
Apa mungkin aku hamil? (batinnya berucap)
Ada perasaan was was yang kini menyelimuti hatinya, jika memang dia hamil tentu saja ia akan merasa sangat senang, namun ia perlu memastikan nya terlebih dahulu sebelum berspekulasi.
Evina memegangi perut datarnya, kepalanya pun terasa sedikit pusing, karena terlalu banyak nya makanan yang telah ia kembali keluarkan.
Kemudian ia pun berbaring di atas tepat tidur untuk sekedar beristirahat, dan memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dengan tubuhnya.
Ia pun mengingat ingat tentang kapan terakhir kali ia datang bulan, namun ia sendiri sama sekali tak ingat, apa sebelum kejadian suaminya menodai dirinya, atau sesudah pernikahannya, Akh... dia sama sekali tidak ingat, mungkin karena terlalu banyaknya kejadian buruk yang telah menimpa dirinya, sehingga memori di otaknya sedikit memudar.
Akhh....
Dia hanya bisa menghela nafas panjang, semakin ia memikirkannya maka kepalanya akan semakin terasa pusing, dan mulutnya kembali terasa mual.
Akhirnya ia lebih memilih untuk tidak terlalu memikirkannya, mencoba memejamkan mata nya, untuk mengistirahatkan fikiran serta tubuhnya, dan apabila besok dirinya masih terasa mual serta pusing maka ia akan memeriksakan kondisi nya ke rumah sakit.
Beberapa jam kemudian.
Entah mengapa Evina kembali merasa mual dan muntah, bahkan kali ini kondisinya lebih mengkhawatirkan, ia harus bolak balik ke kamar mandi, bahkan tubuhnya terasa semakin lemas.
Ia pun keluar dari kamar mandi setelah hampir satu jam di dalam sana, dan pangeran Brendan melihat semua yang terjadi kepada istrinya.
Ia pun segera menghampiri nya dan bertanya.
"Kamu kenapa?"
"Entahlah, dari pagi aku mual muntah serta pusing," jawabnya sambil memegangi kepalanya.
"Apa perlu kita ke dokter?"
"Aku juga sedang berfikir seperti itu, tubuhku sudah terasa sangat lemas," duduk di atas kursi.
"Ya sudah, aku akan mengantarmu ke Rumah sakit," sang pangeran mencoba membantu istrinya untuk berjalan.
Meski hatinya di liputi kebencian yang mendalam terhadap istrinya namun sang pangeran sama sekali tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang suami.
Evina pun berjalan dengan di bantu oleh sang suami untuk pergi ke Rumah Sakit, dan di perjalanan mereka berpapasan dengan Raja Arezz yang hendak kembali ke kamarnya, setelah mengadakan pertemuan dengan petinggi kerajaan di Aula pertemuan.
__ADS_1
Sang Raja nampak memperhatikan Evina yang berjalan dengan di papah oleh suaminya.
"Kalian mau kemana?" Raja menyempatkan bertanya, di sela sela langkahnya.
"Kami mau ke Rumah Sakit," jawab Pangeran Brendan dengan tanpa menoleh.
"Rumah sakit? memangnya Evina kenapa?" Raja terlihat khawatir.
"Bukan urusan yang mulia, saya permisi" Pangeran Brendan menghentikan langkah sekejap, menatap wajah Raja dengan tatapan tajam lalu kembali melangkah.
Raja Arezz hanya menatap dengan tatapan penasaran, melihat kepergian Evina dengan di papah oleh adiknya.
Ingin rasanya ia bertanya ada apa, dan mengapa, namun sungguh ia sama sekali tidak bisa melakukannya, dirinya hanya bisa menelan semua pertanyaan itu kembali ke dalam tenggorokannya.
*
*
Sesampainya di Rumah Sakit, Evina segera di bawa ke ruang perawatan, ia di tangani oleh Dokter perempuan yang biasa merawat pasien wanita yang mengalami gejala seperti yang sedang di alami oleh Evina.
Setelah di lakukan berbagai macam pengecekan secara menyeluruh, akhirnya Dokter memberitahukan kepada mereka berdua bahwa Evina Hamil.
"Apa...?" Pangeran nampak sangat terkejut.
"Dokter yakin jika saya hamil?" Evina kembali memastikan.
"Iya betul sekali, dari hasil test urine yang baru saja keluar menunjukan jika Nyonya Evina positif hamil, selamat ya untuk kalian berdua," sang Dokter masih tersenyum ramah.
Evina menutup mulut dengan kedua tangannya, tak kuasa menahan perasaan bahagia dalam hatinya.
''Aku hamil pangeran,'' ucapnya dengan mata berkaca kaca.
''Ia, kamu hamil, selamat karena sebentar lagi kami akan menjadi seorang ibu.''
Evina mengangguk lalu tersenyum.
''Tapi pangeran, karena usia kandungan nyonya Evina masih sangat muda, beliau harus banyak beristirahat, dan tidak.boles stres atau pun melakukan pekerjaan berat,'' Dokter kembali mengingatkan.
__ADS_1
''Baik Dokter saya akan menjaga kandungan saya dengan baik,'' Evina menjawab sambil mengelus perutnya nya kini terdapat calon buah hati dari pernikahan dirinya dengan sang suami.
*
*
Kabar kehamilan dari istri pangeran Brendan pun dengan cepat menyebar ke seisi istana, dan kabar itu pun sampai di telinga yang Mulia Raja Arezz serta Ratu Emillia.
Mereka berdua menunjukan ekspresi yang berbeda ketika mendengar kabar tersebut, Raja merasa senang mendengar wanita yang masih di cintai nya itu hamil,meski bukan hamil anak dirinya namun hatinya ikut merasa bahagia mendengar kabar tersebut.
Ekspresi berbeda di tunjukan oleh Ratu Emillia, ia tidak merasa senang sama sekali meski dirinya akan segera memiliki cucu pertama, bahkan dia kembali merasa gundah karena apabila Evina hamil anak dari pangeran Brendan maka dapat di pastikan jika putranya tersebut akan kembali bersikap baik kepada istrinya tersebut.
Hati sang Ratu yang memang sudah berwatak jahat kembali memikirkan bagaimana caranya agar sang putra tidak merubah sikapnya kepada istrinya tersebut, dan bahkan ia ingin jika putranya tersebut tetap membenci Evina seperti biasanya.
Ratu berjalan mondar mandir di dalam kamarnya nya, sampai akhirnya, orang yang sedang di pikirkan pun masuk dan menemui sang Ratu, untuk memberitahukan sendiri kepada ibundanya perihal kehamilan istrinya.
''Saya di sini bunda Ratu,'' pangeran membungkuk lalu duduk di hadapan ibunya.
''Ada apa kamu kemari?'' tanya Ratu berpura-pura tidak mengerti.
''Saya ingin memberitahukan jika ibunda Ratu akan segera mempunyai cucu, karena Evina sekarang sedang mengandung, anakku...!'' ucap sang pangeran sambil tersenyum merasa senang.
''Iya Ibu sudah mendengarnya, kabar itu sudah cepat tersebar di dalam istana,'' jawab sang ibu dengan wajah datar.
''Apa ibunda tidak merasa senang sama sekali mendengar kabar tersebut?'' tanya pangeran dengan wajah heran.
''Apa kamu yakin jika anak yang dikandung oleh istrimu itu anak kandungmu,?'' Ratu mencoba mengintimidasi dan meracuni otak putranya.
''Tentu saja itu anakku dia istriku dan aku suaminya, jika dia mengandung sudah pasti dia mengandung anakku bukan anak orang lain,'' ucap pangeran Brendan dengan wajah dan perasaan kesal, karena sang ibu merusak kebahagiaannya.
''Kamu yakin...?'' Ratu masih mencoba mengintimidasi.
''Sudahlah Bu, jika ibu tidak merasa bahagia sama sekali dengan kabar yang aku bawa ini, aku permisi,'' Pangeran berdiri lalu pergi dalam kamar sang Ratu.
Ratu hanya tersenyum kecut melihat kepergian putranya, dia berharap jika ucapannya yang sedikit mengintimidasi putranya tersebut dapat sedikit mempengaruhi otak pangeran Brendan.
Dasar perempuan tak tahu diri, mengapa harus hamil dalam kondisi seperti ini (batin Ratu)
__ADS_1
*****