
Endru diam mematung di sofa melihat amukan papahnya yang sedang membentak seseorang dari telepon sesekali gerutan cemas tercetak di kening tua itu, ia melonjak kaget tangan papahnya berhasil menghancurkan ponselnya sendiri melemparnya ke lantai.
"Satu pun anakku tidak ada yang bisa diamdalkan!" teriak Arifin mengerang frustasi memijit pelipisnya bersandar angkuh pada kursi kebersarannya.
"Bang Arman belum ditemukan," gumam Endru menebak dengan suara pelan takut didengar. Namun sayangnya, jantungnya mau melompat menerima tatapan bengis dari orang yang sedang duduk tegap di kursi kerjanya. Endru memalingkan wajahnya kaku.
"Bagaimana keadaaan mamahmu, apa sudah lebih baik?" tanya Arifin datar.
Endru terhanyak sejenak, tumben sekali dia bertanya tentang kesehatan mamahnya. Tetapi sejurus kemudia ia tersadar bahwa papahnya hanya ingin tahu saja, bukan sejenis pertanyaan perhatian.
"Jawab! Kau memgurusnya dengan baik-kan?" lanjutnya bertanya dengan penekanan.
"Sudah lebih baik," jawabnya membuang muka tersenyum kecut.
"Bagus, itu sangat bagus. Kau bisa mempertahankannya tetap hidup sampai di hari pertunanganmu nanti, nyalimu kuat sekali memilih nyawa wanita itu," ujar Arifin terkekeh merasa lucu sendiri tatapan mencemooh Endru.
Mencengkram ujung sofa menekan luapan emosinya, pria tua ini begitu sangat dibemcinya sekarang. "Aku mau keluar, permisi!"
"Pergilah kau. Dan jangan lupa apa yang papah katakan tadi, jangan coba kabur lagi dari pertunanganmu kali ini, dan terima semua persiapan yang sudah disershkan pada keluarga Inggrisa, tidak ada bantahan atau pun penolakan. Paham!" ucap Arifin sorot mengancam.
Endru tidak bergeming, hatinya hancur menghadapi kenyataan hidup yang harus diterimanya ancaman papahmya. Membuka pintu lalu melangkah keluar meniggalkan papahnya.
Arifin mengesah panjang memikirkan rencananya tidak berjalan mulus. Mengepalkan tangan kuat-kuat, membanting figura putra pertamanya Arman, berani sekali membawa kabur surat warisan asli itu mencuri dari ruangannya dan sekarang kabur dari rumah.
"Bodoh sekali aku bisa tertipu anak itu. Apa sebenarnya tujuan Arman ikut-ikutan merebut warisan itu?" tanyanya geram.
Arifin mulai memyesali telah terbuka tentang warisan itu pada Arman, menberi tahu seluk-beluk surat kuasa itu. Ia berpikir tidak mungkin anak itu menghianatinya, toh mereka sama-sama untung juga kalau suatu saat nanti surat itu sudah waktunya dibuka. Tapi nyatanya? Arman adalah saingan dalam selimut, putra kandungnya sendiri, orang yang paling diprioritaskan dalam hidupnya.
Lama melamun sampai tidak mendengar pimtu terbuka dan masuklah sang asisten pribadinya berdiri tegang. "Tuan," sapanya ragu-ragu.
"Kau," ucap Arifin terhanyak. Mempersilahlan asistennya duduk di bangku di hadapannya. "Cepat katakan," ucapnya tegas.
Tangan keriput asisten menyodorkan map biru tua ke hadapan bosnya, menghela napas panjang sebelum ia melaporkan apa yang ada di dalam map itu. Arifin terburu-buru membukanya, membaca baris per baris kalimat berisi biodata dan melihat foto-foto yang terlampir dengan seksama. Jiwa iblisnya muncul dari atas ubun-ubunnya setelah mendengarkan penjelasan dari orang yang paling dipercayainya ini.
"Namanya Ratu Vani siswa dari sekolah kita juga teman satu kelas Inggrisa. Dia baru saja dipecat karena kasus narkoba yang menimpa gadis itu, dan dia juga terbukti melakulan itu setelah dites urin, tetapi gadis itu sepertinya baru mengkonsumsinya beberapa bulan lalu. Dan ini adalah poin pentingnya, Tuan. Ratu adalah mata-mata yang digunakan Arman di sekolah untuk mencaritahu tentang apa saja yang ada di sana, membantu Arman untuk menculik Meva, Ratu harus melaporkan apa saja yang dilakulan dan kesempatan untuk menculik Neva. Sekarang gadis itu sudah ada di rumah pihak rehabilitasi," tutur asisten dengan kalimat hati-hati.
__ADS_1
Tersenyum miring Arifin meremas selembar foto gadis itu, kerutannya semakin terlihat jelas kalau sudah marah begini. "Lalu apa gadis itu sudah mau bicara?" tanyanya.
"Sudah. Ratu juga tidak tahu di mana Arman berada, bahkan dia baru tahu Arman kabur melarikan diri membawa buku harian Nyonya Mitha, dan surat warisan itu-" terpaksa ia menghentilan ucapannya karena Arifin tiba-tiba berdiri memukul meja kaca dengan napas yang memburu.
"Ja-jadi anak itu berhasil menemukan bukti-bukti itu! Tidak! Kacau semua kacau, berani sekali dia," geram Arifin.
"Tuan, lalu apa yang harus kita lakulan selanjutnya?" tanya Asisten gugup, agar cepat-cepat keluar dari sini.
"Saya ingin pertunangan Endru dilakulan besok lusa, secepatnya. Ini satu-satunya jalan agar Aristo terikat pada kita dan mau membantu kita untuk menghadapi bahaya yang sudah mengancam," ucapnya cemas sembari berjalan mondar-mandir mengelilingi ruangan.
"Ma-maaf, Tuan. Bukankah Tuan sendiri yang sudah menyerahkan semua urusan pertumangan pada keluarga Tuan Aristo? Jika pihak kita memajukan hari, itu sama saja kita tidak menghargai keputusan mereka. Tuan, pertumangan mereka tinggal tiga hari lagi. Itu yang sudah tersebar di dalam undangan," ujar asisten satu tarikan napas sangkin merasa gugup.
Arifin bingung.
Rencananya tidak semulus yang dipikirkannya. Telah mengancam Endru dengan memperalat kesehatan Mitha, itu pun tidak cukup berguna. Sekarang ada hal lagi dengan penghianatan Arman, apa yang sebenarnya direncakannya dengan membawa surat warisan dan buku bukti itu? Satu ancaman lagi, Putra telah berhasil mengeluarkan Michael dari persembunyiannya.
"Di mana kau Adi Putra sialan!"
Dia tidak benar-bebar pergi, sedikit banyaknya percakapan papahnya telah terekam dalam ponsel rahasianya. Willangga membekalinya sebuah alat perekam suara berbentuk mini yang berhasil di simpan dalam ujung cela sofa, jarinya menyimpan file hasil rekaman dan mengirimkannya pada Willangga sebelum satu jam lagi alat itu tidak berfungsi lagi karena memang dayanya masih terbilang rendah. Ini pun sudah cukup.
"Endru." gumaman kecil itu terdengar lirih mampu membangunkan Endru dari rasa kantuknya.
Tatapan lembut bertemu tatapan rindu, bangkit perlahan dibantu Endru meraih mendekap punggung putranya. "Boleh kali ini mamah yang mengusapmu agar Endru tidur sebentar, pasti lelah'lan merawat mamah sudah berhari-hari sampai kau tidak masuk sekolah," ujar mamahnya perhatian dan rasa bersalah.
Ya, mamahnya tahu Endru tidak masuk sekolah karena merawatnya.
"Enggak, aku nggak merasa leleh, Mah. Endru justru merasa bangga sama dori semdiri, masih remaja udah pintar merawat orang tua, anak cowok lagi. Coba lihat di luar sana, mamahnya sakit bukannya dirawat justru asik buan story sosial media. Iya'kan, Mah," ujarnya bercanda menghibur diri.
"Kau ini," sahut mamahnya lembut.
"Mamah kenapa bangun?"
"Mamah sebenarnya tidak tidur dari tadi pagi, bosan di kamar terus," keluhnya.
Endru tidak menjawab, menghirup aroma mamahnya begitu memenangkan pikirannya yang rumit.
__ADS_1
"Nak!"
"Iya, Mah," jawabnya mendongak.
"Abangmu Arman sudah beberapa hari terakhir suaranya tidak terdengar di rumah, apa dia baik-baik saja? Perasaan mamah tidak enak, mimpi buruk tentang abangmu itu mengganggu pikiran mamah," ungkapnya mulai bergetar.
Bergeser mengganti posisi memeluk mamahnya. "Bang Arman lagi ada praktek kuliah di luar kota, sibuk banget katanya. Itu pun dia belum tahu bisa hadir atau tidak di pertunanganku nanti," jawabnya berbohong.
"Hah, mamah sangat merindukan putra-puta mamah ini."
Hantaman besar di ulu hati Endru. Bagaimana bisa ada perempuan sehebat tangguh mamahnya yang sangat tulus menyanyangi putra tirinya Arman, sementara Arman entah di mana sekarang dengan tidak tahu dirinya pergi membawa surat milik mamahnya, membawa saksi kunci kesembuhan keluarganya. Menghela napas kasar meredam emosinya.
"Ssshhhh," lenguh Mitha merasskan sakit di kepalanya.
Beginilah kondisi kesehatannya sekarang, setiap memori yang terlintas di ingatannya mulai berputar, setiap ia mulai merasa camas, kepakanya akan terasa sakit seperti ditusuk-tusuk bahkan jika terlambat saja minum obat mungkin sampai pingsan. Tetapi minum obat pereda sakit kepala itu pun tidak terlalu dianjurkan sebenarnya mengingat dosisnya tidak seimbang pada daya tahan imun mamahnya, uang Endru tidak cukup untuk membeli obat terbaik untuk mamahnya.
"Alihkan pikirannya." itulah saran yang diberikan dokter spesialis dikirimkan Pak Septer untuk membantunya.
Membuka ponsel rahasianya menyentuh mencari sesuatu di dalam sana, ini adalah potongan suara seseorang yang sedang bernyanyi bermain gitar. Pak Septer bilang, hanya vidio ini yang berhasil didapatkannya dari Bu Priska, vidio kenangan mamah Mitha dan ayahnya Michael sewaktu pacaran.
Berhasil! Mamahnya seperti terhipnotis dengan suara vidio ini, menonton layar hitam itu dengan pandangan yang sulit dibaca, mengussp layar dengan lembut. Perasaan hangat menjalar di seluruh tubuhnya setiap kali vidio itu diputar, sepertinya ia mengenali si pemilik suara yang sedang bernyanyi ini. Tapi siapa?
Hampir lima kali diputar ulang tidak bosan, mamahnya benar-benar tidur siang sekarang. Huh, Endru menghembuskan napas lalu bangkit berdiri masuk ke dalam ruang ganti baju.
Sekarang waktunya bertukar pesan.
Pak Septer. Mengucapkan terima kasih telah membantunya, mulai dari mengirim dokter sampai mengambil kenangan tertinggal berupa vidio yang ditonton mamahnya tadi, bahkan baru saja ia dikirim obat untuk mamahnya secara rahasia melalui salah seorang guru yang akan datang ke raumahnya menjemput tugas-tugas sekolah. Ia merasa terharu oleh kebaikan guru ini. Bapak itu dengan ringan tangan membantunya memulihkan ingatan mamahnya.
Willangga mengatakan, Neva masih berusaha keras mencari tahu kabarnya, bahkan mereka semua hampir dibuat kelimpangan menghadapi pacarnya. Sekarang yang harus dicari jalan kelyarnya agar mereka bisa bertemu diam-diam. Baik Will mau pun ia sendiri belum menemukan ide cemerlang.
Apakah Neva tahu, ia lebih merindu darinya?
Satu yang disyukuri Endru, hadir di antara sahabatnya yang sangat mendukungnya. Awalnya ia takut kehilangan mereka karema telah memilih melanjutkan pertunangan itu, takut dijauhi takut tidak berteman lagi, maklum saja seumur hidup baru ini ia merasa disayangi oleh temannnya tanpa memandang latar keluarganya. Tetapi keadaannya berbanding baik. Tenannya pun tahu pertunangan ini bulan hal yang dimaunya, mereka memberi usulan-usulan aneh untuk mengagalkan, memberikan saran nasihat tentang hubungan beratnya bersama Neva. Kalau Neva sampai tahu isu pembunuhan ayahnya?
Apa yang harus dilatakannya nanti? Ini hal yang belum siap dihadapinya, jangan sampai Neva tidak mencintainta lagi.
__ADS_1
ššš