
Dia seperti baru bangun tidur, tapi mengapa tubuhnya tidak berbaring seperti biasanya? Kok tidak ada cahaya? Padahal bola matanya sudah terbuka mengerjap, tapi kenapa yang dilihatnya hitam semua? Eh, tangannya tidak bisa bergerak, seperti ada yang mengikatnya, kakiku juga tidak bisa digerakkan. Ada apa ini? Neva belum menyadari keadaanya saat ini, untuk beberapa menit otaknya berputar mengingat apa yang terjadi sampai ia mengalami hal yang membingungkan seperti ini.
Perpustakaan, keluar. Astaga!
"Ummm," gumamnya pelan.
Tubuhnya menegang mengetahui dirinya sudah disekap entah di mana, perasaanya mulai gelisah membayangkan apa yang terjadi setelah semua ini. Apakah dia mati, atau hidup tetapi justru sudah mendapat noda dan luka? Tidak, tidak! Neva menggeleng kepala kuat-kuat menyingkirkan pesimisnya, ia harus berusaha lepas dari sini dan jangan menyerah pasrah begitu saja.
"Hahh!" menarik napas dalam-dalam menenangkan rasa cemas mengerogotinya.
Biasanya si penculik akan menutup mulut korbannya dengan memakai apa pun, tetapi untuk dirinya tidak. Justru matanya yang ditutup diyakininanya menggunakan kain. Pasti para penculik ini sudah berpengalaman menipu korbannya, dia menduga saja.
Buku itu? Astaga,,bahkan seragam sekolahnya sudah tidak rapi lagi, tidak ada sesuatu apa pun yang dirasa menyentuh kulit bagian perutnya. Bukunya hilang atau jangan-janfan sudah diambil oleh si penculik itu.
Sial! Di mana mereka menyimpan buku itu? Pasti si penculik tersebut ada sangkut-pautnya dengan masalah buku tersebut, bisa jadi orang yang menculiknya adalah orang yamg menginginkan buku itu agar tidak sampai ke pihak yang berwajib. Orang itu ingin menghilangkan bukti suatu kejahatan yang mungkin tertulis di dalam buku itu. Dan dia yakin sekali, orang dibalik penculikannya adalah orang yang mengenal tante Mitha dan orang-orang yang tertulis namanya dalam buku itu.
Pikirannya berkecamuk menerka siapa yang menculiknya, ia tidak boleh bersuara sebelum orang yang sedang bercakap-cakap di luar sana masuk. Apa ia pura-pura pingsan lagi saja?
Kenapa matanya yang harus ditutup? Dia jadi tidak leluasa melihat bangunan untuk mencari cela meloloskan diri.
Neva terkesiap mendengar suara engsel pintu dan decitan gesekan pintu, langkah kaki mendekat ke arahnya. Tahan napas dan beraktinglah seperti belum sadarkan diri, setidaknya bisa mengulur waktu.
Lelaki itu menunduk melihat wajah Neva yang masih tertidur belum sadar dari pengaruh obat bius yang dioleskannya tadi, mendengus kasar menahan emosi hendak melukai cewek ini.
"Dia belum sadar boss!" ujar lelaki itu berjalan melangkah menghampiti seorang yang menjadi bossnya.
Tidak ada jawaban dari yang dipanggil bos itu justru ada suara dua langkah kaki saling beriringan meninggalkan ruang ini, suara pintu tertutup tinggalah keheningan yang memcekam.
Ahk! Kalau si bos yang dipanggil tadi menjawab, kan' dia bisa mengetahui mendengar suara siapa yang melakukan perbuatan ini. Yang menjadi lawannnya kali ini cukup pandai memutupi dirinya. Neva menggeram kesal.
Tenang Neva, kamu harus bisa mengendalikan emosimu, menghela napas kasar.
Setelah beberapa saat suara derap langkah kaki itu datang lagi menghampirinya.
"Aaahkkk!!"
Neva terjingkat menjerit merasakan ujung sepatu pria itu menginjak kasar kakinya, dan kakinya satu lagi juga merasakan hal yang sama namun teriakannya tidak sekencang tadi. Rasa sakit berdenyut di punggung kakinya, memejamkan matanya menahan tarikan napasnya beberapa detik lalu menggerakan kakinya dengan gerakan kecil, denyutan itu perlahan mereda, barulah ia menarik napas perlahan.
"Ternyata kau sudah sadar. Jangan pura-pura pingsan terus. Kalau kau mau, aku bisa saja membuatmu pingsan selamanya," ucap lelaki itu memberi penekanan ucapan di kalimat, selamanya.
Neva membuang wajah menghindari tangan yang hendak menyentuh dagunya.
"SIALAN KAU!"
Pllakk!!
Wajah Neva dengan ringan terhempas ke samping, tamparan dari orang ini membuat pipinya keram dan merasakan sakit yang teramat. Neva tidak bersuara atau melawan, wajahnya berkerut memerah mentransfer rasa sakit di pipinya ke atas kepalanya, mengigit giginya memejamkan matanya erat. Ia berhasil mengurangi tekanan rasa sakit bekas tamparan orang ini.
"Ohohh, hebat juga kau!" seru orang itu bertepuk tangan mengejek, mendekatkan wajahnya mengacak rambut Neva dengan asal-asalan. "Ini akibatnya kalau seorang anak kecil sepertimu berani ikut campur dengan urusan orang lain," ucap lekaki itu nada tajam kemudian menyentil dahi Neva berkali-kali sampai menciptakan jejak jari kemerahan di sana.
__ADS_1
Neva tetap diam melakukan teknik pernapasan menahan rasa sakit, ia tidak boleh menangis atau pun melawan memberontak. Neva harus fokus mendengar setiap kalimat ucapan yang terlontar dari orang yang sedang menjambak menarik ikatan rambutnya sampai terlepas. Ia tidak peduli, yang terpenting ia harus segera lolos dari sini dengan selamat dan harus menyerap yang mungkin akan dijadikan bukti baru dari bekas siksaan ini.
Brukk....
"Ahuhh!" raungan itu pun masih bisa ditahannya padahal tubuhnya terhempas menghantam lantai karena lelaki ini mendorong tubuhmya yang masih terikat di kursi, badan belakangnya terasa remuk ditindih sandaran yang terbuat dari kayu.
"Cewek ini benar-benar kuat," geram lelaki itu lagi. Satu tangannya dengan enteng menggeser bangku itu membuat tubuh Neva ikut melayang.
"Uhukk,,uhukk," Neva terbatuk-batuk. Aroma debu dari lantai yang seperti sudah tidak pernah dibersihkan, menempel di wajahnya mengerogoti penciuman dan indra pernapasannya. Posisinya sekarang sudah kembali duduk dengan benar walaupun ikatan di tangan dan kaki belum terlepas.
"Tapi karena kau jugalah bosku bisa mendapatkan buku keramat itu, tanpa susah-susah mencarinya. Justru kau yang kasihan. Kau berusaha mencarinya dan berhasil mendapatkannya, tapi bosku dengan mudah merebutnya. Tugas kami sekarang adalah tinggal menghancurkan buku itu," ungkap lelaki itu tertawa menggelegar.
Sudut bibir Neva tersenyum menyeringai mendengar cerita lelaki ini, bagaimana mungkin si bos yang dipanggilnya itu mempunyai bawahan yang menang di otot saja tetapi kalah di otak dalam menjaga rahasia. Dari ucapan dia barusan, ia dapat menangkap bahwa buku itu sekarang sudah di tangan penjahat yang sebenarnya.
Arifin!
"KAU MASIH BISA TERSENYIM BODOH SUDAH TERSIKSA BEGINI! TAPI KAU TIDAK AKAN MAMPU TERSENYUM SETELAH KAU MERASAKAN INI!"
Bukk,,bukk,,bukkk!
Tiga pukulan membabi buta menghantam perut Neva, dan satu tamparan kasar di pipinya, tidak lupa satu bonus tendangan di lutut kakinya.
Neva terbatuk mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya, tulangnya terasa remuk, isi perutnya terasa seperti mau keluar, lututnya kehilangan tenaga ngilu sampai ke ubun-ubun. Napasnya mulai melambat kepalanya terasa berputar-putar berat, jiwanya melayang seperti ditipu angin.
Sebenarnya siapa lelaki ini? Dari cara dia menyiksanya seperti orang yamg punya dendam saja.
Neva meringkuk badan di kursinya, tenaganya sudah terkuras saat melakukan beberapa teknik penahan rasa sakitnya. Harapannya tinggal sedikit, menunggu keajaiban datang menghampirinya.
Baru saja tangan lelaki itu melayang di udara, suara gedoran pintu mengganggu aktivitas lelaki itu.
"Jangan siksa perempuan itu lagi, cukup! Kata si bos jangan sampai kau buat dia terluka parah," lerai seseorang itu menghentikan aksi tamannya.
"Ahhkk!" racau lelaki itu meninju udara. Ada rasa sesal kurang puas yang bergejolak dalam dirinya karena kurang puas menyiksa perempuan satu ini.
Seolah mendapat air di padang gurun, menghela napas lega melakukan teknik penahan rasa sakitnya lagi. Menggunakan tenaganya yang tersisa untuk meahan napas beberapa menit, memejamkan mata beberapa saat, menginstruksi rasa sakit itu agar mengalir ke atas kepalanya, tangannya saling meremas di bekakang badannya.
"Tahan emosimu. Waktumu sudah habis, kau harus ingat dengan aturan yang diberikan bos. Sekarang, suntik bius dia lagi, lalu buang dia di jalanan sepi. Cepat lakukanlah," tukas orang itu memberi perintah.
Tidak! Neva harus mampu mempertahankan kesadarannya beberapa saat setelah bius itu masuk ke tubuhnya, sekali lagi ia harus mengambil kesempatan dan kesempitan.
Neva dengan sengaja menegangkan tubuh saat merasa cucukan jarum menyentuh permulasn kulit itu. Ayo berjuanglah sekuat tenaga mempertahankan tenagamu Neva, jangan tidur, buka matamu, jangan mau memejamkan matamu.
Tubuhmya melayang dalam gendongan dua orang pria, badanya sudah berada di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan rata-rata.
Ia masih berusaha menahan kesadarannya.
"Bos bilang, yang penting buku itu sudah di tangannya. Tidak mungkin gadis ini mengenal tempat dan wajah kita, dia saja ditutup matanya. Sudahlah, jangan merasa bersalah begitu. Sekali lagi kutegaskan, dia tidak mengetahui siapa penculiknya, termasuk si bos juga," jawab lelaki itu pada temannya yang mengungkapkan ketakutannya.
Bermain dengan licik dan bijak, sepertinya orang ini sudah berpengalaman banyak melakukan tindakan kriminal.
__ADS_1
Reaksi obat bius menarik menguap mulutnya, perlahan tetapi pasti Neva memejamkan matanya karena rasa kantuk itu berat sekali
Neva tidak sadarkan diri masih dalam posisi terilkat.
Mobil berheti di pinggir jalan sempit, jalanan malam ini cukup sepi juga jadi aman. Pikirnya.
Langit gelap mendung mencekam malam, suara jangkrik meramaikan hiburan malam, semak belukar dan bau sampah lingkunfan mencemari indra penciuman. Tiba-tiba hujan detas mengvuyur tanah, petir bersahutan datri atas langit. Walaupun begitu, dua orang pria yang diutus untuk membuang Neva tetap harus mengerjakan tugasnya.
Tanpa bantuan mantel atsu pun payung, mereka turun membopong tubuh lemah Neva menerobos derasnya hujan.
"Turunkan kakinya!"
"Apa?"
"KAKINYA! KITA LETAKKAN DIA DI SINI!"
"Oke,,oke!"
Ke dua orang itu meletakkan Neva di rerumputan yang basah begitu saja.
"ITU YANG JATUH KALUNG MU ATAU TIDAK?"
Duarr,,,duarrr,,duarr! petir yang menggelegar menutupi suara seruan dari temannya. Dia sempat melihat ada sinaran kalung besi tergelatak di rerumputan lurusan tubuh Neva.
"APA??"
"KALUNGGG!"
"ENGGAK. KUCING GUE DI RUMAH, NGAPAIN DI SINI BEGO! NGGAK ADA KUCING BERKELIARAN HUJAN DERAS GINI!""
"HAAAA??"
Duuarrr!
"CEPETAN NAIK, HUJANNYA MAKIN DERAS!! WOII!"
Tangan lelaki itu ingin mengambil kalung yang dipikirnya punya temannya, namun urung dilakukanya. Air hujan menyeret sampah dan tanah dan sudah menutupi menyamarkan kalung tersebut.
"Loh, kalungnya mana, kok nggak ada lagi?" tanyanya heran.
Duarr,,,duarrr,,duarrr!
"WOII AYO NAAIKK!!"
"Ahk, mungkin gue salah lihat kali ya. Merepotkan!" gerutunya berlalu menyusul tamannya yang sudah menunggu di mobil.
Tinggalah badan Neva yang posisi miring sudah kotor dan meninggalkan jejak bercak darah di bawah guryuran hujan di tempat sepi.
ššš
__ADS_1