
KKRRINNGGGG!!!
Lonceng pulang sekolah adalah lonceng terindah yang ditunggu semua siswa, cepat-cepat membereskan buku ke dalam tas masing-masing lalu berhambur keluar ruangan.
Lain dengan Endru yang tidak beranjak dari kursinya, berpangku dagu dia atas tangan. Bersandar menghela napas kasar hari ini adalah hari termalasnya. Neva belum masuk sekolah, makanya tadia dia tidak gentayangan ke kelas dua. Dan juga sebentar lagi rapat osis, pasti membahas tentang perayaan ulang tahun yayasan. Sudah beberapa kali dirinya absen tidak menghadiri rapat, bahkan buku osis pun tidak pernah dibukanya lagi. Tetapi siang ini ia harus menghadiri rapat kali ini, setelah pulang dari rumah sakit tadi malam dirinya disambut dengan omelan panjang kali lebar dari papahnya karena bolos rapat osis. Padahal ia ingin sekali menjenguk Neva.
Dengan tidak semangat seperti kaki tak bertulang ia memasuki ruang rapat, masih sepi ternyata baru beberapa orang yang datang.
"Endru, hari ini kau menghadiri rapat osis ternyata!" ucap Bu Priska menyindir.
Endru terhanyak melihat guru BK ini seperti hantu tiba-tiba datang, tersenyum sopan memberi hormat. "Iya, Bu."
"Uhm, baiklah. Sekretarismu belum hadir ya? Saya mau izin tidak ikut rapat hari ini."
"Kenapa, Bu?"
"Mau gantian menjaga Neva di rumah sakit, Bian lagi ada kerjaan siang ini." Priska tersenyum misterius. Ekor matanya memperhatikan wajah Endru yang sepertinya sedang gelisah, apa muridnya ini mulai terusik perkataannya?
Priska membuka pesan masuk dari ponselnya dan membaca isi pesan teks tersebut. "Ah, Endru. Saya permisu dulu, Bian udah berangkat kerja. Kasihan Neva sendirian di rumah sakit, Ibu permisi."
Priska berjalan terburu-buru. Namun sebelum pergi ia kembali menoleh dengan ekor matanya melihat reaksi Endru, selamat bertemu di rumah sakit.
Endru mulai gelisah, berpikir dengan cara apa lepas agar tidak mengikuti rapat. Sial! Ternyata pengawal yang ditugaskan papahnya berdiri di dekat pintu ruangan. ponselnya disita papahnya, ia harus melakukan sesuatu.
"Chatryn!" yang dipanggil tersentak, Endru tiba-tiba menghampirinya dan menggebrak mejanya.
"Lo bertugas sebagai apa di sini?" tanya Endru. Perlahan gerakan tangannya menjelur ke sela-sela proyektor yang berada di samping meja Chatryn. Sengaja ia menggunakan tatapan horornya agar Chatryn teralih dari fokusnya yang sedang menyiapkan layar. Bukan dia sebagai sekretaris, tetapi entahlah suka-suka Chatryn saja.
"Gue sebagai seksi dekorasi. Kenapa?" tantang Chatryn melotot.
__ADS_1
"Iya kah!" Hap! Kabel penyambung proyektor sudah terputus karena jarinya. "Ok, deh. Ternyata lo masih berguma di sekolah ini."
"Sialan!" Chatryn mendengus kesal. Ia tidak menyadari apa yang telah dilakukan Endru pada benda yang di sampingnya ini.
Berhasil!
Waktu rapat diundur satu jam lagi, proyektornya sedang diperbaiki. Endru harus melakukan aksi selanjutnya.
"Bang, gue mau ke toilet itu. Abang mau ngikutin juga?" tanya Endru pada pengawal yang mengikutinya dari tadi.
"Iya, itu sudah menjadi tugas kami. Mengikuti kemana pun Endru pergi."
Hanya mengangguk saja, kembali melanjutkan perjalanannya ke dalam toilet.
Kamar mandi ini adalah kamar mandi paling buruk di sekolah, harus menahan bau amis yang bersal dari dalam.
Di luar dua penjaga sudah mengomel menutup hidung karena tidak kuat menahan bau dari dalam, Endru juga harus menahan napas demi bertahan dalam bilik toilet ini. Mengintip dari celah pintu, ke dua penjaga tanpa sadar melangkah menjauhi kamar mandi. Dengan sekejap mata, Endru sudah keluar dari bilik toilet menutup pintunya kemudian masuk ke dakam bilik toilet yang berada di dekat pintu keluar mengarah ke gerbang belakang sekolah.
Yes,,semua ada jalan.
Endru cepat-cepat masuk ke dalam mobil Willangga yang sudah ada di luar gerbang belakang sekolah.
Andreas sedang menyetir mengejar waktu semantara Willangga sedang asik melakukan sebuah peretasan cctv di belakang sekolah.
š¹š¹š¹
"Bu Priska, a-aku lapar. Kita makan ke kantin sebentar ya, Bu!" Yulan memelas berakting sebagus mungkin.
Priska tersenyum melihat Yulan, tadi mereka ber dua berangkat bersama menjenguk Neva.
__ADS_1
"Baiklah. Lagi pula Nevanya sudah tidur."
Priska berjalan lebih dulu di susul Yulan, Yulan memberi senyuman kepada orang yang sedang mengendap di dinding sana.
Ttrringgggg!!!
Neva tercengang melihat siapa yang sedang tersenyum manis tepat di dekat wajahnya, hampir saja berteriak kalau tidak segera jari telunjuk Endru menyentuh bibir mungilnya. Entah kenapa, suara Endru cepat mengangkatnya dari alam mimpinya.
"Neva," Endru menyingkirkan jarinya. "Ak- eh gu-gue bawaain ini buat lo," sumpahh Endru jantungnya jadi tidak karuan begini. Mengeluarkan tanganya dari belakang badannya, setangkai bunga mawar merah segar terpatri di wajah Neva.
Neva malu-malu, menenggelamkan wajahnya dalam selimut. Ini juga, siapa sih yang tidak baper diperlakukan manis seperti ini? Tidak munafik, ia menyukai tindakan romantis Endru. Tapi,,,,.
Endru menghela napas kasar, salah paham.
"Lo tahu nggak? Hari ini gue bolos lagi dari rapat osis itu, semalam juga bolos," ucap Endru mengelus selimut yang menutupi wajah Neva. "Gue mau kita berteman seperti kemarin, nggak jauhan kayak sekarang. Gue janji bakal lindungin lo dari fans-fans gue yang mau nyerang lo lagi. Gue nggak akan biarin orang yang seperti si Ratu nyakitin Lo. Asalkan lo terima bunga ini dan kita berteman lagi 'teman tapi mesra maksudku." meletakkan bunga mawar sudah terbungkus plastik bening di samping tangan Neva.
Deg
Deg
Deg.
Bukan karena selimut ini yang membuatnya susah berbapas. Endru mengorbankan diri demi dirinya, rapat osis itu adalah hal yang sangat penting bagi Endru. Itu yang ia tahu.
Hap! Geait sekali, ia mengambil bunga dan menenggelamkan wajahnya lagi dalam selimut.
Endru terkekeh bahagia, itu artinya Neva akan berteman dengannya lagi. Mengelus pucuk kepala yang menyembul keluar dari selimut "Itu berarti kita berteman lagi. Tapi , jangan sampai lo nggak bernapas di dalam selimut itu."
"Ihh. Pulang sana!!" gumam Neva suarannya tenggelam.
__ADS_1
"Iya deh, pulang," ujarnya manja-manja. Endru mendekatkan wajahnya ke selimut yang menutupi wajah Neva, berbisik di telinga Neva "Semoga lekas sembuh." mengelus kepalanya sekali lagi.
ššš