
"Apa kau tidak ingin bertemu dengan anakmu?" Adi Putra bertanya menatap iba pada pria paru baya yang sedang duduk meringkuk di sampingnya.
Michael menggeleng tanpa suara, merapatkan badan ke sandaran kasur menelungkupkan wajah di kedua kakinya yang tertekuk.
Helaan napas Adi terdengar panjang, sementara Valensis duduk terdiam di depannya.
Sebulan di negara ini memcaritahu keberadaan Michael, dengan perjuangan yang tidak mudah temtunya. Ternyata Michael sudah menjadi tahanan di negara ini kasus pembunuhan terhadap seseorang pria, dipenjara seumur hidup membuat ia tidak pernah menampakkan diri dan menutup semua akses tentangnya. Michael kini telah berubah menjadi pria bisu tidak mau berbicara, ia hanya akan bersuara sesekali saat merasa terdesak saja. Selain itu, ia akan menjelma menjadi pria bisu.
"Kau belum mau berbicara, Khael," ucap Adi sendu menyebut nama panggilan sayang sewaktu mereka masih remaja.
"Kha-Khael," gumam Michael sangat pelan terbata-bata. Mendengar sebutan itu, perasaan hangat menjalar dalam hatinya, namun masih belum berani mengangkat wajahnya.
Ragu-ragu Adi menjulurkan tangan menyentuh pundak Michael sangat hati-hati. Sekejap badannya bergetar seperti kemarin-kemarin saat penolakan Michael di semtuh sembarang orang, mamun kali ini sepertinya todak ada penolakan dan getaran badannya sidah berhenti, meski pun dia belum mau membalas tatapan, ini pun sudah syukur ada perkembangan mentalnya. Mrngusap bahu kurus itu penuh perhatian.
"Kau sudah ada bersama kami sekarang, bebas dari penjara dan nama baikmu juga sudah bersih dari daftar narapidana. Khael-" Setiap kali panggilan itu terdengar, badan Michael akan terkejut merespon. "Ikut dan pulanglah bersama kami, Michael kecilmu menunggumu," tutur Adi Putra lembut.
Michael kecil? Michael tertegun mendengar nama panggilan itu. Membuka matanya yang terpejam, perlahan-lahan mengangkat wajahnya sorot maniknya berputar mengelilingi sudut ruangan, menghembuskan napas panjang-panjang mengatur degup jantungnya.
"Khael! Ini aku, Adi Putra sahabatmu!" pekik Adi merasa lega melihat reaksi Michael, mengguncang bahu terharu ketila tatapan mereka bertemu. Valensis ikut tersenyum bahagia, papi yang biasanya sedikit pecicilan ini merubah sikapnya terlihat dewasa karena memang usianya lebih tua dibanding ke dua orang yang di depannya ini.
Adi memeluk sahabatnya erat-erat sampai menangis terisak, Michael terdiam namun tidak menolak pelukan itu, justru senakin beringsuk mencari kehangatan di dapam dekapannya.
"Kau tahu! Kau pernah mengatakan kalau aku dan Rafli adalah saudaramu dan keluargamu, apa kau ingat? Khael, ingatlah kau tidak sendirian sekarang, ada aku dan Pak Valen yang akan mendukungmu dan membawamu keluar dari jeratan ini. Percayalah pada kami, asal kau mau bangkit dan ikut kami," ucap Adi mencoba meyakinkan Michael di sela pelukan mereka.
"Ra-Rafli," gumamnya lagi.
"Iya, Rafli. Sahabatmu juga, kau masih ingat'kan?" desaknya tersenyum sambil menahan isakan harunya. Melepas pelukan menatap lamat pria ini.
Rafli,,,!! Raflii!! Berulang memanggil nama itu di hatinya, ia dia mengingatnya. "Mana dia?" tanyanya.
Mengesah panjang. "Kau akan bertemu dengannya nanti, asal kau mau ikut kami," sahutnya penuh makna.
__ADS_1
Valensis membuka ponselnya yang bergetar dari atas nakas, bermain mata pada Adi mengajaknya keluar.
Adi membuka ponselnya menyemtuh galeri kemudian menyodorkannya di dalam tangan Michael. "Buka foto-foto ini."
Mengangguk kecil mengiyakan perkatan Adi Putra.
Jemarinya mulai menggeser layar membuka foto di dalam ponsel Adi. Awalnya hanya foto alam dan foto random lainnua, namun semakin bergeser semakin membuat pandangannya terkunci.
Pria yang berpakaian seragam sekolah ini sangat mirip dengannya, hanya matanya saja yang tidak. Jantungnya terasa hangat menarik terus untuk berlama-lama melihat foto itu, entah mengapa air mata itu menetes jatuh membasahi wajahnya.
"*Khael, ini anak kita!"
"Jaga ucapanmu jangan asal bicara! Aku tidak pernah menidurimu!"
"Kau tidak ingat pada saat setelah pernikahan Rafli dan Priska malam itu kita menghsbiskan waktu di hotel, kau merebut mahkotaku dan sekarang aku sudah mengandung anakmu!"
"Kauu yang menjebakku! Dan sampai kapan pun aku tidak mau mengakui anak itu!"
Kepalanya seperti dihantam batu besar pertengkaran itu berulang dan memaksanya untuk semakin mengingatnya. Napasnya tersengal, tangan satunya mencakar rambutnya sedangkan tangan satunya mencengkram sprai menahan ringisan agar tidak membuat mereka panik.
"*Paramitha, aku cinta suka sama kamu. Aku mau nembak kamu jadi pacar, boleh?"
"Ahahaha, Michael kau lucu sekali."
"Ja-jadi aku nggak boleh jadi pacar kamu?"
"Boleh, aku juga suka sama kamu. Kita jadian mulai hari ini*!"
"Paramitha,," racaunya semakin merasakan sakit. Kenangan acara tembak menembak dengan kepolosan mereka melintas bagai filim yang berulang.
Badanya berkeringat. Menarik napas mengeluarkannya perlahan, menelan pil obat penenang.
__ADS_1
Setelah berlalu sekian menit, ia kembali membuka ponsel itu.
Ini foto Mitha, iya dia masih mengingatnya. Mrnggeser layar lagi melanjutkan penasarannya, dan dua lelaki yang sedang berdiri mengapit Mitha ini?
"Pergi dari kota ini dan jangan muncul lagi di hadapan Mitha, kau tidak pantas bersanding dengan putriku. Jika kau tidak mau, satu kali jentilan jari, saya akan membakar gedung panti itu saat semua seisi panti sedang terlelap, mereka bisa mati semua! Satu lagi, saya tega loh, membunuh bayi yang ada di dalam kandungan Mitha!"
Ancaman itu kembali teringat lagi. Dan inilah puncaknya ia mendekam di penjara, ketika ayah Mitha tiba-tiba menemuinya lagi. Bukan dia yang membunuh orang itu, bukan dia! Michael tidak menyentuhnya sedikit pun, tiba-tiba saja ada orang yang menembak tepat mengenai jantung ayah Mitha dari jauh, karena ia terlalu panik dan memilih kabur, dan entah mengapa juga ada sebuah pistol yang bersidik jarinya tersimpan di lemarinya.
"HAH,,HAH!!" TIDAK, TIDAK!! BUKAN SAYA YANG MEMBUNUHNYA!" teriaknya frustasi. Jatuh pingsan tidak kuat menerima truma itu ternginang di kepalanya. Tanpa sadar suaranya sudah kembali.
š¹š¹š¹
"Ini ssngat bagus! Saya tidak menyangka anak buah anda cepat sekali mendapatkan bukti itu," ucap Adi tersenyum miring.
"Hah, apa kita sudah boleh pulang?"
"Siapkan diri dulu, agar semua berjalan lancar. Pertunangan Endru dan Inggrisa tinggal dua hari lagi, kita belum berhasil meyakinkan Michael, traumanya sangat parah untuk kembali ke negara itu."
Valensis mendapat kabar gembira dan anak buahnya, bukti kejahatan Arifin di negara ini. Setelah hampir sebulan mereka berusaha keras memcarinya, berhadapan dengan bermacam pihak yang sudah disogok Arifin, dari lembaga kuasa hukum yang sudah disuap Arifin dengan biaya yang sangat fantastis, dan si penembak misterius yang bergabung dengan anggota pembunuh bayaran.
Valensis berhasil meretas data-data lembaga hukum negara ini dan mengamcam balik oknum-oknum yang berkhianat itu. Mereka tunduk di bawah kuasa Valensos dan dengan suka rela memberi kesaksian serta bukti transfer mau pun bukti jejak digital obrolan mereka. Lembaga itu akhirnya membebaskan Michael dan menghapus dari daftar narapidana, membungkam dan memutuskan hubungan dengan Arifin.
Mencari keberadaan si pembunuh terpaksa pura-pura menjadi anggota baru, Adi bahkan hampir meregang nyawa saat ketahuan di tangan mereka. Untung ssja ia pandai meloloskan diri, dengan meminta bantuan dari anak buah Valensis. Adi berhasil membawa orang itu setelah mrngancam akan membunuh anggota keluarga dari orang itu, menyeret menjebloskan ke dalam penjara, merekam kesaksian tentang Arifin yang membayarnya untuk membunuh martuanya dan memfitnah Michael.
Bukti kejahatan Arifin sudah berada di dalam gemgaman, membawa pulang ke negara asal membalaskan dendam pada Arifin. Sekarang tinggal satu tugas lagi, membujuk Michael dan mbantu ia bangkit dari trauma, Paramitha dan Endru sudah lama terkurung di bawah kuasa Arifin.
Siapa yang sangka, Valensis adalah mantan anggota intelejen terkemuka di Asia. Ia menyembunyilan rahasia itu rapat-rapat demi Willangga agar hidup normal saja, putranya.
ššš
Makasih ya kawan, sudah mampir ke ceritaku..Btw kan weh, aku nggak promosikan cerita, nggak pd soalnya..hehehe..
__ADS_1