
Tetttt.
Teetttt.
Tttettt.
Teet...
Ke empat regu sekolah sudah bergiliran mencoba bel di tiap masing-masing tempat, tak ada yang menghambat sama sekali. Kini giliran para juri yang memberikan sedikit pengarahan dan ada juga MC yang memandu olimpiade dengan suara khasnya, dan hal itu berjalan biasa saja.
Tapi tidak dengan Yulan!
"Yulan kenapa gelisah seperti itu, Bu?" tanya Endru pada Bu Winda.
Yulan terlihat gelisah di tempat duduknya, terkadang menggaruk kepalanya, menggaruk tangannya, melihat kanan kiri. Tentu itu menjadi pusat perhatian semua orang, bahkan ada yang menatap Yulan dengan mengejek.
"Peserta dari regu B, apa ini bisa dilanjut?" tanya MC.
"Bisa, Kak." jawab Yulan mantap.
"Ada apa sebenarnya ini? Tadi terkunci di dalam mandi, sekarang jadi seperti ini. Astaga!" ujar Bu Winda frustrasi. Sebagai guru pendamping, tentu ia menghawatirkan semua ini. Namun apa yang bisa ia perbuat? Mendoakan dari bangku penonton saja rasanya tidak puas, ia cemas sekali.
"Perikanan tambak yang menghasilkan ikan dan udang merupakan mata pencaharian sebagian besar penduduk di daerah daratan pantai. Dalam geografi tersebut menggunakan kajian konsep?"
Tettt.
Tettt.
"Iya. Silahkan regu A jawabannya."
Astaga! ke dua bel itu berbunyi hampir bersamaan, grup A yang berkesempatan menjawab dari grub B.
"Interdependensi." jawab salah satu dari grup A bersemangat.
"BENAR. NILAI 10 UNTUK REGU A. BERI TEPUK TANGANNYA!"
__ADS_1
suara tepukan tangan menggema di seluruh ruanga.
"Tenanglah, Bu. Ini baru soal pertama, masih banyak kesempatan lainnya." Bian mencoba menghibur sedikit Bu Winda.
"Dalam Geografi terkenal dengan istilah regoin, yang artinya adalah?"
Tett.
Tett..
ke dua bel itu berbunyi hampir bersamaan, kali ini tim regu B yang berkesempatan menjawab dari regu A.
"REGU B. SILAHKAN JAWABANNYA!"
Yulan mulai gelagapan, tadi tangannya reflek menekan tombol bel tanpa mendengar lebih jelas soal yang dibacakan MC.
Aldi melihat kerisauan Yulan, ia mengulangi soal yang terbaca ke telinga Yulan.
"Regu B, apa bisa menjawab?"
"REGOIN ADALAH SUATU WILAYAH YANG MEMILIKI CIRI-CIRI KESERAGAMAN GEJALA TERTENTU ATAU FUNGSI YANG MEMBEDAKAN SUATU WILAYAH TERSEBUT DENGAN WILAYAH YANG LAIN." dengan lantang Yulan berhasil menjawab soalnya. Untung otak cerdasnya langsung mengingat jawaban dari soal itu.
semua tepuk tangan menggema di seluruh ruangan.
Bu Winda tersenyum lega. Tapi ada yang mengganjal hatinya melihat Yulan terus-menerus menggaruk tubuhnya, bahkan wajah Yulan sudah terlihat memerah.
"Ada yang tidak beres!" Neva berlari meninggalkan mereka.
"Bang Bian. Tolong apa pun caranya tunjukkan pesan teks ini pada Yulan dari jarak jauh," Emdru memberikan ponselnya yang sedang dalam aplikasi whaatsap menampilkan layar pesan dari Wilangga. "Mau menyusul Neva."
Tanpa banyak basa-basi lagi Endru juga berlari menyusul Neva.
Neva berlari kencang ke dalam ruang mereka tadi, mencari sesuatu dengan terburu-buru. "Apa yang menyebabkan Yulan gatal-gatal, yah?" gumamnya sambil mencari.
"Lo mau cari apa, sih? Nanti barang di ruangan ini rusak Lo acakin gitu." Endru datang dan ikut membantu Neva.
__ADS_1
Neva tidak menghiraukan kehadiran Endru. Tidak mendapat apa yang ia cari, mungkin di toilet ada sesuatu yang mencurigakan. Neva keluar meninggalkan Endru.
"Uuhh, Neva!" panggil Endru menggeram. Akhirnya ia pun juga mengikuti langkah Neva.
Dengan hati-hati Neva mencari sesuatu dengan menelisik seluruh ruangan kamar mandi. Sampai netranya terpaku pada sesuatu yang berwarna hitam tergeletak tak berdaya di dekat dinding kamar mandi.
"ULAT BULI!!" teriak Endru jijik sendiri.
Perlahan Neva mendekati ulat tersebut, lalu memotretnya.
"Ndru," Neva berbalik menghadap Endru, menatapnya dengan serius. "Lo bisa lari cepat nggak? tadi Gue lihat ada apotek di depan gedung ini, beli obat penghilang rasa gatal karena ulat bulu. Boleh?"
Endru terpaku akan tatapan Neva "Baiklah. Lo urus yang di sini aja." Endru beranjak keluar dari toilet.
Ini sungguh aneh. Gedung ini terlihat elit dengan penjagaan yang cukup ketat, petugas kebersihan tadi berkeliaran di sudut ruangan, tidak ada tanaman di area gedung ini. Intinya, tidak ada cela sedikit pun yang memberi jalan si ulat bulu masuk ke toilet, lain lagi jika ini di sengaja.
Neva menyusuri lorong gedung mencari sesuatu apa bila ada yang mencurigakan, lorong ini terlihat sepi dan gelap. Neva berbalik arah memutuskan berjalan ke arah belakang gedung, terlihat ada seseorang yang menjulang sedang bertelepon di dekat tempat sampah.
Neva mendekati pria itu nengendap-endap agar tidak menimbulkan suara.
"Gue udah lakuin semua yang Lo bilang, tadi temen satu sekolah Lo itu udah gatal-gatal. Sekarang Lo harus lakuin sesuatu untuk sekolah Gue.... "
Itu suara Bima. Neva tercengang dengan apa yang ia dengar dari suara lelaki itu, ada yang menghianati sekolah SMA DHARMA BAKTI. Dan lebih parahnya lagi, pesaingnya dari sekolah yang dulu, adalah pelaku yang membuat Yulan gatal-gatal.
..........
sementara Bian sudah berhasil sedari tadi menyusup di antara kerumunan penonton. Tempat duduk penonton memang berseberangan dengan tempat peserta olimpiade. Jadi wajah para peserta tampak jelas dilihat.
Bian bermain mata dengan Aldi memberi kode, Aldi memainkan matanya ke samping ke arah Yulan.
"SEMANGAY MYYUL, AKU MENDUKUNGMU DARI SEKOLAH. SEMANGATTTTTTTT!!"
yulan tersenyum membaca pesan teks dari ponsel yang dipegang Bian, ia nasih melihat jelas walau Bian duduk di barisan penonton.
Seketika Yulan ingat dengan gelang yang ada di pergelangan tanngannya, ia tersenyum lembut sambil mengelus permukaan gelang itu. Yulan sudah semangat kembali untuk soal berikutnya.
__ADS_1
Dengan akting yang membanggakan Bian berhasil memanipulasi teman se barisannya duduk. "Kamera belakang saya rusak, jadi saya memoto tim ku dari kamera depan."
ššš