
Bibir itu bergincu menyelimuti warna pucat bibirnya, wajahnya dipoles sedemikuan rupa sempurna dengan bentuk wajahnya, gaun mahal membentuk lekukan tubuhnya membuat ia tampak lebih dewasa dari usianya, rambut pirangnya digerai dan sepatu hak mencapai tujuh centi meter menghias kaki jenjangnya, kalung permata melilit leher jenjangnya beserta cincin melingkar di jarinya. Inggrisa berpenampilan sempurna menghadiri perayaan ulang tahun yayasan di sekolahnya.
"Inggrisa! Ganti penampilanmu, seperti mau ke undangan saja," celetuk mommynya mengomentari penampilannya.
"Mom. Udah, yah. Jangan banyak protes, aku berangkat dulu."
"INI MASIH TERLALU PAGI, INGGRI!"
Tetapi yang dipanggil tidak mempedulikannya terus berjalan ke luar. Mommy, ia menghela nafas lelah sudah setengah mati menahan rasa sakit diperlakukan anak tirinya seperti ini terus. Kembali ia berkuat menata sarapan pagi di atas meja makan, menunggu sang suami untuk sarapan bersama.
Inggrisa berjalan menuju ruang kelas Endru, ia akan menunggu di sini saja. Endru begitu gesit menghindarinya, ia ingin berbicara tentang hubungan mereka secara langsung. Sengaja berpenampilan seperti ini berharap Endru melirik kecantikannya, berkaca sekali lagi memastilan hiasan wajahnya tidak luntur. "Perfect," ujarnya sumringah, lalu memasukkan cermin kecil ke dalam tasnya.
Benar dugaannya, Endrulah yang datang pertama. Ia tahu karena bahan materi osisnya ditinggal dalam kelas tidak pernah dibawa pulang.
"INGGRISA!" suara lantang Endru bergema di dalam ruang kelas dan inggrisa hampir mau terkena serangan jantung.
Wajah Endru terlihat emosi dan tercengang ada perempuan ini di sini.
"En-endru!" sungguh ia juga ketakutan melihat tatapan amarah Endru.
Tetapi demi tujuannya, ia menyamarkan rasa takutnya.
Perlahan langkah Inggrisa mendekati Endru, tetapi Endru mundur menjauhi Inggrisa. Tatapan bengis itu menghentikan niat Inggrisa.
"Jaga jarak dari gue."
Menyandarkan tubuhnya di papan tulis tanganya bersedakap dada, inggrisa satu meter di depannya menatapnya berkaca-kaca. Endru sudah tidak peduli.
"Gue," lirihnya menggumam sendiri. Tidak lagi panggilan 'aku kamu'.
"Ngapain lo ada di sini, hah?"
Jangan menangis Inggri, kau terlihat lemah di depan laki-laki ini. "Aku mau ngomong sama kamu, aku kangen banget sama kamu," ungkapan kerinduan itu lolos dari bibirnya. Baru saja hendak maju untuk meraih Endru ke pelukannya, gerakan tangan Endru mengibas pertanda ia tidak boleh mendekatinya.
"Ck," Endru melihat jam tangannya. "Okeh, denger gue baik-baik. Gue nggak punya banyak waktu buat ngomong sama lo, dan gue juga tidak butuh penjelasan apa pun dari lo."
__ADS_1
"Aku mau hubungan kita jelas, Ndru. Kenapa kamu menghindari aku?"
Endru tersenyum sinis, berjalan ke samping Inggrisa tetapi masih menjaga jarak. "Alassnya," berbisik di dekat telinga Inggri "Lo udah nipu gue."
"Me-menipu, apa maksudnya? apa jangan-jangan dia udah tahu? Tidak, tidak mungkin!"
"Ingri, Inggri!" sepertinya kecurigaannya benar, dia gugup'kan!
Berjalan ke arah mejanya mengambil materi osis dari dalam laci meja, berjalan melewati Neva menghampiri pintu keluar.
"KITA PUTUS TIDAK ADA HUBUNGAN APA-APA!"
Brakk! Pintu kelas terbuka, ternyata sudah ada beberapa teman satu kelas Endru berdiri di balik pintu dan pasti sudah mendengar teriakan Endru. Tetapi Endru dengan santai melewati mereka.
Inggrisa mematung di tempat ia berdiri, kakinya terasa lemas, jantungnya terasa berdenyut, ulu hatinya seperti dicengkram sesuatu, napasnya tersengal, mulutnya tidak berucap cukup terkejut mendengar pernyataan sepihak Endru. Emosinya semakin menjadi ketika menyadari beberapa murid sudah berkumpul menyaksikan mereka tadi, ia menerobos marah melewati kerumunan itu.
"Kasihan si Inggri!"
"Rasanya gimana gitu. Dari masuk kelas 10 udah pacaran, waktu mau tamat gini malah putus!"
"Kenapa mereka, ya?"
"AHK!! ENDRU, LO UDAH BUAT GUE MALU DI DEPAN TEMAN-TEMAN! GUE BENCI LO, ENDRRUU!!"
Raungan kebencian itu menggema di dalam ruang toilet. Sekejap rasa cinta kini menjadi rasa benci, kalaupun ia meminta putus harusnya jangan seperti ini caranya. Inggrisa mendendam!
š¹š¹š¹
Ini dia Shajhiena Widlya, sekretaris osis andalan Endru, yang sering dipanggi Jhena, keturunan China.
Tersenyum cerah di depan cermin melihat perubahan penampilannya semakin cantik saja, sudah melepas kaca matanya, rambut lepeknya sudah lebih segar tergerai panjang sepunggung, bruntusan wajahnya lebih berkurang, make up memperindah wajahnya, gaun serta sepatu dan aksesoris yang melekat pada tubuh sangat cocok dipakainya. Tidak ada yang menyangka bahwa Jhena yang dulunya terlihat biasa saja, kini jauh lebih cantik drastis hari ini.
"Sudah puas memuji dirinya sendiri?"
"Kak Endru!" Jhena terperanjak membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
"Um, tidak sia-sia nyeret lo ke salon semalam. Hasilnya secantik ini, memuaskan."
Muka Jhena memerah, baru ini ia mendapat pujian dari lawan jenis selain dari papahnya sendiri. "Makasih, Kak." ucap Jhena tulus.
"Tapi lo ingat perjanjian kita'kan?"
"Ingat," ia mengangguk pasti.
"Kalau lo udah gue suruh ke atas panggung, cara jalannya harus tegas, pengucapan sambutan yang udah lo hafal harus sekece mungkin. Intinya, posisikan diri lo seperti ketua osis sungguhan. Paham?"
"Paham, Kak."
"Sipp!" Endru mengacungkan jempolnya. "Ya udah, gue siap-siap dulu. Silakan pergi temui osis lainnya."
"Shajhiena adalah orang yang tepat menggantikan posisi gue, maafkan aku pah."
Jhena meninggalkan ruang osis, Endru bersiap-siap.
"Neva kok nggak angkat telepon gue, sih. Ck," Monolognya kesal.
Sudah tiga kali mencoba menghubungi nomor Neva, tapi tidak ada yang balasan dari sana.
"Tahan Endru, tahan!" tangannya asik mengancing lengan kemejanya. "Lo harus pelan-pelan deketin cewek itu, masih banyak yang harus gue atur dulu agar PDKT ini lancar," mengoleskan gel rambut. "Udah ganteng belum gue?" tanyanya pada gambar di cermin. Menyemprotkan parfum khusus pria "Biar lebih wangi." Sekali lagi meneliti apakah sudah terlihat tampan atau belum "Kau memang tampan dari lahir Michael Alvendru!" ucapnya percaya diri.
Mengupas permen mengemutnya perlahan, wangi dari permen ini memberi aroma segar dari napasnya "Hah, hah!! Hum, napas gue udah segar."
Endru asik mempersiapkan penampilannya, sementara Neva tidak.
Hari ini ia berpakain biasa saja, kaos oblong celana jeans sepatu biasa yang dipakainya jalan-jalan, rambutnya seperti biasa diikat kuda. Toh, tidak mengisi acara buat apa cantik-cantik?
Tidak mendengar ponselnya yang berdering sudsh berkali-kali, tetap sibuk melakukan pekerjaanya. Membantu seksi konsumsi dan Pak Septer mengangkat kardus minuman gelas dari kantin menyusun ke setiap area yang sudah tersedia di lorong kursi tiap sekolah.
"NEVA KAMU HEBAT! BISA ANGKAT DUA KARDUS SEKALI GUS!!" Seru Pak Septer heboh.
"Udah biasa, Pak!" sahut Neva santai.
__ADS_1
Kakinya lebih gesit melangkah membawa kardus berlomba dengan murid lainnya, mereka berdecak takjub menyaksikan tenaga Neva.
ššš