Kisah ABG

Kisah ABG
Perayaan Part 6: Penganggu


__ADS_3

"Nih, dimakan " Endru menyodorkan nasi kotak makan siang di depan Neva.


"Makasih," jawab Neva singkat. Air liurnya menetes melihat gambar makanan di kotak tersebut, tetapi ia baru menyadari Endru hanya membawa satu kotak saja. "Kok cuma satu doang, lo nggak makan?"


"Nggak, masih kenyang. Kenapa hanya diliatin aja, dimakan dong. Atau-" tiba-tiba Endru membuka nasi kotak dan mengeluarkan lauk dari pembungkus plastik. "Lo mau gue suap?"


Neva tersentak, secepat kilat ia merebut kembali kotak dari tangan Endru "Nggak usah, gue bisa makan sendiri," Neva melongos.


"Makanya, cepetan makan." ucap Endru tersenyum geli.


Tuk! Neva menusuk sedotan pada air minum gelas di tangannya, kemudian menyedotnya sedikit membasahi kerongkingannya. "Terus lo sendiri?" meletakkan gelas plastik di samping tutup kotak tepat di samping tangan kanan Endru.


"Nggak lapar!" Endru tersenyum jahil meraih gelas plastik yang diminum Neva tadi lalu menyesapnya nikmat.


"LO MINUM SEDOTAN BEKAS GUEEE!!" pekik Neva tidak terima.


Tawa Endru menggelegar, sementara nuka Neva merona malu itu artinyaaa-.


"Um, maniss!!" ujar Endru menggombal dengan mata genit.


"Eyhh! Sini in gelasnya, gue mau nukar sedotannya." sebelum Neva berhasil merebut, Endru sudah meminum airnya sampai habis. "ENDRUU!! GUE NGGAK MAU MAKAN, UDAH KENYANG, KENYANG!!" Neva cemberut membelakangi badan Endru. Kenapa dia bertingkah seperti ini?


"Ahahahahahaha!!" Endru tertawa gemas. "Jangan cemberut," mengusap rambut Neva lembut. "Gue ambil minum dulu di situ, tunggu sebentar."


"Astaga Neva! Itu artinya, lo secara nggak sengaja udah ciuman sama Endru. Tapi kenapa jantung gue degdegan gini. Uhh!" racau Neva dalam hati, menepuk-nepuk pipinya yang memerah.


Sekarabg ini mereka ber dua berada di kantin, sedangkan si empunyai kantin sedang bertugas membagikan makan siang di aula. Tenang saja, fasilitas kantin sudah dilengkapi CCTV. Endru membawa air mineral dari dalam kulkas kantin menyentuhkannya pada pipi Neva, rasa dingin itu membangunkan Neva dari lamunannya.


Beberapa menit kemudian.


"HAII! Boleh gabung sama kalian?"


Wajah Endri menjadi datar melihat orang yang muncul dari pintu kantin dengan tidak sopan langsung duduk di depan Endru membawa nasi kotak miliknya. Suasana jadi canggung tak ada yang berbicara.


"Uhm. Kamu nggak makan Endru?" tanya Inggri memecah keheningan.


Endru buang muka. Rasanya ingin sekali ia menarik Neva keluar dari kantin ini, tapi Neva masih asik mengunyah makananya.


Neva menyeka mulutnta dengan tissu yang tersedia di dalam kotak nasi. "Nggak lapar katanya," sahut Neva ramah.


"Ohh, gitu! Tapi Endru punya mag akut loh, nggak baik kalau melewatkan jam makan. Iya'kan Endru?" Inggrisa melirik Endru centil. "Kamu inggat Ndru? Waktu itu waktu kita masih pacaran mag kamu kambuh, terus aku relain beli obat ke apotek, aku masak buat kamu. Aku takut banget lihat wajah kamu pucat banget waktu itu, aku hampir nangis loh. Aku nggak mau kejadian itu terulang lagi, kamu makan ya?" cerocos Inggrisa dengan semanis mungkin memassng mimik wajahnya.


Endru menatap lurus ke depan tidak bergerak menerima tangan Inggrisa. "Lo salah, Nggri. Bukan lo yang beli obat itu, tapi pegawai rumah gue. Bukan masakan lo yang gue makan, tapi lo beli dari luar. Licik banget lo manas-manasin gue."


"Ayo dong makan, Aaaaa!!" Inggrisa menyodorkan sendok di depan wajah Endru, tangannya sudah kebas melayang di udara Endru tidak berkutik sama sekali.

__ADS_1


Deg. "Kok rasanya,,. Ahk, apa gue cemburu? Nggak Neva!" ia tersenyum sebaik mungkin menghadapi situasi ini.


"Ya udah. Kalau kamu nggak mau makan, aku juga nggak makan deh," ucap Inggrisa merajuk.


Endru tidak menggubrisnya.


Ahaaaa. Inggrisa dapat ide!


"Ya ampun! Sorry,,sorry Endru!" dengan sengaja menumpahkan minumannya membuat lengan kemeja Endru basah. Inggrisa terburu-buru meraih tangan Endru untuk mengeringkannya.


"BERHENTI INGGRISA!" bentak Endru sarkas menjauhkan tangannya.


"Tapi itu baju kamu basah," cicit Inggri sedikit gemetar.


Endru sudah muak melihat tingkah Inggrisa. "GAK USAH SOK BERLEBIHAN!"


Inggrisa mundur teratur, menghela napas gusar. Ia gagal lagi!


"WOIIII!! PADA NGGAK NGAJAK MAKAN DI MARI!!" suara khas Bembi memecah suasana. Memasuki kantin diikuti teman yang laiinya, juga membawa nasi kotak yang sama.


"Gue duduk di sini," Rio mengambil tempat di samping Inggrisa. "Nggakpapa kan kak?" tanyanya pada Inggrisa.


"Terserah," sontak Inggrisa. "Ngapain mereka datang segala, sih?


"Neva gue di sini, ya?" Will mengambil tempat di samping Neva.


"Ih. Gue duduk di sini aja, deh!" Bembi duduk sedikit berjarak dari Inggrisa. "Makan tambah lahap, apa lagi duduknya berdekatan dengan kakak kelas yang cantik. Hehehe!"


"Apaan sih! Dasar gemuk!" ejek Inggrisa pedas saat tangan Bembi hampir bersentuhan dengannya.


"Ihhh! Cantik-cantik tapi songong!" Bembi sewot


Andreas dengan santainya tanpa bertanya langsung duduk di samping Endru, Endru tersenyum ramah.


"Daniel mana?" Neva mencari Daniel yang tidak gabung bersama mereka.


"HADIRR!!" yang dicari muncul dari pintu bersama-


"Chatryn!" pekik Neva tercengang. "Kok, lo jadi seperti ini?" tanyanya. Pasalnya Chatryn datang berpenampilan culun, rambutnya dikuncir dua seperti anak kecil berumur tujuh tahun, jangan lupakan sepatunya yang terbalik.


Chatryn berdiri malu di belakang badan Dani, ia tidak dapat menunjukkan wajahnya sekarang. Sudah pasrah jika memang dipermalukan seperti ini.


Daniel tersenyum sinis mendorong tubuh Chatryn menghadap mereka semua, menepuk-nepuk pundaknya sedikit kasar. "Minta maaf sekarang!" titah Dani tegas.


"Neva! Aku Chatryna Shia, ingin meminta maaf karena aku sudah menjebakmu di tangga tadi. Aku sangat menyesal, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi juga tidak akan menganggu kamu lagi." kalimat itu meluncur dari bibir Chatryn.

__ADS_1


Neva berdiri menghampiri Chatryn, tersenyum hangat merangkul Chatryn. "Dimaafkan!"


Chatryn menatap sendu manik Neva, ia benar-benar menyesal sudah berurusan dengan Neva. Chatryn justru melamun, dari mereka SMP satu sekolah, hubungan mereka tidak baik karena hal sepele. Chatryn juga sering mengusuli Neva, tetapi balasan Neva tidak ada. Sekarang mereka kembali dipertemukan, tentunya dengan perasaan yang berbeda.


"Chatryn!"


"Eh. I-iya." ia terkejut.


"Ayok duduk! Lo mau berdiri sampai kapan di situ?" Daniel mendengus.


Chatryn kebingungan mencari tempat duduk, pandangannya terpaku melihat Inggrisa duduk santai di tengah-tengah mereka.


"Duduk di samping Inggrisa!" titah Daniel tegas.


"NO!" tolak Inggrisa.


"Maaf kaka kelas! Sebelumnya lo bukan termasuk golongan kami, jadi lo jangan sok mengatur di sini." telak Daniel menyindir.


"Shitt!!" Inggrisa mengumpat dalam hati.


Chatryn duduk berdekatan dengan di sebelah Inggrisa, memberikan nasi kotak milik Daniel yang dibawanya. Bembi sudah bergeser.


Inggrisa melirik Chatryn tajam, begitu juga sebaliknya.


"Lo bisa jelasin, kenapa Chatryn lo bawa gabung sama kita?" tanya Willangga.


"Gue yang balas perbuatan dia, biar dia kapok. Imut juga si Chatryn kalau gini!" seloroh Dani bercanda.


Mereka mengangguk setuju.


"Terus, lo nyuruh Chatryn make sepatu kanan kiri nggak bener gini?" tanya Will penasaran.


"Ya," sahut Dani tanpa merass bersalah.


"Udah, udah! Makan nasinya gih!" Neva memotong pembicaraan mereka. Ia tidak tega melihat Chatryn terus dipermalukan lebih seperti ini, dan merasa iba.


Mereka akhirnya menyantap makan siang dengan canda tawa, suasa ribut kembali dengan kedatangan mereka.


Tetapi tidak dengan Chatryn dan Inggrisa,


mereka ber dua duduk diam tidak ikut dalam obrolan mereka.


Daniel diam-diam memperhatikan ekspresi Inggrisa yang menatap tajam Chatryn. Sekarang ia percaya pengakuan Chatryn padanya saat ia mengintrogasinya tadi.


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡

__ADS_1


Hai!! Makasih semua yang udah mampir dan beri jempol serta komentarnya...


Sengaja ganti judul, menurutku ini cocok sama cerita yang aku tulis. Kalo menurut kalian?


__ADS_2