
Endru melangkah waspada kakinya setengah berjinjit hati-hati agar tidak menimbulkan suara, menahan napas matanya menelisik seluruh sudut ruangan yang gelap. Sunyi, seperti tidak ada aktivitas manusia di lorong ini. Membuka pintu toilet dengan gerakan pelan, decitan pintu kamar mandi membuat perasaanya tak karuan.
Kosong, dan terlihat bersih. Masuk ke dalamnya lalu menutup pintunya.
Mengetik pesan untuk Yulan berkomunikasi dengan cewek itu. Mode hening, mengusap layar ponsel membaca pesan balasan dari Yulan. Bernapas lega karena Willangga berhasil menyelinap masuk ke dalam ruang cctv, sebelumnya telah membuat pak manager itu tertidur setelah minum juice yang dibawabya tadi.
Sengaja ia melakukan komunikasi di dalam toilet, agar gerak-geriknya tidak terlacak cctv lorong. Will, cowok itu punya seribu cara memanipulasi keadaan. Nomor Will tidak bisa tersambung, Will yang mengatur semuanya agar sinyal mereka tidak mudah dibajak.
Saat ingin keluar, tidak sengaja kakinya menyenggol tempat sampah yang ada di dekat pintu kamar mandi. Isinya bercecer membuat Endru hampir menjetit karena jijik. Ada ****** bekas pakai, alat suntik apa ini? Bungkus obat, barang menjijikan ini ada di dalam tempat sampah.
Tidak berniat mengumpulkan sampah itu lagi, berdiri memperhatikan ada lubang kecil di dinding kamar mandi, apa itu? Dengan rasa penasaran, menaiki bak kamar mandi, meraih lubang yang tidak terlalu kecil setelah dilihat dari dekat. Menempelkan matanya ke dalam sana, bukan sembarangan! Memgintip sajalah dari pada penasaran.
Ternyata di balik gedung ini tersimpan banyak rahasia yang terselubung. Terlihat jelas beberapa perempuan duduk membelakangi pandangan Endru, dengan keadaan setengah telanjang, mungkin itu sejenis lingrie bikini atau? Entahlah, otaknya belum mencerna apa yang dilihatnya sekarang. Dengan fitur camera yang canggih di ponselnya, menyalakan camera mengatur titik fokus pada arah ruangan, mengatur posisi cahaya, mengganti foto beralih vidio merekamnya, zoom memperbesar tampilan gambar.
Adegan selanjutnya membuat ia merasa cemas gugup ketakutan, terlihat seorang lelaki datang dan langsung menarik paksa salah satu wanita itu, wajahnya seperti orang yang ketakutan dan terdengar suara teriakan menolak paksaan laki-laki yang sedang menariknya.
Prostitusi? Endru cepat-cepat menyimpan vidio lalu turun dari atas bak. Napasnya memburu setelah mulai memahami apa yang tidak sengaja dilihatnya tadi, mereka harus segera keluar dari tempat sialan ini.
Daniel panik tidak dapat berpikir jernih, perempuan di sampingnya ini mulai melancarkan aksinya setelah ia berhasil diseret ke dalam kamar. Ponselnya terus menyala-nyala menerima sambungan dari Endru, mungkin ini menyuruhmya keluar secepat mungkin.
Tidak tertarik dengan tubuh setengah telanjang wanita ini, kepanikannya lebih mendominasi. Mata polosnya tercemar ulah perempuan ini, baru pertama kali melihat langsung adegan ini, namun sayang di waktu yang tidak tepat.
"A-ada kotoran di rambutmu, Mbak. Cuci dulu di kamar mandi," ucapmya gemetaran.
"Ouh, iya'kah. Tunggu bentar ya ganteng," ucap perempuan itu lalu masuk kembali ke dalam kamar mandi.
Ceklekk! Daniel mengunci dari luar.
Menyambar kunci kamar yang tergantung di pintu kemudian mengunci kamar dari luar, mencabut kunci membuangnya ke sembarang arah.
Tttrettt,,,ttrrettttt,,,trrett!!
Bunyi getaran saling sahut-sahutan membuat satu lorong menjadi kacau, ini alaram tanda bahaya. Daniel berlari menyusul Endru yang sudah bersembunyi.
Pintu-pintu kamar terbuka otomatis orang-orang berhamburan keluar berlari menuju lift, berseru melarikan diri dari tempat ini. Di situlah Daniel, Will dan Endru ikut bergabung bersama orang-orang itu seolah mereka ikut panik juga.
Endru tersenyum miring berhasil mengelabui penjaga yang berdiri di depan lift, dengan sengaja ia menekan tombol alaram yang berada di balik tangga darurat.
__ADS_1
"Loh, kok ada mobil polisi?" tanya Daniel kebingungan melihat mobil polisi terparkir di samping mobil mereka.
Mereka ber tiga saling melempar pandang, ketika Endrun menyeringai mengartikan sesuatu.
"Gue langsung ngirim vidio ini ke pihak kepolisian," ujarnya menyodorkan ponsel pada ke dua temannya.
Will dan Daniel terbelalak menonton hasil rekaman di ponsel Endru, tidak menyangka ternyata di balik restoran mewah itu tersimpan ruang prostitusi di ruang tersembunyi.
"Oh iya, rekaman cctvnya udah ada sama gue. Ternyata benar dugaan kita, ada orang yang menarik Inggrisa dari bawah, ada orang yang sengaja membuka pintu penghubung agar pengunjung langsung mengetahui kejadian itu," ungkap.Will menjelaskan.
"Lalu apa yang lo lakulan sekarang, Ndru?" tanya Willangga setelah ponselnya sudah kembali di tangannya.
Mobil sudah melaju dengan kecepatan rata-rata meninggallan restoran.
Endru bersandar pada sandaran mobil, memejamkan mata sebentar menarik napas merenggakan otot-ototnya. "Gue ikutin permainan Inggrisa, gue mainin perasaan Inggrisa," ucap Endru tersenyum miring.
"Maksudmu?" Willangga masih belum memahami.
"Gue curiga ada yang mendukung Inggrisa melakukan ini semua. Lo semua tahu bokap gue dan bokap Inggrisa sangat kekeh mempertahankan perjodohan kami, sekali pun aku tidak menyetujui dan menolak, semua itu tidak mempengaruhi rencana mereka," ujar Endru menatap pikiran menerawang.
"Pasti bokap gue ikut andil dalam bagian rencana ini untuk membuat gue tersudut," lanjutnya.
"Soal itu, gue minta bantuan dari kalian," jawabnya seketika mukanya muram.
Daniel dan Will tersenyum memberi semangat pada Endru.
š¹š¹š¹
Siall!!
Inggrisa merutuki kebodohannya sekarang. Badannya terasa patah remuk semua, kakinya sampai diperban segala. Aksi nekat bunuh dirinya kemarin ternyata berakibat seburuk ini, padahal sudah ada pelindung dari bawah saat ia melompat. Ada beberapa perban melilit di bagian tubuhnya yang tidak terluka, alat yang tidak seharusnya menempel di wajahnya. Ini sungguh merepotkan, kondisinya dibuat semengerikan itu demi menyempurnakan rencananya. Ahk, yang penting ia masih hidup.
"Bosan banget sih, main hp ajalah," gumamnya sendiri. Takut melepas selang infus yang sebenarnya tidak berfungsi di tubuhnya, takut sakit karena jarumnya. Lagi-lagi dia mengomel menggerutu, pergerakannya jadi terbatas tidak bebas.
Dirinya masih sanggup tersenyum sesekali tertawa membaca postingan yang lewat di beranda sosial medianya, membalas chattingan dari temannya, bersikap biasa saja wakaupun sesekali harus merasakan ngilu di bagian tubuhnya yang terluka.
Cklek...
__ADS_1
"Ggawatt!" cepat-cepat tangannya menyimpan ponsel di balik bantalnya dan memasang selang oksegen di wajahnya, berbaring posisi seperti orang yang sakit. "Tenang!! Dia tidak sempat melihatku'kan?" gumamnya resah dalam hati.
Endru membuka pintu pelan-pelan melangkah menuju brankar Inggrisa dibaringkan. Ia menyimpan senyum sinisnya di balik wajah datarnya, mari kita bermain!
Tahan juga dia pura-pura pingsan, lihat aktingmya sangat meyakinkan sekali. Oh iya, dia'kan model terkenal, pantas saja dia mampu melakulan hal bodoh ini.
Melihat Inggrisa sekilas berjalan ke arah jendela membelakangi Inggrisa, mengoleskan sesuatu di telapak tanganmya, lalu kembali menghampiri inggrisa.
"Lo belum sadar, Nggri," ucapnya nada prihatin. Mendekat menghembuskan napasnya di pipi Inggrisa, mengusap rambutnya dengan sayang.
Inggrisa menahan napasnya untuk tidak bersuara, memejamkan matanya erat dan tetap harus bersikap tenang agar tidak bergerak, aroma parfum ini adalah aroma kesukaan mereka ber dua. Ah, mengapa jadi salah tingkah begini? Endru mengusap kepalanya, ini di luar dugaanya. Pasti Endru merasa bersalah dan kasihan padanya, rencananya berhasill! Inggrisa kegirangan dalam hati.
Membelai rambut Inggrisa, memijat pelan kepala cewek ini, meraba perban yang menempel di keningnya. "Kenapa lo nekat melompat hanya demi balikan sama gue?" bisiknya di telinga Inggrisa.
Sekuat tenaaga Inggrisa menahan gejolak di hatinya, ingin sekali ia bergerak menyambut godaan dari Endru.
"Lo tahu gue nggak suka lagi, gue nggak ada rasa cinta sedikit pun sama lo," lanjut Endru dengan suara lirihnya. Jarinya turun mengusap pipi wajahnya, meraba hidung mancungnya, menyentuh bibirnya "Kok bibir lo nggak kering sih? Biassnya bibir orang yang lagi koma itu pecah-pecah dan kering. Mamah gue dulu gitu," lanjutnya.
Jantung Inggrisa sudah tidak karuan, perasaanya sangat cemas sekali. Ngapain tadi pake minum segala? Tapi dia juga tidak menyangka Endru menjenguknya.
"Gue sebenarnya nggak rela mau lanjutin perjodohan ini. Tapi demi memebus rasa bersalah, gue harus mengikuti kemauan bokap gue." tangan Endru turun meraba sisi bantal menyelipkan jarinya.
Mampuss, jangan sampe dia tahu ponselnya ada di balik bantalnya. Inggrisa semakin panik, napasmya terjebak di dalam masker oksigen yang sebenarnya tidak terpasang di bawah brankarnya.
"Gue nggak bisa menghindar, gue muak sama lo sama orang tua gue juga. Kasihan ya gue, dijodohin dengan cewek yang gue bemci," tukas Endru memberi penekanan. Tangannya menyucuk pergelangan Inggrisa yang terlilit perban, menyentilnya dengan keras. "Kalau lo mati, kita nggak jadi tuangan. Tapi gue belum mau masuk penjara, padahal lo yang nekat bunuh diri."
Sakit sekali sentilannya, berdenyut sampai ke dalam-dalam. Endru menyakiti tangannya yang memang tidak tergores sedikit pun, tapi ia harus bisa menahan suara rintihannya.
"Ah, jam jenguk gue selesai. Gue pulang dulu ya, masih banyak yang mau gue urusin. Semoga cepat sembuh, dan tidak merepotkan oramg lain," hardiknya menyindir. Tanpa banyak bicara lagi, Endru keluar melongos seperti angin.
Suara pintu ditutup.
"Hahhh!!" Inggrisa menghela napas lega, melepas masker oksigen menghirup oksigen sebanyak mungkin. Duduk bersandar menyeka keringat yang mrngucur membasahi wajahnya, menetralkan degup jantungnya yang hampir mau keluar. Layaknya bayi yang baru saja dilepaskan dari lampin yang menjerat tubuhnya, merenggangkan tubuhnya.
Tunggulah satu jam lagi, rasa gatal itu akan menyerang kepala dan rambutmu Inggrisa!
Endru melewati dua pria berbadan besar pengawal Inggrisa, berlalu pergi ke arah kamar mandi yang berada di lurusan lorong ruangan Inggrisa.
__ADS_1
Membersihkan tangannya dengan air mengalir, mengeringkan dengan mesin pengering, kemudian menyemprotkan pembersih kuman ke selurih permukaan tangannya. Membuka ponselnya mengetik pesan pada Will, ia berhasil mengoleskan obat yang dapat membuat gatal di kepala Inggrisa. Bercermin menyuci wajahnya, tersenyum jahat menikmati wajah ketakutan Inggrisa, menakut-nakuti cewek itu, apa lagi sewaktu menyentil tangan Inggrisa, bisa ya cewek itu menahan rasa sakitnya. Endru berdecak tidak habis pikir dengan tingkah laku Inggrisa.
ššš