Kisah ABG

Kisah ABG
Menuju Pertunangan


__ADS_3

Siapa yang mengunci kamarnya ya, Perasaan tadi dia tidak menguncinya? Berdecak sebal berpikir mungkin ia salah ingat. Berjalan di lorong ruangan belok kanan penghubung pintu kamarnya dan kamar Gio, ada pintu menuju balkon.


Tepat jam 22:30 dinginnya angin malam tidak mengurungkan niat Neva untuk berada di balkon berlama-lama, merenung menatap bulan ditutupi awan hitam. Semua orang sudah tidur lelap, sementara matanya masih terjaga memikirkan ungkapan Jhena tadi. Menyangga tangan di besi pagar pembatas balkon, mundur sedikit mengamati ponsel yang digemgamnya. Telepon tidak ya? Entah mengapa ia menjadi ragu.


Beberapa saat dilewati dengan pikiran berkacamuk, mendesah kasar pada akhirnya ia membuka ponsel mencari nomor Endru menyambungkannya, mempersiapkan batin mendengar jawaban Endru nanti. Jam segini Endru belum tidur, harusnya dia ceoat mengangkat telepinnya.


"Halo!"


Suara serak dari seberang sana membuat jantungnya gugup, sampai lupa membuka mulut.


"Halo, ini siapa? Saya tutu-"


"Neva."


Endru di rumahnya teecengang kantuknya hilang begitu saja. Seketika bangkit dari tidurnya berjalan masuk ke dalam ruang ganti baju. "Neva, ini serius? Tidak nipu?" tanyanya belum percaya tetapi tangannya sudah mencengkram dadanya yang semakin bergetar membayangkan ini mimpi.


"Iya, ini aku Neva. Um, kamu udah mau tidur ya? Maaf menganggu, kalau gitu aku tutup tel-"


"Jangan! Nggak ngantuk lagi setelah mendengar suara wanita yang sangat kurindukan!" ungkap Endru jujur. Tersenyum cerah di gelapnya ruangan, meraih bantal boneka kura-kura yang memang miliknya dari atas lemari duduk lesehan di lantai sudut lemari menopang tangan pada boneka.


"Endru."


"Hum, Neva. Kok suaranya jadi berat gitu sih?" tanya Endru pada Neva mendengar suara cewek itu.


Neva mencengkram besi pambatas balkon, mendengar suara cowok itu saja sudah membuatnya bahagia. Karena besok! "Semoga besok pertunangannya lancar ya," ucapnya berat hati.


"Enggak Neva. Aku setiap malam berdoa pada Tuhan agar pertunangan itu berantakan, segala cara sudah kucoba untuk menggagalkan pertunangan ini. Neva, aku hanya memcintaimu."


Mengusap air mata yang sudah menetes di pelupuknya, menggigit bibirnya agar tidak terisak. "Jangan lakukan hal itu lagi, itu bisa membahayakan nyawa Tante Mitha membahayakan hidupmu juga. Aku pun sama mencintai kamu. Bang Bian sudah memceritakan semuanya, apa kamu sudah membaca isi surat itu? Semuanya sulit, Ndru," ucapnya sekali tarikan napas karena mulutnya berbicara namun hatinya berbohong.


Endru termenung mengingat pertengkarannya dengan Daniel di jalan raya waktu itu, dan Will yang memberitahukan isi surat itu padanya. "Atas nama kakek, aku minta maaf. Tapi sumpah, aku tidak tahu tentang itu!"


"Kamu enggak salah kok minta maaf. Keluarga ku pasti tidak menyetujui hubungan kita,"


Endru mulai paham, ternyata cewek ini belum mengetahui tentang masa lalu persahabatan oramg tua mereka. Baiklah! Menarik napas dalam-dalam, ini keputusan yang harus diambilnya.


"Neva, apa kamu masih percaya denganku?"


"Apa?"


"Sekali lagu bertanya, dan jawab setegas-tegasnya. Kumohon! Apa kamu masih percaya denganku, cinta ini hanya kamu Neva! Meskipun sebentar lagi aku bertunangan dengan perempuan yang bukan kuinginkan, kamu percaya'kan aku akan tetap mencintaimu?!" tanyanya mendesak.


Neva masih tidak bergeming.

__ADS_1


"Neva!"


Tersentak dengan suara sendu Endru, memijit keningnya sedikit pusing. "Aku percaya!" jawabnya tegas dengan perasaannya semdiri. "Selama kamu bisa menjamin sesuatu untukku," lanjutnya juga meminta kejelasan.


"Makasih, itu jawaban yang kutunggu. Kamu bisa pegang janjiku, berikan aku kesempatan untuk memperjuangkan cinta kita. Tetap percaya dengan cinta kita, dan aku pun percaya kamu tidak hilang dari perasaan ini."


Ia memangis terharu memgusap air matanya, perasaan cemas dan takut mepanda hatinya. "Tapi tolong, jangan siksa hidupmu sendiri hanya karena ini, Ndru," ungkapnya memahan isakan.


"Aku tidak apa-apa! Aku akan datang memelukmu dalam keadaan baik-baik saja, tunggu aku! Aku tidak akan melangkah jauh aku tidak akan pergi."


Perasaan Neva semakin tidak karuan mendemgar ucapan aneh terlontar dari mulut Endru, meremas ponselnya menahan napas. "Aku tunggu janjimu, Ndru, cepat datang padaku dan membawa kabar baik. Aku tahu melawan papahmu tidak mudah, apa pun yang akan kau lakulan nanti pentingkan diri kanu dulu. Selamat berjuang, doaku untukmu dan untuk cinta kita." Entah mengapa napasnya terjebak di paru-parunya, rasa cemasnya mendominasi dalam dirinya.


"I love you!"


"Aku mau kamu nyanyi sebait pun tidak apa, boleh?" pintanya. Entah mengapa permintaan itu muncul begitu saja.


Endru menurut, dia bernyanyi bahkan satu lagu dengan penuh cinta. Suaranya terdengar pelan namun indah di keheningan malam. Neva tersenyum hangat, ia juga sesekali mengguman mengikuti lagu dalam hati. Setelah lagu selesai, mereka masih menyempatkan diri untuk bercanda dan saling menggoda sampai hampir satu jam memuaskan rindu.


"Terima kasih. I love you banyak-banyak!" ungkapan penutup dari Neva. Sambubgan terputus, jari Neva menyimpan rekaman teleponan tadi di dalam ponselnya.


Berbalik wajah lesu, ada teman cewek-cewek mengantri berbagai macam pandangan. Menarik napas panjang, tidak apalah bercerita mengurangi beban pikirannya.


"Semoga kecemasan kamu tidak terjadi, berdoa agar semua rasa takut itu hilang dan tidak nyata," nasihat Yulan pada Neva.


Ini masih terlalu pagi untuk bangun, namun deringan ponselnya berbunyi berkali-kali memaksanya untuk membuka mata.


Arifin merutuki mengangkat telepon dari sketarisnya, mengesah panjang menuruti apa yang dikatakan si sketaris itu. Membuka berita bisnis dan berselancar di berbagai portal berita.


"BANYAK NILAI DIPALSULAN! MURID DARI KE DUA PEMILIK SAHAM YAYASAN SMA DHARMA BAKTI JUSTRU MELAKSANAKAN PERTUNANGAN DI HARI PERTAMA UJIAN AKHIR SEMETER!"


"INGGRISA GELVANI SELALU MENDAPATKAN NILAI TERBAIK, PADAHAL JARANG KE SEKOLAH KARNA KARIER. BERIKUT DATA-DATA NILAI YANG BOCOR DI INTERNET!"


"BERUNTUNG LOLOS DARI HUKUMAN, TERNYATA MURID LAKI-LAKI INI ADALAH ANAK DARI PEMILIK YAYASAN!"


"Ih, kekuatan orang dalam nih bos, srepet!"


"Orang pintar akan kalah dengan kekuatan orang dalam! Mantap!"


"Ujian dulu baru tunangan, mentang-mentang bapaknya yang punya sekolah!"


"Lain kali jangan begitu ya, watermak menn!!"


"Nih akun ignya guys, yoklah silaturahmi @Alven_En @Inggrisa_Official..Ini aku bapaknya guys, sugar dady, sabilah! @Arifin_Alvenrios_Nahtamura @AristoMahendra...Ramekan kuy*!"

__ADS_1


Arifin menggeram marah membaca judul berita dan komentar yang membanjiri sosial media miliknya, mengumpati satu-per satu pada setiap nama akun yang dibacanya.


Kepalanya terasa mau pecah lagi, mengangkat sambungan telepon dari Aristo yang mengamuk padanya memperjelas acara pertunangan nanti, Arifin memohon-mohon agar tetap melanjutkannya. Napasnya semakin tersengal, artikel sekolah sudah dibanjiri komentar siswa dari sekolahnya terutama dari kelas tiga. Setelahnya para kolega bisnis yang bekerja sama dengan pihak yayasan menuntut penjelasan darinya.


Melirik jam 05:00, satu jam sudah ia terbangun dengan perasaan marah padahal hari masih sangat pagi.


"Brama! Cepat selesaikan masalah ini sebelum jam sembilan pagi!" bentaknya memberi perintah pada Pak Brama.


"Saya juga tidak tahu, Pak. Ini semua terlalu tuba-tiba, dan hari ini ujian, itu yang menjadi fokus saya."


"Kau menolak perintahku! Cepat selesaikan saya bilang, apa pun caranya! Kalau sampai berita ini tidak hilang sebelum jam sembilan pagi, kamu saya pecat!" ucapnya emosi.


"Itu lebih baik!"


"APA KATAMU HAH!" bentak Arifin.


"Maaf, Pak. Saya sedang bersiap lebih awal ke sekolah untuk mengurus ujian!" Menutup sambungan sepihak. Ini sudah menjadi pilihannya tidak ikut campur masalah ini, pesan Priska dan Septer cujup menghindar dari amukan Arifin dan para wartawan yang mungkin sebentar lagi akan memadati gerbang sekolah.


Di rumah Neva.


Semua tampak tidak bersemangat pagi ini, wajah-wajah tegang itu menjadi sambutan yang paling menyedihkan.


Bu Priska sudah menghidangkan nasi goreng spesial dan omlet sehat isi sayuran serta vitamin untuk mereka.


Pada akhirnya soal rasa tidak pernah bohong, makanan itu habis tidak tersisa padahal tadi tidak bersemangat katanya. Priska tersenyum memggeleng seraya mengawasi mereka harus minum vitamin itu.


Neva dan teman-temannya sudah bersiap ke sekolah, berkumpul di teras rumah menunggu Bu Priska.


"Kalian semua harus fokus untuk ujian, menjawab soal yang aian kalian kerjakan nanti. Itu yang terpentung!" pesan Bu Priska.


Menoleh ke arah Neva, menatap serius putrinya itu. "Kamu Neva, di otak kamu jangan Endru terus. Masih ada hal yang lebih penting dari itu, masa depan kamu. Ibu harap belajar tadi malam dapat berguna menghasilkan nilai yang lebih baik dari sekolah kamu sebelumnya."


"I-iya, Bu," jawabnya menunduk.


"Bembi, semoga kamu berhasil naik rangking ya."


"Semoga, Bu!" jawab Bembi semangat.


Setelah beberapa saat berdoa bersama, mobil Will, motor Daniel, dan mobil Priska berlalu meninggalkan rumah Neva.


Sementara barang-barang mereka semua akan di antar jemput oleh supir Chatryn.


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡

__ADS_1


__ADS_2