
Beberapa hari tinggal kost bersama Daniel, membuat pola hidup Endru mulai berubah. Bangun lebih awal membantu Daniel membersihkan rumah dan mulai bisa melakukan hal yang tidak biasa dilakukan contohnya menyapu dan mengepel lantai. Namanya juga lelaki, marahan mereka tidak bertahan lama. Justru makin akrab dan sering bertular cerita sebelum tidur. Tidak ada AC hanya kipas angin, Endru sudah mulai terbiasa. Kalau masalah makanan, ibu Kost sudah menyiapkan rantang tiap pagi dan malam, kalau siang itu lain lagi karena rata-rata yang kost di sini anak sekolah. Biayanya sudah disatukan keseluruhan. Endru semakin paham arti bersyukur setelah ia bergabung dengan teman barunya ini, lebih banyak tersenyum dan mulai membuka diri pada orang lain.
"Pagi-pagi mukanya udah galau banget. Kenapa lo?" tanya Dani ikut bergabung ke meja makan menghampiri Endru. "Telor rebus goreng! Sayur kol tumis! Humm," ucapnya mengabsen menu makanan pagi ini.
"Sepertinya, hubungan gue sama Neva nggak berjalan lancar," jawabnya tak bersemangat.
"Lo udah nembak dia?"
"Belum,"
"Kenapa?"
"Banyak pihak yang tidak suka dengan hubungan kami. Orang tua kami, belum lagi Inggrisa yang masih gangguin gue, masih ada saja siswa kadang suka menggosopi Neva. Gue harus menyelesaikan beberapa masalah dulu," curhatnya.
"Nyokap lo?" tanya Dani ragu-ragu.
Endru menghela napas kasar. "Belum ada perkembangan, masih belum menunjukkan tanda sadar.",
Curhatan mereka masih berlanjut sampai makanan habis, bersama-sama membereskan lalu keluar rumah untuk berangkat.
Baik Endru maupun Daniel sama terkejutnya, membuka pintu bersiap keluar, sudah ada Chatryn yang duduk santai di teras.
"Ngapain lo ada di sini?" tanyanya ketus.
Chatryn justru cengengesan. "Mau berangkat bareng," jawabnya manja.
"Lo tahu alamt gu-" otaknya mencerna tiba-tiba menoleh ke samping, Endru sudah tersenyum. "Lo'kan yang ngasih tahu?"
Endru memasang tampang tanpa dosa.
"Daniel jangan marah, masih pagi ini," Chatryn berdiri dari kursinya dan tanpa izin langsung menggandeng tangan Daniel. "Berangkat sekarang yok."
Daniel melepas rangkulan Chattyn kasar, Chatryn tidak marah. "Lo aja sana sendiri, gue mau berangkat sama Endru. Sakit kuping gue denger suara lo."
Chatryn memanyunkan bibir. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku rok batiknya dan menyodorkannya pada Endru. "Nih ongkos buat naik angkot."
"Hah," Endru dan Daniel bingung.
Chatryn meraih tangan Endru dan memberikan uang merah ke dalam telapak tangannya. "Mohon pengertiannya kepada kami yang sedang pdkt ini. Uang ini buat ongkos naik angkot, lumayan hemat biaya hidup lo selama di kost. Nih!"
"Jangan terima!" seru Daniel jengkel.
"Gimana yah,," memassng wajah berpikir.
"Idihh! Maunya lo disogok cewek, anak konglomerat!" sahut Daniel marah-marah.
Chatryn menatap jahil ke arah Endru, "Ambil!"
Bbremmm,,,Bbremmm!!
"Cepetan naik Ndru, gue tinggal nih!" seru Daniel tidak sabaran.
"Lo mau ninggalin Chatryn sendirian? Udah susah-susah dia ke sini. Kasihan diaa!" ujar Endru.
"Endru memang pengertian!" Chatryn mengangkat kedua jempolnya.
Daniel melihat pekarangan lokasi kostnya, tidak ada kendaraan di sana. Apa mungkin Chatryn diantar supir pribadinta ke sini terus di tinggal? Apa ia memang harus terpaksa berangkat bersama Chatryn? Menghargai usahanya? Tapi tudak ada yang menyuruh dia datang ke sini. "Kita boncengan ber tiga!"
"Ehh!"
Krik,,krik,,krik!
"Ogah! Gue bukan cabe-cabean boncengan bertiga," tolak Endru tegas.
"Udah, berangkat sama Chatryn aja sana. Gue naik angkot."
"Ck! Naik!" Daniel dingin.
Chatryn melompat kegirangan, tersenyum secerah matahari pagi.
"PEGANG PINGGANYA TRYN!" Endru berseru menggoda ke dua temannya.
Tidak butuh waktu lama angkot datang dan Endru sudah naik.
__ADS_1
Walaupun merasa sumpek berdempetan dengan penumpang kain, ia mencoba menikmatinya saja. Bermain ponsel sajalah, tidak usah ladenin orang dalam angkot yang melihatinya dengan tatapan memuja. Sial,,hanya dia penumpang laki-laki selain si supir.
"Bang namanya siapa?"
Endru tidak menjawab.
"Sekolah di mana?"
Endru mendumel, atribut sekolah di seragamnya kan ada.
"SOMBHONG AMATT!"
CCIIITT!!
"Auh!"
"KALAU NYETIR ITU YANG BENER DONG BANG, JANGAN REM MENDADAK!" ujar salah satu penumpang ibu-ibu.
"Maaf, Bu. Ada mobil yang menghalangi jalan kita di depan!" pak supir menyahut dari kursi pengemudi.
Endru memasukkan ponselnya ke dalam tas, mengintip dari kaca siapa yang dimaksud supir.
Wajahnya menggeram, mobil itu adalah mobil pesuruh papahnya.
"TUAN ENDRUU!"
Semua orang menoleh melihat Endru, wajah mereka mulai ketakutan. Orang yang memanggil itu tampangnya menyeramkan.
"TURUN TUAN ENDRU!"
"Dek, sebaiknya turun saja. Kami tidak mau ikut kenapa-napa di sini," ujar salah satu penumpang. Dan penumpang yang laiinya ikut bersuara.
"Baik!" ia turun dan memberi uang sepuluh ribu sebagai ongkos. Angkot sudah berjalan.
Mereja memberhentikan angkot di jalanan sepi pintar juga mengambil situasi. Pikir Endru.
"Tuan besar memberi kami perintah untuk membawamu kehadapan beliau."
"Tidak mau," jawab Endru.
"Saya bilang tidak mau, ya tidak mau!"
Dengan terpaksa ke dua orang itu mengunci tubuh Endru menyeretnya ke dalam mobil. Namun Endru melawan.
Tangannya sigap meninju siku salah satu dari mereka, kaki kirinya menendang perut yang satunya. Pertengkaran dimulai.
Endru melayangkan kakinya menangkis pukulan dari sebelah kanan. Sementara badannya memutar menghindari pukulan sebelah kiri. Melomoat tinggi melayangkan kakinya menendang orang sebelah kiri. Tangannya mengayun meninju wajah orang sebelah kanan. Tidak sadar satu lawan dua itu sulit, apa lagi orang berdua ini adalah bodyguard terpilih bertingkat bela diri yang tinggi.
Orang sebelah kanan terjatuh tetapi langsung bangkit dan langsung memukul kuat-kuat punggung Endru yang sedang melawan temannya. Endru tersungkur ke aspal, telapak tangannya tergores aspal. Emosinya berkobar dan kembali bangkit untuk membalas pukulan orang itu, sebelum berhasil memukul orang yang satunya sudah memukulnya lagi di wajahnya. Pukulan itu sangat kuat sekali
Endru tersungkur lagi, darah mengucur dari pelipisnya.
"Sialan kau-"
"Bro jangan pukul Tuan Endru lagi!" pekik temannya menghentikan niat orang itu yang mau memukul Endru lagi. Lalu menarik badan temannya agar menyingkir dari atas Endru.
"Uhukk,,uhhukk!" Endru terbatuk, tubuhnya terasa remuk mau patah. "AYO PUKUL GUE LAGI, PUKKULL PUKKULL! BILA PERLU PUKUL GUE SAMPAI MATI SEKALIAN, BIAR ORANG ITU SENANG!" Endru setengah bernapas. Menengadah ke langit tersenyum miris, tak kala pandangannya menangkap bayangan abangnya Arman berada di dalam mobil itu hanya terdiam. Endru semakin kesakitan, sakit batin tepatnya. Arman buang muka, apa arti semua ini sebenarnya?
Kedua orang itu sudah pergi meninggalkan Endru yang masih tersungkur, mobil itu melaju melewatinya.
"AHKKK!!" teriak Endru frustasi. Ia tidak mengerti semua ini, mau bertanya tapi sama siapa? Hubungannya dengan papahnya retak semenjak mamahnya koma tak sadarkan diri sampai sekarang, ia mampu meneruti semua paksaan papahnya itu karena bujukan mamahnya. Sekarang mamahnya entah kemana, dari situkah awal ia mulai memberontak papahnya.
š¹š¹š¹
Suasana kelas XI IPS 2 masih hening, Pak Eporus menjelaskan cara nenghitung harta orang di depan kelas. Neva tidak fokus perasaanya gelisah melamun.
Menatap ke bangku samping kosong, Yulan tiba-tiba drop tadi malam. Ia mendapat kabar itu dari Will dan Will tidak sekolah karena ke rumah sakit melihat kekasihnya itu, ia merasa bersalah juga.
"Auhhh!"
Mengusap keningnyanya yang sakit, spidol mendarat dari depan papan tulis.
"KELUAR DARI KELAS SAYA JIKA KAMU TIDAK MENDENGARKAN SAYA!" Pak Eporus marah.
__ADS_1
Semua menoleh ke arah Neva.
Tanpa permisi langsung beranjak dari bangkunya. Semua murid berdecak melihat sikap Neva, bandalnya masih tersisa ternyata.
Berjalan tak tentu arah menyusuri lorong kelas, turun tangga melewati murud kelas X yang sedang bercakap-cakap memakai seragam olahraga. Langkahnya terhenti, telinganya menangkap obrolan mereka.
"Tadi waktu Pak Septer nyuruh gue ambil bola kasti ke ruang olah raga, pas lewat ruang UKS lihat kak Endru di situ."
Neva langsung berlari menuju UKS.
Pelan ia membuka pintu, terbelalak melihat Inggrisa juga ada di dalam sedang?
"Gue nggak suka lo pegang-pegang, singkirin tangan lo." Syukurkah, Neva mendengar penolakan Endru. Ia masih mengintip.
"Kami itu masih sakit, biar aku obatin ya," bujuk Inggrisa.
Kapas yang sudah merah itu terhempas di udara, Endru membuang tangan Inggrisa.
"Ndru!" Inggrisa menghela napas. "Sumpah, aku juga nggak tahu masalah pertunangan dadakan semalam. Percaya sama aku!"
"Pergi lo," usir Endru buang muka.
"Aku bela-belain ninggalin jam belajar demi ngobatin kamu," ucapnya tanpa sadar.
Endru memincingkan mata bangkit menatap Inggrisa. "Apa maksud lo? Lo udah tahu ya, kalau gue akan luka gini, Atau, lo memang ada di balik semua ini!"
Inggrisa gelagapan. "Eng-enggak. Tadi aku dikasih tahu sama ibu petugas UKS kalau kamu ada di dalam, makanya aku ke sini," elaknya.
"Ahk, Inggri,,Inggri! Sejak kapan lo deket sama petugas UKS, hah!" mendorong tubuh Inggri. "Mending lo keluar dari sini sekarang! Gue nggak butuh lo."
Inggrisa berjalan menyentakkan kaki keluar, Neva bersembunyi.
Neva baru memahami dari kejadian tadi bahwa Inggrisa tidak sebaik yang dia kira, hampir saja is terjebak pesona Inggrisa.
"Auhh," ringis Endru merasa ada sentuhan dingin di pelipisnya. Nembuka matanya, "Neva!"
"Jangan banyak bergerak biar diobatin dulu," Neva membersihkan kening Endru darahnya sudah mengering.
Endru kesenangan, wajahnya langsung bersinar-sinar, tersrnyum merekah. "Pasti sembuh luar dalam kalau tangan lo yang ngobatin gue," godanya.
"Diem duluu!" menekan kapas.
"I-iya! Huh,,sejuknya,"
"Apanya yang sejuk?"
"Alkohonnya,"
Wajah mereka sangat dekat, tatapan saling mengunci beberapa saat. Jantung Endru berdebar-debar, Neva merona salah tingkah.
"Se-sekarang ngobatin tangan kamu," ucapnya gugup.
Setelah beberapa lama pengobatan pun selesai Neva membereskan peralatan P3K mengembalikannya ke dalam lemari, mencuci tangan di wastafel membaluri hensenitaizer.
Duduk di brankar di samping Endru, mendengar ceritanya mengapa sampai terluka seperti ini.
Endru mencoba berdiri berjalan tertatih menyusuri jalan sepi, ia tidak kuat lagi. Namun entah kenapa, supir angkotan tadi datang membawanya ke sekolah, penumpang yang tadi juga tidak di dalam. Endru tidak banyak bertanya, rasa sakitnya muncul di seluruh tubuhnya.
"Mungkin itu bang Arman menyuruh supirnya membawa ke sini, penumpangnya di suruh turun," Neva beranggapan.
"Tapi dia tadi buang muka."
"Jangan salah paham dulu. Coba telpon atau hububgin dia, tanya baik-baik. Gue yakin keadaan keluarga lo nggak serumit itu, asal kalian saling terbuka."
"Hung!" Endru tidak mendengar.
"Ya udah, lo istirahat dulu. Tapi jangan pulang ya, nanti siang pulang sekolah kita rame-rame ke rumah sakit jenguk Yulan."
"Temanin," Endru merajuk manja.
"Apaan sih," Neva menyentil lengan Endru. "Mau les kedua, waktu hukuman gue udah mau habis."
ššš
__ADS_1
Aku nggak tau promosioan cerira ini,,,,..intinyaa, makasih atas like dan komentarnya..