
Neva menandang sendu layar ponselnya mengusapnya, berharap ada panggilan atau pun pesan singkat dari nomor yang sedang ditunggunya. Duduk malas di tepian tempat tidur menatap nanar arah lantai, memukul kakinya bercampur rasa kesal. Sudah seminggu sejak ia pulang dari rumah sakit, tapi kabar Endru juga belum ada sama sekali, kunjungan terakhir kali itu adalah saat siang ia merasa ciuman pertamanya diambil.
Melempar ponselnya ke atas kasur berjalan membuka jendela mengibaskan gorden, cahaya bulan menerpa wajah sendunya. Sekarang mereka sudah kembali ke rumah papahnya, hanya saja papahnya belum juga pulang entah dari mana.
Meraba leher menyentuh dengan ujung jarinya yang halus, kalung dengan mainan bentuk setengah love tergantung indah di sana.
"Kalung dari Kak Endru, setengah love itu juga ada padanya." Neva tersenyum getir mengingat ucapan Yulan memberikan kalung itu padanya kemarin.
"Aku nggak tahu Kak Endru kemana, Nev. Semenjak hari itu dia menjengukmu, dia sudah tidak kelihatan di sekolah lagi." Tanpa sadar tangannya melepas ikatan kalung meremasnya, ucapan Yulan membuat perasaannya cemas dan khawatir.
Ke mana dia? Apa yang sebenarnya terjadi saat matanya menatap teduh padanya, usapan tangannya masih terasa hangat sampai malam ini.
"Apa Endru memutuskan untuk melanjutkan pertunangan itu?" tanyanya pada diri sendiri. Air matanya berlinang merasa sesak di dadanya membayangkan kalau benar itu terjadi, menyandarkan keningnya pada tralis besi jendela. "Gue nggak rela, Tuhan," ucapnya lirih mencengkram besi kuat-kuat.
"Gue juga nggak tahu dia kemana, Neva. Stop tanya itu terus, gue bosan jawabnya!"
"Tryn, lo bantuin gue buat cari tahu Endru. Pleasee!"
"Maaf gue nggak bisa."
Percakapannya dengan Chatryn membuat rasa cemasnya kian menjadi, berbagai prasangka membuat kepalanya berdenyut hebat. Dari cara Chatryn bicara kemarin dan saat Chatryn selalu menghindar dari tatapannya, sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan darinya. Tapi apa? Dia tidak bisa asal menebaknya, dia tidak ingin berpikiran buruk sebelum mendapatkan jawaban yang pasti.
Kalau memang hanya masalah pertunangan dengan Inggrisa, semua orang sudah tahu. Jadi tidak seharusnya ada yang berkelit di sini, mengapa teman-temannya harus menghindar setiap bertanya tentang Endru? Pasti ada yang tidak beres dari situ. Mencengkran rambutnya yang basah menyugarnya ke belakang.
"Jangan pernah cari orang itu lagi, ngerti!" Neva memejamkan mata mengingat amarah abangnya waktu itu saat ia bertanya tentang Endru, bahkan abangnya sampai menggebrak meja belajarnya menatap horor padanya.
Dari sini ia bisa menyimpulkan bahwa memang ada sebuah rahasia besar di sini.
Neva mengesah panjang menyeka air matanya dengan punggung tangannya, mengerjapkan mata menangkap cahaya malam dari luar jendela, meneguk ludah mengurangi sesenggukan. "Cengeng banget gua tentang cinta gini. Ya tapi mau gimana? Gue bener-bener udah jatuh cinta sama lo, Ndru," monolognya pada diri sendiri. Membuka telapak tangannya menandang kalung tersenyum ironi, indah tapi maknanya?
Sengaja ia menjatuhlan kalung ke lantai, menutup jemdela dan goeden melangkah lebar ke atas tempat tidur.
Meraih guling memeluknya, menghembuskan napas kasar. Endru belum ada kejelasan. Papahnya entah sedang di kota mana lagi berbuat apa, ia juga tidak tahu, kata abangnya papahnya dalam waktu dekat papahnya pulang, ditunghu sajalah. Belum lagi tugas sekolah yang tertinggal selama seminggu, pasti sudah menumpuk. Kata abangnya orang yang menculiknya sudah ditangkap, tapi abangnya tidak mau bercerita yang menculiknya siapa.
__ADS_1
Mungkin karena terlalu lelah berpikir dan menangis, tanpa sadar ia tertidur dengan rambut setengah basah dan belum mengisi perut kosongnya.
Suara pintu terbuka pun tidak membangunkannya.
"Nev- Astaga, sudah tidur, padahal belum makan malam." Priska menggelengkan kepala melihat posisi tidur putrinya yang berantakan tidurnya tidak sesuai seharusnya. Menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Neva dengan lembut, ada jejak air mata di sana sudah mengering, wajah sembab padahal baru habis mandi.
Dengkuran halus menandakan Neva sudah terlelap, tidak tega rasanya membangunkan. Menggeser tubuh itu pelan-pelan meluruskan kaki memakaikan bantal di punggungnya menyelimutinya, mencium kening Neva penuh sayang mengusap pipinya. Baru saja hendak kelyar, cahaya silau pantulan lampu dari arah bawah gorden jendela meninyita perhatiannya.
"Mas Rafli dengar aku dari atas sana. Apa benar putri kita dan putra Michael akan berjodoh sesuai dengan kemauan kalian? Kalung ini sama persis seperti kalung Mbak Mitha dan Michael yang mas tunjukkin ke aku waktu itu, ternyata diam-diam Endru memberikannya juga pada Neva. Mas Rafli, ini terlalu sulit untukku," gumamnya menghela napas panjang. Menoleh ke arah ranjang putrinya yang sudah tertidur. Sungguh ia sangat merindukan ayah kandung Neva di alam sana, mengusap air matanya menyimpan kalung di bawah bantal Neva.
š¹š¹š¹
"Gila ya! Kelas tiga lagi heboh tahu nggak sih."
"Apaan itu?"
"Si Ratu kakak kelas yang berantam sama si Chatryn kemarin itu, dipecat dong dari sekolah. Tersandung kasus narkoba katanya."
"Serius? Inggrisa dan Endru denger-denger mau tunangan, padahal udah punya cewek itu si Neva. Si Ratu antek-anteknya Inggrisa juga keluar dari sekolah, waww."
Menghampiri Daniel dan Chatrym yang sedang duduk berduaan di bangku panjang depan kelas, melongos menatap intimidasi mereka ber dua. "Lo ber dua tahu kalo Ratu si kakel itu dipecat?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Tahulah, masa enggak," sahut Chatryn menggebu.
"Alasan narkoba, apa itu benar?"
"Ya gitulah beritanya. Kalau lo mau tahu yang lebih jelasnya, tanya sama teman-temannya dong. Masa tanya kita, nggak nyambung," sshut Daniel ketus.
"Biasa aja lo jawabnya, nggak usah masang wajah ketus gitu," kesal Neva. "Gua cuma heran aja. Endru dan Inggrisa udah nggak masuk sekolah karena mau tunangan. Nah, si Ratu dipecat gara-gara narkoba, Ratu itu temen baiknya Inggrisa. Siapa tahu ada hubungannya di antara mereka ber tiga, bisa aja ada maksud terselubung di sini," Neva mengutarakan isi pikirannya.
"Nggak nyambung Neva, jangan pikir sampe sejauh itu," seloroh Daniel.
"Siapa tahu, Dan! Gue rasa ada yang aneh dari sini, bingung gue ceritainnya sama kalian. Ck. Yaudahlah, gue ke dalam kelas dulu. Maaf gue ydah gangguin waktu berduaan kalian." Neva bangkit dari posisinya dan langsung masuk ke dalam kelas.
__ADS_1
Daniel dan Chatryn saling melihat satu sama lain.
"Kok lo ketus banget sama dia?" tanya Chatryn ekor matanya ke ruang kelasnya.
Daniel mengusap wajahnya kasar. "Gue nggak mau kita terjebak dengan pertanyaan Neva, salah jawab dia jadi semakin curiga."
"Iya ya. Neva itu nggak sebodoh yang kita pikir, nggak segampang itu diperdaya. Kalau kita nggak pintar memghindar duluan, huhhh!" Chatryn mengesah panjang.
"Kalau dia tahu bahwa sebenarnya si Ratu adalah salah satu dalang dibalik penculikannya, gimana?" bisik Dsniel di telinga Chatryn.
"Jangan sampai tahu," jawab Chatryn juga berbisik.
Kepala mereka saling berdekatan dengan mimik wajah serius.
"Kalian pacaran?"
Glekk..
"Ne-Neva!"
Daniel dan Chatryn langsung berdiri, wajah memerah ketakutan. Apa dia mendengar bisikan mereka tadi? Gawat!.
"Kok mukanya gugup gitu? Kalian udah pacaran atau belum?" Neva menatap ingin tahu.
Eeeeee!!
"Iya!" Daniel.
"Enggak!" Cgatryn.
Jawab mereka bersamaan.
"Aneh hubungan kalian. Ihl, ck." Neva membuang sampahnya dan masuk lagi ke dalam.
__ADS_1
ššš