Kisah ABG

Kisah ABG
Masalah Adi Putra


__ADS_3

Daniel dengan terpaksa membonceng Chatryn pulang dari rumah sakit, teman-temannya memaksanya dengan seribu jurus godaan. Sementara yang lainya pulang naik mobil Will, Endru masih ada di rumah sakit sedang bersama keluarganya mamah ya sudah bangun.


"Lo kenapa nggak minta jemput aja sih? Udah motor pake mogok segala, ada lo jadi makin repot," gerutu Daniel.


"Itu tandanya, yang di atas ngasih kita waktu buat berdua-duan. Gitu," sahut Chatryn cengengesan.


Netra Dani tidak sengaja melihat melihat senyum indah Chatryn di balik sinar bulannya malam, sebentar ia terpaku lalu menepis pikirannya. Tidak mendngar celetukan Chatryn, mencoba menghubungi nomir tenan-temannya. Sial, tidak ada yang bisa membantunya.


"Sorry, Dan. Gue masih nganterin Neva sampe rumahnya, ini kami masih di perjalanan," jawab Will dari sambungannya.


"Ya udahlah," Daniel memutuskan sambungannya dengan wajah masam.


Tidak tahukah ia, bahwa orang yang ditelepon sedang tertaea puas berbohong. Neva geleng kepala mendengar jawaban bohongnya si Will, padahal mereka sudah ada di depan gerbang rumahnya. Will sengaja menolak, membiarkan Daniel dan Chatryn jalan berduaan.


Mereka berhenti di jalanan yang sepi, hanya menyisakan lampu remang di tiang lampu jalan. Daniel duduk di trotoar menatap nanar aspal yang sepi, Chatryn bersandar di pagar pembatas jalan. Ia memeluk dirinya sendiri kedinginan, tidak mau bicara banyak lagi takut Dani marah lagi.


"Kalau lo mau pulang duluan, telepon supir jemputan lo," ujar Dani sedikit melembut namun masih membelakangi Chatryn.


"Gue nggak mau pulang sendirian. Maksudnya, kita sama-sama berangkat, kita juga harus sampe rumah sama-sama."


Daniel mendengus, gadis ini keras kepala sekali. Bangkit berdiri menghampiri Chatryn. Tangannya menyentuh permukaan kulit tangan Chatryn, dingin! Tubuhnya juga seperti gemetaran. Daniel merasa cemas.


"Lo kedinginan?" tanyanya perhatian.


Mendengar pertanyaan Daniel yang seperti memperhatikannya, membuat jantungnya berdegup kemcang, ia merasa sangat bahagia sekali menatap jarak mereka yang semakin dekat. Menjawab tersenyum berbinar, melupakan rasa dinginnya.


"Eh-" Chatryn terkesiap merasakan tangan Daniel yang menyentuh bahunya.


Daniel membantu memakai jaket ke badannya, ini tidak sedang bermimpi'kan?


Wajah mereka jaraknya hanya lima centi


Tubuh Chatryn yang mungil membuat Daniel sedikit menunduk memakaian jaket di bagian bahu. Jika dilihat sekilas, posisi mereka seperti sedang berciuman. Daniel tidak menyadari hal itu, pikirannya hanya mencemaskan Chatryn yang kedinginan.


Chatryn menahan napas, jantungnya berpacu dengan cepat, seperti berada di awang-awang bersentuhan dengan orang yang disukainnya. Wajah Daniel begitu dekat, bulu matanya yang lentik, hidungnya yang mancung, dagunya yang lancip, bibirnya yang sehat ia tahu Daniel dan teman-temannya tidak merokok. Deru napas Daniel hangat menerpa pipi Chatryn, aroma maskulin yang sangat membuatnya ingin terus menempeli Daniel. Apakah Daniel tidak melihat wajah Chatryn yang sudah memanas?


Iya! Ini ke dua lalinya mereka berpose seperti ini, sama membuat jantung Chatryn gugup. Bedanya. Waktu itu saat di introgasi masalah siram Neva kemarin, mata Daniel begitu menyeramkan. Sekarang, ia lebih menikmati sentuhan dan tatapan sejuk Daniel. Waktu itu dan sekarang, ia jatuh cinta pada orang yang sama.


CEKREKK!! CEKKREKK!!


"Ini akan menjadi berita paling menggemparkan di sekolah besok, Chatryn dan Daniel berciuman di jalanan yang sepi! Uhm, pasti seruu!!"


Ujar orang yang berdiri di tiang lampu, berjalan pulang dengan tersenyum jahat.


"Pake jaketnya," Daniel langsung berbalik dan kembali duduk di trotoar.


Chatryn menutup matanya menghirup dalam-dalam aroma badan Daniel yang menempel di jaket, ke dua tangannya mengeratkan leher jaket mengarahkan ke hidungnya. "Harum," ucapnya.


"Em,' sahut Daniel dingin. Tak tahu'dia bahwa- Daniel merutuki dirinya yang memikirkan pesona Chatryn.


Chatryn menghampiri Dani duduk di samping cowok itu.


"Lo kok bisa sih, tetap masih wangi padahal udah kegiatan seharian di sekolah, masih pake seragam sekolah lagi?" tanyanya frontal. Hanya mengobrol membuka topik percakapan.


"Nggak ada, memang badan gue wangi. Takdir kali," jawab Daniel sedikit menghangat.

__ADS_1


Puk!


Chatryn memukul lengan kokoh Daniel gemas "Mana ada gitu," ujarnya mencebik bibir.


"Iya,,iya! Ada parfum khusus."


"Parfum khusus? Apa mereknya?"


"Mau lo beli buat gue?"


"Bo-boleh, asal lo mau terima."


"Nggak usah. Uang gue masih cukup buat beli parfum."


"Ih, serius! Nanti kalo parfumnya udah habis, bilangin ke gue. Biar gue beli yang banyak buat lo. Soalnya-" Chatryn tersenum menghirup lagi jaketnya, "Gue suka sama wanginya," ujarnya tersenyum lebar mmnetranya mengjedip menggoda


"Jangan lo cium-cium jaket gue," Daniel malu jaketnya diperlakukan seperti itu. Membuang pandang, kok rasanya?


"Ah, jaketnya gue bawa pulang ya?" pinta Chatryn memohon.


"Nggak!"


"Aa, pelit lo! Gue suka pake jaket ini, apa lagi sama yang punya."


TINNNNNN!!!


Lampu sorot sebuah mobil menyilaukan pandangan mereka.


"Non Chatryn, Daniel, ayo naii."


"Dari mana Mang tahu aku di sini?"


"Siapa Pak?" tanya Daniel sopan.


"Neva namanya."


Daniel akhirnya naik juga. Motornya dipindahkan ke dalam bagasi mobil, menekan tombol bangku mobil menundukkan bangku agar bagasi lebih lebar.


🌹🌹🌹


Will dengan riang mengantar Neva menuju rumahnya, namun betapa terkejutnya mereka ber dua apa yang dilihat di depan rumah Neva.


"APA-APAIN INI!" teriak Neva tidak terima melihat rumahnya bersegel DISITA!


Bang Bian, Gio terduduk lemah di rerumputan. Sementara papahnya sudah dalam kungkungan polisi. Aunty Priska berdiri kaku tidak tahu mau berbuat apa lagi.


"Pa-papah! Kenapa kalian memborgol papahku?" tanya Neva menangis melihat wajah papahnya pucat dan tangannya diborgol.


"Maaf, Dik." tepis petugas polisi menghalangi Neva yang ingin mendekati papahnya.


"Papah," tangis Neva.


"Pak Adi Putra tersangka telah melakukan penipuan modal usaha senilai 100juta," tukas polisi.


"A-apa!" Neva menutup mulutnya. Menggeleng tidak percaya, papahnya bukan orang seperti itu. Tangisnya pecah setelah membaca surat penangkapan yang diberikan polisi.

__ADS_1


"Dan rumah beserta isinya terpaksa kami sita atas jaminan kerugian yang diperkirakan, kami akan membawa Pak Adi Putra ke kantor polisi untuk melakukan introgasi lebih lanjut." tutur petugas menjelaskan.


"Neva," panggil papahnya lemah.


"PAPAH! PAPAH SAYA NGGAK MUNGKIN MELAKUKAN ITU!!" teriak Neva histetiris menyerang salah satu petugas.


Untunglah Will dan Bian menahan badan Neva yang memberontak.


"Neva tenangkan diri kamu," bisik Bian menenangkan Neva. Sekuat tenaga Bian dan Will menahan Neva yang meronta minta dilepaskan.


"ENGGAK! PAPAH NGGAK SALAH, BANG. PAK POLISI, JANGAN TANGKAP PAPAH SAYA!"


Putra menangis melihat putrinya, tetapi ia tidak bisa melawan. Gio menagis sesenggulan dipelukan auntynya, anak itu mulai terasa demam.


"PAPAHH!!" raung Neva.


"Lepaskann!" Neva berhasil meloloskan diri dari cekalan Will dan Bian. Berlari sekencang mungkin menyusul mobil polisi membawa papahnya yang sudah keluar dari gerbang rumah.


Putra menatap nyeri melalui jendela belakang mobil, putrinya tersungkur di aspal sambil meneriaki memanggil namanya.


Neva tidak mempedulikan tatapan tetangga yang mencemooh dirinya, ia terus menagis dan menangis.


Bian membantu Neva berdiri lalu memeluknya erat, ia harus tetap terlihat kuat di depan adik-adiknya.


"Bang, papah nggak mungkin melakukan itu. Iya'kan?" tanyanya terisak di dalam dekapan abangnya.


Bian memeluk mengelus surai adiknya sayang, ia mencium pucuk kepala Neva hangat. Adiknya ini jarang menangis kalau bukan karena masalah besar seperti sekarang ini. Neva membalas dekapan abangnya, mengeluh di pundak abangnya. "Papah tidak akan kenapa-kenapa kok, karena papah memang tidak bersalah. Kamu yang tenang dulu, abang akan mencari buktinya agar papah tidak dipenjara."


"Siapa yang membuat laporan ini?" tanya Will.


"Atas nama perusahaan PRAMY COPERATION," sahut Bu Priska.


Will mengerinyit kening, nana perusahasn itu sebelumnya tidak pernah didengarnya. Membuka ponselnya lalu memainkannya, memperhatilan setiap informasi yang terbaca di layar ponselnya.


"Nama perusahasn itu memang ada, tetapi tidak terdaftar di internet. Itu artinya, ini adalah perusahaan bayangan. Ada yang menjebak Om Putra," Will mengungkapkan informasi yang ia dapat.


Bian dan aunty Priska saling melirik, mereka mempunyai pikiran yang sama siapa orang yang menjebak Putra. Sorot mata aunty Priska mengartikan agar Bian diam, Bian menurut.


Will menperhatikan ke dua orang itu, ia dilema. Ia sudah mengetahui siapa dalang dibalik semua ini, tetapi ia harus lebih bijaksana di sini.


"Bang, malam ini kalian tidur di mana?" tanya Will hati-hati.


aunty Priska menyahut, "Di rumah saya saja."


"Baiklah." Will ingin menawarkan bantuan namun ditolak halus oleh bu Priska. Ia akan membantu dengan cara lain.


Will mengikuti mobil Bu Priska mengantar ke rumah beliau, mobilbya mengangkut koper pakaian keluarga ini.


"Dan, lo udah tidur?"


"Belum,"


"Endru udah pulang ke kost?"


"Dia udah pulang ke rumahnya, baru aja."

__ADS_1


"Kita punya tugas baru, papahnya Neva dijebak seseorang. Sekarang papah Neva ditahan di kantor polisi," ungkap Will.


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡


__ADS_2