Kisah ABG

Kisah ABG
Penyambutan Yulan


__ADS_3

Hari ini Yulan diperbolehkan dirawat di rumah oleh dokternya, tentunya dengan segala persyaratan pengawasaan ketat oleh tim yang menangani Yulan. Adaptasi jantung baru pada tubuhnya berjalan dengan baik tanpa penolakan, berkat kegigihan ingin sembuh dan peralatan medis yang memadai mendukung proses pemulihannya. Harus mendengarlan saran dari dokter, belum boleh melakukan aktifitas yang melelahkan dan harus hidup teratur tentunya. Sekali seminggu harus kontrol kesehatan, dan ada beberapa hal lagi.


"Calon martua yang terhormat, izinianlah saya sebagai calon mantu untuk mendorong kursi roda Yulan. Ya,,ya,,ya,," Willangga memasang wajah memelas.


"Baiklah," jawab mamah Yulan mengangguk pelan.


"Mah," papa Yulan masih ragu.


"Sudahlah, Pah. Lebih baik papah bawa tas saja," usul mamah Yulan. Sedangkan suaminya menerima perintah tanpa berani protes lagi. Suaminya diam menurut. Mereka semua pulang berpamitan pada suster dan tim yang masih harus tinggal di rumah sakit ini.


Dokter dan perawat tersenyum senang melihat lelaki remaja ini memperlakulan Yulan dengan sangat manis. Membantu turun menggendong ke atas kursi roda, menyisir rambutnya. Pamit pada dokter, mereka pulang bersama-sama menuju rumah Yulan.


"Semoga kalian berjodoh," doa si dokter tersenyum hangat.


"Ini adalah bunga-bunga layu yang setiap harinya dikirim ke dalam kamarmu, suster sudah mengemasnya dengan baik. Semoga hubungan kalian langgeng."


Wajah gadis ini berseri tersenyum bahagia sepanjang perjalanan, ia akan bertemu dengan rumahnya tidur nyaman dalam kamarnya, bertemu lagi dengan teman sekolahnya, dan Willangga pacarnya.


Perasaannya sudah tak sabar ingin cepat-cepat turun dari mobil ini.


"Tunggu!" Will merentangkan ke dua tangannya menghalangi langkah orang tua Yulan.


"Ck, tidak sopan kamu," ujar papa Yulan jengkel.


"Ehehe! Biarkan kami yang lebih dulu masuk," ucap Will cengir kuda.


"Ck! Kenapa dia jadi seenaknya saja?!"


"Pah, sudah! Jangan cemberut begitu. Ya, silahkan!" mama Yulan memperingati suaminya.


"Kamu siap masuk rumah?"


"Siap!" Yulan mengangguk antusias. Will dengan posesif menjaga kursi roda agar tetap seimbang menaiki beberapa anak tangga teras rumah.


"Buka pintunya, Yulan." Will membantu Yulan membuka pintu rumahnya.


Daun pintu terbuka lebar, pemandangan dalam rumah membuat Yulan terpaku, begitu pun ke dua orang tuanya.


"SATU!! DUAA!! TIGGA!!" seru Neva memulai aksi penyambutan.


DOOR,,DORR!!


"SURPRISEEE!!"


"SELAMAT DATANG KEMBALI YULAN!" ucap mereka serempak bertepuk tangan.


Kertas warna-warni berjatuhan dari balon yang menggantung di atas, spanduk bergambar Yulan dan tulisan selamat datang terpampang lebar yang dipegang oleh teman lainnya, suara terompet bersahutan ditiup teman yang lain. Seruan penyambutan Yulan membuat Yulan terharu, menangis sambil tersenyum menerima semua perlakuan hangat ini.


"Ada kejutan lagi loh!" seru Willangga antusias. Berjalan menghampiri Neva.


Will kembali ada buket bunga mawar putih di tangannya.


"Ini bunga spesial dari saya Willangga sebagai chalon menantu om dan tante," Will berucap percaya diri. Menyodorkan setangkai mawar putih di hadapan mama Yulan, wanita itu tersenyum hangat menerimanya. "Terima kasih," ucapnya tulus.


"Dan ini untuk calon papah martua." menyodorkan satu tangjai mawar putih pada papa Yulan. Dengan kasar bunga itu diterima juga, tanpa ada ucapan terima kasih. Will tersenyum kecut.


Berlutut sejajar dengan posisi Yulan, Will memberikan buket bunga mawar yang lebih banyak ke dalam pangkuan Yulan.


"Ini untukmu," ujar Will tersenyum mempesona.


"Makasih, Will." menerima bunga dengan hati bahagia kemudian menghirup aroma bunga dalam-dalam.


Sekarang mereka sedang berada di meja makan, hidangan makan siang tertata dengan berbagai macam menu makan siang. Mama Yulan sudah mempersiapkannya dengan baik, teman Yulan pun ikut makan menu sehat untuk Yulan.


"Kalau makan aja, cepat banget tuh gerak. Huh!" Willangga meledek Bembi yang sudah tidak sabar untuk makan.


"Biarin aja, wlekk!! Makan adalah hobbiku!" balas Bembi sengit. Andai saja semua orang sudah berkumpul pasti makan makanan sudah dimulai, Yulan masih di kamarnya membersihkan diri. Cacing di perutnya sudah demo minta makan, menunta juga terlihat istimewa menggugah selera.


Di seberang mereka ada Chatryn dan Daniel duduk bersampingan, anak ber dua ini belum akur sampai sekarang. Chatryn harus berbuat apa lagi agar dimaafkan?


"Ingat! Jangan ada yang kelihatan tidak baik-baik saja di depan Yulan, semua harus terlihat biasa saja," Endru tegas memperingati Daniel dan Chatyn.


Doa makan dimulai, satu per satu dari mereka mulai menyantap makan dengan hikmat. Seperti ada yang kurang enak, orang tua Yulan pamit masuk kamar istirahat dulu. Pasti teman-teman putrinya merasa segan terhadap mereka.

__ADS_1


"Ahhk,,gilaaa! Tatapan papah kamu tuh datar-datar banget, Lan. Jadi merinding sendiri lihatnya." Neva menghela napasnya.


"Iya, memang gitu. Maaf ya, kalau papaku bersikap seperti itu," ujarnya jadi tidak enak hati.


"Nggakpapa, asal nggak ditelen aja hidup-hidup," sahut Neva bercanda. Kemudian ia melanjutkan kegiatan makannya.


"Siap-siap lo Will, ngadepin martua modelnya kayak papah Yulan. Keokk!!" ledek Bembi terkikih geli.


Yang diledek tidak menanggapi, asik makan dan melirik Yulan yang sedang minum.


"Rio, bagi tempe yang di depanmu dong." Chatryn menunjuk piring berisi tempe di depan Rio.


"Nihh!" Rio berdiri menggeser piring.


"Aku suka tempe, mau dimasak seperti apa pun tetap enak. Ya nggak, Dan?"


"Iya," jawabnya Daniel pendek.


"Tryn lo suka tempe?" Rio menimbrung.


"Kan'tadi udah gue bilang. Budeg lo ya," Chatryn sewot.


"Kalo tempe yang berbulu?"


"Ha? Te-tempe berbulu," Chatryn cengok. Otaknya belum mencerna.


Neva dan yang lain sudah memerah menahan tawa. "Tempe berbulu! Ahahaha!" tawa Neva pecah seketika.


"Apa itu! Ya ampun Riooo,,Rio!" Will menyoraki Rio. Perutnya keram karena tertawa mendengar celetukan Rio.


"Apasn sih tempe yang berbulu itu? Emang ada?" wajah Chatryn polos kebingungan ingin tahu.


Semua terbahak melihat ekspresi Chatryn, Bembi tersedak makananya untung ada Will yang membantunya memberi minum.


"Udah,,udah! Jangan dengerin mereka, Tryn. Lanjut makan aja," ucap Daniel merasa terganggu melihat temannya mengelabui otak polos Chatryn.


"Acciee,,ciiee! Ada yang ngebelain, nih!" Bembi menggoda Daniel.


"Ungh-" Dani mati kutu, membuang pandang malu.


"Tryn, lo nggak mau tahu apa itu tempe berbulu?" Neva mengompori.


"Neva," Endru memberi peringatan. Neva tidsk peduli.


"Emang apa?"


"Coba tanya Jhena, dia punya soalnya," ucap Neva dengan tidak tahu malu.


"Kok jadi aku yang kena!" seru Jhena ikut terseret. Padahal ia hanya ikut tertawa saja.


Suasana makan jadi heboh, lelucon spontan yang mereka buat membuat Yulan sangat merasa bahagia. Ia harus cepat-cepat pulih agar bisa kembali sekolah, doanya dalam hati.


"Bim, tuh masih ada yang lebih makananya. Bungkus bawa pulang," usul Rio sebenarnya menyindir Bembi.


"Kagak, udah kenyang. Uhuuuuu!!"


"Apaan sih, sendawa di kupung gue!" pekik Rio tidak terima Bembi bersendawa tepat di dekat telinganya.


"Rasakan! Ngeledek gue lagi,," Bembi tertawa puas membalas keusilan Rio.


"Ehk! Yok mari yokk, kita beres-beres makan kita! Yang nyici piring, yang ngelap piring, yang bersihin meja! Siapa? Tahu diri dikit lah kita yang numpang makan ini," ucap Endru memberi perintah.


"Nggak usah. Nanti bibi aja yang beresin."


"Kita kalau makan baremg-bareng di rumah sia pun itu, selagi kita masih bersama, itu artinya kita bersihinnya bekerja sama. Jadi jangan nggak enakan gitu ya Yulan sayang, ini adalah salah satu tata baik dalam persahabatan kita. Mengerti?" Neva menjelaskan.


"Yah, terserah deh." Yulan pasrah.


🌹🌹🌹


"Jadi kamu dan tante Mitha pindah ke apertemen ini?" Neva melihat-lihat sekeliling bangunan dengan decak kagum.


Endru mem-parkirkan motornya dengan menaati peraturan yang tertulis di ujung parkiran, melepas kunci motornya menyimpannya.

__ADS_1


Menghampri Neva yang masih berdiri menunggunya.


"Iya. Bang Arman tinggal di rumah sama papah," jawabnya lirih.


"O-oh," Neva menunduk.


"Hey, kok jadi melow gini sih?" merangkul bahu Neva. "Nggakpapa. Lagian mereka belum sidang, masih hanya pisah rumah aja."


"Aku pikir orang tua kanu memilih baikan."


"Enggak. Kemarin paket itu datang lagi, aku nggak tahu isinya apa. Mamah marah kalau ditanya isi paket itu apa. Setelah menerima paket itu lagi, papah mamah bertengkar lagi. Pusing!"


"Apa kamu nggak cek cctv di rumah kamu, melihat siapa orang yang ngantar paketnya?"


"Nah itu dia! Seolah ada yang bekerja sama dengan kurirnya, rekaman cctvnya terpotong. Tapi tunggu-" Endru membuka ponselnya. "Bang Arman lihat benda anting ini terjatuh di dekat gerbang utama rumah, mungkin anting ini adalah milik si pengirim paketnya."


Mengamati foto dalam layar ponsel Endru, perasaanya bergejolak cemas, jantungnya berdegup kencang. Neva pernah lihat anting ini ada di telinga auntynya. Tapi'kan bisa saja banyak yang memakai anting yang sama.


"Kamu pernah lihat antingnya?" tanya Endru memperhatikan raut tegang Neva.


"Um," mulutnya tercekal. Tidak berani membalas tatapan Endru, ia terlalu takut.


Ini mencurigakan, sebisa mungkin ia harus lebih bijaksana tanpa menjerumuskan pikirannya. "Neva, lihat aku."


Pelan mengangkat wajah, jari Endru mengusap pipinya memberikan sedikit ketenangan.


"Aku pernah lihat, seperti punya Aunty Priska," jawabnya takut.


Hah!


Endru memeluk Neva, ia juga jangan langsung berburuk sangka. "Anting seperti itu banyak. Belum tentu juga Bu Priska yang punya antingnya, bisa jadi punya orang lain yang kebetulan jatuh di dekat gerbang rumah. Sudah, jangan berpikir macam-macam dulu. Baik aku dang Bang Arman belum mencari tahu siapa pemilik antingnya, ini masih duga-duga aja kok."


"Astaga! Ck, huff!" Neva mendesah kasar. Bisa-bisanya dia hampir menuduh auntynya sendiri.


"Kunci mobilku masih di atas. Kamu ikut ke atas, atau nunggu di sini?"


"Nunggu di sini aja."


"Yakin? Lantai 40 lumayan jauh lo," Endru membujuk.


"Dah sana. Iiiihhh,," Neva mendorong tubuh Endru.


"Ok, tunggu ya!"


Melewati masuk lift Emdru sudah sampai di tempat ia dan mamahnya tinggal.


"Mah, Endru pulang! Buka pintunya!"


Tok,,tokk,,tok,,!


Siapa yang dipanggil siapa yang membuka pintu. Endru tercengang melihat Inggrisa ada dalam apertementnya, wajahnya murka tidak suka.


"Ngapain lo di sini?" tannya Endru membentak.


Inggrisa tersenyum manis, "Jagain calon mamah martua lagi sak- Astaga Endru! Kalau lewat hati-hati dong, tanganku kegores pintu," Inggrisa meringis.


Endru tidak mendengar ocehan Inggrisa, mamahnya sakit?


"Mah, sakit apa?" Endru mengecup punggung tangan mamahnya sayang.


Tubuh ringkih itu tergulai lemah di atas tempat tidur, tersenyum hangat menyambut pelukan putranya.


"Cuma kecapean aja, kurang tidur juga. Untung Inggrisa cepat datang. Kalo nggak, mungkin mamah srndirian terus di sini. Tadi dia nyuapin mamah makan, seneng mamah lihat dia," Paramitha memuji Inggrisa.


Wajah Endru tertekuk.


"Antar dia pulang, Ndru," pinta Paramitha memohon.


"Dia bisa pulang sendiri," jawabnya ketus.


"Endru," Paramitha memohon lagi.


Tidak tega menolak.perintah mamahnya, dengan berat hati ia setuju.

__ADS_1


"Iya, iya. Endru anter. Mamah langsumg istirahat ya." Endru menyambar kunci mobilnya tanpa berpamitan langsung keluar.


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡


__ADS_2