
Sudah menunjukkan pukul 07:00 pagi namun ia tidak kunjung keluar kamar bahkan mandi saja belum, mondar-mandir duduk gelisah mengacak rambutnya mengunci diri di dalam kamarnya.
"Siapa yang sebarin data nilai-nilai gue ke internet? Mati!! Mati gue sekarang, pasti papah mengamuk karena gue bohongin dia. Ahkk!" ucapnya frustasi mengacak rambutnya lagi. Bercermin, penampilannya sangat menyeramkan.
Melirik jam dinding seharusnya ia sudah turun ke bawah untuk berhias, acara pertunangan dilalsanakan pukul sembilan pagi nanti. Namun ia pun sudah tidak bersemangat untuk melanjutkannya dan kalau boleh batal saja.
Badannya tersentak spontan berdiri dari ujung kursi meja rias, suara bantingan pintu kamarnya dibuka paksa dan kemunculan papahnya membuat badannya menegang.
"Apa-apan ini Inggrisa, kau tidak turun dan masih bersantai bahkan belum mandi!" pekik Aristo sarkas memandang marah pada putrinya.
Meremas ke dua sisi ujung piyamanya menunduk takut papahnya yang sedang marah. "Pa-pah, boleh pertunangannya di-ba-talkan saja. Aku malu," ungkapnya suara terbata.
Lagi badannya tersentak mundur ke belakang, papahnya menendang kursi belajar sampai terjungkal.
"Harusnya papah yang lebih malu punya anak seperti kamu!" ucap Aristo menu juk kening putrinya. "Menyogok gurumu agar memalsukan nilai pelajaran, kau berbohong pada papah! DI MANA HARGA DIRIMU, INGGRISA! DI MANA?!" bentaknya menyentil kening Inggrisa kepalanya oleng ke belakang. "Papah mengira prestasimu itu asli, ternyata palsu penipuanmu agar papah menyetujui karier modelmu itu! Berapa kali sudah aku dibohongi putri yang selama ini kubanggakan, aku malu, kecewa dengan diri senduri telah salah mendidik anak!" ungkapnya tertawa ironi menengadah ke atap kamar menepuk-nepuk dadanya.
Kemarin mengetahui bahwa putrinya pernah hamil di luar nikah dan menggugurkan bayinya, sekarang nilai prestasi yang dibuat-buat.
"Ma-maaf, Pah," ucap Inggri menangis terisak.
Menetralkan emosionalnya menghela napas dalam, Aristo kembali menguasai amarhnya. "Pertunangan tetap dilanjutkan, pembatalan akan membuat kita malu dua kali. Sekarang cepat mandi waktumu hanya 10 menit, cepat lakukan," ujarnya tegas.
Pintu dibanting papahnya keluar dari kamar dengan pandangan kecewa. Suara isakannya tidak terbendung lagi, memukul-mukul kepalanya merasa bodoh. Berjalan tertatih menyeret kaki ke dalam kamar mandi.
Aristo duduk bersandar di sofa ruang tamu, memijit pelipisnya berdenyut. Membiarkan deringan ponselnya terus berbunyi nyaring membuat telinganya sakit, panggilan dari pengurus yayasan yang lain sengaja ditolak tidak mampu menjawab pertanyaan dan amarah dari mereka. Tangannya mencengkram kepalanya ketika mengingat Arifin, amarahnya semakin menjadi ingin menghajar pria serakah itu habis-habisan. Pasti ini semua beraeal dari dia, dia yang paling keukeh mengotot ingin menjadi ketua yayasan dan memjodohkan putra putri mereka.
Sementara di rumah Endru.
"Lakukan sesuatu untuk memundurkan waktu pertunangannya, ujian selesai jam 11:30 nanti."
Membaca pesan Willangga menyimpannya lagi ke tempat tersembunyi.
__ADS_1
Berpikir sejenak apa yang harus diperbuat.
Mamahnya sudah bersiap rapi dengan kebaya seadanya, tatanan rambit sanggul biasa saja. Lebih miris lagi tidak ada pancaran kebahagian di manik mata mamahnya, menghela napas kasar ia mencoba menerima keadaan.
Setelah memastikan minum obat, Endru keluar kamar naik ke atas tangga celingkuan mengamati papahmya ada di ruangan atau tidak menuju kanar Arman. Abangnya itu masih tidur santai menikmati suasana, tidak diizinkan untuk turun ke bawah bahkan tidak diizinkan ikut ke acara nanti. Untung papahnya sedang repot di ruang kerjanya.
"Nanti akan ada satu pelayan yang mengantar makanan untuk lo, semoga pekas pulih. Dan satu lagi!" Mengeluarkan sesuatu dari saku celananya melemparkannya pada Arman. Itu kunci duplikat kamar lo, turun setelah si pelayan yang akan mengantarkanmu makan memberi perintah. Lo denger gue?"
"Iya," jawabnya terfokus mengamati kunci memainkannya sebentar. "Gue akan berusaha bantuin lo membatalkan tunangan ini, gue janji!" ungkapnya serius.
Setelah lolos keluar dari kamar Arman, berjalan ke ruang kerja mengintip papahnya yang masih sibuk. Mungkin sedang mengurus berita viral itu, ini waktunya! Cepat kembali ke dapam kamarnya lagi.
"Inggrisa!" panggilnya begitu sambungannya terangkat.
Yang ditelepon terkejut mendengar suara dari dapam ponselnya, membetulkan posisi duduknya yang sedang menunggu ibu tirinya menjemputnya di dalam kamar baru selesai di rias. "Endru? Kok lo bisa nelpon gue?" tanyanya.
"Gue nggak punya waktu untuk basa-basi. Lo masih punya muka untuk melanjutkan pertunangan kita? Kalo gue sih, enggak."
Meringis menggigit bibirnya menahan luapan emosi, mendesah kasar menghadapi cowok ini. "Gue juga udah bilang ke bokap buat batalin, tapi ditolak. Apa tujuan lo nelpon gue? Gue juga lagi nyiapin mental menghadapi ocehan keluarga gue," cercanya sengit.
"Ehh, gue nerima telepon lo bukan dihina-hina ya!" bentaknya tidak terima.
"Oh, okelah. Gue mau lo lakukan apa pun caranya, mundurin jadwal pertunangan ini. Acarnya ada di rumah lo'kan?"
"Gue nggak tahu caranya," jawabnya menyetujui ucapan Endru. Matanya mengamati pintu kamar.
"Masa sih enggak bisa? Lebih dari ini, pernah tuh. Tidak ada bantahan kalau mau diajak kerja sama, lakukan sekarang!"
Tutttt*.
Menggeram kesal sambungan diputus begitu saja, meletakkan ponselnya kasar.
__ADS_1
Otaknya berpikir apa yang harus dilakukannya, memincing meneliti taman belakang ramah yang dijadikan tempat acara dari jemdela kamarnya.
Tidak berapa lama ibu tirinya datang menghampiri menggandeng menuruni anak tangga, lagi malas meladeni emosinya setiap kali bersitatap dengan perempuan ini. Duduk di bangku spesial untuknya memandangi hiruk pikuk manusia di taman ini.
"Mamah ambil sarapanmu dulu ya, nanti lemas lagi kalau tidak makan." Memaligkan wajah membiarkan pergi begitu saja. Matanya terpaku pada ponsel mamahnya terletak di atas meja di depannya, meraihnya hati-hati berjalan ke arah toilet yang dekat dari taman.
"Saya dari keluarga Aristo ingin menyampailan bahwa acara dimundur menjadi jam 11 siang, untuk cateringnya diantar jam 10:30 saja."
Tersenyum pegawai yang menerima teleponnya percaya.
Kembali ke tempatnya, mamahnya belum datang. Berjalan mendekati salah satu meja tamu mengambil segelas air minum yang tersedia di atas meja kenudian melangkah ke tempat sound sistem, mari berakting.
"Ahkk!" teriaknya mengagetkan semua orang. Minuman itu mengguyur salah satu kabel utama sound sistem, berpura ketakutan saat ada percikan api dari kabel tersebut. Terbata minta maaf tidak sengaja alasan hampir terpeleset sehingga minuman itu jatuh.
Memperbaikinya pasti memakan waktu.
š¹š¹š¹
"Siallan!" Arifin mengintip dari jemdela ruang kerja, ada beberapa wartawan berdiri meneriaki namanta menunggu di depan gerbang. Satpam sampai kalang kabut memghadapi orang-orang itu, mengunci rapat gerbang. Harusnya sudah berangkat menuju rumah Aristo, tapi terpaksa diundur karena jalan gerbang utama hanya satu.
"Cepat usir wartawan itu," ujarnya pada sketaris berdiri setiap di sampingnya.
Sketaris pria itu menunduk hormat lalu meninggalkan ruangan.
Menerima telepom dari pihak sekolah. Suara riuh murid bising menutupi suara Pak Brana, berteriak meminta keadilan masalah Endru dan Inggrisa. Bahkan Pak Brama menerangkan proses ujian untuk siswa kelas tiga terpaksa ditunda karena situsi memanas.
Di sekolah.
Pak Brama sudah menyerah menghadapi murid kelas tiga, berbondong mengerumuni lapangan menyuarakan tentang Endru dan Inggrisa. Tidak terima dengan pertunangan padahal mereka sedang ujian, belum lagi tentang Inggrisa dan meneriaki oknum guru bersangkutan memanipulasi nilai itu.
Untungnya kelas satu ujiannya pada jam gelombang ke dua pukul 13:00 WIB, dan kelas dua terpaksa pindah naik ke kelas tiga agar tidak terganggu karena ulah kelas tiga.
__ADS_1
Priska tersenyum tipis menyaksilan semua ini, kekacauan sekolah ini terjadi berasal darinya. Menerima pesan singkat dari salah satu mata-mata yang diselipkan di rumah Inggrisa dan wartawan di rumah Arifin. Keadaan taman tempat pertunangan hampir kacau, hampir kebakaran ulah dari Inggrisa juga. Sementara Arifin belum keluar dari rumah tidak berani menghadapi wartawan yang sedang menunggu.
ššš