
"Ahkkk,,siall! beberapa kali masukin rumus kok salah mulu jawabannya!" ucap Wilangga frustrasi. Buku tulis yang ada di depanya ini sudah berserakan ke lantai kamarnya, ia sudah beberapa kali mencoba rumus fisikinya untuk mengerjakan tugas sekolah, namun ia belum mampu menyelesaikannya.
Mari kita terheran dan terbingung bersana-sama, sebab ini siang bolong Wilangga mengerjakan tugasnya.
Menghela nafas lelah lalu menutup bukunya, ia sedang meratapi nasibnya besok akan mendapat hukuman dari gurunya.
Ttinggg..
Tttingg..
Wilangga terkesiap mendengar dering dari ponselnya, segera tangannya meraih benda pipih itu dan langsung terbelalak panik.
Tutttttt!!
"Halo, Will!" ah,, lega rasanya mendengar suara perempuan dari seberang sana baik-baik saja.
"Yulan, ka-kamu nggak apa-apa'kan?" tanyanya gugup. Tidak mungkin ia bertanya langsung mengenai gelang tersebut, Yulan tidak tahu apa yang sebenarnya terselip di dalam gelang yang diberikannya pada waktu olimpiade kemarin.
Di seberang sana Yulan kebingungan, "Enggak kenapa-kenapa kok. Memang ada apa?" ucapnya pelan.
Masih menempelkan ponselnta di telinga, tangan satunya asik menjelajah ponselnya yang lain mencari sesuatu tanda dari gelang tersebut.
"Will." bahkan ia tidak menanggapi panggilan dari Yulan. Fokusnya masih menelisik garis merah yang semakin memanjang menuju tanda panah berwarna biru yang berkedip.
__ADS_1
Sementara Yulan masih setia dengan keheningan dari seberang sana, antara heran dan penasaran tidak biasanya seperti ini.
Dalam seketika jantungnyabseperti dipukul sesuatu, ketika mendengar gumaman Willangga yang menyebut nama Neva dalam bahaya.
Willangga tidak menyadari Yulan sudah menutup sambungannya, tetapi kedua tangannya sudah beralih menekan tombol computernya mencari sesuatu dari dalamnya.
Nanti saja ia bertanya mengapa gelang itu ada di tangan Neva, sekarang yang penting menyelamatkan Neva dari tempat terkutuk itu. Dari tanda yang muncul dalam layar ponselnya, garis merah itu mengarah ke sebuah tempat yang terkenal sebagai perkumpulan anak geng motor dan penyelundupan barang haram. Tentu Wilangga sangat mengetahui lokasi itu karena memang anak itu berpengatahuan luas dan alamat yang tertera dari computernya serta rekaman suasana lokasi itu. Sekarang ia harus menyalin nomor seri computernya ke dalam ponselnya, agar semua data alanat serta rekaman selama gelang itu ada di tangan Neva tadi berpindah ke ponselnya.
Deg.
Suara yang berhasil direkam gelang teesebut sudah berhasil terunduh dalam ponselnya, suara ini adalah suara yang sama ketika ajang olimpiade waktu itu.
"Endru! Hubungi bang Bian sekarang juga, kita akan berangkat sama-sama menjemput Neva sebelum terlambat." instruksinya kepada Endru yang sedang meneleponnya.
"Bima, lo mau kemana?"
"Ya pulang lah."
"Lo harus temenin gue ngomong sama bang jack, gue takut sendirian di dalam."
Mendengar itu Bima tersenyum jahat, sudah waktunya perempuan yang di depannya ini hancur. Rasa persahabatannya kalah dengann rasa dendamnya.
" Baiklah, Ikuti gue," ucapnya.
__ADS_1
Tanpa rasa curiga Neva tetap mengikuti langkah Bima masuk ke dalam ruangan ini, ia masih meneliti ruangan yang tampak gelap ini dan tak berjendela sama sekali bahkan pintunya hanya satu, ini layaknya gudang yang sudah tidak dipakai. Tanpa sadar langkah Neva sudah jauh ke dalam ruangan ini, meninggalkan Bima yang masih berdiri di dekat pintu.
BRRAKKK!!
Neva terkesiap memutar badan melihat pintu yang sudah terkunci dari luar. Neva berlari ke arah pintu menggedor-gedor memanggil nama Bima sekuat tenaga, ia terjebak muslihat dari lelaki itu.
"BIMA!! JANGAN TINGGALIN GUE SENDIRIAN WOII, BUKA PINTUNYAA..BIMAA."
"HAHAHA. DADAH NEVA TERSAYANG, LO INGAT LAGI, LO BERADA DI RUANGAN APA SEKARANG. HAHAHAHA. LO HADAPIN BANG JACK SENDIRIAN!!"
Neva tercengang mendengar perkataan Bima dari luar sana, setelah itu terdengar lagi suara motor yang melaju menjauh dari luar.
Ia ketakutan, telapak tangannya sudah memar terlalu kuat menggedor pintu, keringat membasahi seluruh tubuhnya, badannya gemetar mencari suatu benda yang akan dijadikan sebagai alat pelindung diri. Namun seperti yang sudah direncanakan, tidak ada satu pun benda yang dapat ia jadikan, hanya ada meja dan dua kursi. Itu saja.
Yang ia tahu tentang ruangan ini adalah tempat persidangan anggota Black Jack, setiap anggota yang melakukan kesalahan akan berakhir mengerikan di ruangan ini. Bahkan ada satu anggota yang meninggal karena berani berhianat dan alhasil babak belur dari tangan kejam sang ketua geng.
Kesalahan? Yang ia tahu, ia hanya tidak pernah berkumpul lagi bersama anggota lainnya selama ia pindah di sekolah barunya, juga telah menjelaskan kepada bang Jack melalui Bima apa alasannya.
Dan kata Bima juga, alasannya itu diterima bang Jack. Apa jangan-jangan?
Bima telah menipunya memutar balikan fakta. Astaga, ia baru ingat. Bukankah hari itu ia juga di ikuti oleh anggota Black Jack?
ššš
__ADS_1