
Siang pulang sekolah menjelang sore hari di panas teriknya matahari Neva masih tetap duduk tegap memandangi pusaran makam ibunya yang sudah terhias dengan kramik hitam bertabur bunga segar di atas makam, jemarinya mengusap nisan menggumamkan doa, sedangkan tangan yang satunya mengusap sudut matanya yang berair.
Entah mengapa rasa rindu tiba-tiba hadir lalu mengantarkannya hingga sampai ke tempat peristirahatan terakhir ibunya, menyapa angim dan bercerita tentang keluh kesahnya. Menangis? Tentu saja, ia teramat rindu wanita yang begitu sangat menyayanginya ini. Berdiri bergeser beberapa jengkal ke depan, ada makam pamannya Rafli, suami auntynya. Pemakaman ini memang khusus untuk keluarga besar AdiPutra.
Memandang nisan lamat-lamat tersenyum pembut, tanpa sadar tangannya meraih ujung nisan dan mengusapnya. Memejamkan mata menggumam doa dalam hati, meskipun ia tidak pernah bertemu demgan sosok pamannya ini. Mengambil bunga dari tempat yang dipegangnya kemudian menaburkannya, membuka tempat sir mineral kemudian menyirami dengan tangannya.
Entah mengapa ia tidak pernah absen menyentuh makam ini setiap kali ia berziarah ke makam ibunya, ada hal yang tidak bisa dijelaskan. Neva selalu tertarik dan terus memandangi makam ini dengan perasaan tidak menentu, bahkan ia pernah menangis berlama-lama di depan makamnya bahkan menceritakan isi hatinya terang-terangan. Ia sendiri merasa bingung dengan hatinya, mengapa makam ini selalu mencuri perhatiannya? Ia merasa nyaman bercerita di makam ini, ia merasa temang saat berdiam diri di sini. Neva menoleh ke belakang sekali lagi melihat makam ibunya, menyelipkan anak rambutnya yang ditiup angin menghela napasnya berat. Kok rasanya beda? Dia justru lebih emosional di depan makam pamannya dari pada ibunya.
Neva mengusap wajahnya dengan punggung tangan menghembuskan napas panjang, merapikan ikatan kuncir rambutnya. "Gue kenapa sih? Kok jadi nggak nyaman gini," racaunya pada diri sendiri.
Sudah lama sekali ia merasakan hal ini, hanya saja ia tidak paham cara menggambarkannya seperti apa. Jadilan Neva menganggap ini hanya firasat biasa tidak perlu bercerita pada orang tuanya. Menggelengkan kepala menghilangkan aura negatif yang sudah mulai terasa di sekitarnya, bulu kuduknya mulai naik.
Awan mulai mendung mungkin sebentar lagi hujan, cepat-cepat Neva merapikan penampilannya memakai jaket, berjalan cepat ke arah parkiran mengenderai motor kesayangannya membelah jalan raya.
Untung saja abangnya berbaik hati mengizinkannya mengenderai motor yang sudah sangat dirindukannya.
š¹š¹š¹
"Astaga Neva!" pekik Priska menuruni anak tangga dengan wajah cemas menghampiri Neva. "Dari mana saja kamu pulang sekolah sampai sesore ini?" tanyanya napas memburu.
Neva tersenyum hangat membiarkan auntynya memeriksa badannya. "Dari makam mamah," jawabnya.
Memdengar jawaban Neva, Priska tertegun spontan menghentikan gerakan tangannya. Menatap dalam-dalam manik putrinya. "Ma-makam?"
"Iya, Aunty sayang!" serunya merangkul tubuh auntynya tersenyum lebar.
"Hah," helaan napasnya terdengar berat. "Tolong kabari abangmun atau aunty kalau kamu lama pulang. Semua memcemaskanmu, paham?"
Neva mengangguk.
__ADS_1
Masuk ke dalam kamarnya membersihlan diri. Memeriksa ponselnya yang sedari tadi sengaja dimatikannya, menunggu beberapa saat untuk mengumpulkan notifilasi.
Tetap saja pesan dari Endru masih kosong, menghela napas panjang masih berusaha berpikir positif.
Lanjut mencari pesan yang lain.
Membuka grup whatsaap resmi sekolah, ternyata ada pengumuman di sana. Pembuatan KTP di sekolah, bagi siswa yang sudah berusia 17 tahun harap mengumpulkan data yang terlampir meyerahkannya pada guru tata usaha, paling lambat besok lusa. Oh iya, dia bukannya sudah berusia 17 tahun ya, berarti bisa ikut!
"Aunty!" panggilnya mengatur napas yang tersengal ngos-ngosan berlari dari tangga.
"Iya," Priska menyahut sedang menata makan malam di atas meja.
"Aku ikut program pembuatan KTP dari sekolah itu ya?"
"Astaga. Aunty sampai lupa kamu sudah 17 tahun, ya daftarkan saja."
Membuka lemari mengambil satu tumpukan map yang tersimpan di dalam satu tempat, memeriksanya satu per satu. Ini foto copy Kartu keluarga sudah, menggeser ke kirinya melanjutkan mencari berkas akta lahirnya.
Map warna hijau tua, isinya semua data papahnya. Dari surat akta lahir, ijazah sekolah, sertifikat yang berhasil diraih, catatan medis, surat perkawinan. Semya lengkap!
Map yang bersikan tentang Bian, abangnya. Menutup mulutnya menahan tawa melihat wajah imut bocah lelaki yang ada di surat akta lahir ini, tapi tengilnya?
Andika abang ke duanya, berdecak kagum membaca deretan nilai di data ijazah sekolahnya. Pantas memwng abangnya itu dapat beasiswa di luar negri sana.
Map ke tiga, Gio si bocah bungsunya. Ahk, meskipun terlihat cuek tapi tetap menggemaskan, hampir seimbanglah cerdasnya dengan Andika.
Ah, ini dia berkas data dirinya. Neva tersenyum sumringah mengambil satu lembar foto copy akta lahirnya, meletekkannya bersama foto copy KK. Setelahnya ia kembali asik membaca-baca nilai ijazahnya, geli sendiri membayangkan betapa bodohnya ia tidak secerdas abang-abangnya.
Map tentang mamahnya, haii cantiknya walaupun foto itu mulai pudar, membaca hasil nilai akademik mamahnya. Dan, ada yang janggal! Dari catatan medis mamahnya, kok keterangannya hanya melahirkan tiga kali? Kan anaknya ada empat! Surat kematiannya juga menerangkan karena menyelamatkan Gio. Dia dilahirkan kapan?
__ADS_1
Masih menemangkan perasaannya, Neva terus membaca mencari-cari apa yang mrnjadi kejsnggalan di sini.
Sampai pada otaknya mencerna dan mengambil satu lagi tempat penyimpanan map. Priska dan Rafli, membuka pelan-pelan takut bercecer. Eh,,ada yang aneh di sini! Foto bayi, bayi itu'kan dia waktu kecil! Membuka satu per satu membaca semua data diri auntynya dan pamannya, dari catatan rekam medis mereka pernah melahirkan anak perempuan.
Masih ada satu berkas lagi terselip di antara berkas ini. Matanya terbelalak membaca sampul map biru tua itu bertuliskan namanya, berkas apa lagi ini?
Surat adopsi atas namanya sendiri!
Dia anak kandung dari Priska dan Rafli, tetapi diadopsi secara hukum oleh papahnya Adi Putra!
Tangannya gemetar mengemgam ujung kertas, perasaannya berkecamuk belum mampu percaya kenyataan ini. Apa alasan mereka mengadopsi anak dari adiknya sendiri?
Brak!!
"Nevaa!"
"A-aunty," sahutnya ragu-ragu masih duduk mematung di atas karpet.
Priska berjalan menghampiri Neva dengan langkah berat, surat adopsi yang dipegang Neva membuat hatinya tidak karuan.
Ia tidak menyangkanl Neva bisa mencari sampai menemukan surat ini, mengapa bisa ia melupakan pengawasan di ruang kerja ini?
"Kamu ibuku?" tanya Neva lirih. Berdiri di depan Priska saling bersitatap penuh arti.
"Jawab!" desaknya menyodoroan berkas itu.
"Iy-iya. Aku ibumu dan paman Rafli ayahmu," ungkapnya gugup.
ššš
__ADS_1