
Ruang rapat guru sedang dalam keadaan mencekam dan menegangkan, guru-guru bergantian memberi tanggapan menentang Pak Brama untuk membicarakan pergantian ketua osis dadakan yang dilaksanakan hari ini, ada yang setuju ada yang tidak.
Bu Priska, Bu Winda, Bu vida, Pak Epo dan Pak Septer, berdiri berjejer sebagai pendukung Pak Brama. Sebetulnya ini adalah keputusan sepihak dari pengurus sekolah tanpa melibatkan pihak yayasan, sudah dipastikan risikonya sangat besar.
"Saya bersedia menggantikan bea siswa Shanjiena yang sudah ditarik oleh Pak Arifin, karena Jhena memang pantas menjabat sebagai ketua osis!" ucap Pak Septer memberikan pendapat.
Tak ada yang membantah.
"Tapi Pak Brama, apa anda siap untuk dipecat karena telah melaksanakan tanpa persetujuan dari yayasan?" tanya salah satu guru.
"Saya siap menanggung risikonya! Alasan kita cukup kuat menggantikan Endru, karena kitalah yang paling mengetahui sekolah kita. Bukan mereka atau pun Pak Arifin!" tukas Pak Brama yakin.
Semua menatap takjub pada kepala sekolah yang sudah berani menentang kepala yayasan, guru yang sudah lama mengajar pasti sudah bisa menebak bagaimana akhir dari permasalahan ini nantinya. Tapi itu hanya pikiran mereka saja.
"Baiklah! Bu Priska, silakan umumkan di podium untuk segera berbaris, setelah upacara kita akan memulainya!" titah Pak Brama.
Bu Priska mengangguk lalu berjalan tersenyum puas. "Perlahan semua yang kau punya akan lepas satu-per satu Arifin! Anak buahmu akan melawanmu, anak kesayanganmu juga. Ternyata tanganku tidak perlu repot-repot balas dendam, alam srndirilah yang akan menghancurkanmu membalasmu! Paramita semoga kau cepat bangun dari koma, lihat keadaan keluargamu yang kau banggakan!"
"SELAMAT ATAS TERPILIHNYA SHANJIENA WIDLY SEBAGAI KETUA OSIS BARU YANG MENGGANTIKAN JABATAN MICHAEL ALVENDRU! BERI SAMBUTAN YANG MERIAH!!"
Semua murid bertepuk tangan!
Pak Brama menyalam Jhena dengan bangga, menepuk punggung gadis itu yang sudah berkeringat, membisikan kata penyemangat, menghilangkan kekhawatiran Jhena. Lalu bergeser menyalam Fajar si wakil ketua, Delima sebagai sekretaris menggantikan Jhena, dan Windy sebagai bendahara osis. Dan yang terakhir menyalam Endru, mereka sama-sama tersenyum puas.
Endru menatap seluruh sudut lapangan, akhirnya ia terbebas dari beban berat yang ia tanggung. Beban yang tidak diinginkannya. Dengan senyum mempesona tanggannya dengan santun memasang kartu identitas mengalungkannya ke leher Jhena, membantu memakaikan jas kebesaran osis, dan memberikan buku tebal sampul batik kepunyaan osis. Setelah itu merangkul Jhena ke depan podium mengucapkan ikrar janji osis, mengusap lengan menenangkan tubuh gemetar Jhena.
"Semua akan baik-baik saja! Sekarang kau lihat tatapan mereka yang sering merendahkan kamu," bisik Endru matanya melirik ke arah siswa yang melihat Jhena keki. "Kamu sudah punya jabatan sekarang, manfaatkan itu sedikit membalas mereka menyombongkan diri." ucap Endru berbisik lalu tersenyum lucu.
Semua siswa bertepuk tangan sekali lagi setelah mendengar pidato dan arahan dari kepala sekolah, bubar meninggalkan lapangan dan ada juga beberapa siswa yang masih tinggal dilapangan membeti ucapan selamat untuk Jhena.
"Lo nggak ngucapin selamat sama Jhena?" tanya Will menyikut lengan Dani.
Dani masih bergeming, melihat Jhena dari jauh tersenyum menerima uluran tangan dari teman lainya. Tiba-tiba napasnya tercekal saat melihat Andreas yang datang dan berfoto bersama, Jhena juga terlihat antusias menerima ajakan Andreas, teman yang lain menyoraki menggoda ke dua sejoli itu.
"Oh, sakitt!!" ucap Will dramatis tertawa di atas penderitaan orang lain.
"Kayaknya Andreas bener-bener suka sama Jhena," gumamnya lirih. Daniel sepertinya harus mengalah, toh juga Andreas cowok baik yang bisa dibilang sepadanlah dengan Jhena sama-sana murid baik dan teladan. "Gue nggak mau berantem sama temen hanya masalah cewek, gue akan coba lapang dada melupakan perasaan gue ke Jhena." ujarnya tersenyum kecut. Namun pandangannya masih tertuju pada segerombolan siswa mengerumuni Jhena dan Andreas juga masih ada di situ.
"Salut!" Will merangkul pubdak Daniel.
Bukan setahun dua tahun Daniel memendam rasa pada Jhena, sudah lama semenjak SMP satu sekolah satu kelas. Namun inilah Daniel pria yang sulit mengungkapkan ekspresinya dan keraguan dalam hatinya untuk mengungkapkan perasaannya, hanya berani merindukan dari jauh tanpa niat mendekati dan diam-diam memberi perhatian. Sekarang pun mereka satu kelas lagi, sayangnya Dani tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekati Jhena, ia melakukan kesalahan yang sama lagi. Kini dia harus menerima kesempatannya mulai menipis, ada orang lain yang lebih dulu mencuri hati Jhena, dan itu sahabatnya sendiri!
"WOIII!!"
Suara Bembi yang tiba-tiba muncul dari belakang mengagetkan mereka.
__ADS_1
"Ehege!" Bembi nyengir kuda. "Pada duduk berdua di bawah pohon cherry, lagi gibahin apa sih? Bagi-bagi dong ceritanya, gue juga kan kepo!" Bembi merapatkan tubuhnya mengapit Daniel.
"Ihh, geser dong! Datang makan tempat!" Will mengumpat kesal meninju badan Bembi.
"Daniell," Bembi mengedipkan matanya genit. Daniel merinding geli menatap horor Bembi yang mulai kumat, "Awas ah, gue mau ke kelas aja." Berdiri meninggalkan mereka ber dua begitu saja. "Nyusul! Dan tunggu!" Will menyusul Daniel. Bembi mengomel jengkel.
š¹š¹š¹
"Ndru, kamu dengerin aku nggak sih?" tanya Inggri frustasi. Sudah berapa paragraf rasanya berbicara sampai mulut berbusa mengoceh di samping Endru, namun tak ada satu kalimat pun yang keluar dari mulut Endru.
"Kenapa lo mundur dari osis?" pertanyaan yang sama. Endru tetap asik menggambar di buku tulisnya, bahkan sudah menggambar di lembar kertas baru lagi.
Inggri merapatkan bangku. "Kata bang Arman kamu diusir om dari tumah," pernyataan yang sama dan tidak mendapat respon lagi.
Inggrisa melirik kertas yang dicoret Endru, tersenyum bangga melihat hasil gambarnya. "Bagus banget! Mobil disain kamu untuk masa depan, iya'kan?" Inggrisa percaya diri. Benar, Endru sedang menggambar mobil dalam bentuk imajinsinya.
"Uhng. Aku bayangin nanti dalam mobil ini hanya ada kita ber dua, kamu yang nyetir deh! Kita jalan-jalan pake mobil buatanmu, pasti seru!" ujarnya.
Endru mulai jengah mendengar Inggrisa seperti radio rusak ditelinganya, "Keluar lo dari kelas gue!" sentaknya.
Inggrisa pura-pura tidak mendengar.
Belum ada pergerakan, Endru menutup buku dan langsung berdiri menyeret Inggrisa ke depan pintu kelas. Ia tidak peduli dengan ringisan Inggri, yang terpenting ini perempuan tidak mengacaunya lagi.
"Jangan ikut campur masalah gue!" hardiknya marah. "Mendingan lo keluar dari sini dan jangan deketin gue lagi. Gue udah bener-bener hilang respek sama lo saat gue tahu lo yang nyuruh Chatryn buat insiden Neva di atap waktu itu. Lo ancam Chatryn buat ngelakuin itu, lo buat Chatyn kambing hitam, lo perempuan licik yang gue kenal Nggri."
"Lo yang tahu sendiri kebenarannya. Yang jelas, lo jangan coba-coba mendekati Neva untuk menjadi temannya," Endru menatap devil, kemudian berbisik ditelinga Inggrisa "Jangan bertindak terlalu jauh, niat jahat lo nggak akan berjalan mulus!" nada Endru mengancam.
Tubuh Inggrisa mematung, bagaimana bisa rencananya sudah terbaca?
Endru melewati Inggri begitu saja, membiarkan pintu ruang kelas terbuka, "Gue masih baik sama lo. Menyingkir dari situ, atau lo yang bisa dituduh sama sekelas gue kalau ada barang hilang!" Endru mendengus pergi.
Endru membuka laci siswa lalu mengambil ponselnya, peraturan sekolah boleh membawa ponsel tapi harus di simpan di dalam laci masing-mssing siswa pastinya kuncinya dipegang sendiri, tidak boleh membawanya ke dalam kelas maupun memainkannya di lapangan, cukup menggunakannya di teras ruang kelas.
"Endru, papah membuat Om Putra papahnya Neva dipecat dari universitasnya!"
"Serius, bang?"
"Iya! Bea siswa Jhena ditarik sama papah, tapi untung ada Pak Septer yang menggantikannya."
"Syukurlah,"
"Sudah ya, hanya itu info yang bisa gue kasih tahu sama lo. Lo harus berhemat dulu sama uang itu, nanti kalo.papah sampai tahu uang itu, gue nggak bisa ngirim duit lagi."
"Siap boss*!"
__ADS_1
Tuuuttttt! Informasi dari Bang Arman mengejutkannya.
Pantas saja kemarin sore om Putra menatap benci dirinya, apa ini alsaannya?
š¹š¹š¹
Ruang eskul kesenian lagi sedih-sedihnya, semua menangis karena Yulan, siag ini ia resmi keluar dari eskul kesenian, dan juga sudah menceritakan kondisi kesehatannya yang kurang baik.
Yulan termsduk siswa favorit di kesenian, pasti mereka akan merasa kehilangan sosok sebaik Yulan.
"Ka Yulan, kaka harus bisa sembuh biar kita main bareng lagi!" ucap adik kelas sambil menangis.
"Doakan yang terbaik untuk kakak," jawab Yulan menahan tangis. Perrmpuan yang memeluknya mundur bergiliran dengan anggota lainnya.
Semua bergiliran memberikan kata penyemangat untuk Yulan, hampir semua menangis. Wajah mereka berfoto bersama dipaksa tersenyum, sebelum jam istirahat selesai mereka harus mengakhiri acara perpisahan ini.
Senada, salah satu murid kebanggan kesenian menyentuh papan keyboard mengiringi lagu perpisahan. Samuel dengan gitar akustiknya, semuanya mulai bernyanyi mengiringi perpisahan.
Will mengusap bahu Yulan yang mulai bergetar, Neva membenamkan wajah di pundak Yulan, Bu Winda bersembunyi di balik pintu ruangan. Daniel sekuat tenaga menahan kamera agar tidak terjatuh dari tangannya, air matanya bisa menghancurkan fokus cermin kamera.
Lagu selesai, giliran Aldi yang memipin dia. Dengan air mata perpisahan itu berakhir, hanya doa yang mampu dilakukan agar Yulan tetap semangat melawan penyakitnya. Namun sebelum benar-benar pergi, Yulan mendapat kejutan lagi. Bu Winda mencoba tegar menghampiri Yulan memberikan kotak musik hasil uang kas anak kesenian. Yulan tersenyum bahagia.
"Loh, kenapa kelas sepi?" tanya Yulan bingung.
"Ahk, nggak tahu. Aku ke kamar mandi bentar ya Lan."
"Hah, ini kan udah bel mssuk!" Yulan masih bingung. Buru-buru Neva meninggalkan kelas.
"Yulan"
Yulan berbalik badan.
"Chatryn!"
Langkah pelan Chatryn mendekat menatap Yulan takut, "Gue minta maaf."
"Maaf kenapa?"
"Gue udah jahat sama lo."
Yulan tersenyum, sesungguhnya Yulan sendiri pun tidak pernah menganggap Chatryn musuh.
Chatryn mukai ragu kalau maafnya diterima, "Gue tahu gue nggak pantas minta maaf saat lo sed- ahk " Chatrun mulai gelagapan "Gu-gue memang nggak pantas dapat maaf dari lo, gue terlambat minta maafnya, kesalahan gue udah terlalu banyak sama lo!" Chatryn tanpa jeda merutuki kebodohannya. Dalam benatnya pesimis, sentuhan lembut itu menyadarkannya.
Yulan mengemgam tangan Chatryn. "Aku nggak pernah menganggap kamu jahat. Dan tidak ada kata tetlambat untuk minta maaf, aku ingin kita berteman baik mulai sekarang."
__ADS_1
ššš
Masih ada yang baca cerita ini nggak??,,hehe,,jangan lupa tinggalkan jejak..