Kisah ABG

Kisah ABG
Perayaan Part Terakhir


__ADS_3

Acara demi acara telah terlaksana dengan baik sampai penutupun tepat pukul 16:30 WIB, sebagian besar telah meninggalkan lokasi sekolah dan sebagiannya pagi tinggal untuk membereskan sisa perayaan di dalam aula dan di lapangan. Menyusun kursi-kursi, mengumpulkan sampah, menyapu, dan membereskan alat elektronik yang digunakan tadi, semua anggota osis dan organisasi lainnya ikut serta dalam mengerjakannya. Bahkan para guru ikut andil bersama murid lainnya, semuanya bertugas dalam bagian masing-masing. Ya, inilah yang patut diacungi jempol pada Pak Brama selaku kepala sekolah, Beliau tidak segan-segan turun tangan langsung mengutip sampah kertas dan botol air mineral. Tidak butuh waktu lama lokasi sekolah sudah bersih kembali, tinggal seluruh panitia yang tinggal untuk mengembalikan peralatan pesta pada tempatnya. Oh iya, jangan lupa besok libur.


🌹🌹🌹


"Yulan udah balas chat lo?" tanya Daniel pada Will yang dari tadi melamun.


"Belum," jawabnya lirih. Kembali mengotak-ngatik ponselnya menunggu balasan dari Yulan, namun centang satu meruntuhkan moodnya.


Daniel dan Willangga tidak langsung pulang ke rumah melainkan menunggu di dalam mobil di balik gerbang samping rumah Yulan, membawa makanan mengemilnya di dalam mobil. Mengintip dari jendela mobil lampu kamar Yulan menyala, harusnya Yulan ada di dalam kamar'kan?


"Lo mau gue anterin pulang duluan nggak?" tanya Will merasa tidak enak telah membuat temannya ikut menunggu.


"Nggak lah, santai aja!" sahut Dani. Lalu kembali asyik dengan ponselnya.


"Save no gue,,Chatryna Shia!"


Dari mana dia dapat nomor ponselnya? Daniel mengomel membaca isi pesan dari nomor baru, sungguh ia tidak suka nomornya disebar ke pada orang lain yang bukan 'ranahnya'.


"*Dari mana lo dapat nomor gue?"


"Ada dehh!! Pokoknya simpan nomor gue, titik!" Chatryn*!"


Tanpa basa-basi Daniel menyentuh "BLOKIR KONTAK", mana sudi dia menyimpan nomor itu.


Percayalah! Chatryn menjerit di rumahnya.


BUKK!!


"WILLANGGA!" pekik Daniel terkejut mendengar pintu mobil dibuka dengan kerasnya. Dani mengikuti Will bersandar di badan mobil, mengikuti arah pandang Will ke atas.


"Lo chattingan sama siapa?"


"Nggak ada. Hanya ngabarin sama ibu kos kalau terlambat pulang." jawab Dani berbohong.


"Nggak percaya!" Will terkekeh kecil. Kemudian fokusnya melihat kamar Yulan.


Yulan ada di dalam kamar, dia tahu Willangga menunggunya di luar. Masih ada mamahnya di sini, orang tuanya tidak pernah menyukai hubungannya dengan Will. Ponselnya ada di tangan papahnya.


"Mah, Yulan ngantuk." Yulan pura-pura menguap.


"Iya sayang, sebaiknya cepat istirahat ya. Denger tadi apa kata Dokter Ganda, kamu jangan sampe kecapean seperti tadi. Jangan ambil kegiatan sekolah yang berat-berat, jang-"

__ADS_1


"Huammm!! Iya, Mah!!" Yulan memotong ucapan mamahnya. Cepat-cepat ia menarik selimut memeluk boneka kesayangannya, memejamkan matanya rapat-rapat.


Cup. "Selamat tidur anak mamah sayang." mamah membelai pucuk kepala Yulan sayang. Mengganti lampu kamar menjadi lampu tidur dan menutup kamar dengan hati-hati agar suara decitan pintu tidak menggangu tidur putrinya.


"Yahhh! Yulan udah tidur," Willangga sedih.


Daniel menatap miris pada sahabatnya ini, merangkul Willangga hangat. Jika di depan teman lainnya Will adalah sosok yang penuh canda, tetapi saat mereka ber dua Will akan berbagi cerita sedihnya. Ini adalah salah satunya.


"Kita tunggu bentar lagi," Dani mengusap lengan Will.


Sssrrringgggggg!!


Dari cahaya remang arah kamar Yulan, senyuman seorang yang ditunggu terpancar dari wajahnya yang terlihat pucat.


"Yulan," Will bersemangat. Melambaikan tangan membalas senyuman Yulan dari arah atas sana. Meskipun tubuh Yulan terlihat mengecil dari bawah dan terhalang cahaya gelapnya malam, namun setidaknya dia tahu bekalah jiwanya terlihat masih baik-baik saja. Ingin bertanya tentang kondisinya, tapi!!!!


"Nihh!" Dani memberikan kertas yang baru saja di ambil dari mobilnya. "Lo tulis apa yang mau lo ungkapin di kertas ini. ini spidolnya."


Willangga bersrmangat menerima bantuan Daniel. Membentangkan kertas menunjukkannya pada Yulan. "YULANNN, KAMU TADI PINGSAN KARENA APA?"


Yulan membacanya. Buru-buru ia melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Willangga. Membentangkan kertas tulisannya besar-besar dan tebal agar dapat terbaca "AKU KECAPEAN SELAMA LATIHAN ANGKLUNG ITU!" membalikkan kertas, lembar ke dua "AKU HANYA BUTUH ISTIRAHAT KATA DOKTER!"


"Will, Yulan masih menutupi sakitnya," Dani berbisik pada Willangga.


"Gue harus cepat cari tahu Yulan sakit apa!" tekatnya dalam hati.


🌹🌹🌹


Daniel selonjoran di atas tempat tidur miliknya, menatap lurus langit-langit kamar, ke dua tangannya menhadi bantal dinatas bantal. Tidak peduli bau keringat di badannya, sesungguhnya ia belum mandi sampai jam segini. Hemat air, biar nggak terlalu boros kata ibu kos. Untung saja Will menyogoknya makan malam tadi dalam perjalanan pulang dari rumah Yulan, jadi bisa menghemat pengeluaranannya."


"Apa kabar mereka di sana?" monolognya. Ingatannya melintas pada keluarganya di luar kota, ada rasa rindu untuk pulang. Tetapi, mengingat tingkah laku papah yang suka mbauk ia jadi enggan untuk pulang ke rumah. Yah, Daniel memilih kos di kota ini, meninggalkan keluarganya di kota sana. Keluarganya masih terbilang keluarga cukup berada. Mamahnya membangun bisnis kuliner sejenis rumah makan yang cukup terkenal di kota tersebut, ke dua kakak perempuannya satu sebagai dokter yang satu lagi bekerja di bank swasta, hanya papahnya yang sedikit berbelok dari mereka.


"Telpon mamah aja kali, yaa," Daniel mengaktifkan kembali ponselnya.


Matanya terbelalak membaca nomor baru tadi di menu panggipan tidak terjawab, ada sekitar 15 kali panggilan. Membuka menu pesan dan lagi-lagi nomor itu mengiriminya SMS ke nomor teleponya.


"*Kenapa di blokir dari wa!!"


"Daniel!! Dannn!!"


"Buka blokirnya,,pleasee!!"

__ADS_1


"Buka dongg..Ya,,,ya,,,yaa!!"


"Dddannielllll*!!!"


Tidak jadi menelepon mamahnya! Dani terlalu terkejut melihat aksi Chatryn menerornya seperti ini. Apa sih yang ada di kepala anak itu? Jelas-jelas ia tadi membuat malu Chatryn di sekolah, harusnya Chatryn membencinya! Tadi saat Dani mengintrogasi, wajah Chatryn ketakutan gemetaran. Kenapa jadi begini, apa-apaan ini?


AHKK,,SIALLLL!! Dering dari nomor itu menganggu pendengerannya, Daniel mematikan ponselnya.


Tokk,,tok,,tokk!


Dengan langkah gontai ia berjalan membuka pintu.


"Endru!!" Daniel tercengang tiba-tiba saja Endru datang dengan koper besarnya di larut malam begini. "Ma-masuk dulu. Di luar udah mau hujan," Danuel membantu membawa koper Endru.


Dan benar saja, hujan langsung turun dengan derasnya.


Daniel membiarkan Endru duduk termenung di atas karpet yang tersedia di kosnya, menyuguhkan teh hangat. "Lo mau cerita?" tanya Daniel hati-hati. Mereka baru berteman'kan..


"Gue mau ngekos bareng lo."


"Udah minta izin sama Bu Titin?"


"Udah. Udah bayar uang kos sebulan juga. Boleh kita satu kamar?" tanya Endru ragu-ragu.


Daniel terdiam sesaat, masih bingung dengan keadaan ini. Tapi, wajah lelah Endru mengartikan keseriusannya.


Ia tersenyum hangat mengizinkan permintasn Endru, merangkul Endru.


"Kalau boleh tahu, kenapa tiba-tiba lo ngekos, Ndru?"


"Gue diusir bokap dari rumah."


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡


**Hayy hayy haiiii,,ada yang kangen cerita ini nggak???!!!


Bilang ada donggg,,biar tambah semangat aku nulisnya!!,,


Di part ini, kita akan memulai kisah dari Daniel..Kira-kira ada apa sih, Chatryn tiba-tiba neror Daniel sampe maksa nyimpan nomir segala..???,,humm


Semoga masih ada yang dukung cerita aku yaa..

__ADS_1


Love you semua**...


__ADS_2