Kisah ABG

Kisah ABG
Troy VS Will


__ADS_3

Bel pulang sekolah berbunyi membuat para murid berhamburan bergegas memadati gerbang sekolah beraturan keluar menuju tujuan masing-masing, sebelum pulang murid diberi pengarahan untuk langsung ke rumah dan sebisa mungkin menghindar dari kejaran wartawan yang ingin mengorek informasi sekolah. Kegiatan pulang sekolah ditiadakan agar semua murid bisa pulang.


Sesuai kesepakatan Wil dan temannya mereka akan berkumpul di parkiran sekolah.


Jari-jari Will asik berselancar menyentuh layar ipadnya, menghela napas kasar tak kala ia merasa kesulitan memecah data yang diterimanya.


"Bu Priska udah datang, tuh!" ujar Rio menoleh ke arah Bu Priska.


Semua harap cemas menanti kabar dari Bu priska.


"Pak Brama sudah dibawa ke kantor polisi."


"Tapi beliau tidak bersalah," sahut Endru merasa bersalah.


Neva yang berada di samping Endru memperhatikan raut wajahnya yang tidak enak dilihat, ia harus menghiburnya. "Kita'kan lagi cari buktinya, semoga kebenarannya hari ini tetungkap." Neva tersenyum manis mengusap bahu Endru.


"Semoga saja," seketika wajah Endru berbinar membalas senyuman Neva, menikmati usapan hangat Neva. "Gue merasa ikut bersalah di sini, seperti kata Dan-"


"Auhhh! Bembi lo kalau bergeser hati-hati, mau nyenggol motor si Dani nih gue!" pekik Rio yang memang bersandar di badan motor milik Daniel.


"Maap!" Bembi nyengir. Sengaja dia mendorong Rio, agar Endru tidak melanjutjan ucapannya.


"Ya sudah! Sekarang, coba ceritakan siapa pelaku yang mengedit foto ini," ujar Bu Priska mempercepat waktu.


"Dia bernama Troy, tapi itu bukan nama aslinya. Umurnya sekitar 25 atau 26 tahun, alamat rumahnya di jalan xxx!" Will menjelaslan hasil penelusurannya, menoleh ke arah Endru memastikan informasinya.


"Kita ke sana sekarang!" seru Daniel tidak sabaran.


"Tunggu!" Endru menghalangi langkah Daniel. "Seorang hacker tidak akan menampilkan data dirinya begitu saja, alamat itu juga palsu. Gue yakin, perusahaan papah sangat melindungi identitas pegawai penting di sana. Um-" kening Endru berkerut memikirkan sesuatu, kemudian menjenttikan jarinya. "Gue mau nelpon ke nomor kantor papah."


Will tanggap maksud Endru, ia memberikan ponselnya untuk dipakai.


"Dia masih ada di ruang kerjanya." ujar Endru menyampaikan informasi yang baru saja ia terima dari telepepon.


"Itu, gimana kita membawa dia keluar?" tanya Neva.


"Pura-pura ada urusan! Bilang aja kita dari sekolah mau bertemu sama Pak Arifin, gitu." sahut Andreas.


Semua setuju!


"Dan kamu Endru, kenapa tidak langsung menemui papahmu?" tanya Bu Priska langsung menghancurkan semangatnya Endru.


Menghela napas kasar, "Baiklah! Gue nggak tahu apa yang mau diomongin bokap gue. Tapi gue harap kalian secepatnya ngasih info ke gue, supaya gue bisa bisa ngambil keputusan. Perasaan gue nggak enak, pasti ada apa-apanya dibalik semua ini."


"Ya sudah anak-anak! Kalian sekarang menyiapkan diri saja. Kalian naik apa ke sana?"


"Mobil aku aja, Bu!" Will mengajukan diri. "Dan, lo kasih pinjam dah motor lo buat dipake sama Endru."


"Baikan dongg!" seru Yulan.


"Yaudah," Dani merogoh kunci motor dari saku celananya dan langsung memberikannya pada Endru.


"Yulan, kamu pulang sama ibu saja ya, tadi mamah kamu udah nelpon sama ibu."


"Tapi aku mau ikut," jawab Yulan tidak rela pulang.


Will melirik Neva memberi kode lewat tatapan.


"Nggak apa-apa, Bu. Kami akan menjaga Yulan."


"Neva," Bu Priska ragu.


"Tenang aja, Bu! Ada aku,,pacarnya!" Will cengengesan.


"Baiklah. Hati-hati ya!"


Mereka berpencar. Will, Yulan, Neva, Daniel, dan Bembi naik mobil, sedangkan Rio dan Andreas naik motor Andreas.


🌹🌹🌹


PETUALANGAN DIMULAI!


Mereka berhasil lolos masuk gedung perusahaan menggunakan kartu milik Endru, resepsionis percaya alasan mereka.


Daniel dengan kameranya, bertugas sebagai kameramen. Neva dengan alat tulisnya, bertugas sebagai pencatat. Will sebagai pembicaranya, dan yang lainnya sebagai teman satu kelompok. Rencananya Mewawancarai Pak Arifin, tapi karena beliau tidak ada, jadi ya diwakilkan pun tidak masalah. Si resepsionis tidak menaruh rasa curiga dan kurang hati-hati.


Sepertinya alam merestui niat mereka, pegawai kantor sedang sangat sibuk sekali, dengan mudah mereka memasuki lorong tempat ruangan Troy berada, Endru sudah memberikan dena ruangan. Pak Valen sudah meretas CCTV dari rumah, tentu saja ia tidak mau ketinggalan.


"Chatryn nelpon!" ujar Neva pelan.


"Angkat aja!"


"Iya, Will!"


"Neva ini gawat! Gue lagi sama ayah gue sekarang. Maksud Bu Priska nyuruh Endru buat nemuin Pak Arifin ternyata untuk tunangan sama Inggrisa diam-diam. Maksud gue, Endru dijebak atau bisa jadi akan diancam,,ngomong gue belibet! Lo paham maksud gue kan?"


Neva meremas ponselnya.


"Nevaaa!! Nevaa!"


Neva terdiam, rasanya seperti ada yang mengganjal di hatinya. Endru dan Inggrisa tunangan? Apa aunty Priska sudah tahu ini sebelumnya? Batinnya bergejolak.

__ADS_1


Daniel merampas ponsel Neva, "Lo bisa diajak kerja sama?"


"Dan-daniel, yah! Bisa kok, bisa!" balas Chatryn gugup.


"Jam berapa acaranya dimulai?" suara Daniel datar.


"O-oh! Kata ayahku satu jam lagi, Endrunya belum datang. Tapi Inggrisa dan cecenguknya udah di sini."


"Berarti banyak orang di sana," Will menimpali.


"Nggak terlalu, hanya orang terdekat dan sebagian besar direksi yayasan."


"Gini, Tryn! Lo bisa lakuin cara untuk ngulur waktu acara tunangannya? Setidaknya lebih lima belas menit dari satu jam yang ditentukan." tanya Will.


"Gue usahakan!"


"Baguslah. Sudah dulu ya, kami akan melakukan ini secepat mungkin." Will menutup sambungannya.


"Neva, kamu-" Yulan mencemaskan Neva.


"Nggakpapa, kok!" menghela napas membuang pikiran negativnya. "Kita lanjut aja."


Iya, Neva akan tetap percaya akan perasaan Endru padanya.


Tepat sambungan telepon selesai, mereka keluar dari pintu penghubung gedung menaiki lift yang sandinya sudah diretas berhenti di lantai gedung yang dituju. Ternyata ruangan Troy dijaga sangat ketat oleh bodyguard menggunakan seragam hitam, mereka harus memikirkan cara untuk menelusup ke dalam ruangan melewati orang berbadan besar itu.


"Lorongnya sepi ya," gumam Will mengamati situasi. Ya. Seperti yang dikatakan Endru, lantai ini memang dikhususkan untuk petinggi yang sangat penting di perusahaan. Dan hanya beberapa orang yang berada di lantai ini termasuk Troy, kemungkinan besar sebagian yang di ruangan ini sedang menghadiri acara pertunangan Endru.


"Gue akan merusak panel listrik itu, gue sangat lancar untuk masalah perlistrik-listrikan," Rio mengambil tugas.


Dia mematikan sambungan alat penyala elektronik, Ac, TV, kulkas, dan yang lainnya. Berjalan pelan-pelan kembali ke tempat.


"Kok panas ya?"


"Acnya mati apa rusak?"


"Gue cek dulu."


Salah satu orang berjalan menuju panel listrik berada.


Hap!


"Ummm,,ummm,,,ummm!!"


Andreas berhasil membekap mulut orang itu dengan sapu tangan yang sudah dibaluri obat minyak panas, orang itu pingsan. "Cemen! Bodyguard tapi lemah sama minyak urut begini," Andreas terkekeh.


"Ada dua orang lagi, Neva." bisik Yulan.


"Lo lihat itu ada apa!"


"Iya, tetap jaga di sini."


Satu orang lagi pergi menghampiri suara guci pecah.


Hap!


Orang itu tumbang juga, Andreas terkekeh bangga.


"Mencurigakan! Sepertinya ada jebakan di sini."


Orang keterakhir mulai merasa curiga, dia adalah orang yang paling waspada dari ke dua temannya. Berjalan pelan-pelan menelisik selurih ruangan. Ada suara napas, pendengarannya sangat tajam.


"Keluar kau penyusup kecil, saya tahu kau sembunyi di balik pintu ini!" nadanya mengancam.


"Dan, Yulan dan Neva bersembunyi di situ!" bisik Will cemas.


"Neva," Yukan ketakutan.


Neva merapatkan tubuh Yulan untuk bersembunyi dibawah meja hias, Yulan menurut. Tanpa disadarinya di kolong meja itu sedang dalam kondisi sangat berdebu, napas Yulan mulai tersengal-sengal.


Tuk,,tukk,,tukk!


Langkah orang itu semakin dekat, Neva mempersiapkan dirinya. "Tidak mau keluar! Biar saya yang mendatangimu!"


Tukk,,tuk,,tukk!


Jantung Neva berdegup kencang.


Satu,,,


Dua,,


Tigaa,,,..


Bukk!


Neva menjegal kaki oramg itu sampai jatuh, badan orang itu tertelungkup.


"Sialann,,siapa ka- Aaaaa!"


Buk,,,,buk,,,bukk!

__ADS_1


Neva menendang memukuli badan orang itu sekuat tenaga begitu ganas, membekap mulut orang itu menggunakan tissu sampai pingsan.


Neva ngosngosan, membantu Yulan keluar dari persembunyian.


"Aku nggak apa-apa kok," ujar Yulan menghilangkan kecemasan Neva.


Will dan yang lainnya dalam persembunyiannya, mulai melakukan tugasnya.


"Ingat, kita punya waktu tinggal setengah jam lagi. Papiku sedang saling serang dengan Troy. Itu artinya keberadaan kita sudah diketahui, tapi Troy tidak tahu apa yang akan kita lakukan untuknya." Will tersenyum menyeringai.


Yulan sudah dibawa turun oleh Bembi dan Andreas, agar keberadaan mereka tidak terlalu mencurigakan karena tiba-tiba hilang.


Prrokk,,prrokk,,pprokk! sambutan tepuk tangan dari Troy. Benar dia telah mengetahui kedatanfan mereka, hanya terkejut saja dengan beberapa temannya juga ikut.


"Willangga, putra tunggal Valensis! Kita bertemu," ucapnya menantang.


Pprranggg!


Secepat kilat Neva melempar asbak kaca yang ada di meja sofa menghancurkan kamera CCTV yang tergantung di sudut ruangan.


"KURANG AJARR!" umpat Troy murka.


Bukk!


Rio menghancurkan stok kontak lampu ruangan dan memutuskan kabel-kabelnya.


Neva dan Daniel dengan sigap menangkap tubuh Troy dari sisi kiri dan kanan. Troy memberontak, Neva menginjak kakinya. Memberontak lagi, Daniel meninju perutnya. Rio datang sudah membawa lakban penyumpal mulut dan menutup mulut Troy, "Uummpppp,,ummmppp!"


"Lihat ini baik-baik SANDIEL ROYJHON!" Will mengucapkan nama asli Troy.


Troy tercengang, matanya melotot memberontak lagi. Daniel membogem wajahnya.


"Ini vidio perbuatan asusila, dan pelakunya adalah lo sendiri. Lo mengganti wajah lo dengan wajah Pak Brama, dan perempuan itu adalah murid SMA DHARMA BAKTI lima tahun lalu."


Troy membetontak lagi, Neva menginjak lututnya.


"Dan ini," Will memutar vidio rekaman di ponselnya. "Vidio percakapan lo dengan pihak polisi yang lo ancam untuk menutup kasus lo."


"Dan satu lagi!" Will mendekati wajah Troy. "Gue punya bukti konkrit, perbuatan lo yang mencuri uang perusahasn ini!" mata Will berkilat menyeramkan.


Troy menegang. "Ummm,,ummm!" ia ingin berbicara.


"Ahkkkk!!" teriak Troy kesakitan, lakbannya dicabut kasar oleh Will.


"APA MAU LO SEBENARNYAA!"


"Bagus!" Will menjentikkan jarinya. "Pertama, lo harus hapus berita itu sebersih-bersihnya dari internet. Ke dua. Lo harus buat pengakuan tertulis di internet bahwa itu foto palsu. Ke tiga, lo jangan pernah beritahu ke siapapun tentang kedatangan kami."


Sebenarnya itu gampang. Tapi mengingat ancaman Pak Arifin padanya, ia ragu.


"Nggak mau ya," Will mengarahkan layar ponselnya. "Tinggal sentuh tombol kirim, semua sudah tersebar. Hummm!!"


Troy gugup, ia tidak menyangka musuhnya berhasil melacak jejak kejahatannya yang sudah dia simpan rapat-rapat.


"Satu!"


Masih ragu.


"Dua,,!"


Ahkk,,iya..Dia bisa mengancam balik Pak Arifin dengan pegangannya, jika lelaki sombong itu mengancamnya kembali.


"Tig-"


"Baiklah, saya lakukan kemaumanmu!"


🌹🌹🌹


Chatryn berhasi mengacaukan acara pertunangan.


Meskipun harus menahan malu tapi ia berhasil. Mencari gara-gara dengan si Ratu, Ratu juga langsung terpancing emosi masuk dalam jebakan. Jadilah mereka saling menjambak tepat di tengah aula pesta, dan sengaja Chatryn pura-pura terdorong si Ratu agar badannya bisa membentur meja menjatuhkan isi meja. Pertengkaran makin memanas, ke dua teman Ratu mengeroyok Chatryn, akting tersakiti Chatryn sangat memuaskan. Akhirnya Chatryn dibela orang, beberapa meja berjatuhan, makanan berserakan.


Inggrisa malu!


"PAPAH NGGAK BISA MENGANCAM AKU SEPERTI INI!" Endru murka. Ayah dan anak ini sedang bertengkar di belakang, tanpa peduli keributan di aula.


"Kalau kau tidak bersedia bertunangan siang ini juga, bersiaplah melihat kepala sekolahmu itu dipenjara."


Siapa yang tidak marah kalau seperti ini. Baru saja datang ke alamat yang diterimanya, langsung dikejutkan dengan acara pesta pertunangan yang tidak terpikirkannya.


Ia semakin terpojok, tidak tega mengorbankan orang yang tidak bersalah.


Apa lagi kabar dari temannya belum ada, pikirannya semakin kalut menduga-duga, waktu yang mereka sepakati juga hampir habis.


Baru saja mulutnya hampir mengubah keputusannya, suara pessn di ponselnya berbunyi.


Hatinya lega! Berhasil!


"AKU TIDAK AKAN BERTUNANGAN DENGAN INGGRISA, AKU DAN DIA SUDAH TIDAK HUBUNGAN APA-APA LAGI!" ujarnya lantang. Dan langsung pergi tanpa pamit, ia harus ke kantor polisi menyusul teman-temannya.


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡

__ADS_1


__ADS_2