
"Udah nyampe, ayo turun!"
Namun Chatryn belum bergerak sama sekali, hanya memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong.
Daniel menarik napas dalam-dalam, menggemgam tangan lemah itu memberinya kekuatan. Semakin mendekatkan kepala ke telinga Chatryn menyelipkan anak rambutnya ke belakang. "Chatryna Shia," ucapnya memanggil nama lengkap Chatryn.
"Ap-apa," yang dipanggil terlonjak kaget. Matanya membulat menyadari wajah mereka yang hanya berjarak lima centi.
Klek.
"E-eh," gugup Chatryn. Daniel melepas tali pengaman dari tubuhnya.
"Um, makasih udah ngantar gue pulang," ucapnya salqh tingkah membyang muka tidak kuat menahan pesona wajah Daniel.
"Mau gue antar sampe ke depan rumah lo?" tawarnya.
"Enggak," tolaknya menggeleng cepat.
Daniel menangkup pipi Chatryn yang terus saja memalingkan wajah, mengusapnya lembut membuat pola abstrud di sana. "Gue mau ngomong sama orang tua lo."
"APA!" Chatryn tersentak tidak senfqja menepis tangan Daniel dari wajahnya. "Tapi buat apa?" tanyanya mulai gusar.
"Mau minta maaf, gue nggak menjaga putrinya dengan baik," ucap Daniel penuh penyesalan. Matanya terus terkunci pada bola mata coklat milik Chatryn, indah sekali! Sudah lama saling mengenal, tapi baru ini dia menyadari betapa indahnya pemilik bola mata ini.
Sayangnya pikiran Chatryn masih melayang, ia pun tidak menyadari Daniel yang diam-diam mengaguminya, sehingga 'saat' itu terlewat begitu saja.
"Jangan, Dan. Gue takut bokap marah besar, dan mengataimu yang bukan-bukan. Gue mohon, jangan ceritain ini ke sembarang orang. Cukup kita dan Yulan, Will dan Kak Endru saja yang tahu. Gue malu," ungkapnya menahan isakan.
Terdiam sejenak, Daniel mencerna perkataan Chatryn. Menarik tissu mobil dan menghapus jejak air mata yang ada di wajah cewek ini. "Iya, kita nggak akan kasih tahu. Ya sudah, waktunya lo masuk ke rumah." melempar bekas tissu ke dalam tong sampah kecil yang tersedia di bawah jok mobil.
"Udah malam."
"Huffh," lenguhnya.
Turun dari mobil kemudian membuka pintu mengulurkan tangan mengajak Chatryn, tersenyun kecil cewek ini merasa bahagia nendapat perhatian dari cowok yang disukainya.
"Chatryn, habus ini lo kangsung istirahat ya," ujarnya tegas. Meoangkah mengetuk pintu rumah.
Terdengar suara sahutan dari luar dan berjalan membuka pintu. "Sudah pulang," sapa wanita paru baya itu tersenyum lembut.
"Tante, ini Chatryna sudah pulang dan tolong dia langsung segera istirahat. Tadi kami banyak belajar di rumah Yulan, pasti Chatryn sekarang merasa lelah," tutur Daniel berucap sopan.
Memandang putrinya sekilas, entah mengapa perasaannya tiba-tiba gelisah memperhatikan gelagat raut muka putrinya.
"Mamih, kok ngeligatinnya gitu?" Chatryn tergagap ditatap seperti itu, tangannya mencengkram tali tasnya erat merasa takut.
"Jaket siapa yang kamu pakai?" ia curiga.
"Pinjam dari Yulan. Mih, udah ya. Chatryn ngantuk pengen tidur," ucapnya berpura-pura menguap.
Mamih mengerjapkan mata. Ia tahu pasti ada yang disembunyikan putrinya, mungkin mereka belum mau bercerira. "Ayo masuk, Sayang." merangkul anaknya melewati pintu.
Sebelum pintu benar-benar tertutup rapat, Daniel dan Chatryn sempat saling bersitatap melempar senyum satu sama lain.
__ADS_1
"Semoga ini awal yang baik untuk kita, aku harus mulai membuka hati untukmu," gumam Daniel membatin.
"Apa rasa bersalah itu hanya karena kasihan? Sadarlah Chat, di hati Danuel masih ada Jhena," gumam Chatryn pesimis.
Puk..
Seketila badannya merinding ngeri merasakan tepukan dari belakangnya, waspada hati-hati membalikkan badan. Jantungnya hampir melimpat melihat Will nyengir-nyengir di depannya.
"Ngagetin aja lo. Naik apa nyusul gue?" tanya Daniel merasa kesal sendiri, bersandar pada badan depan mobil bersedekap tangan.
Will cengengesan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menatap jahil pada Daniel. "Naik taksi ngikutin lo," jawabnya masih cengengesan tampang tengil.
Will mengaduh kecil menerima toyoran di lengannya. "Kasihan gue tahu. Mata bapaknya si Yulan itu serem banget, menghumus sampai ke jantung. Dipelototin gue terus, nyuruh harus pulang. Yaudah terpaksa gue nyusul lo," tuturnya lagi tampang memelas.
Daniel tidak bisa menahan tawanya, meledek temannya bernasib buruk. "Rasakan!"
"Udah ah, ayo otw. Ada yang udah nungguin kita di suatu tempat," ucap Willangga sudah berubah serius.
"Nungguin? Ngapain?" Daniel bingung.
"Rio udah nemuin jejak tinggal geng BoackJack yang sekarang. Dan Bang Bian juga udah otw ke sana, kita harus segera menyusul mereka. Rencana penyergapan dimulai dengan arahan dari Bang Bian yang notabenenya paling mengenal siapa mereka." Will memasukkan ponselnya ke dalam saku setelah membalas pesan singkat dari Rio.
"Ayo, gue juga nggak sabar." tersenyum simpul.
Gantian Willangga yang menyetir mobil miliknya.
š¹š¹š¹
Willangga, Daniel, Rio, Bembi, Sofan dan Andreas berdiri membemtuk melingkari Buan yang berdiri denfan wajqh bengisnya di tengah-tengah mereka.
"Rio, lo udah mencari tahu semua tentang dan jadwal Black Jack'kan?"" Will menoleh ke arah Rio.
Rio tersenyum mantap, di tangannya sudah ada selembar kertas yang bertuliskan informasi yang diketahuinya. "Mereka sedang berkumpul di sebuah tempat ada di dalam gedung sekolah yang sudah terbengkalai tiga tahun lamanya. Sekolah itu ada di Jalan xxx, tidak jauh dari markas mereka sebelumnya. Dan satu hal yang penting, mereka sudah tidak tergabung dari dalam geng motor lagi. Setelah penyerangan kita beberapa bulan yang lalu, geng motor itu resmi dibubarkan polisi. Akan tetapi keanggotaan mereka tetap orang yang sama," ujarnya tegas tanpa ragu.
"Bisa jadi mereka melakukan kegiatan yang lain," imbuh Bembi sambil berpikir.
"Tapi apa?" Willangga bergumam bertanya.
"Narkoba, mungkin."
Jawaban spontan Andreas mengejutkan semuanya.
"Rio, kira-kira mereka ada berapa orang?"
"Sepuluh orang lebih, Bang."
Bian tersenyum miring. Kini otaknya sudah terkumpul berbagai macam rancangan untuk menangkap si tersangka utama yang menjadi dalang penculikan Neva. Tentunya mereka melibatkan kepolisian dari belakang, jadi bisa langsung berjaga-jaga.
"Boleh gue ngomong?" Daniel tunjuk tangan. Bian menfangguk mempersilahkan.
Daniel saling pandang dengan Will, Will hanya tersenyum sekilas memberikan jawabanya.
"Emm." mulutnya masih ragu. Tapi mengingat diskusinya dengan Will saat dalam perjalan tadi, ia harus menceritakan dengan sedikit berbohong tentang permasalahan di jalanan siang tadi. Menghela napas panjang menghilangkan keraguannya. "Sebenarnya gue ada menyimpan sebuah surat yang menjadi incaran dari si penculik Neva ini."
__ADS_1
"Surat?" Bian membeo.
"Dari keterangan Jhena yang tidak diceritakannya pada polisi, dia mengatakan bahwa Neva pasti diculik karena telah menemukan sesuatu dari dalam perpustakaan sekolah. Setelah keluar dari perpustakaan itulah, orang itu menculik Neva. Jhena sempat memergoki Neva, dan karena itulah Jhena mengetahui Neva diculik. Jhena kembali ke daoam oerpustakaan dan menemukan sesuatu yaitu sebuah surat. Surat itu sudah ada di tabgan gue, tapi sayangnya gue maupun Jhena belum sempat membaca isinya. Dan orang-orang itu menjegal gue di jalan waktu mau pulang, mereka mengancam nyawaku dan merampas isi surat itu. Setelah gue ingat lagi, mereka memakai mobil yang sama dengan mobil pemculikan Neva."
Tentu dia tidak menceritakan kisah yang keseluruhannya, dia sudah berhanji.pada Chatryn.
Semua terhantak mendengar Daniel. Bian semakin dipenuhi luapan emosi.
"Kita harus hati-hati. Salah sedikit saja, kita yang jadi terjebak "
"Baik, Bang!" seru mereka serem0ak.
"Semua bersiap di tugasnya masing-masing. Andreas Bembi menjaga gedung bagian depan, Sofan dan Rio menjaga bagian belakang, Willangga Daniel dan gue yang masuk ke dalam."
Semya mengangguk paham dengan ucapan Bian.
Satu per satu mereka berkumpul pada kelompok berjalan ke posisi masing-masing. Dengan semuanya sudah diberikan intercon, dan peralatan untuk jaga-jaga.
"Bem, lo udah pake Autan, belum?" Andreas mengingatkan. Anggukan Bembi adalah jawabannya. Berjalan meninjau dengan penerangan seadanya, bagian depan gedung sudah sangat berantakan.
"Ndre, ta-takut ada ular. Iiiii!" bisik Bembi menggelayut di badan Andreas. Bantak rumput liar sudah menjalar di dinding dan semak yang tumbuh sumbur di antara batu batako lorong sekolah. Tak lupa juga ada banyak jaring laba-laba yang sangat padat mengganggu pandangan, cat dinding sudah sangat pudar tertutup lumut hijau, papan beton bangku sekolah yang sudah rapuh dimakan rayap.
"Bau banget!!" Bembi menutup hidung menahan napas mencium aroma tidak sedap dari sekitar mereka.
Pelan-pelan Andreas mengangkat bangku yang terbalik kaki di atas, arah baunya dari situ. Dan ya!!! Mereka berlari pelan mau muntah menutup mulut, bangkai burung besar tampak nyata di depan mata.
"Halo, Will. Suasana gedung bagian depan tampak seperti bagaimana yang memang sudah terbengkalai, semua sudah rusak kotor dan bau. Tidak ada yang mencurigakan di sini. Mereka tidak masuk melului gedung depan."
Andreas mematikan intercomnya.
"Rio, coba lo senter bagian situ, kiri ke kiri," bisik Sofan berjongkok di samping Rio.
Cahaya putih itu hanya menangkap pohon biasa dan bunga liar yang subur di sini, suara jangkrik dan kodok meraung enrah dari mana.
"Dari depan tidak ada yang mencurigakan. Mungkin mereka masuk melalui sini, coba perhatikan lagi!" ujar Rio mebatap seksama sekelilingnya mencari cela dari mana jalannya orang-orang itu masuk.
"Dinding!" pekik Sofan melihat dinding bangunan yang tidak terlalu tinggi.
"Tapi itu ada kawatnya. Mana mungkin merrka masuk dari sini."
Sofan merebut senter mungil dan menyenter kawat yang dia maksud. Berpikir keras untuk menghitung drngan otak cerdasnya. "Lo lihat itu baik-baik. Jarak antar kaeat tiap kawat itu, masih bisa dilewati manusia dengan menunduk badan seperti tidur terlentang. Dan karat kawat sudah mengurangi tajamnya kawat kalau pun mengenai kulit kita, dipotong pakai pisau masih bisa!"
Rio bergegas menghubungin ketiga temannya yang masih menunggu di luar gerbang.
Hap.
Hap.
Hap.
Daniel, Bian dan Will melompat melewati kawat pagar dinding, meskipun sedikit menyusahkan.
"Dan, gue harap lo masih ingat postur badan orang tadi siang."
__ADS_1
"Masih ingat, Will."
ššš