Kisah ABG

Kisah ABG
Kembali Sekolah


__ADS_3

Ttinnn,,,tttiiinnn,,,,ttttinnnm!!


Suara klakson dari luar membuat satu rumah jadi heboh, papah Yulan melanglah lebar membuka pintu untuk memberi sedikit pelajaran pada orang yang berani berbuat keributan di halamaman rumahnya. Belum sempat ia membuka mulut ingin bucara, matanya terbelalak melihat sebuah mobil hias yang terparkir tepat di hadapannya, mungkin jantungnya akan segera mau keluar.


"Selamat pagi calon papah martua," sapa Will tersenyum lebar menunduk setengah badan memberi hornat pada pria paru baya ini.


"K-kau, apa-apain ini?" bukannya membalas sapa, justru ia balik bertanya dengan suara setengah napas.


Will mengikuti arah pandang Beliau, siapa pun pasti terhetan melihat ia datang menjemput pacarnya dengan mendekorasi mobil seperti mobil pengantin saja.


"Ehehehe, Om. Ini namanya kereativitas tanpa batas untuk memberi sedikit aksen kesenian menjemput pacar untuk ke sekolah," ujarnya asal bicara sambil mempertontonkan cengiran konyolnya.


"Kreativitas apa maksudmu, hah! Mobilmu kau buat bunga-bunga begini, pake stiker nama kalian ber dua di depan mobil. Kau membuatnya seperti mobil pengantin, tidak tahu malu!" hardiknya kesal.


"Iy-iya, in-ini bisa dibilang sedang latihan tahap pertama, Om. Maksudnya, latihan uji coba bawa mobil pengantin. Ke depannya bawa mobil pengantin yang beneran, Om," jawaban Will semakin membuat papah Yulan merasa dongkol.


Papah Yulan menarik napas mengeluarkannya lagi, kepalanya berdenyut menghadapi manusia sejenis Willangga. "Tidak,,tidak! Cabut semua bunga-bunga itu, malu dilihat banyak orang," ujarnya mengerang frustasi.


"Pah," suara mamah Yulan menenangkan sang suami dengan merangkulnya mesra. "Sudahlah biarkan saja. Yang penting mereka selamat dan sampai ke sekolah dengan mobil itu," mamah Yulan berujar nada lembut.


"Tapi, Mah," papah Yulan masih tidak terima.


"Pah, lihat itu!" ekor mata mamah yulan menunjuk ke arah Yulan yang sudah duduk diam di dalam mobil Will.


"Heyy! Dasar anak tidak sopan!" seru papah Yulan berteriak.


Will menurunkan kaca mobil. "Om, kami berangkat dulu ya," ucapnya mengedipkan mata meledek papah Yulan.


"Awas ka-"


"Ya. Hati-hsti di jalan ya, jangan ngebut. Ingat saran doktermu, jangan sampai terjadi apa-apa di sekolah," nasehat mamah Yulan memperingati.


"Iya, Mah, Pah." Yulan mengangguk mantap.


Mobil melesat pergi meninggalkan sepasang orang tua. Papah Yulan masih dalam mode jengkelnya, mamah Yulan tersenyum lucu kemudian menggandemg suaminya untuk segera masuk ke rumah.


Yulan tersrnyum cerah pagi ini, dia kembali bersekolah dan akan bertemu dengan teman satu kelasnya.


"Kamu bahagia?"


"Iya, Will. Aku nggak menyangka masih diberi kesempatan hidup satu kali lagi, untuk-"


Will memberhentikan mobilnya. "Ssssiitt!" menyentuh bibir Yulan dengan jari telunjuknya. "Jangan bicara seperti itu lagi, aku nggak suka," selanya mempertegas. Menarik jarinya lalu mengusap pipi Yulan dengan lembut, wajah hanya berjarak 5 centi mereka saling pandang.


"Ung-" Yulan menarik diri membetulkan posisi duduknya. Napasnya tersengal jantungnya berdenyut, terap saja ia malu ditatap seperti ini walaupun sudah jadi pacar.


Will tidak memyerah, menarik dagu Yulan agar mereka berhadapan kembali. "Ke depannya, cukup nikmati kebahagiaan ini, tersenyum menghadapi waktu. Sakit yang kemarin adalah pelajaran kehidupan agar kita saling bisa menghargai satu sama lain, saat kita masih bersama. Yulan, terima kasih sudah berjuang untuk kembali bersama kami," ugkapan tulus Willangga.


Cup.


Satu kecupan manis di kening Yulan.


"A-ayo jalan lagi nanti bisa terlambat," ucap Yulan gugup.


"EH BUSETTT! PENGANTIN SIAPA YANG NYASAR KE SEKOLAH KITA?!" seruan Bembi dari gerbang utama mengalihkan perhatian orang banyak.


Berkerumun ingin melihat siapa yang akan turun dari mobil.


Sepatu sekolah,,,kaki laki-laki,,!


Degg,,,deggg,,deggg! Semua orang melototkan mata terkejut.


Willangga!


Adegan selanjutnya semakin membuat mereka melongo.

__ADS_1


Willangga turun dengan senyuman manis membuka pintu mobil yang satunya, menarik Yulan dengan mesra kemudian melebarkan payung di atas kepala pacarnya itu. Yulan bersembunyi di dalam dekapan Will, ia malu menjadi pusat perhatian.


"BUCHINN TINGKAT NEGARA! WEKKK!!" ujar Bembi memegang perutnya seperti orang mau muntah.


"Nggak sekalian aja, gelar tenda untuk nyambut kedatangan Yulan? Itu loh, payung warna biru yang ada di pasar itu?" seloroh Rio terbahak-bahak.


"Dia itu mau melindungi ceweknya dari sinar matahari, paham!" cerocos Chatryn.


"MINGGIR,,MINGGIRR! KAMI MAU LEWATT!" usir Will dengan gerakan tangannya membubarkan massa.


"Huuuuuuu!!"


"Lebayyyy!!"


"Yang jomblo irii!"


Bisik-bisik mereka membubarkan diri.


"Dan, lo parkirin mobil gue dong," perintah Will sesuka hati melemparkan kunci mobil untuk Daniel.


Hap! Kunci mendarat sempurna di kening Chatryn.


"Aaaaa,,sakit tahu," ringis Chatryn mengusap keningnya yang membengkak.


Will hanya tertawa saja kemudian mengajak Yulan melanjutkan perjalanan ke kelas.


Daniel yang memang berdiri dekat Chatryn merasa tidak suka melihat air muka cewek itu hampir menangis, apa itu sskit banget? Dengan lembut ia meraih kunci dari dalam gemgaman tangan Chatryn. "Cengeng," ucapnya pelan sambil mengusap kening Chatryn demgan penuh perhatian.


Deg..Ternyata rasa cinta itu tidak hilang, jantungnya berdegup kencang merasakan usapan lembut di keningnya. Sakit itu menguap seketika, mujarap betul ketika tangan orang yang kita cintai membalut luka kita.


"Ke kelas sana," nadanya sekarang terdengar dingin. Chatryn membuka matanya, Daniel sudah melangkah menuju mobil Willangga.


"Perhatian doang, tapi enggak jadian!" ledek Neva tanpa rasa iba.


Tidak di luar Tidak di dalam, terjadi kehenohan.


Will menyemprotkan pembasmi kuman di sekelilung kelas terutama di bangku Yulan. "Pastikan semuanya bersih tanpa kuman agar Yulan bisa duduk di bangkunya, ini adalah saran dari dokternya," ucapnya tegas.


"Iya sih. Tapi nggak buku gue ikutan basah gini dong,,emang buku gue sarangnya kuman apa? Main semprot sembarangan," sahut Aslika menggerutu menunjuk bukunya yang sudah basah.


"Maaf ya, Palsu," ucap Will raut sok merasa bersalah.


Yulan sudah duduk manis di bangkunya.


"Eh,,Neva,,Nevaa!" Will merentangkan tangan menghalangi jalan Neva.


"Apaan ini?" jawab Neva kebingungan.


"Lo harus disemprot juga." menyemprotkan cairan pembersih kuman.


"Eyy,,Willangga,,Will!" pekik Neva mengangkat tangannya menutup wajahnya. Rambut serta bajunya sudah basah, benar-benar kurang kerjaan saja.


"Ahkk! Lo yang terpenting, Neva. Lo'kan satu bangku sama Yulan, jaga dia agar tidak sampai-"


"Iya, Will, gue ngerti. Mending sekarang lo keluar aja deh dari kelas ini, udah mau bel berbaris juga. Rese banget tahu nggak," tukas Neva mengusir Willangga terang-terangan.


"Tuuuuu,,,dengerun tuh kata si Neva," Aslika ikut mengompori.


"Lan, aku ke kelas dulu ya. Yang semangat belajarnya," Will berucap memberikan senyum terbaiknya.


"Iya, kamu juga semangat belajarnya," ujar Yulan.


Pandangannya tak lepas dari Yulan, kakinya berat sekali melangkah meninggalkan cewek ini. Hingga Neva menarik paksa Will agar keluar dari kelas.


"Ini surat untuk Jhena," Neva berbisik menyelipkan surat di tangan Willangga.

__ADS_1


"Ini untuk Chatryn." Will melakukan hal yang sama.


"Semoga rencana kita berhasio membuat mereka baikan lagi. Ya sudah, pulang ke kelas lo sana."


"Ck, bawel banget lo!"


🌹🌹🌹


Setelah mobil Will terparkir dengan baik, terburu-buru ia berjalan menuju ruang kelasnya. Tetapi entah mengapa ia memutuskan berhenti di depan ruang UKS, masuk ke dalam permisi pada guru yang bertugas menjaga UKS mencari sesustu dan ia mendapatkannya.


"Chatryn," gumamnya lirih. Mengamati obat salap yang ada di tangannya, mengingat betapa sakitnya Chatryn menahan rasa sakit akibat lemparan kunci mobil. Ia merasa bersalah, harusnya tangannya cekatan menangkap lemparan Will, jadinya kunci itu melayang tidak pada tempatnya melukai Chatryn.


Kenapa tiba-tiba dia seperhatian itu memikirkan cewek itu? Ahk, merutuki dirinya sendiri yang masih belum dapat mengerti akan perasaan hatinya. Semenjak hubungan percintaan mereka ber empat terungkap, Daniel memilih memghindari Andreas, Jhena, mau pun Chatryn. Okelah untuk Andreas dan Jhena dia merasa biasa saja, tapi Chatryn? Paginya terasa sepi tanpa sapaan dari Chatryn, ia rindu ketila Chatryn merecokinya, dering dari cewek itu pun tidak ada tersambung di ponselnya, dia sedikit pendiam.


"Dan!"


Daniel tersentak bangun dari lamunannya. "Jhena?"


"Ngapain?"


"Oh ini, mau pinjam salep ini untuk Chatryn. Boleh?" tanyanya menunjukkan salap obat.


Jhena terdiam terpaku, bukannya ia tidak tahu kejadian barusan. Dia sempat melihatnya, dan jujur Jhena cemburu dan iri melihat Daniel yang perhatian pada Chatryn.


"O-oh, terserah," jawabnya ketus.


"Kenapa jawabannya gitu?"


"Nggak apa-apa. Bawa obatnya tapi jangan lupa pulangin lagi!" nadanya sedikit meninggi.


Daniel bisa menangkap ada rasa kebencian di dalam sorot mata Jhena, cewek yang di hadapannya sekarang sedang cemburu pada temannya sendiri. Daniel berjanji pada dirinya untuk segera melupakan perasaanya pada Jhena, mulai detik ini juga. Tekatnya dapam hati.


Respeknya pada Jhena sudah menguap dengan sorot matanya, apa Jhena pandai memanipulasi dirinya di depan banyak orang?


Tanpa aba-aba Daniel berjalan melewati Jhena tanpa menoleh padanya.


Kembali ke dalam Kelas Neva, proses belajar sudsh mulai les pertama. Bengkak di keningnya ditutup dengan poni rambut, padahal biasanya ia tidak terlalu suka menggerai poninya. Denyutannya semakin terasa menjalar sampai ubun-ubunnya, mulutnya mengatup menahan suara ringisan karena sakitnya datang lagi.


"Chatryn. Coba jelaskan perlawanan Kerajaan Mataram kepada VOC, sesuai dengan yang bapak jelaslan tadi?"


Mampus! Apa tadi ya, sama sekali nggak konsentrasi gara-gara keningnya yang sakit ini. Apa tadi,,,?? Chatryn gelisah panik.


BUK! Guru Sejarah itu memukul meja.


"DARI TADI BAPAK PERHATIKAN KAMU TIDAK MEMDENGARKAN PENJELASAN SAYA! SEKARANG KAMU KELUAR!" hardik Bapak itu emosi.


Chatryn mengangguk lemah, berlalu keluar dari kelasnya.


"Ck, ya ampun. Gue lupa ngunci loker," dengusnya sebal sendiri yang lupa mengunci loker miliknya, kuncinya masih menempel di lemarinya.


"Surat dari siapa?" matanya terpaku pada secarik kertas yang langsung terlihat begitu loker terbuka.


"Temui aku nanti jam istirahat di ruang Lab Kimia, Jhena!"


Melipatnya menyimpan di dalam saku roknya.


"Loh, ada lagi," gumamnya melihat ada benda yang bukan barangnya tersimpan di dalam loker.


Meraih benda berbentuk tabung tersebut dan membuka lipatan kertas yang tertimpa di obatnya tadi.


"Ini salap pereda rasa sakit. DIPAKE!! DANIEL."


Seketila Chatryn melompat kegirangan tersenyum bahagia dengan wajah yang bersinar-sinar, memeluk surat dengan tangan gemetar. Mimpi apa dia tadi malam dapat perhatian dua kali dari Daniel?


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡

__ADS_1


__ADS_2