Kisah ABG

Kisah ABG
Masih Belajar Bersama


__ADS_3

Terdiam membaca isi surat yang membuatnya kelu, jantungnya teriris mengetahui kenyataan penjelasan yang tertulis. Baru kemarin ia tahu siapa jati dirinya, Priska dab Rafli yang ditahunya adalah paman dan bibi kandungnya ternyata adalah orang tua kandungnya. Papahnya bercerita pamannya meninggal saat ia masih dalam kandungan Mamah Lia-nya, karema sakit keras katanya. Namun sekarang? Neva menyeka air matanya menarik napas dalam-dalam, membaca ulang surat yang madih ada di tangannya. Sudah berkali-kali ia mengulangi, tetap.saja isinya sama tanpa ada perubahan huruf sekali pun. Ini bukan mimpi tapi kebenaran yang nyata, Paramitha sipembuat surat menuliskan bahwa Arifin suaminya dan ayahnya telah melakukan pembunuh berencana dari Rafli suami Priska, memberi perintah pada anak buah agar menghadang mobil Rafli dan menghibisi nyawa pria itu dibuat seolah Rafli adalah korban penculikan mobil.


Kertas surat itu terhempas di atas meja rias, mencengkram dadanya terasa ngilu badannya gemetar dan air mata menganak di pipinya. Arifin memang bukan ayah kandung Endru, tetapi ayah Paramitha sudah pasti kakek Endru, dalang pembunuhan ayah Rafli. Apa yang harus dikatakannya sekarang? Pantas saja keluarganya tidak memgizinkan ia bertemu dengan Endru semenjak penculikannya tempo hari, hal ini yang ternyata alassnnya. Membenci Endru? Tidak bisa, ia masih menyukai pria itu, teranat menyukai, cinta pertama pacar pertamanya. Menelungkupkan wajahnya kemudian menyugar rambutnya kasar ke dua tangannya bertopang di atas meja rias.


Ada pergerakan di sampingnya, menoleh sudah ada ke empat temannya berdiri mengelilinginya. "Kalian, udah selesai masaknya?" tanyanya suara serak namun tetap menunjukkan senyum cerianya.


Yulan meraih kertas surat dan membacanya bersuara tentu yang lainnya juga ikut tercengang. Sekarang mereka paham.


"Apa kamu-Uhh?" tanya Chatryn ragu.


Neva menggeleng, "Gue nggak tahu."


Menceritakan tentang orang tuanya pada teman-temannya, kisah keluarganya. Mereka ber lima saling merangkul mengapit Neva mengelus punggung sahabatnya.


"Ini semua diluar kuasa kamu dan Endru, Nev. Kalian tidak tahu apa-apa masalah ini, menjadi korban ke egoisan. Endru pun tidak ada hubungannya sekali pun dia cucu kandung kakeknya, dia tidak pantas disalahkan. Kamu, cukup mencari tahu kebenarannya dari keluarga kamu, kuatkan ibu kamu saat membicarakan luka ini. Cukup sesali tapi jangan 'diulang', ayah kamu sudah tenang di sana," nasehat saran Yulan mengemgam tangan Neva.


"Kita juga nggak mengerti latar belakang kejadian itu, hanya keluarga kalian yang tahu kejadian sebenarnya," Jhena ikut menimpali.


"Wah, Bu Ketuaaa!" Aslika memberi jempol ke arah Jhena, dibalas decak kesal.


Neva masih diam, tangannya memegang mainan kalung yang tergantung di lehernya mengusapnya lembut. "Makasih ya, kalian memberikan gue saran."


"Sudah, ayo kita mandi. Cowok-cowok pasti udah nungguin kita," Chatryn mencairkan suasana.


"Ung. Ayo, tapi kita mandinya dua-dua biar cepat. Yulan sendirian, pertama mandi. Setelah itu gue dan Chatryn lalu Jhena dan Aslika," ujar Neva menerangkan. Sekejap berubah moodnya menjadi lebih baik setelah mendengar dukungan teman-temannya.

__ADS_1


Neva melipat surat menyimpannya di lemari buku. "Semoga secepatnya ada keadilan untuk ayah," gumamnya memandang foto Rafli yang tertempel di pintu lemari buku. "Endru, hubungan kita sangat rumit. Sebentar lagi kamu bertunangan, padahal kita belum resmi putus. Dan sekarang semakin runyam saja, ayahku meninggal karena kakek dan papah tirimu," gumamnya dalam hati mengusap foto Endru tertempel di samping foto ayahnya, Rafli.


Tim cowok-cowok riuh mandi di kamar tamu dan kanar Bang Bian, ada Gio yang menemani mereka.


Willangga sudah selesai mandi dan sedang rebahan di tempat tidur yang sudah disediakan bermain ponsel menjadikan tas sebagai bantalnya. Menerima pesan dari Endru tentang kalung Neva, ia cukup terkejut. Ternyata itu kalung bukan sembarang kalung atau pun yang katanya untuk obat, menggeleng masih belum percaya. Neva dan Endru orang kaya dalam sekejap mata apa bila orang ber dua itu benar-benar menikah suatu saat nanti.


Beberapa saat setelah semua berkumpul sudah bersih dan wangi, mereka semua berkumpul untuk makan malam bersama di teras belakang rumah. Bu Priska pulangnya nanti agak terlambat ada urusan, itu pesan yang disampaikan Bang Bian.


Satu baskom besar mie instan dicampur sayur dan telur sambal balado terhidang menggugah selera, Yulan mienya mie sehat si bungkus hijau sesuai dengan apa yang tersedia dibuat Bu Priska khusus untuknya. Makan bersama lesehan bercanda ria, hampir satu jam makan karena banyakan bercanda. Setelahnya berbagi tugas untuk membersihkan sisa makan malam, ada yang memcuci piring, ada yang menyapu, ada yang mempersiapkan ruang belajar.


Kali ini giliran Jhena yang belajar bersama Bembi mengajari pelajaran Kimia dan Biologi, meskipun terdengar ketus dan cepat-cepat, Bembi kuat memtal dan tidak marah menghadapi sikap Jhena.


Chatryn dan Neva belajar di anak tangga, Yulan dan Aslika belajar di meja makan, Andreas, Rio, Willangga, Daniel, dan Sofan memilih di teras rumah.


"Tunggu bentar ya, Tryn. Gue ke atas dulu, Bang Bian manggil gue." Menunjukkan ponsel pesam WhatSpp Bang Bian.


Pada akhirnya ia menyetujui permintaan Neva, agar diizinkan bertemu Endru apa pun caranya sebelum pertunangan itu terlaksana. Bian terpaksa, ia tidak tega menolak bujuk rayuan adiknya agar Neva tidak marah padanya.


Neva tersenyum senang, hatinya bergembira sudah memdapat nomor ponsel rahasia Endru.


"Tadi nangis-nangis, sekarang senyum-senyum sendiri. Gak jelas lo," ucap Chatryn merasa ngeri sendiri melihat perubahan ekspresi temannya ini.


Justru semakin tersenyum lebar tidak fokus membaca bukunya.


Nanti jam tidur ia berancana menelepon Endru di kamarnya, tapi jangan ketahuan temannya, bisa ribet hancur kangen-kangenanya.

__ADS_1


Chatryn kepo mengintip ponsel yang sedari tadi menjadi pusat perhatian Neva, mau merebutnya tapi Neva cepat menyimpan ponselnya menyingkir dari kejahilan Chatryn.


Jam belajar selesai, Neva dan Jhena sedang mengambil bantal-bantal perlengkapan untuk tidur. Chatryn membeti tanda isyarat agar mereka semua merapat, membisikkan sesuatu pada teman-temannya membuat semua penasaran setengah mati, apa penyebab Neva seperti aneh di tangga tadi.


"Ingat ya, kalian ber dua, Yulan dan Chatryn. Pura-pura tidur aja, diam-diam ikutin Neva. Ok!" usul Will memberikan ide.


Ke duanya menangguk setuju.


"Kenapa kalian berkumpul begini?" Neva sudah muncul di balik tumpukan bantal, menjatuhkan bantal tepat di tengah-tengah mereka.


Jhena muncul membawa tumpukan selimut.


"Ngibah sesuatu," sahut Bembi menyingkirkan bantal dari punggungnya.


Neva tampak tidak menaruh curiga, ia sudah ikut bergabung bercanda dengan teman-temannya.


Di tikar seberang ada tempat tidur cowok, di seberang untuk cewek.Bian ikut tidur bersama tim cowok-cowok.


Ting!


Nada dering ponsel Jhena yang kuat mengganggu ngantuk tidur cantik. Jhena membuka ponselnya dan membaca pesan pemberitahuan artikel sekolah yang memang disimpannya.


"Guys, ada berita baru di artilel sekolah. Pertunangan Endru dilaksanakan besok, saat hari pertama ujian sekolah akhir semester!" pekik Jhena membaca judul artikel yang tertera di layar ponselnya.


Semua terkejut terbangun dari tidur-tidurannya, memandang Neva sorot mata cemas.

__ADS_1


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡


__ADS_2