Kisah ABG

Kisah ABG
Teman Atau Gebetan


__ADS_3

Setelah mendengar pengumuman agar segera masuk ke kelas masing-masing dari kepala sekolah, barulah satu-per satu siswa berhamburan menuju ruang kelas mereka. Tapi tidak dengan Endru.


Cklek!


Tanpa permisi, Endru langsung masuk ke dalam ruang cctv sekolah. Jabatan dari papahnya, mampu membungkam itu semua.


"Kenapa sampai bisa ini tetjadi, Pak?" tanya Endru kepada lelaki paru baya yang sedang memainkan computet.


"Lebih baik lihat saja rekaman cctv ini, Nak. Bapak persilahkan." petugas itu menyingkir dari tempat duduknya.


"Oh. Jadi Neva yang merusak tombol liftnya, berani sekali dia." monolognya pada diri-sendiri. Sementara Pak petugas tadi hanya bisa memperhatikan dan tak mau ikut memberi tanggapan.


"Jangan sampai ada orang yang tahu ini. Berilah alasan yang logis saat menjelaskan kepada kepala sekolah."


"Ba-baik, Nak Endru."


"Oh iya. Apa Bapak bisa langsung membuat rekaman ini berbentuk DVD? Hari ini!"


"Ta-tapi alatnya ada di rumah saya, Nak."


"Buat alasan apa saja agar Bapak bisa pulang ke rumah sebentar. Saya tidak mau tau! Jam pulang sekolah nanti, benda itu harus sudah ada di tangan saya." ucap Endru sudah selayaknya CEO yang memberi perintah untuk bawahannya.


"Bakk, Nak. Bapak usahakan."


"Ada lagi! Hapus rekaman cctv itu, setalah sudah ada DVDnya"


Hahhhh.


Jika saja itu anak bukan akan si boss, sudah di pelintir itu mulut se enaknya main perintah. Dia pikir menghadapi kepala sekolah itu mudah? Tapi, ya sudahlah. Ditolak, gajinya bisa gawat, Anak itu selalu memberi ancaman jika keinginannya tidak terlaksana.

__ADS_1


AMPUN BANG JAGOO!!! KEKUATAN ORANG DALAM INI!!


..........


Ini sungguh moment yang luar biasa bagi seorang Neva. Siapa sih, yang tidak senang melihat musuhnya menderita? Halah. Neva bukan orang se suci itu, bukan begitu?


Chatryn langsung pamit pulang tadi pagi setelah kejadian itu, malunya sampai se abad. Rugi! Ya. harusnya hari ini dirinya latihan terakhir untuk menghadapi Olimpiade Geografi, bahkan hari ini adalah penentu siapa yang akan di ikutkan untuk olompiade itu. Tapi apa! Chatryn memutuskan pulang ke rumah tidak mengikuti latihan hari ini, dari pada ia harus menanggung malu seharian di sekolah. Secara otomatis Chatryn dinyatakan tidak ikut sebagai peserta olimpiade itu.


"YULAN, SELAMATT! KAMU DIPILIH MENGGANTIKAN POSISI SI CHATRYN SEBAGAI KETUA OLIMPIADE!!" teriak Neva heboh memberi semangat kepada Yulan yang sudah sah menjadi sohibnya.


Yulan tersenyum bahagia mendengar hal itu, ini juga bagian dari mimpinya. "Terima kasih ya, Nev. Doakan agar aku mampu membawa nama sekolah kita. Aku takut gagal, karna Chatryn lebih dulu sering menang dalam olimpiadenya." tukas Yulan agak pesimis. Mengingat citra Chatryn yang sangat 'baik' dalam memberi prestasi di setiap olimpiade. Yulan baru ini pertama kali mendapatlan kesempatan sebagai posisi leader. Semoga berhasil!


"Ehemm."


Neva dan Yulan kompak berbalik menghadap ke arah suara yang datang dari belakang mereka.


"Aku mau bicara berdua dengan Yulan. Boleh Lo pergi dari sini?" Alamak, tatapan Wil kepada Neva sinis sekali.


"Shantai, Ngab. Tapi ngomongnya gak pakek melotot, bisa'kan?" jawab Neva santai tanpa ada rasa tersinggung. Ia cukup menyadari, gebetan dari sohibnya ini tidak suka padanya.


Sebelum beranjak, Neva tersenyum meyakinkan kepada Yulan bahwa ia tidak apa-apa.


"Kamu berteman sama dia?" Willanga terlebih dulu buka suara memecah kehingan.


"Iya." jawab Yulan seadanya.


"Kamu tahu dia itu anak yang kurang baik. Tapi kok kamu mau menjadi temannya?"


Yulan menelan salivanya kasar. Ia baru 'engeh' bahwa Will tidak menyukai teman barunya itu. "Tapi selama ini dia baik sama aku." Yulan masih sabar.

__ADS_1


"Yulan." Will menarik bahu Yulan, agar mereka berhadapan. "Dia--"


"Will, stop!" Yulan menepis pelan rangkulan tangan Will dari bahunya. "Apa kamu percaya sama yang namanya 'felling'? Aku merasa dia bukan seperti apa yang orang-orang bilang. Aku merasa nyaman saat dengannya, dia anak baik, Will."


Ok lah kalau begitu. Sepertinya Will sedikit melunak. dengan gadis pujaannya ini. Lagian, siapa dia yang se enaknya main atur anak orang segala.


"Begini saja. Kau boleh berteman dengannya, tapi ingat batasannya. Jangan pernah masuk ke dunianya, cukup temani dia di dalam lingkunganmu." Ucap Will penuh makna. Bukannya apa. Neva dan Yulan mempunyai 'dunia' yang berbeda, sangat sulit untuk dibuat beriringan. Yulan seorang gadis pesakitan, keluar rumah saja ada bahaya pada tubuh Yulan. Sementara Neva. Gadis itu sehat sempurna, pergaulannya cukup luas di luar sana. Semoga Yulan memahaminya.


"Sudah jangan cemberut lagi, nanti jeleknya nambah. Sekarang kamu masuk kelas, gih. Bentar lagi masuk."


"Hum."


"Oh iya. Nanti Neva nemenin aku latihan olimpiade saat pulang sekolah, kamu ikut nggak?"


"Boleh. Aku juga ada sedikit kegiatan di tim basket sepulang sekolah nanti. Nanti aku tungguin, deh. "


"Tapi jangan macem-macem kamunya sama Neva, ya."


"Iya, bawel." ucap Will dengan manisnya.


Sementara ada gadis yang jiwa jomlonya meronta-ronta, Neva berjalan lebih dahulu agar tidak ketahuan mengintip keromantisan mereka.


"Aaauhhh. Siapa yang lemparin sampah sembarangan ke arah Gue, sih?" dumelnya melihat se onggok kertas yang terlihat habis diremas.


"TEMUIN GUE DI BAWAH PONON JAMBU SEPULANG SEKOLAH, JANGAN SAMPAI NGGAK DATANG. ENDRU. "


kesal setelah membaca tulisan itu. Dengan keahlian melemparnya, kertas tersebut gol masuk ke gawang pembuangan sampah. Dengan cuek Neva melanjutkan perjalanannya.


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡

__ADS_1


__ADS_2