Sekali lagi kutegaskan, kita sahabatan tanpa perasaan lebih."
Jhena diam seribu bahasa. Tersenyum terpaksa, mungkin ucapan Andreas ada benarnya juga. Ia hanya menggebu karena terlalu merasa menyesal jauh dari Andreas, padahal ia masih memproseskan hati diri menghilangkan perasaan cintanya pada Daniel.
ššš
__ADS_1