Kisah ABG

Kisah ABG
Sahabat Dan Pacar ( Tukar Cerita )


__ADS_3

"Kening aunty kenapa?" tanya Neva melihat luka di kening Priska.


"Aunty semalam buru-buru nggak perhatikan jalan, jadi nabrak deh," Priska berkilah. Melihat sorot mata Neva meragukannya, segera menyodorkan sarapan pagi untuk mereka santap.


Tidak biasanya sarapan pagi mereka hanya nasi goreng, tadi malam juga hanya tahu dan tempe yang dimasak santan. Neva sangat paham tantenya sangat sulit makan tanpa sayur. Apa uang tantenya lagi nggak ada'kah?


"Kok nggak dimakan, sayang? Maafin aunty ya, menunya pasti kurang lengkap. Kita harus mulai berhemat," ujar Priska memberi pengertian.


"Nggak kok, aunty. Ini saja udah syukur. Neva makan ya." Neva jadi tidak enak hati.


Pasti berat tanggung jawabnya, mereka ber tiga masih harus menumpang dengan auntynya. Apa lagi sekarang Andika lagi butuh duit di tempat kuliahnya, uang sekolah dan Gio. Apa yang harus ia lakukan? Cari kerja, iya!


Berlari masuk ke dalam ruang perpustakaan mencari koran edisi pagi ini dan edisi hari kemarin. Sebenarnya di poselnya ada, hanya saja lokasinya terlalu jauh. Melebarkan koran, jarinya menyusuri artilel berita mencari informasi lowongan kerja. Sesekali menggeleng, tidak sesuai dengan syarat. Melipat koran dan mencari lagi koran lain. Tersenyum cerah tidak sia-sia, nanti pulang sekolah ia kesana. Melipat koran sekecil mungkin menyelipkan dalam bukunya.


"Lo ngapain, Nev?


Neva terkejut. "Kelas kita belum buka, Tryn. Jadi gue mampir dulu ke sini, buat nunggu juga," jawabnya bohong.


Jhena dan Chatryn saling pandang. "Lo nyembunyikan sesuatu dari kita?" tanya Chatryn curiga.


"Cerita, Nev. Kita ini sahabat kamu," ucap Jhena.


Chatryn dan Jhena duduk di samping Neva.


"Beneran nggak ada," Neva tersenyum.


"Gue nunggu sambil baca koran."


Chatryn tidak percaya, ia bisa merasakan bahwa temannya sedang mengalami kesulitan. "Lo nyari lowongan kerja?"


"Eng, I-iya," ragu-ragu ia jujur.


"Kenapa?" tanya Jhena.


Neva tersenyum kecil melihat respon ke dua temannya ini. Setidaknya ia punya sahabat untuk berbagi, hampir saja lupa kalau masih ada mereka.


"Gue nggak enak numpang gratis di rumah aunty gue. Gue mau cari uang untuk membantu biaya hidup kami, aunty udah banyak membantu kami. Terakhir papah gue kan udah dipecat dari kampus tempat ngajarnya, gajinya bang Bian juga nggak cukup. Hum, gitulah," tuturnya bercerita.


"Udah dapat lokernya?"


"Udah, Tryn. Jadi penjaga kios ponsel di daerah sini sini juga, waktunya bisa diatur. Jadi masih fleksibel sama jam sekolah."


"Bu Priska udah tahu?"


"Belum. Nanti aku minta izin dulu."


"Kami ikut ya, temenin kamu ke tempat kerja,"


"Nggak usah, Jhena. Nanti ngerepotin kalian, ganggu kegiatan kalian."


Chatryn dan Jhena memeluk Neva.


"Kita ada waktu buat lo."

__ADS_1


"Kami mungkin nggak bisa bantuin kamu lewat materi, ngasih pinjam uang atau traktiran makan mewah, ngasih kado dan lainnya. Tetapi kami sebagai sahabat kamu siap meluangkan waktu, waktu untuk mendengar curhatan teman, waktu untuk menghibur, waktu untuk mendampingi teman, waktu untuk menghabiskan luang bersama. Kami ada Neva!" hibur Jhena bijak.


"Makasih ya." Neva menangis terharu.


Jhena dan Chatryn masih ada urusan osis, Neva kembali ke ruang kelas.


Lebih enak di sekolah, ada saja hiburan tersendiri. Masuk ke dalam kelas, temannya sedang berkerumun saling mencontek di salah satu meja. Neva mengeluarkan buku tugasnya, memberikan untuk dicontek. Teman yang belum dapat, berkerumun seperti menemukan santapan lezat.


"Eeyyy!! Endruu!" Neva terkesiap ditarik begitu saja menghalangi jalannya. Mereka sudah ada di balik tangga, mengajaknya duduk bersampingan.


"Kamu kurang tidur?" Neva bertanya cemas. Wajah pacarnya ini terlihat lesu, ada jejak hitam di lingkaran matanya. Membiarkan kepala Endru bersandar di pundaknya, mengusap tangan Endru lembut.


"Hung. Mikirin kamu tadi malam, jadi susah tidur deh," jawabnya menggoda.


Puk!


"Kok dipukul sih tangan aku, cium kek!" rengeknya manja.


"Serius dong. Aku khawatir kalau kamu sakit." Neva menyingkarkan sandaran Endru, menatap dalam-dalam pacarnya. Masih terngiang bekas luka babak belur waktu itu.


Endru tersenyum lembut, melihat pacarnya penuh cinta.


Netra mereka saling pandang, terpsku pada pesona masing-masing.


Cup!


Endru mengecup pipi Neva, "Jangan gitu liatinnya. Nanti makin cinta, tahu."


Diperlakukan seperti itu, membuat Neva merona tersipu. Perasaannya melayang bahagia bukan main, hatinya berdebar sekarang.


"Hah?"


"Sayang! Aku mulai hari ini panggil kamu sayang, biar romantis."


"Aduh, kok aku merinding ya," ucap Neva bergidik.


"Nggak serem, tapi memang harus begitu. Seorang pacar akan memanggil ceweknya sayang," semakin menggodanya. Matanya berputar berkedip genit, ekspresi Neva sangat menggemaskan. Wajahnya malu-malu, bibirnya merengut ke depan. Endru sangat menikmati pagi ini.


Tidak tahan digoda terus, lebih baik cari obrolan lain saja.


"Ndru, aku mau melamar kerja nanti siang,"


"Kerja?"


"Aku mau bantu Bu Priska cari uang untuk biaya hudup kami, aku nggak enak jadi beban terus."


Endru diam. Ini bukan masalah sepele, untuk ikut campur pun ini tentang keluarga.


"Aku bantu kamu." merogoh dompet dari saku seragam celana sekolahnya.


"Enggak," menahan tangan Endru. "Jangan seperti ini, bukan ini yang aku butuhkan dari kamu," Neva menolak pemberian kartu ATM dari Endru.


"Maaf kalau aku terlihat menyinggung, tapi aku ingin membantumu," ucapnta merasa bersalah. Secara tidak sengaja, ia mengatakan Neva perempuan matre.

__ADS_1


"Iya," menepuk pipi Endru lembut. "Cukup beri aku bantuan doa, doa agar segalanya berjalan dengan baik."


"Tuhan! Bantu pacarku Neva di setiap kesulitannya, beri dia kelancaran usaha yang dilakukannya nanti. Amin!"


"Ada berdoa gayanya gitu?"


"Hehehe! Nanti berdoa di dalam kamar, sesuai dengan aturan yang ada."


"Seterah,,," Neva berdecak kesal.


"Nev,"


"Ya,"


"Orang tuaku terancam perceraian," Endru berucap nada sedih. Wajahnya yang gembira langsung berubah murung.


"Ke-kenapa bisa?"


"Mamah meminta cerai, katanya tidak tahan dengan sikap papah. Huh." menghela napasnya panjang.


Neva terdiam.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak." ia bisa menebak pikiran Neva.


"Ada yang tidak bisa kita pahami dari orang tua kita, hanya mereka yang tahu itu. Kita sebagai anak hanya bingung saja. Jadi gini. Sebelum kecelakaan yang membuat mamah koma, hubungan mereka baik-baik saja harmonis juga. Namun entah kenapa sekarang berubah, saat mamah menerima paket misterius dari seseorang-"


"Paket misterius?"


"Kata bang Arman, mamah menerima paket misterius dari seseorang. Bang Arman sendiri tidak tahu apa isinya, mamah tidak mau cerita sama kami. Mamah langsung bertengkar hebat dengan papah, juga minta cerai. Hah, apa isi paket itu sebenarnya?"


"Lalu sekarang keadaan orang tua kamu?"


"Kami masih serumah. Tapi papah sudah ngancem ngusir kami dari rumah kalau mamah nekat melanjutkan perceraian, mamah masih belum mengambil keputusannya. Aku sendiri bukan anak kandung papah Arifin, aku harus ikut mamah ke manapun. Bang Arman adalah anak dari istri pertama papah yang sudah meninggal. Sekarang hubunganku dan Bang Arman mulai renggang. Apa mamah sulit meninggalkan Bang Arman? Bang Arman lebih dekat pada mamah dari pada aku anak kandungnya sendiri. Hah!"


"Apa pun keputusan orang tua kamu, kamu harus siap. Memang berat juga, tapi kamupun tidak bisa berada di antara mereka. Posisi kamu itu tidak memungkinkan, mamahmu yang meminta cerai bukan papahmu. Berdoalah yang terbaik bagi mereka. Dan, jangan membenci mereka. Jangan terlalu larut dalam dendam pada papahmu," nasehat Neva.


Bebanya seketika terangkat, ucapan Neva menghangatkan hatinya.


"Tuhan! Bantulah orang tua Endru, berilah mereka bijaksana memecahkan permasalahan mereka. Dan apa pun nanti keputusannya, berilah yang terbaik untuk semuanya. Bantulah juga aku yang sebagai pacarnya Endru untuk menghibur Endru. Kabulkan ya Tuhan. Amin".


Mereka ber dua tersenyum bersama nengaminkan doa dalam hati. Entah doa ini sampai, tetapi doa adalah harapan terakhir manusia.


"Endru,,"


"Nggak jadi manggil sayangnya?"


"Enddruuu,,,"


"Endru sayangggggg!! Gitu lo!"


"Apa jangan-jangan paket misterius itu dari ayah kandung kamu?"


JLEP!

__ADS_1


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡


__ADS_2