Kisah ABG

Kisah ABG
Dijegal Di Jalan


__ADS_3

Siang hari begitu terik tak membuat semangat Jhena berkurang, senyuman manis terpancar dari bibirnya saat tangan dan mulutnya sibuk menjelaskan sesuatu pada teman satu anggotanya. Pengurus osis sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan konsep susunan ujian akhir semester, mereka dituntut harus menyusun rancangan akhir semester dan mulai mendata kartu ujian mengurutkan nomor serta membagi tiap ruang kelas yang akan mereka bagi-bagi di setiap kelas.


Sementara seorang murid cowok menunggu duduk termenung di luar memandang hamparan lapangan luas dan ruang kelas yang sudah mulai kosong. Minuman yang di tangannya sudah hampir separuhnya tandas, minuman milik Jhena mungkin sudah tidak segar lagi dinginnya menguap dengan sinar matahari yang menyengat.


"Selamat siang dan terima kasih!"


Tepuk tangan puas menutup kegiatan osis sore ini, satu per satu keluar dari ruangan dengan mimik wajah yang berseri-seri. Dan mengapa Chatryn tidak ikut rapat? Anak itu bisa beralasan untuk menghindari rapat yang membosankan.


"Ayo pulang." Andreas masuk melangkah menuju Jhena yang masih sibuk dengan bukunya di atas meja. Meletakkan minuman di samping buku Jhena.


"Nanggung," jawabnya tidak menoleh sama sekali pada Andreas.


Cowok ini menghela napas berat lalu menggeser salah satu kursi memindahkan ke hadapan Jhena, mereka duduk saling berhadapan sembari Andreas menopang tangan melihat-lihat Jhena asik menulis sementara Jhena sendiri tidak terganggu sama sekali.


"Nggak lapar, apa?" Andreas memecahkan keheningan.


"Hung. Tadi'kan udah jajan sebelum rapat." masih belum menoleh.


Hening beberapa saat.


"Jhen. Sebentar lagi sekolah mau ditutup," ujarnya lagi.


Jhena mendesis, meletakkan pulpennya sedikit kasar, matanya sinis melihat Andreas sedari tadi merecokinya. "Kamu kalau nggak sabaran nungguin aku, pulang duluan sana! Toh, aku juga nggak minta ditungguin," sahutnya menohok.


Dadanya seperti dicubit mendengar perkataan gamblang Jhena yang masih berstatus sebagai pacarnya, napasnya tertahan miris sekali nasibnya.


"Marah." ucap Jhena tanpa merasa bersalah meledek memperhatikan wajah Andreas yang terdiam kaku.


Andreas memilih diam menekan rasa emosi yang membuncah, memalingkan wajahnya ke arah tembok.


Beberapa menit berlalu keheningan masih mereka alami, Jhena kembali menulis dan Andreas tetap duduk bagai batu menunggu di hadapan cewek ini. Sampai suara ponsel dari dalam tas Jhena mengalihkan perhatiannya, Andreas sempat melihat sekilas siapa yang menelepon pacarnya.


"Iya, Dan!"


Mengapa wajah Jhena jadi berseri setelah menerima sambungan dari Daniel? Perasaannya hancur tidak bisa berkata apa pun.


"Iya, kami pulang sekarang."


Jhena menutup sambungannya bergegas menyimpan buku-bukunya, dengan antusias bersenandung ria. Andreas semakin muram saja. Tadi dia yang mengajak pulang, Jhena menolaknya. Giliran Daniel yang menyuruh mereka pulang melalui telepon, secepat kilat Jhena langsung mengiyakan.


"Hey, ayo buruan! Katanya tadi mau pulang." mengibaskan tangan di depan wajah Andreas yang melamun.


"Iya," sahutnya tidak bersemangat.


Berjalan beriringan dengan dua ekspresi wajah. Jhena tersenyum melangkah mencengkram mengeratkan tali tasnya, Andreas masam tertekut terkoyak begitu menyeramkan.


"Kalian ber dua kenapa?"


Baik Jhena dan Andreas sama-sama terkejut mendengar suara Pak Septer muncul dari balik dinding yang mereka lewati.


"Yang satu terlihat senang, yang satu terlihat muram. Ck, kenapa?" Pak Septer bertanya ingin tahu berdecak.


"Enggak kok, Pak." Jhena terkekeh kecil.


"Semoga permasalahan kalian ber dua cepat selesai, ya." hanya itu yang bisa Septer berikan. Tidak mau ikut campur di luar pribadi sekolah, tersenyum melewati ke dua muridnya.


"Andreas, tunggu." mengemgam menahan tangan Andreas yang hendak memutar kunci motornya.


"Iya," jawabnya dari dalam helem.


Melihat mata Jhena yang memandang lekat, ia melepaskan helemnya.


Mengeluarkan sesuatu dari saku roknya, meraih pergelangan tangan Andreas menyelipkannya dalam telapak tangan Andreas.


"Apa ini?"


"Tadi Daniel nitip ini ke aku, katanya buat beli bensin motor kamu biar tidak terjadi kendala apa pun dalam perjalanan ke rumahku, termasuk kehabisan bensin," ungkap Jhena.


Membuka telapak tangan ada uang si merah di sana. Matanya memincing amarah berkilat, mengembalikan uang itu pada tangan Jhena. "Nggak perlu! Mata kamu nggak buta'kan masih bisa melihat bensin motorku masih banyak," sahutnya menajam.


Jhena terperangah tiba-tiba Andrras marah padanya. "Tapi'kan maksudnya Daniel itu baik. Dia tidak ingin aku mau pun kamu ada ap-"


"Cukup!" suaranya datar dan dingin.

__ADS_1


"Andreas," Jhena lirih mulai mengerti kesalahannya. "A-aku nggak bermaksud memuji cowok lain di depan kamu. Maaf," ucapnya.


Tersenyum kecut, memukul helemnya berkali-kali. "Kalian ber dua sama saja, ternyata," ucapnya hampir menangis. Sebagai lelaki, harga dirinya hancur rendah sekali di mata ke dua orang ini. "Alassn yang konyol," lanjutnya parau.


Jhena tidak berkutik, meremas ujung roknya yang sudsh kusut. Bahkan membujuk pun ia tidak tahu caranya, apa tidak berusaha?


"Naik cepat. Kita pulang, pasang helem kamu."


Andreas masih melajulan motornya dengan kecepatan biasa, ia temtu masih ingat Jhena yang takut akan pasar hitam dan motor kencang. Tetapi lihatlah, air mata itu lolos dari dalam kaca helemnya yang hitam, ke dua tangannya mencengkram stang kemudi motor kuat-kuat.


Mengapa harus temannya sendiri yang jadi saingannya?


Apa memang sebenarnya Jhena belum melupakan perasaannya pada Daniel? Sungguh, sifat Jhena sangat sulit ditebak.


🌹🌹🌹


"Wah, tempat makannya rame juga," gumamnya antusias melihat sekitar tempat mereka makan siang dipadati banyak pengunjung. Aroma makanan menyeruak menggoda selera ***** makan Chatryn. Air liurnya hampir menetes memandang lapar deretan berbagai jenis makanan di balik steling transparan di hadapannya, mengusap telapak tangannya tersenyum lebar.


"Ayo," ajak Daniel menggandeng Chatryn.


"Duduk di sudut situ aja, ya." menunjuk meja kosong di sudut ruang makan. Daniel hanya menangguk kemudian menggandeng tangan Chatryn erat menuntun Chatryn duduk.


"Yey! Makasih," serunya tersenyum manis.


Daniel duduk di hadapannya, menggeser botol saos kecap yang menghalang jarak pandangnya. "Kita makan apa? Biar dipesan."


"Umm,." berpikir sejenak. "Apa aja, deh," jawabnya pasrah.


Daniel menghela napas kasar. "Nanti lo nggak suka. Ini itu tempat orang-orang yang bukan dari kalangan elit kayak lo, tahu," dengusnya.


Cewek ini tidak tersinggung sama sekali, hanya menyengir pamer gigi putihnya. "Gue baru pertama kali ke tempat ini. Makanya, gue nggak tahu mau makan apa," jawabnya berkata jujur.


Daniel tidak menjawab lagi, pergi ke arah meja paling depan memesan makanan.


Chatryn mengikuti gerak-gerik Daniel dengan sorot memuja, tubuhnya yang tinggi sangat pas jadi Tentara, tampangnya yang ganteng melebihi pesona aktor favoritnya, aroma parfumnya masih terngiang di hidungnya, sifat cuek dinginnya menjadi daya tarik tersendiri baginya, otaknya pintar cerdas juara satu di kelasnya. Tersenyum sendiri menggeleng membayangkan Daniel.


"Woii! Lo kenapa?"


Chatryn terjangkit terkejut. "Nggak apa-apa. Makanannya mana? Udah lapar, nih," jawabnya memelas malu ketahuan melamun.


Dua porsi mie ayam bakso beserta sate kerang sate telur puyuh dan gorengan, dua gelas es campur dalam cangkir gelas terhidang di atas meja. Jika Daniel menatap biasa-biasa saja, maka Chatryn tersenyum sumringah. Neva pernah menceritakan betapa lezatnya makanan seperti ini.


"Ep, saosnya jangan banyak-banyak!"


Tangan Chatryn menggantung ingin menuangkan saos ke dalam mangkuknya. "Kenapa? Gue penasaran sama yang pedas-pedas begini, kata Neva baksonya semakin nikmat kalo pedas."


"Itu kata si Neva," ucapnya berdecak. Botol saos berpindah di tangannya, menuangkan seadanya ke dalam mangkuk Chatryn. "Nanti lo sakit perut," ujarnya memperingati. Kemudian menuangkan kecap dan sedikit sambal cabai hijau seadanya.


"Ahk. Senangnya diperhatilan!" pekik Chatryn tersenyum lebar.


"Makan, jangan banyak ngomong," ujarnya agak sedikit mencetus.


Mengaduk mie agar saos beserta kawan-kawannya tercampur, meniup masih panas.


Daniel tersenyum tipis melihat tingkah Chatryn.


Chatryn asik berceloteh memuji makanannya, Daniel hanya menanggapi singkat dan sebagian lagi tidak menghiraukan ucapan cewek ini.


Teringat sesuatu, Daniel meletakkan sendoknya kembali merogoh ponsel dari saku jaketnya. Tak beberapa lama sambungan ditetima.


"Jhena, lo udah pulang?"


Deg.


Sedetik kemudian ***** makan Chatryn menghilang.


"Cepat pulang, Andreas pasti bosan menunggumu. Oh iya, jangan lupa titipan gue sama Andreas."


Sempat-sempatnya Daniel menelepon Jhena di waktu mereka sedang bersama, mana suaranya Daniel terdengar tegas banget menyuruh Jhena pulang.


"Oke. Hati-hati di jalan!"


Mengigit sendok menekan rasa cemburunya. Daniel tersenyum manis menutup sambungannya.

__ADS_1


"Sebenarnya hubungan kalian itu sedekat apa? Apa Jhena bohongin gue?"


"Dan, kita pulang aja, yuk!"


"Belum habis."


"Nggak. Udah kenyang."


"Kamu kenapa?" Daniel berdiri menahan tangan Chatryn menyuruhnya duduk lagi.


"Gue jujur, gue cemburu lo teleponan sama Jhena saat kita lagi bersama gini. Gue bingung dengan hubungan kalian berdua, pacaran atau temenan gue nggak paham. Tolong hargai perasaan gue, hargai persahabatan lo dengan Andreas," ujarnya sendu melelas cekalan Daniel berlalu pergi ke arah parkiran.


Suasana jalan raya sedang ramai-ramainya. Daniel mengesah napas berat memikirkan kesalahannya. Ucapan Chatryn menampar hatinya, benar dia tidak menghargai perasaannya dan Andreas. Di belakangnya Chatryn hanya diam dan memegang pundaknya menjaga jarak, Daniel tidak suka itu. Dia mulai terbiasa dengan kehebohan kebisingan Chatryn, bagaimana cara membujuknya?


Tanpa sadar motor melaju di jalanan sepi.


"DANIEL AWASS!!"


Ini kejadian masih beberapa menit berlalalu, bahkan Daniel pun belum bangkit dari rass terkejutnya.


"DANIEL! DANII!!"


Deg..


Mengerjapkan mata, badanya terlentang bebas di aspal, telapak tangannya tergores.


Tiga pria bertopeng!


"Chatryn!" panggilnya meradang. Rasa marahnya membuncah membuat ia bisa berdiri dalam rasa sakitnya. Namun saat kakinya melangkah, ujung pistol mendarat di belakang kepalanya.


"LEPASIN DIA!" teriaknya tidak peduli dengan pistol di belakangnya. Tangannya mengepal geram, rahangnya mengeras.


"D-Daniel, gue takut," isak Chatrn ketakutan. Dua lelaki berbadan kekar memegangnya erat, satu pisau ada di dekat leher Chatryn.


"LEPASIN! AHKK!"


Bruk! Baru saja melangkah ke depan kakinya dijegal orang yang berada di belakangnya masih mengancamnya dengan pistol.


"LO SERAHIN SURAT YANG ADA DI TANGAN LO! KALAU LO TIDAK MAU, CEWEK LO AKAN KAMI PE****A DI DEPAN LO SENDIRI!"


Mendengar ancaman pria itu membuat Daniel terdesak, memiringkan kepala melihat Chatryn menangis histeris di sana. Mata mereka bertemu, sendu rasa takut terpancar dari bola mata Chatryn.


"LO MASIH DIAM!"


"Daniel!" suara itu terdengar lirih meraung.


Ke dua pria tadi memaksa badan Chatryn terlentang di aspal, menarik dasinya asal dengan satu orang mendekatkan pisau di leher Chatryn.


Chatryn menangis terisak memejamkan matanya, berdoa berharap ada yang menolong mereka.


Ddoorr,,ddoorrt!


"Ahkk!"


"DANIEL!" teriak Chatryn semakin histeris.


"MANA SURATNYA!!? BUKA BAJU CEWEK ITU SEKARANG JUGA!"


"JANGAN! GUE NGGAK MAU!! TTOLLO,,UMMPH!"


Merapatkan kakinya, merapatkan tubuhnya. Sekuat tenaga Chatryn mempertahankan seragamnya yang kancingnya sudah terlepas dicabut paksa, menendang kaki pria itu sekuat tenaga.


"BAIKLAH! LEPASIN CEWEK GUE! SINGKIRIN PISTOL INI, GUE AKAN SERAHKAN SURAT ITU PADA KALIAN!"


Daniel tidak ingin Chatryn korbannya, terluka kehilangan masa depannya. Ancaman ini membuatnya tidak bisa berpikir jernih, tidak bisa melindungi Chatryn, apa bila sampai dia terluka.


Berjalan ke arah motornya, untung pria itu tidak mengikutinya. Membuka bagasi motornya dengan tangan gemetar melirik dengan ekor matanya pada ke tiga pria itu. Aman, mereka tidak akan sadar akan ini. Diam-diam gerakan hati-hati menabur bubuk gatal sisa punya Endru di dalam lipatan kertas. Tangan orang yang memegang surat ini pasti akan gatal tak terkira bahkan mungkin melepuh karena rasa panasnya.


Ke tiga pria bertopeng itu cepat-cepat pergi dari situ..


"Dan-dan, mobil itu mobil yang menculik Neva." tangis Chatryn pecah dalam pelukan Daniel. Menyelimuti Chatryn dengan jaketnya, mengusap menengkan Chatryn yang bergetar ketakutan.


"Maaf, kami terlambat."

__ADS_1


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡


__ADS_2