
Raja meraih tubuh Evina yang sudah tidak bernyawa, dia menggendong dengan kedua tangannya, berjalan keluar dari dalam kamar dengan langkah gontai serta lelehan air mata yang terus membasahi pipinya.
Sang Raja membawa tubuh yang tidak bernyawa itu ke dalam kamarnya yang terletak di lantai paling tinggi di dalam istana, seolah tidak merasa lelah sama sekali, Raja menapaki satu persatu anak tangga yang terlihat panjang menjuntai dengan jasad Evina berada di dalam gendongannya.
Sakti serta Sebastian nampak mengikuti dari belakang, keduanya merasa takut jika Raja akan melakukan hal-hal yang tidak terduga mengingat sang Raja sedang berada dalam keadaan terpuruk dan terluka.
Sesampainya di dalam kamar Raja pun membaringkan jasad itu di atas tempat tidurnya, membuat Sakti dan Sebastian merasa heran saat melihatnya.
''Apa yang akan kita lakukan dengan tubuh Evina? bukankah kita harus segera menguburkannya?'' tanya Sakti penasaran.
''Aku ingin memberikan pemakaman yang layak untuk dia, aku juga ingin menguburkan Evina di tempat yang indah dan luas juga tidak terlalu jauh dari istana, agar aku bisa sering mengunjungi makamnya saat aku sedang merindukan dia,'' ucap Sang Raja.
''Baik yang mulia, saya akan segera menemukan tempat seperti yang Baginda inginkan,'' jawab Sebastian lalu segera berpamitan.
Sementara Sakti masih berdiri di sana untuk menjaga sang Raja, dia pun meraih kain putih untuk menutupi jasad wanita yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri.
Raja hanya menatap dengan tatapan pilu, saat tubuh tidak bernyawa itu ditutup dengan kain putih oleh Sakti, pandangannya seolah kosong, dengan mata yang terlihat sembab.
Raja pun duduk di samping tempat tidur yang terdapat Evina di atasnya, dia meraih jemari wanita itu dari dalam kain putih lalu menggenggamnya dengan sangat erat.
Selama seharian Raja hanya melakukan hal seperti itu, dan selama itu pula Sakti berada di sana menemani, menjaga dan memperhatikan sang Raja, sampai akhirnya Sebastian pun kembali, dengan membawa kabar bahwa tempat yang diinginkan oleh raja untuk pemakaman Evina sudah ditemukan.
Sebastian mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamar, dirinya membungkuk terlebih dahulu sebelum mulai berujar.
__ADS_1
''Hamba di sini yang mulia.''
''Bagaimana? Apakah kau sudah menemukan tempat yang aku inginkan?''
''Sudah yang mulia, hamba sudah menemukan tempat yang cocok untuk memakamkan Ratu Evina.''
''Di mana tempatnya?''
''Hamba dengar tempat kelahiran Evina adalah di kota Barsom, di sana ada satu tempat yang sangat indah dan sepertinya cocok dengan gambaran dari yang mulia,'' jawab Sebastian.
''Apakah tempat yang kamu maksud adalah tempat yang terdapat air terjun di kota Barsom?''
''Betul sekali yang mulia.''
''Baik yang mulia, hamba akan menjalankan titah'mu sekarang juga,'' Sebastian pun kembali membungkuk lalu berbalik keluar dari dalam kamar.
Sore hari, jenazah Evina pun di bawa ke tempat kelahirannya untuk di makamkan di tempat yang indah seperti yang diinginkan oleh yang mulia Raja. Di tepi sungai yang terdapat rerumputan hijau dengan air terjun yang menjulang tinggi di atasnya.
Banyak penduduk di kota itu yang ikut menyaksikan pemakaman, kebanyakan dari mereka adalah rekan kerjanya sewaktu Evina masih bekerja di kafe Monalisa, Alberto pun tampak hadir di sana untuk memberikan penghormatan terakhir, dia tak kuasa menahan kesedihan, dan terus menangis sepanjang pemakaman.
Setelah pemakaman selesai diadakan, semua orang yang hadir di sana satu persatu pergi, pulang ke rumah masing-masing, tinggal tersisa Alberto, Sakti, dan tentu Raja Raja Arezz.
Dia masih bersimpuh di atas tanah yang terlihat masih basah, mengusap batu nisan yang bertuliskan nama Evina, dia tampak sudah terlihat lebih tegar, air matanya pun sudah tidak lagi membasahi pipinya.
__ADS_1
Raja menatap kosong batu nisan, lalu berucap dengan sedikit tersenyum yang terlihat di paksakan.
''Apakah kamu bahagia sekarang? aku mengubur jasad mu di tempat indah ini, tempat yang sangat kau sukai, dan memiliki banyak kenangan tentang kita. Aku harap kau bisa beristirahat dengan tenang, aku berjanji akan sering mengunjungimu disini,'' ucap sang Raja berbicara dengan menatap batu nisan.
Sakti dan Alberto yang berdiri dibelakangnya sungguh tidak dapat lagi menahan kesedihan, keduanya terus menitikkan air mata tanpa henti, memandang Raja mereka, berbicara dengan batu nisan.
''Selamat jalan Evina, selamat jalan cinta pertamaku, aku yakin kau bahagia di alam sana, karena ini yang kau inginkan, tunggu aku di sana, aku akan menyusul mu di atas sana suatu saat nanti,'' ucapnya lagi, lalu mengecup batu nisan dengan mata yang terpejam.
Malam pun mulai menjelang, matahari mulai tenggelam kembali ke peraduan, setelah lama berada di sana, Raja pun kemudian bangkit dan berdiri, dia berjalan menjauh lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Begitulah akhir dari kisah cinta sang pewaris Tahta, meskipun dia seorang Raja tidak serta Merta membuat hidupnya bahagia, dia harus kehilangan orang yang di cinta dan hidup menderita menanggung kesedihan dan rasa bersalah selama sisa hidupnya.
Andai saja tidak ada bayi Adam yang menjadi darah dagingnya, mungkin saja sang Raja sudah menyusul Evina ke alam sana, karena bagi nya wanita itu adalah seluruh hidupnya, penyemangat detak jantungnya dan pelipur lara'nya, dan karena kini wanita yang bernama Evina sudah tidak ada lagi di dunia ini, maka seluruh hidup sang Raja serasa runtuh seketika.
Namun karena kehadiran bayi Adam yang di amanat'kan kepadanya, maka Raja mencoba untuk berdiri tegak meski terasa lemas, tetap bernapas meski terasa sesak, dan tetap hidup meski jantung berdetak dengan pelan.
Baginya sekarang Adam adalah perioritas utamanya, tujuan baru hidupnya, dia akan menjadikan Adam sebagai putra mahkota dan mendidiknya menjadi seorang Raja yang baik dan bijaksana seperti dirinya.
Kehadiran Adam sedikit banyaknya dapat mengobati luka dan kesedihan mendalam yang dia rasakan. Raja pun menyayangi dan mencintai Adam dengan segenap jiwanya, mendidik dengan baik dan penuh perhatian, hingga Adam pun tumbuh menjadi putra mahkota dengan kepribadian baik dan juga tampan.
Lambat laun Raja pun dapat melupakan kepergian Evina, namun dia masih tetap menyimpan cinta dan kenangan bersamanya di dalam ruang spesial di hatinya, dan selama bertahun-tahun dia menjalani hidup sendiri tanpa seorang pendamping, karena bagi sang Raja cinta yang dia punya hanya untuk Evina, meski mereka tidak dapat bersatu namun dirinya tetap percaya, suatu saat nanti mereka akan bertemu kembali di alam sana.
______________---------______________
__ADS_1