Kisah ABG

Kisah ABG
Belajar Bersama


__ADS_3

Hari minggu ini berjanji berkumpul menginap di rumah Neva untuk belajar bersama mempersiapkan ujian besok, Neva baru saja pulang dari ibadahnya bersama dengan keluarganya menuruni mobil. Tersenyum cerah kepada Willangga dan Yulan duduk manis menanti si tuan rumah di pendopo taman pekarangan samping rumah.


"Pake gaun cantik-cantik tapi ikat rambut terus," ledek Yulan mengomentari penampilan Neva cukup terlihat janggal dipandang mata.


"Oh, sengaja biar nggak ada yang menggoda. Kan aku cantik gerai rambut," sahutnya bercanda. Setelah masuk ke dalam rumah mempersilahkan Will dan Yulan masuk duduk di ruang tamu, Neva naik ke kamarnya mengganti baju


Sebentar makan siang bersama, Will dan Yulan juga ikut. Tak berapa lama mobil lain datang, Will menyuruh supirnya untuk menjemput teman lainnya.


Bembi turun dengan hebohnya menyalam Bian senyum menggoda, yang disalam bergidik ngeri melihat seringai aneh itu. Disusul Andreas, Rio, Sofan dari dalam mobil menyapa hormat pada Bu . Selang beberapapa saat, Chatryn dan Daniel datang memarkirkan motornyam


Rumah yang tadinya biasa saja kini ramai dengan teman-teman Neva yang sedang bercanda gurau di pondok pendopo rindang pekarangan samping rumah, Priska tersenyum bahagia mendengar suara riuh tawa anak didiknya. Menutup gorden jendela menghampiri Septer yang sudah menunggunya di ruang tamu.


"Kok sofanya pada dipinggirin semua?" tanya Septer heran melihat sofa berjejer menyamping bahkan ada sofa tunggal yang dinaikkan ke atas sofa besar.


"Iya. Anak-anak menginap di sini nanti malam, mereka akan tidur ramai-ramai juga di sini," jawab Priska. Mengangguk berdecak kagum, kekompakan mereka membuutnya salut.


"Bian, ayo turun! Kita sudah mau berangkat!" seru Priska memanggil Bian dari bawah.


Bian turun menggandeng si bungsu Gio.


Gio menutuskan bermain di rumah salah satu temannya yang tak lain tetangga juga, kakak-kakaknya punya kesibukan sendiri jadilah dia pun ikut-ikutan sok sibuk. Bian menumpang menuju tempatnya siaran.


Septer dan Priska tersenyum kikuk digoda Will dan temannya, pasangan tak lagi muda sedang berkencan ala anak muda. Hah, biarlah mereka tahunya itu. Berpamitan pergi berlalu dari gerbang rumah. Priska berpesan agar belajar dengan sungguh-sungguh dan sudah menyiapkan beberapa cemilan ringan untuk mereka.


"Guyss! Kita tunggu masih ada yang belum sampai," ucap Will membuat mereka semya saling pandang.


Chatryn menghela napas panjang, raut mukanya seketika masam. "Malas gue lihat mukanya," ucapnya mencabik.


Tidak ada yang merespon, wajar saja mereka baru berperang hebat semalam. Semenrara Andreas pun hanya diam saja, asik dengan peralatan tulisannya.


"Tuh, mereka udah datang. Gue buka gerbang dulu." Neva berlari membuka gerbang lebar, menyapa tersenyum pada dua tamanya baru saja datang. Aslika kali ini ikut bergabung, berdecak kagum menatap hamparan hijau pekarangan rumah. Sementara Jhena berjalan oelan menundukkan wajahnya masih ragu-ragu, tadi menolak tetapi Will dan Neva memaksanya.


"Kok pada tegang begitu?" Bembi memecah keheningan.


"A-aku pulang aja ya," gumam Jhena tidak enah hati melihat reaksi masam Chatryn dan Abdreas yang tidak menoleh ke arahnya.


"Enggak ada yang boleh pulang!" tegas Willangga.


"Jhen, lo main pulang aja padahal baru nyampe." Rio menyodorkan satu gepas minuman di depan Jhena.


Terpaksa Jhena duduk bergabung diapit Aslika dan Rio, mencuri pandang pada Andreas yang ada justru cowok utu buang muka.

__ADS_1


"Ini kapan bepajarnya pada bengong begini!" Bembi menatap heran pada teman-temannya.


"Sok rajin lo." Penggaris dari Willangga mendarat di punggung Bembi.


"Gue itu mau belajar serius, biar bisa dapat nilai cantik. Gue juga bosan dapat nilai jelek terus," sahut Bembi.


"Ngitil aja," Neva ikut menimpali.


Sontak semua memadang horor pada Neva. Anak baik-baik diajari berdosa!


Sesuai dengan peraturan yang mereka sepakati, membuat pasangan belajar masing-masing. Will, bersama Yulan dan Neva, belajar di sini saja. Daniel, Chatryn dan Bembi belajar di ruang ramu. Rio, sofan, dan Andreas belajar di meja makan. Aslika dan Jhena memilih belajar di teras rumah. Mereka semua sengaja digabung dengan dua jurusan, agar mampu bertukar pendapat dan pikiran.


"Will! Sebelum kita belajar, gue mau nayak soal kalung itu."


Meletakkan pulpennya, membuka tas mencari sesuatu. Mengeluarkan kalung yang dibubgkus dengan plastik bening mirip plastik tempat obat.


Kalung bukan sembarang kalung! Disainnya pun sangat terperinci dan tidak pernah terlihat dijual di online mau pun di toko, ada yang tersembunyi di mainan kalung ini. Mainan berbentuk setengah love ini ada ukiran garis putus di sisi belakangnya, jika diteliti lagi garis lengkungan ini seperti sebuah lambang berbentuk tidak sempurna.


"Aku faham sekarang. Gambar ukiran di kalung ini akan sempurna bila disatukan dengan kalung pasangannya, dan itu ada di tangan Kak Endru," ungkap Yulan memberi pendapat menatap fokus pada kalung yang digemgam Neva.


"Aku setuju pendapatmu, Lan. Kira-kira apa dibalik lambang ini? Aku jadi penasaran," ucap Will mengerutkan kening.


"Nev, kam- Astaga" Yulan berdecak melihat Neva yang melamun. Berkedip pada Will tersenyum jahil.


Dua...


Tiga...


"Nevaaaa!" teriak mereka berdua memecah lamunan Neva.


"Aiyaa! Terkejut tahu!" pekik Neva terjangkit kaget spontan menoyor lengan Will.


"Lo demgerin kita nggak sih dari tadi?" Will jengkel sendiri.


Menghela napas panjang mengelus dada, memperbaiki posisi memandang serius pada dua temannya.


"Denger, kok. Dan gue berpikiran yang sama dengan kalian. Karena Endru bilang, barang yang mau diberikan ke gue ini adalah sepasang barang yang sangat berharga di hidupnya. Dan, semalam Arman menyanar pakai seragam petugas KTP itu masuk ke sekolah mau mau ngambil kalung gue. Apa tujuannya? Arman adalah abangnya Endru, ini menjadi teka-teki yang nggak bisa gue cerna. Apa lagi kalian belum mau ngasih tau ke gue, apa alasan Endru bersembunyi dari gue." Memijit keningnya yang terasa berat. "Pusing gue mikirin semuanya. Siapa penculik yang menculik gue, terus buku itu juga hilang," ungkapnya mengesah berat menyugar wajahnya, perasaan dan pikiriannya menyatu berkecamuk.


Yulan dan Will saling pandang.


"Nev, bukannya kami nggak mau ngasih tahu. Tapi ada yang lebih berhak untuk menceritakan semua itu," ujar Yulan.

__ADS_1


"Siapa?"


"Keluarga kamu," jawab Will suara pelan.


Di teras rumah beralaskan karpet ada meja lipat milik Gio di tengah-tengah. Jhena memandang kosong pada lembarsn buku, Aslika menggumam membaca buku.


"Bu Ketua, bantuin gue dong." Mrnyodorkan buku psket ke tangan Jhena.


"Apa?"


"Gue mau ngapal nams-nama tokoh VOC ini, lo lihatin dari bukunya udah pas apa belum."


Aslika menyebutkan nama satu per satu beserta menghapal keterangannya, seketika mulurnya berhenti berucap melihat Jhena yang tidak fokus pada bukunya.


Mendengus meraih buku dengan kasar.


Di ruang tamu, Chatryn, Daniel dan Bembi. Chatryn sedang memghapal dengan serius. "Kalo lo berhasil masuk 10 besar lagi, gue janji ngajak lo jalan-jalan ke tenpat favorit gue." Bisikan Daniel membuatnya sangat bersemangat belajar.


Sementara Daniel sedang mengajari Bembi soal perhitungan, ekstra sabar ia membantu Bembi sampai bisa memecahkan satu rumus. Merrka semua akan bergiliran membantu Bembi agar mampu menghadapi ujian, tidak membiarkan salah satu temannya tertindas karema tidak pintar dalam bidang akademik.


Di meja makam, Rio, Andreas dan Sofan. Andreas serius mengerjakan soal-soal sesekali menimpali candaan Rio dan Sofan, agar bisa melewati bersaing dengan Jhena yang memang lebih pintar darinya. Semenjak putusnya mereka, ia bertekat untuk bisa mengimbangi prestasi cewrk itu, bisa dibilang sejenis balas dendam tetapi lebih ke arah hal positif.


Satu jam belajar bersama sudah berakhir, kembali berkumpul di pendopo merapikan alat tulis mereka.


Tim cewek datang dari dapur membaea makanan ringan untuk dinikmati bersama-sama.


Suasana kembali ceria diiringi petikan gitar dari Daniel lagu merayu Chatryn, Rio dan Bembi dengan kejahilannya menganggu teman yang lain, Andreas dengan kebodohannya mau saja disuruh-suruh Will melakukan sesuatu yang membuat mereka tergelak.


Jam istirahat selesai, sekarang belajar bahasa inggris bersama-sama di pendopo ini.


Yulan dengan telaten dan lembut mengajari membantu Bembi bahasa inggris, mengajari hurus sampai benar-benar Bembi bisa.


Will juga sebenarnya tidak pandai, menempel pada Daniel minta tolong dibuatkan puisi romantis berbahasa inggris untuk Yulan. Rio dan Sofan sudah mengajari yang tidak-tidak.


"Kamus kita kurang lengkap, nih. Di rumah lo ada simpan kamus terbitan lain nggak, Nev!"


"Sepertinya punya Bang Bian ada, Lan. Gue ambil bentar."


Menyusuri rak buku milik Bang Bian yang teramat sangat rapi membaca judul buku pelan-pelan. Terlalu antusias menemukan kamus yang dimaksud Yulan tadi, tidak hati-hati mengambilnya sehingga satu buku tebal terjatuh mengenai kepalanya.


"Aduhh!" Ringisnya mengusap kepala. Berlutut meraih buku yang terbuka lebar dan ada selebaran kertas tercecer dari dalam lembaran buku.

__ADS_1


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡


__ADS_2