
Setelah pergaulan sepasang kekasih ini berakhir, Jack langsung bergerak menuju kamar mandi membersihlan diri. "Pulanglah, Gue masih ada urusan setelah ini," ucap Jack sambil merapihkan helaian rambut gondrongnya.
Si wanita memasang wajah merengut melongos keluar dari kamar, begini rasanya punya kekasih sejenis Jack yang orangnya tidak perhatian tahunya hanya di ranjang saja.
Jack menghela napas kasar. Bukannya ia tidak bisa menunjukkan rasa cintanya seperti apa yang diinginkan wanitanya itu, namun ia sadar akan kondisi kehidupan jalanannya. Tidak perlu dijelaskan apa yang menjadi ketakutannya, tidak ada keluarga yang menerimanya untuk dijadikan menantu idaman. Jack berspekulasi.
Netranya terpaku melihat se botol minukan segar tersimpan di dalam kulkas mini yang tersedia di dapur, memutar tutupnya lalu meneguknya sampai habis.
Sebentar lagi orang yang ditunggu akan hadir, ia akan menunggunya di sini saja.
BUK,,,BUK,,BUKK!!!
Jack menyeringai mendengar suara gedoran pintu dari ruangan yang lain, ternyata target sudah berada di depan mata. Dengan langkah lebar ia berjalan menghampiri seorang perempuan yang sedang terduduk lemah di depan pintu.
Jlepp! Pandang mereka berdua bertemu. Jack yang menatap sinis dan Neva memandang lekat-lekat harus berhati-hati. Neva berdiri merapihkan tatanan kuncirnya dan menyingkarkan debu pintu tang mengotori telapak tangannya. Neva harus terlihat lebih tenang agar tidak mudah terkecoh orang ini.
Duduk perlahan berhadapan dengan Jack, hanya meja kayu yang juga sudah berdebu menjadi perantara mereka.
"Apa kabar?" tanya Jack basa-basi. Boleh lah ia lebih halus sedikit pada gadis ini.
"Baik," jawab Neva seadanya. Memang dari awal beegabung dengan geng ini, ia tidak mengakrabkan diri pada sang ketua ini.
"Apa sekolahmu lancar?" tanyanya. Eh, ada apa ini? Kok tiba-tiba perasaannya jadi gelisah seperti ini, panas juga.
__ADS_1
"Hum, lancar," Neva merasa aneh melihat gerak-gerik Jack. "Bang, kok jadi gelisah gitu?" tanya Neva ragu-ragu. Kakinya sudah bersiap memcari ancang-ancang untuk berdiri dari kursi ini, matanya menelisik lagi mencari celah untuk kabur dari tempat ini.
Jack membuka jacket kulitnya meletakkanya di atas meja, kaos hitam tanpa lengan menampilkan ke dua otot tangannya yang bertato. Menggulung rambut gondrongnya ke atas, melepaskan sepatu kulitnya. Wajahnya memerah keringat membasahi tubuhnya, manik menatap Neva seperti orang yang kelaparan. Tidak mungkin ia tertarik dengan tubuh gadis tomboy SMA ini, apa jangan-jangan? Sepersekian ia mengingat beberapa menit yang lalu telah meneguk habis minuman dari kulkas tadi, pasti ada orang yang mencampurkan bubuk perangsang ke minuman itu. Bima! Anak itu terakhir kali bersamanya di ruangan ini.
"Ba-bang Jack!" lirih Neva ketakutan. Neva berlari ke sudut ruangan tangannya mencari apa saja yang bisa digunakan untuk melindunginya. Sial, ponselnya kehabisan daya.
Masih berpikir mencari sesuatu, Neva tersentak mendapati Jack yang sudah mendekatinya.
"Auhhh!" Neva meringis kesakitan rambutnya dijambak. Membuang pandang tidak sudi melihat lelaki buas yang tepat berada di depannya. Jantungnya berdegup kencang badan gemetar, pikir apa yang harus dilakukannya untuk menyelamatkan diri.
"Ternyata setelah dilihat-lihat, lo nggak kala cantik dari cewek gue. Nggak salah si Bima mempertemukan kita. Iya'kan?" wajah Jack hanya beberapa jengkal dari wajah Neva, logikanya mulai hilang reaksi obat perangsang ini begitu cepat dan Jack tidak dapat menyeimbangkannya. Jarinya meneusuri permukaan wajah Neva lalu berhenti di bibir Neva, hendak menciumnya namun Neva sekuat tenaga menutup mulut dengan tangannya.
BUKK!! terbuat dari apa tangan lelaki ini sampai beraninya meninju dinding begitu keras.
"AHHHKKK!!" Jack berteriak frustrasi. Dengan ringan tangannya menampar wajah Neva, suara tamparan tersebut sampai menggema dalam gelang yang dipakai Neva. Siall! Gadis ini tidak menangis atau berteriak. "GUE BENCI PENOLAKAN!' kini tangannya sudah berhasil menarik kunciran rambut dan melempar ikat rambut itu ke sembarang arah. Jack semakin murka!
Aungguh tamparan ini sakit sekali, tapi ia harus bisa menahannya. Lelaki brengsek ini mulai mendekatinya lagi dan hampir meraup dadanya, dengan sigap ia menutupinya dengan tas yang masih menggantung di bahunya
Posisi mereka masih berdiri di sudut ruangan. Ketika Jack ingin menyerang wajahnya, Neva menendang tepat sasaran milik Jack sampai Jack meraung kesakitan.
Neva berhasil lepas dari kungkungan jack berlari sambil bertetiak minta tolong, umpatan kasar yang terlontar dari mulut brengsek Jack tidak membuat nyali Neva menciut.
BRRAKK!! Neva terjatuh menabrak meja yang menjadi tempat mereka tadi, mata kakinya terass nyeri dan sepertinya tangannya tergores tepian meja.
__ADS_1
"MAU KEMANA LO, HA??" Jack sudah berhasil lagi mengurung Neva. Semakin menit berjalan semakin ia dikuasaii obat tersebut, ia sudah melupakan tujuan utamanya bertemu Neva.
Neva berteriak minta tolong lebih keras lagi saat gigi Jack melukai leher Neva, tangannya tidak berhasil mendorong jafilah kakinya yang berhasil menendang ke dua kalinya milik Jack.
Jack berteriak mengeluarkan umpatan kata kasar mengaduh kesakitan, tetapi obat itu masih menguasai pikirannya. Mengikuti Neva yang berlari menggedor pintu, "MAU LARI KEMANA LO NEVA, AYOLAH KITA NIKMATI SORE INI SAMPAI PAGI SEPUAS-PUASNYA!!" ucapnya lantang.
"LEBIH BAIK GUE MATI DARI PADA LO RUSAKKIN HIDUP GUE. JANGAN DEKATIN GUE, BAJINGAN!" teriak Neva melawan Jack.
"HAH, SIALL!! GUE UDAH NGGAK TAHAN LAGI!"
"TOOOLLLONGGG!!"
"AHH, SAKITT!" badan Neva terpelanting membentur lantai ruangan, tenaganya tidak kuat menahan tarikan Jack lagi.
BUK! kepalanya terasa mau pecah dihantam tangan besar Jack mengenai lantai, cairan hangat itu menetes menodai wajah pucatnya.
Kesadarannya mulai menghilang, tenaganya melawan sudah habis terkuras karena rasa sakit di tubuhnya. Disisa kesadarannya, Neva merasakan sakit di bagian pergelangan tangannya dan sepertinya habis dicakar lalu berdarah.
Jack terbahak-bahak mangsanya telah kalah. Memutuskan tali tas Neva kemudian melemparkannya, menarik tali pinggang celana Neva dengan kasar.
BRRAKK!!!
Suara gebrakan pintu itu mengagalkan aksi ingin mencium Neva.
__ADS_1
ššš